Ada quote sangat menarik dari Jean Piaget tentang pendidikan, “Only education is capable of saving our societies from possible collapse, whether violent or gradual”. Bahwa hanya dengan pendidikanlah yang mampu menyelamatkan masyarakat kita dari kemungkinan keruntuhannya, baik secara langsung maupun secara revolusioner.

Beberapa bulan yang lalu, saya mendengar statemen yang menarik dari dosen dikelas, kurang lebih statemennya seperti ini, “Sistem pendidikan kita di Indonesia sangat dipengaruhi oleh Piaget”.  Kemudian saya merenungkan dan mencoba mencari titik temu antara Piaget dengan sistem pendidikan di Indonesia dengan kembali membuka rekaman Ngaji Filsafat edisi Filsafat Pendidikan pada Rabu, 10 Oktober 2018 yang mengulas tentang pemikiran pendidikan dari seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan asal Swiss itu.

Jean Piaget merupakan seorang pakar psikologi pendidikan, sangat terkenal dengan teori perkembangan kognitifnya. Pada awalnya, Piaget hanyalah seorang ahli biologi. Akan tetapi ketertarikannya dengan sains dan sejarah mengalahkan minatnya terhadap biologi. Ketertarikan Piaget dengan sains karena ia tertarik dengan proses pikiran yang bekerja dalam sains. Akhirnya dari ketertarikannya itu berlanjut sampai mempelajari tentang apa sesungguhnya pikiran dan seperti apa tahapan-tahapan dalam perkembangannya. Piaget kemudian memberi nama tentang apa yang menjadi fokus perhatiannya dengan epistemologi genetik, yaitu studi tentang perkembangan pada manusia.

Menurut Piaget, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman (tidak selalu berbentuk perubahan pada tingkah laku yang dapat diamati). Jadi menurut Piaget, setiap manusia sudah memiliki pengetahuan atau pengalaman dalam dirinya, yang tertata dalam bentuk struktur kognitif. Sedangkan proses belajar terjadi bila materi yang baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki.

Dalam teori belajar kognitif, apa yang lebih diutamakan adalah proses belajar, bukannya hasil belajar. Belajar bukan hanya hubungan antara stimulus dan respon, akan tetapi lebih dari itu yaitu melibatkan proses berpikir yang kompleks.

Menurut Piaget, terdapat empat tingkat tahapan perkembangan pada anak untuk memahami dunia mereka. Masing-masing dari tahapan itu saling berhubungan dengan usia serta dengan jalan pikiran yang tidak sama dan tingkat serta kemajuan yang berbeda pula. Keempat tingkat tahapan perkembangan anak itu adalah, pertama, tahapan sensorimotor (usia 0-2 tahun). Kedua, tahapan pra-operasional (usia 2-7 tahun). Ketiga, tahapan operasional konkret (usia 7-11 tahun). Keempat, tahapan operasioanal formal (uisa 11 tahun sampai dewasa).

Di dalam perkembangan kognitif, Piaget berpandangan bahwa proses kognitif anak-anak secara aktif memahami dunia. Mereka memiliki sebuah skema, baik itu skema yang sederhana maupun skema yang kompleks atau kerangka yang terdapat di dalam pikiran mereka yang digunakan untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan sebuah informasi. Piaget beranggapan bahwa ada dua proses yang bertanggungjawab terhadap cara anak dalam menggunakan dan mengadaptasi kedua skema tersebut, yaitu asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi terjadi ketika anak memasukkan sebuah pengetahuan yang baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Sedangkan proses akomodasi ketika adanya penyesuaian anak ke dalam informasi baru.

Menurut Peaget, perkembangan kognitif pada anak sangat tergantung pada seberapa aktif anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya dan aktif memanipulasikannya. Guru hanya berperan sebagai fasilitator, sedangkan buku sebagai sumber informasi.

Dari sini, secara sederhana dapat dikatakan bahwa konsep perkembangan kognitif dari Jean Paiget sangat erat kaitannya dengan proses pembelajaran di kelas. Terutama pada tahapan asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Terdapat juga keterhubungan antara teori perkembangan kognitif Jean Piaget dengan Kurikulum 2013 (K-13) yang menjadi mode dalam sistem pendidikan di Indonesia. Bila orientasi pembelajaran Kurikulum K-13 lebih menekankan pada keaktifan siswa dalam proses belajar, pada teori perkembangan kognitif lebih menekankan dalam proses belajar, sementara hasil belajar, dinomorduakan.

Dari kerangka pemikiran pendidikan Piaget, implikasi dalam pembelajarannya—sebagaimana disampaikan dalam kesempatan Ngaji Filsafat oleh Pak Faiz—adalah belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan ujian dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

Selain itu, bahasa dan cara berpikir siswa berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu, guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir siswa. Siswa-siswa akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu siswa agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Bahan yang harus dipelajari siswa hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Berikan peluang agar siswa belajar sesuai levelnya. Di dalam kelas, siswa-siswa hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Quote dari Piaget berikut kiranya dapat menjadi perhatian, “What is desired is that the teacher ceased being a lecturer, satisfied with transmitting ready-made solutions. His role should rather be that of a mentor stimulating initiative and research”.

Author: Khairul Huda

ABOUT THE AUTHOR

Khairul Huda

Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS