Ismail

Leonardo da Vinci merupakan tokoh genius yang pernah ada. Kegeniusannya terlihat dari hampir semua bidang pengetahuan yang dikuasai. Karena kegeniusan itu orang-orang hampir-hampir sulit menemukan bidang yang tidak diketahuinya. Bisa jadi predikat seperti itu kebalikan dengan kita. Bisa jadi pada diri kita sulit untuk menemukan bahwa kita mengetahui apa-apa. Sejalan dengan itu, Fahruddin Faiz menegaskan bahwa dari pernyataan di atas setidaknya menjadi cermin buat kita untuk merefleksikan letak posisi kesadaran penguasaan kita terhadap pengetahuan. Jika ‘catatan-catatan’ yang disodorkan tidak diindahkan, maka jangan-jangan kita termasuk orang yang disindir oleh Imam Al-Gazhali sebagai orang yang tergolong tidak tahu tapi merasa tahu.

Sebagai seorang genius, Leonardo memiliki penguasaan berbagai bidang pengetahun yang baik. William Wray dalam Leonardo da Vinci in His Own Words (2005) di bagian pengantar bahkan mendaulatkan Leonardo da Vinci, dengan mendasari pengamatan Vasari, biografer artis Italia, sebagai seorang yang genius hebat sepanjang masa. Hal itu, lanjut Wray, terbukti dari kontribusi Leonardo secara luas dalam semua bidang pengetahuan manusia dan keterampilan—artis, ilmuwan, arsitekur, musisi, ahli mesin, filosof, kesusastraan, anatomi, geologi, astronomi, botani, paleontologi, dan kartografi (pembuatan peta).

Dalam catatan Pak Faiz bahwa Leonardo da vinci pernah mengatakan seorang murid yang hebat harus melebihi kemampuan gurunya. Sejalan dengan itu, Vasari dalam  Giorgio Vasari The Lives of The Artists (1991) yang diterjemahkan oleh Julia Conaway Bondanella dan Petter Bondanella, menggambarkan ketika Leonardo disuruh membantu melukis oleh gurunya Andrea del Verrocchio. Alhasil ternyata lukisan Leonardo jauh lebih bagus dibandingkan dengan Verrocchio.

Berdasarkan penguasaan Leonardo terhadap berbagai macam bidang, tidak heran misalnya ia sudah membayangkan dan berimajinasi bahwa suatu saat manusia bisa ‘terbang’. Dasar alasan kemampuan manusia bisa terbang ini bagi Leonardo, seperti yang disampaikan oleh Pak Faiz, adalah manusia dianugerahi potensi akal budi sebagai bekal berimajinasi.

Leonardo da Vinci sadar betul bahwa berimajinasi itu penting. Sebab akal budi yang dikasih oleh Tuhan akan, kalau seperti besi, berkarat jika tidak digunakan terus menerus. Leonardo memberikan suntikan semangat dan optimisme dengan mengatakan bahwa apa yang kita imajinasikan itu ada kemungkinan bisa terwujud. Terkait dengan itu, ia juga mengingatkan bahwa berimajinasi, bermimpi menjadi apa pun itu boleh asal mimpi, harapan maupun impian itu terukur. Tetapi terkadang, kita barangkali terlalu takut hanya untuk sekedar berimajinasi.

Dengan jatah hidup yang sebenarnya pas-pasan, seharusnya mendorong kita untuk segera berimajinasi dan merealisasikan imajinasi dan harapan kita. Barangkali kita punya anggapan bahwa jika terlalu banyak berimajinasi, berpikir, berbuat, kita takut jatuh pada kesalahan-kesalahan. Justru bagi Leonardo da Vinci sebaliknya. Dalam potongan quote, sebagaimana yang dikutip Pak Faiz, Leonardo mewanti-wanti kita bahwa siapa yang sedikit berpikir, maka akan banyak salah. Ungkapan ini punya nilai filosofis yang dalam. Pernyataan tersebut menekankan pentingnya kita melewati proses.

Semua orang sepakat bahwa keberhasilan itu butuh proses dan tidak instan. Untuk bisa menulis, itu butuh proses. Menulis dengan baik tentu ada proses. Membaca, menganalisis, dan menangkap gagasan utama yang ingin disampaikan penulis juga ada proses. Tokoh segenius Leonardo saja sangat ‘taat’ terhadap proses. Sampai-sampai ia pernah mengatakan bahwa kalau ada orang yang ‘mengkhotbahkan’ bisa kaya mendadak dalam sehari, lihat saja setahun kemudian orang itu akan digantung.

Saya kira penting menanyakan lebih lanjut mengenai karakter manusia dengan berkaca pada Leonardo da Vinci, atau pada siapa pun yang bisa diambil saripati kebaikannya. Pertanyaannya adalah mampukah kita mengikuti jejak orang-orang hebat, seperti Leonardo da Vinci?

Kaitan dengan pertanyaan itu, ternyata ada tiga tipe manusia yang bisa kita jadikan salah satu pijakan. Leonardo da Vinci sendiri, sebagaimana yang disampaiakan oleh Pak Faiz, mengklasifikasikan manusia menjadi tiga. Pertama, manusia yang memiliki kesadaran untuk memahami. Kedua, manusia yang bergerak untuk memahami kalau ditunjukkan. Ketiga, manusia yang tidak mau tahu.

Ketiga karakter manusia di atas memang penting untuk diidentifikasi. Ketiga ciri tersebut menurut saya juga sangat berguna untuk membaca bagaimana seorang tokoh penting renaissanse ini berada pada pencapaian-pencapaian yang bahkan hingga saat ini masih terasa. Pada bagian pertama, manusia yang mau tahu. Pada tataran inilah imajinasi, kreativitas, tindakan-tindakan terbangun. Pada level ini bisa dikatakan kita bergerak sadar, berbicara dengan landasan berpikir tanpa menunggu dorongan terlebih dahulu. Nah, lain halnya dengan karakter manusia kedua yang mau bertindak, bergerak, dan mendayagunakan imajinasi kreativitas akal budinya jika didorong dulu oleh orang lain. Karakter seperti ini tentunya banyak kita dapati. Meskipun demikian, ciri seperti itu masih mending, sebab ia masih dan ingin bergerak.

Kedua karakter tersebut merupakan syarat minimal untuk memulai setapak proses demi proses perubahan ke arah yang lebih baik. Lain sama sekali dengan dua karakter di atas, karakter ketiga yakni manusia yang tidak mau tahu. Selengkap apa pun fasilitas yang tersedia, semua itu sia-sia belakang jika dasarnya kita tidak mau tahu. Akal budi sebagai pembeda yang paling esensial dengan makhluk lainnya pun akan sia-sia belaka jika tidak dimanfaatkan. Barangkali berada pada karakter seperti ini susah kita membayangkan agar ia bisa menyamai bahkan melampaui tokoh-tokoh hebat, seperti Leonardo da vinci.

Di abad ke-21 ini yang penuh dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat ini, kiranya penting untuk membaca kembali diri kita. Jika hidup kita ingin didedikasikan lewat ekspresi-ekspresi kebaikan dan membaikan semampu kita, maka memeriksa kembali level karakter kemanusiaan seperti yang dijelaskan di atas menjadi penting. Ada di level manakah diri kita sekarang? Atau jangan-jangan kita sering mengabaikan level-level karakter manusia seperti yang dijelaskan di atas?

Mari refleksikan.

Author: Ismail

ABOUT THE AUTHOR

Ismail

Mahasiswa Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga, Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS