Aqiimu as-salat”. Dirikanlah shalat. Menariknya, seruan Al-Qur’an terkait shalat tidak menggunakan redaksi “kerjakanlah”, tetapi “dirikanlah”.

Lalu bagaimana cara men-diri-kan shalat? Jika mendirikan shalat hanya bermakna harfiah rasanya kurang tepat. Sebab hukum fikih memberi keringanan bagi yang uzur bisa shalat dengan cara duduk, berbaring, bahkan berkedip. Mendirikan shalat bukan saja aktivitas fisik, tetapi melibatkan diri yang ada di dalam.

Definisi mendirikan shalat masuk makna ke dalam, yakni fokus menghening menghadap kepada-Nya. Semua hal yang berkaitan dengan urusan apa pun segera disumelehkan. Tiada hal yang diingat selain Allah. Kalau shalatnya masih mengingat urusan dunia berarti belum mendirikan shalat. Saya kira itulah sebabnya Imam Ahmad, adik dari Imam al-Ghazali, pada suatu kesempatan ber-mufaraqah, yakni memisahkan diri dari barisan shalat jamaah yang diimami al-Ghazali, dan melanjutkan shalat sendirian.

Usai shalat, Imam al-Ghazali bertanya kepada adiknya, “Wahai adikku kenapa engkau ber-mufaraqah dari jamaahku?”. “Sebab tadi aku melihat bahwa yang engkau ingat bukanlah Allah tetapi darah”, jawab sang adik. “Tajam betul mata batinmu wahai adikku. Ketika sedang shalat aku memang memikirkan kitab fikih yang sedang kutulis sampai pada bab darah haid”.

Imam al-Ghazali adalah salah satu sosok intelektual muslim yang berpuluh tahun bergelut dalam dunia akal. Ia dikenal sebagai pemikir ulung, banyak karyanya turut mewarnai khasanah keislaman hingga kini.

Namun karya fenomenal yang sangat berpengaruh justru dari hasil pergulatan spiritual yang cenderung berfokus pada perjalanan menuju ke dalam diri. Dari pergulatan batinnya tersebut kemudian ditulis menjadi sebuah kitab berjudul Ihya Ulumuddin. Ihya merupakan karya yang paling terkenal dari Imam al-Ghazali. Kitab ini mengaji tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa juga perihal penyakit hati, pengobatannya, dan cara mendidik hati.

Menariknya lagi dalam perjalanan intelektualnya, al-Ghazali malah berputar haluan pada dunia metafisik yang cenderung resik-resik ke dalam diri. Kenapa bisa begitu? Konon bermula dari mengetahui ketajaman mata batin adiknya yakni Imam Ahmad serta teguran sebagai “batu asah”, Imam al-Ghazali kemudian mulai tertarik mempelajari laku tasawuf setelah sekian lama bergelut dengan dunia intelektual yang sarat pengakuan dan popularitas. Pangkat akademisi dan segala pernak-pernik duniawi telah ia raih. Namun panggilan jiwa yang terdalam tidak mampu diingkari. Berlabuhlah kemudian Imam al-Ghazali dalam laku tasawuf.

Shalat yang terancam

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Shalat adalah tiangnya agama. Barang siapa yang mendirikan shalat ia telah menegakkan agama”. Dalam ayat Al-Qur’an ditegaskan, bahwa sesungguhnya shalat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Pada ayat lain dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’un menerangkan tentang, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?” Yakni “orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”. Lanjutan dari ayat ini yakni “Kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna” (QS Al-Ma’un [107]: 1-7).

Tegasnya Al-Qur’an memberi tahu tentang siapa yang "mendustakan agamabagi orang yang shalat tetapi semata-mata pamer kesalehannya supaya mendapat pengakuan dan pujian. Shalat bukan menjadi jalan menuju pencapain spiritual tetapi untuk mengisi krisis eksistensi diri. Dengan bahasa lain, bahwa niatan shalatnya tidak terhubung oleh Sang yang Maha Hak untuk disembah, tetapi berbelok pada keakuan yang cenderung menuju ke tindak-laku syirik.

Pada suatu kesempatan, Rasulullah sudah mengawatirkan akan umatnya mendatang. Beliau bersabda, “Sesungguhnya ada sesuatu yang aku takutkan dan di antara sesuatu yang paling aku takutkan menimpa umatku kelak yaitu syirik kecil”. Kemudian para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apakah syirik kecil itu?” Beliau menjawab, “Riya”.

Dalam riwayat lain juga diceritakan bahwa di akhirat kelak ada sekelompok orang yang mengeluh, merangkak, dan menangis. Mereka berkata, “Ya Allah di dunia kami rajin melakukan shalat, tetapi mengapa kami dicatat sebagai orang yang tidak melakukan shalat.” Para malaikat menjawab, “Tidakkah kalian ingat pada waktu kalian melakukan shalat bukan untuk mengharap ridanya Allah, tetapi kalian mengharapkan pujian dari manusia. Kalau itu yang kalian cari, maka carilah manusia yang kalian harapkan pujiannya itu”.

Selain dorongan riya, enggan menolong kepada sesama juga bisa terkena sebagai yang “mendustakan agama”. Artinya ibadah horizontal yang berorientasi pada nilai kemanusian tidak bisa dipandang sebelah mata. Shalat siang-malam jungkir balik akan sia-sia belaka jika tidak punya jiwa sosial, welas asih kepada sesama. Dalam kaitan ini, Ibnu Katsir memberi penerangan bahwa makna “Al-Ma’un” adalah tolong-menolong atau kerjasama dengan harta dan jasa.

Dalam kitab Al-Kasyfu wa al-Tabyin, Imam al-Ghazali juga menasihatkan agar tidak tertipu sebagai ahli ibadah. Seperti di antaranya, 1) mereka yang melalaikan perkara-perkara wajib dan sibuk mengurusi perkara-perkara sunnah; 2) mereka yang dikalahkan oleh bisikan setan saat melakukan shalat, selalu was-was, takut salah dalam segala aktivitas perkataan dan perbuatan; 3) mereka yang terpedaya oleh bacaan Al-Qur’an, lidah mereka selalu dibasahi oleh bacaan Al-Qur’an, namun tidak pernah merenungkan maknanya dan berusaha mengamalkan isinya; dan 4) mereka yang memaksakan diri memperbanyak amalan lahir namun tidak pernah berpikir untuk memelihara hati dan mensucikannya.

Waallahu’alam.

Author: Arif Rahman Hakim

ABOUT THE AUTHOR

Arif Rahman Hakim

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hobi membaca buku keislaman bercorak tasawuf


COMMENTS