Tafsir kata "agama" jumlahnya ada banyak. Namun untuk mendukung tulisan ini saya merujuk dari akar Bahasa Sansekerta yakni, “a” berarti tidak, sedangkan "gama" bermakna cerai-berai. Jika disatukan maknanya, "agama" memiliki tafsir tidak tercerai-berai. Maka orang yang beragama tentu saja hidupnya teratur dan damai.

Namun realitasnya tidak selalu begitu. Seperti munculnya kelompok-kelompok yang merasa paling benar sembari bersemangat mengubah kelompok liyan agar sepaham dengannya adalah fakta yang tak terbantahkan. Saya kira semangat kemunculan kelompok seperti ini merupakan akar dari segala perpecahan. 

Atas dasar realita seperti itu, eksistensi agama sempat dituding oleh kalangan tertentu sebagai penyebab pecahnya umat. Padahal sudah jamak yang mengetahui bahwa semua itu bukan perkara agamanya, melainkan problem perbedaan pemahaman agama yang diseret-seret oleh para oknum untuk mencapai kepentingan tertentu.

Oleh karena itu memahami persoalan yang demikian sebaiknya kembali lagi menegaskan pada kesadaran individu dan kolektif, bahwa tafsir agama dengan coraknya yang beragam, memiliki kebenaran sesuai dengan konteksnya masing-masing. Maka dari itu para mufassir paling masyhur sekalipun, tatkala menguraikan suatu teks agama selalu memungkasi dengan kalimat "wallahu'alam". Secara sederhana, seakan para mufassir tidak bosan mengajarkan kepada pembaca untuk tidak memutlakkan tafsir agama yang berpotensi mengarah pada fanatisme buta. 

***

Dalam kehidupan keseharian saja kita nyaris tidak bisa menghindar dari perbedaan. Di lingkup terkecil keluarga misalnya, kita kerap menemukan banyak perbedaan. Entah perbedaan isi pikiran, perasaan atau tindakan. 

Jika setiap anggota keluarga merasa paling benar dan ingin menang sendiri, enggan memahami satu sama lain, maka kehidupan berumah tangga bisa dipastikan kacau. Itulah kenapa kualitas pemahaman beragama masyarakat dapat diamati mulai dari keluarga.

"Rumahku, surgaku", adalah sabda Rasulullah Saw yang menarik untuk diketengahkan di sini. Bahwa surga adalah tempat yang lazim digambarkan dengan suatu kehidupan yang berhiaskan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan. Tentu saja untuk mencapai tahap "rumahku surgaku" bukan tanpa tantangan fakta ragamnya perbedaan yang menjanjikan rahmat sekaligus menyimpan potensi konflik.

Agama Islam menginformasikan bahwa perbedaan adalah rahmat bagi seluruh alam. Pengertian rahmat untuk seluruh alam, secara sederhana dapat dipadankan seperti warna-warni pelangi. Bukankah pelangi merupakan simbol perbedaan yang menghadirkan nilai keindahan? Tidakkah manusia menyukai pada keindahan? Mestinya begitu.

Perbedaan karakter, pemahaman, ras, suku, agama dan lainnya adalah wujud ciptaan Tuhan yang tidak perlu terlalu curigai apalagi sampai bernafsu menyamaratakannya. Perbedaan hadir punya maksud sebagai penyemarak sekaligus ujian bagi manusia untuk menjadi hamba yang mulia.

Allah SWT melalui firman Al Quran surah Al Juhurat ayat 13  menjelaskan,  "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal."

Ayat ini secara gamblang menerangkan pentingnya memahami perbedaan manusia dari berbagai latar belakang kehidupan.Tujuannya supaya saling mengenal. Kalau sudah saling mengenal tentu saja diharapkan saling menghargai, menyayangi dan mencintai. Namun jika ada penceramah agama dari manapun ia berasal, jika kata-katanya suka merendahkan orang lain, ras, suku lain, agama lain maka saran saya segera meninggalkannya.  

***

Adapun teori konflik yang lahir dari dinamika perbedaan misalnya, merupakan upaya akal budi manusia dalam melihat, mengamati, hingga mengformulasikan sebuah kasus menjadi teori yang bermanfaat bagi kehidupan, khususnya untuk mengharmonisasikan kejumudan suatu aktivitas dalam sebuah perkumpulan atau masyarakat agar menjadi lebih maju dan produktif. Teori itu juga dapat digunakan untuk merekayasa, meredakan, dan mendamaikan suatu perpecahan. 

Perbedaan sendiri bisa menjadi sehat ketika ber-fastabikul khoirat. Dalam Islam kita mengenal ayat yang berbunyi "lakum dinukum waliyadin" (Bagimu agamamu, bagiku  agamaku). Secara simbolik ruh ayat ini memberi isyarat bahwa menjalani kehidupan beragama tak perlu banyak menengok kanan-kiri.Tetapi beristiqomahlah menengok diri sendiri sembari memperbaikinya. Rasanya tak etis sibuk mengoreksi kesalahan pihak lain, sementara kesalahan pada diri sendiri terabaikan. Ibarat api lilin yang menerangi kegelapan, tetapi dirinya malah hancur dengan sendirinya. Misi beragama tidak menghendaki demikian. Beragama mengharapkan keselamatan baik secara individu, sosial dan semesta.

Cara berpikir yang seperti itu tidak ditemukan dalam pengertian egoisme. Melainkan masing-masing pemeluk suatu agama agar ber-fastabiqul khoirat. Praktisnya tentu saja menggunakan ilmu. Jika belum tahu ilmunya dapat bertanya kepada mereka yang telah menguasai. Orang yang ahli di bidangnya kemudian didatangi oleh banyak orang untuk memperoleh pencerahan merupakan realitas kehidupan yang mengisyaratkan perbedaan yang saling melengkapi dan menghargai. 

Oleh karena itu manusia diciptakan dalam wujud yang sempurna dalam pengertian sebagai mahluk individu dan sosial. Secara individu, ketidakmampuan manusia bertahan hidup tanpa keterlibatan dengan liyan menunjukkan sisi kelemahan. Untuk itu ia harus melengkapi dirinya melalui sosialisasi dengan pihak lain agar menjadi sempurna. Sebuah kesempurnaan bisa diperoleh manakala ia mampu menjalin hubungan sosial di masyarakat dengan mengikuti norma-norma dan nilai kepantasan secara universal.

Wallahu’alam.

Author: Arif Rahman Hakim

ABOUT THE AUTHOR

Arif Rahman Hakim

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hobi membaca buku keislaman bercorak tasawuf


COMMENTS