Dalam kehidupan yang digauli manusia milenial saat ini, mungkin kajian tentang kualitas berkehidupan sudah tidak menjadi suatu bahasan yang menarik. Manusia masa kini lebih fokus pada pemberdayaan kuantitas “keuangan” agar supaya hidup dapat beradaptasi dengan trend yang berlaku. Kita juga mengetahui bahwa trend masyarakat selalu berubah ubah. Entah itu munculnya dikarenakan sebuah kesengajaan dari suatu kelompok masyarakat berpengaruh era internet. Contohnya seperti trend hijrah pada kalangan urban perkotaan, dan juga berbagai macam tawaran fashion dari lapisan masyarakat kelas menengah yang menawarkan cara berpakaian yang modis, "syar’i", dan mengikuti zaman kekinian.

Trend juga bisa tercipta dikarenakan sebuah hal yang tidak disengaja, hanya saja mendapat sebuah perhatian yang berlebih dari masyarakat luas melalui kecanggihan dunia digital. Seperti viralnya suatu hal di internet maupun media sosial. Contohnya adalah sebuah nyanyian plesetan acapella berjudul Eta Terangkatlah dan lain semacamnya.

Hal-hal demikian itu dapat terjadi dikarenakan sumbangsih dari tanda dan simbol. Tanda ialah—dalam KBBI didefinisikan—kata benda “yang menjadi alamat atau menyatakan sesuatu; gejala; bukti; pengenal; lambang; petunjuk”. Berarti dengan adanya tanda manusia mengetahui hal apa, tentang sebuah petunjuk dari sesuatu, sehingga bisa mengira, hal apakah itu, atau hal apakah yang terjadi.

Sedangkan simbol berarti perlambangan akan sesuatu. Simbol mewakili sesuatu, dan menjadi “Avatar” bagi sesuatu—dalam ajaran Hindu, ada sebuah kisah tentang Rama dan Krisna, yang keduanya adalah “Avatar” dari Dewa Wisnu, bisa dibilang ‘simbol’ Wisnu—di dunia.

Masyarakat dapat sedemikian hebat dan berkembang berkat dua hal ini: tanda dan simbol. Kenapa bisa begitu? Sulit dimungkiri bahwa dua hal tersebut yang terwakili secara dominan melalui bahasa. Tanpa bahasa manusia akan sulit memberi tanda pada sesamanya tentang maksud yang ingin ia sampaikan. Dengan bahasa manusia dapat mentransfer gagasan, berkomunikasi, saling memahami, bahkan mendominasi. Contoh seperti trend hijrah ini bisa begitu menjamur dan masif di masyarakat kalau tidak dari bahasa yang membungkusnya menjadi begitu menarik. Orang menjadi tertarik, orang menjadi mengerti arah dan tujuan terciptanya perubahan (sikap, tingkah laku, dan sebagainya) ke arah yang lebih baik, yang bisa jadi bagi kalangan milenial sangat bangga dengan gelar telah berhijrah tersebut.

Kalangan milenial kemudian mengikuti trand itu tanpa menelaah latar tanda dan simbol apa yang ada dibaliknya. Transfusi gagasan orang yang ditokohkan dalam trend hijrah sudah sangat besar peranannya dalam menggaet minat keagamaan kalangan milenial. Ia juga mampu membahasakan trend hijrah sebagai gaya hidup yang islami. Dengan begini, “hegemoni” gagasannya tersampaikan secara luas.

Hanya saja, dalam hal mencerna bahasa, ada hal yang oleh manusia sendiri terkadang tidak mampu untuk mengatasi kedudukannya, yakni bias antara dunia materi dengan dunia imajinasi. Dunia materi adalah sebuah hal yang secara empiris, bisa dilihat, diraba, dirasakan, dan nyata keberadaannya. Sedang dunia imajinasi adalah sebuah kebenaran yang dipercaya manusia sebagai gagasan atau meme atau semacamnya.

Menjadi masalah ketika ketidakmampuan manusia menempatkan, membedakan hal tersebut. Sebagai contoh, pada masa lampau manusia menerka bagaimana alam semesta bekerja. Di antaranya bagaimana pasang surut air laut, bagaimana matahari terbit dan terbenam, bagaimana hujan turun. Lalu manusia mengasumsikan ada sebuah kekuatan yang berbeda di balik semua itu. Maka lahirlah konsepsi tentang dewa-dewa yang menguasai jagat raya.

Seiring berjalannya waktu, dewa-dewa itu “dimusnahkan” seiring terungkapnya sedikit demi sedikit logika alam semesta. Hanya saja dunia imajinasi itu menjadi salah satu kebenaran yang di anut manusia. Peradaban manusia dalam membenarkan atau tidak mempercayai dunia imajinasinya sendiri dapat dinalar dari terkaan manusia pada masa itu tentang alam semesta sampai pada kuasa dewa-dewa.

Lalu lebih benar mana antara keduanya? Apakah dunia materi atau dunia imajinasi? Tentunya kedua dunia memiliki daya kebenarannya masing masing. Kita tidak akan pernah bisa memungkiri dunia materi. Seperti sebuah kursi yang bisa kita duduki biasanya. Bisa kita lihat setiap waku. Dan dunia imajinasi yang kita percaya sebagai keyakinan. Sulit untuk berjejak pada salah satu dunia saja. Semisal seseorang yang tinggal di Indonesia. Maka akan ada dua alam yang dianut dalam pikirannya. Pertama adalah ia tinggal di pulau atau kepulauan bernama Indonesia. Kedua adalah percaya bahwa dirinya adalah salah satu anggota bangsa yang mencintai Tanah Air. Mencintai Tanah Air adalah salah satu imajinasi yang dibenarkan.

Ketika manusia tidak menyadari memiliki bias di antara dua dunia tersebut, mereka akan kebingungan dalam upayanya menggapai kebenaran. Hal ini terlihat di dalam alam pikir saudara-suadara kita yang terjangkit radikalisme dan menjadi bersikap “radikal” terhadap hal yang mereka percayai benar, dan selain kepercayaan mereka adalah ketidakbenaran. Karenanya mereka bertindak secara imajinatif merindukan surga, misalnya, dalam mengekspresikan kebenaran yang dipercayanya.

Contoh lainnya, bulan lalu tersiar berita bahwa sebuah gereja gagal merayakan Natal dikarenakan adanya pelarangan dari kelompok mayoritas, dengan alasan bahwa Natal adalah sebuah kesesatan, dan mereka tak ingin daerah mereka “tercemar” oleh kesesatan. Dari kasus ini kita bisa melihat bahwa, adanya ketidakmampuan membedakan dunia imajinasi dan dunia materi. Terkadang malah menganggap dunia imajinasi dalam pandangan mereka lebih benar daripada kehidupan dunia yang seharusnya, bahwa setiap manusia harus pahami kedudukannya sebagai hamba, bahwa manusia hidup berdampingan dengan satu sama lain dan bermasyarakat antar sesama manusia.

Sangat penting terutama kalangan milenial yang lagi gandrung pada trand, pada tanda dan simbol hijrah, pada sesuatu yang dibayangkan dalam pikiran tentang dambaan surga, dalam menempatkan dunia materi dan imajinasi secara proporsional, adil. Jangan malah terjebak dalam pikiran sendiri. Wallahu a’lam.

Author: Muhammad Shofiyunnashir Arrosyidi

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Shofiyunnashir Arrosyidi

Santri JPPI Minhajul Muslim Yogyakarta; Penikmat Ngaji Filsafat


COMMENTS

  • M Katur

    Trimakasih atas imformasinya

  • Farueq Muhammued

    Terimakasih kakak