Sampai mamasuki era evolusi industri 4.0 sekarang, siapa yang tak kenal dengan intelektual Buya Syafii? Demikian orang-orang manyapa dan menyebut beliau. Nama yang tentu sangat familiar di telinga generasi milenial Islam daripada menyebut nama lengkap, Ahmad Syafii Maarif. Buya Syafii, merupakan tokoh yang sangat menarik dan unik. Menarik dan uniknya bukan karena beliau pernah menjadi ketua umum organisasi keagamaan Muhammadiyah periode 1998 sampai 2005 yang pemikirannya dianggap sangat kontroversial oleh sebagian kalangan. Buya Syafii menarik dan unik karena pemikiran dan pandangannya yang aktual (update) dengan konteks keislaman dan keindonesiaan. Tak heran jika hingga kini, pemikiran dan pandangan Buya Syafii masih terus menjadi tema diskusi dalam banyak kesempatan. Mulai dari obrolan santai di warung kopi hingga obrolan serius di ruang akademisi. Tak dimungkiri, banyak karya-karya yang lahir dari pandangan dan pemikiran Buya Syafii.

Pandangan dan pemikiran Buya Syafii—sosok intelektual Islam kelahiran Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat pada 31 Mei 1935 dan penulis buku Membumikan Islam: Dari Romantisme Masa Silam Menuju Islam Masa Depan (2019) ini—tentang konsep demokrasi Islam, keislaman dan keindonesiaan dan tema-tema lain terkait agama, budaya dan tata nilai, menjadi tema diskusi di berbagai perguruan tinggi Islam, baik negeri maupun swasta, dalam tingkat daerah maupun nasional.

Secara intelektual, keilmuan Buya Syafii tak diragukan lagi. Kalaupun seandainya ada, mungkin belum pernah membaca karya-karya atau mengikut kuliah maupun diskusi dengan Buya Syafii. Beliau mendapat gelar sarjana muda dalam bidang sejarah dari IKIP (sekarang UNY) Yogyakarta pada 1968. Kemudian, melanjutkan program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, Amerika Serikat, dengan Beasiswa Fullbright.

Selain itu, di Indonesia Buya Syafii tercatat sebagai salah satu murid langsung dari intelektual sekaligus tokoh pembaharu, Fazlur Rahman—tentunya setelah beliau diterima di Universitas Chicago. Di Universitas Chicago inilah Buya Syafii bersama Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Amien Rais, secara intensif aktif melakukan pengkajian Al-Quran yang dibimbing secara langsung oleh Fazlur Rahman hingga akhirnya lulus program Doktor di bidang Studi Bahasa dan Peradaban Timur pada 1993. Disertasi Buya Syafii berjudul Islam as the Basic of State: A Study of The Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia.

Karena itu, pada dasarnya pandangan dan gagasan Buya Syafii terkait pemikiran Islam yang inklusif dan toleran banyak dipengaruhi Fazlur Rahman, ketika masih di Universitas Chicago. Dalam sebuah diskusi bedah buku Islam Tuhan, Islam Manusia (2018) bersama Haidar Bagir beberapa waktu lalu, Buya Syafii mengakui awalnya sebagai sosok fundamentalis dalam memahami Al-Quran sama seperti teks tanpa melihat konteks. Pandangan ini berubah setelah berjumpa dengan Fazlur Rahman, dan banyak diskusi dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais, hingga pada akhirnya membuka pemikiran lebih peka terhadap teks dan konteks.

Salah satu pandangan dan pemikiran Buya Syafii masih sangat relevan dan aktual ketika berbicara tentang kondisi umat Islam saat ini. Sebagaimana Buya Syafii tulis dalam salah satu karyanya, “Sudah hampir satu abad sepeninggal [Jamaluddin] al-Afghani dan Muhammad Abduh, belum banyak yang berhasil kita sumbangkan dari segi pemikiran Islam fundamental, demi mengangkat umat ke posisi yang lebih layak. Islam dalam jubah Sunnisme dan jubah Syi’isme menurut penulis ialah Islam yang sudah tua renta dan sangat lelah.” (2019: 08).

Selain itu, untuk merealisasikan gagasan-gagasan yang concern terhadap isu-isu keislaman dan demokrasi, pada 28 Februari 2003 Buya Syafii mendirikan Maarif Institute for Culture abd Humanity. Maarif Institute didirikan sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya institusi kultural yang memperjuangkan dan mensosialisasikan watak dan ciri khas Islam Indonesia sebagai agama rahmatan li al-alamin, inklusif, dan toleran serta memiliki kesesuaian dengan demokrasi yang berpihak kepada keadilan.

Melalui Maarif Institute, Buya Syafii berharap bisa memberikan dan berkontribusi dalam memopulerkan gagasan pembaruan Islam di Indonesia yang lebih mendorong pada gerbong pemikiran Islam yang inklusif dan toleran. Bagi Buya Syafii, ilmu dan pengetahuan sejarah memikat minatnya karena sejarah berbicara tentang kemanusiaan secara totalitas. Dari proses inilah rasa humanismenya tumbuh dan memperdalam perhatiannya pada masalah-masalah kemanusiaan.

Buya Syafii mengajak seluruh umat Islam pada khususnya untuk membumikan Islam dalam bingkai hablumminannas (saling mencintai dan mengasihi sesama manusia di muka bumi) yang sejati. Buya Syafii juga menyerukan agar Islam tak dipeluk dalam keyakinan yang sebatas ritual, namun juga harus mampu mengembangkan praktik dan perilaku hidup keislaman dengan memeluk utuh Islam sesuai seruan hakikinya yaitu rahmatan lil’alamin.

Kecintaanya yang tulus pada bangsa Indonesia membuatnya konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemajemukan dalam bingkai keislaman, keindonesiaan, kemanusiaan. Setidaknya inilah tagline yang sering didengungkan ketika acara short course di Ma’arif Institute, mulai tanggal 12-19 Desember 2019 yang lalu.

Dalam pandangan Buya Syafii, wajah Islam Indonesia saat ini sebagian besar sisinya bercitra negatif hingga jauh dari nilai sejati Islam sebagai agama damai. Di Indonesia mudah sekali menemukan orang-orang yang mengaku Islam namun perilakunya kasar dan merasa paling suci. Golongan Islam seperti ini hanya terjebak pada simbol-simbol saja dan menjauh dari esensi yang sebenarnya. Penyakit umat Islam di Indonesia adalah kerap menyamaratakan antara Islam dengan Arabisme. Banyak orang Islam Indonesia memahami bahwa karena Islam berasal dari tanah Arab, maka apa yang ada di Arab sudah pasti 100 persen Islam.

Buya Syafii melihat terdapat bahaya besar apabila pemahaman ini terus berlanjut karena hal tersebut akan membuat masyarakat Islam Indonesia salah dalam melaksanakan dan memahami Islam. Salah satu cara yang harus dilakukan oleh masyarakat muslim Indonesia adalah dengan menumbuhkan sikap inklusif, toleran, non dikriminatif, dan egaliter, agar umat Islam Indonesia terhindar dari fanatik agama (merasa agamanya yang paling benar). Namun, realitas saat ini bahwa toleransi, menurut Buya Syafii, masih sulit untuk ditegakkan. Dan tidak hanya toleransi, demokrasi pun juga tidak tumbuh dengan baik.

Menurut Buya, seperti diungkapkan dalam buku Islam dan Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah (2009) bahwa, “Kepentingan politik sempit yang menutup ruang untuk mengembangkan budaya toleransi di kalangan elite. Kemudian di bawah sistem politik otoritarian selama empat dasawarsa (1959-1988), demokrasi telah dibunuh secara sadar”. Hal yang sangat dianjurkan dan ditekankan oleh Buya Syafii untuk menciptakan iklim beragama yang kondusif, adalah dengan menumbuhkan sikap toleran pada setiap pemeluk agama.

Buya Syafii sendiri mengaku risih dengan sikap intoleran yang terjadi di Indonesia. Dalam buku Islam dan Politik: Teori Belah Bambu, Masa Demokrasi Terpimpin 1956-1965 (1996), Buya Syafii menegaskan bahwa, “Sebuah bangsa dapat mengalami kehancuran apabila toleransi sosial, agama, dan budaya tidak mantap”.

Toleransi, bagaimanapun sangat penting bagi Indonesia yang majemuk dalam banyak hal.

Author: Puput Dwi Lestari

ABOUT THE AUTHOR

Puput Dwi Lestari

Mahasiswi Program Magister Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga; Santri Ngaji Filsafat; Alumni Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif III


COMMENTS