Sumber foto: mencius-372-289-bc-portrait-of-mencius-everett
Ismail

Belajar tidak pernah mengkhianati dirinya sendiri. Siapa pun yang datang membawa diri kepada ‘belajar’ niscaya ia tidak akan mengecewakan. Belajar adalah kata yang hidup dan aktif. Hanya saja keaktifan kata belajar dan bahkan hidupnya belajar dalam setiap jiwa, raga, dan laku seseorang memiliki level yang berbeda-beda. Sehingga pada akhirnya wujud dari hasil belajar terhadap suatu objek apa pun menampakkan rupa produk yang berbeda-beda.

Misalnya, Ngaji Filsafat yang memayungi Masjid Jendral Sudirman, squad MJS, Pak Fahruddin Faiz dan para santri ngaji, merupakan derivasi yang paling jelas dari kata belajar. Pengalaman saya mengikuti gelaran ngaji ini telah membisikan dan mengkonfirmasikan fakta tersebut. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah bahwa dari hasil belajar, baik melalui Ngaji Filsafat, kampus, lembaga, komunitas mana pun, ke mana kita hendak mengarahkan hasil belajar tersebut?

Jawaban yang bisa kita prediksi untuk pertanyaan di atas adalah bahwa hasil belajar tidak jarang digunakan untuk kepentingan kampus, lembaga, atau komunitas-komunitas tertentu. Pertanyaan lebih lanjutnya adalah mengapa hasil belajar hanya digunakan untuk ‘membela’ lembaga, komunitas, atau kepentingan identitas tertentu. Sebab, seringkali komunitas tertentu hanya mengamankan ‘gawang’ lembaganya, namun melupakan manusia dan tidak segan-segan manusia dikorbankan demi mencapai tujuannya.

Seberapa banyak sih para atasan yang benar-benar peduli dengan kemanusiaan dan akumulasi profesionalitas para bawahannya yang berjuang mempertahankan dan meningkatkan kualitas lembaganya? Para karyawan itu juga manusia. Para bos di tempat kerja tentu saja punya standar dan target penjualan yang mesti dicapai. Namun, tidakkah mereka sadar bahwa para karyawan adalah manusia yang tentu saja memiliki keterbatasan tenaga. Jika yang dipikiran dan keinginan hanyalah untung, untung, dan untung, maka benar saja karyawan tidak dianggap sebagai manusia. Dari sinilah pada akhirnya melahirkan, menumbuhkan, dan berkembangnya perampasan hak-hak manusia dan juga kerjanya. Dengan demikian, manusia seringkali tidak dipandang sebagai manusia. Seperti itukah orang-orang mengabdikan hasil belajarnya?

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa bukan manusia yang dibela? Sebab, apalah arti sebuah lembaga tanpa manusia. Apakah bisa disebut masyarakat jika tidak ada manusianya. Mungkinkah dikatakan pemerintahan jika tidak ada warga yang mana mereka juga manusia. Dengan kata lain, ke mana pun kita mencari dan mengorek sampai ke akar-akar lembaga, komunitas, masyarakat bahkan negara akan didapati manusia di dalamnya. Memilih jawaban untuk membela manusia merupakan pilihan yang tidak mudah diputuskan oleh manusia. Dalam pembacaan saya terhadap sosok Mencius—atau Meng Zi, seorang filsuf Tiongkok, hidup sekitar 300 tahun setelah meninggalnya Khonghucu—poin penting saya simpulkan adalah bahwa Mencius memilih jawaban yang memihak kepada manusia.

Pilihan sadar Mencius untuk ‘menyerahkan’ diri pada kemanusiaan tidak bisa lepas dari racikan bumbu nasihat hidup dari ibunya. Nasihat dari Ibu Mencius yang menjadi begitu bermanfaat bagi kehidupan sekarang. Nasihat ini memberi pelajaran berharga kepada kita dalam me-muhasabah-kan tingkah laku atau karakter kita yang tidak sering menganggap manusia ada. Keberadaan manusia bagi kita hanyalah sebatas adanya karena ia anggota ini itu, kelompok sana sini, organisasi A B, dan karyawan toko ini itu. Bila label-label formalitas itu kita pisahkan, masihkan kita benar-benar melihat nilai-nilai kemanusiaan yang perlu diperjuangkan? Lalu apa nasihat ibu Mencius kepadanya?

Nasihat dari Ibu Mencius adalah dengan memberikan satu pelajaran penting untuknya. Konon, ibunya memberikan potongan-potongan kain (perca) kepada Mencius sembari mengingatkan untuk berusaha menjadi seperti ‘kain’. Inti nasihat melalui kain yang penting dicatat adalah bahwa menjadi ‘kain’ secara simbolis itu mengandung titah untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Dalam contoh sekarang, kebermanfaat kain bisa kita temukan. Kita bisa menengok apa yang menempel di badan kita. Kita bisa memperhatikan semua kain yang mewujud dalam beragam desain. Premis-premis kain yang menjadi bagian dalam hidup kita tentu saja bisa kita tarik satu garis kesimpulan kebermaknaan dan manfaat kain dalam memenuhi, salah satu, hajat hidup manusia. Apa yang paling penting untuk dicatat adalah bahwa kita tidak harus terpaku pada kain dan ragam exisnya, tetapi kita harus menggenggam pesan intinya, yakni bermanfaat untuk kebaikan dan kebenaran. Dengan kata lain, kebermanfaatan kita harus mampu melampaui sekat-sekat dan tembok-tembok formalitas menuju substansi manusia itu sendiri.

Kebermanfaatan hidup merupakan nasihat penting untuk kita saat ini. Melalui pesan tadi kita diingatkan melalui ‘suara’ Ibu Mencius bahwa kita harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia. Bukan memanfaatkan manusia semata-mata. Jangan-jangan kita memang lupa, atau boleh jadi memang kesadaran kita tertimbun oleh rutinitas sehari-hari, bahwa yang terpenting dicatat adalah bermanfaat dalam kemashlahatan manusia bukan kepentingan individu semata.

Apa yang dinasihatkan oleh Ibu Mencius di atas merupakan bagian dari contoh yang hidup dan ada bersama dalam keseharian kita. Contoh-contoh lain yang bisa jadi itu berasal dari orang tua kita tentu saja tidak bisa dikesampingkan. Oleh karena itu, yang lebih penting dicatat lagi adalah bahwa di mana pun dan kepada siapa pun kita dapati hikmah untuk menanam, menumbuh-kembangkan dalam diri kita dalam rangka membuka mata, pikiran, dan hati kita guna menjadi manusia yang mampu menjadi manusia, maka ambillah, pelajari, renungkan, dan gunakan. Dalam kehidupan level sosial adalah bahwa apa pun objek belajarnya, siapa pun subjek pengajarnya, ambil dan racikanlah untuk melayani hajat manusia bukan untuk menindas manusia.

Sekian.

Author: Ismail

ABOUT THE AUTHOR

Ismail

Mahasiswa Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga, Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS