Mutia Senja

Judul: Begitulah, Kutulis Sejarah Para Perempuan | Penulis: Nizar Qabbani | Penerjemah: Musyfiqur Rahman | Penerbit: Diva Press, 2019 | Tebal: 108 halaman | ISBN: 978-602-391-801-0

Mengangkat satu judul menarik Nizar Qabbani, “Engkau Menulis Puisi, Aku yang Menandatangani”, sengaja menangkap kesan utama buku ini yang tegas namun halus. Serupa ketika penulis bersajak, “Aku tak pernah mencoba turunkan hujan // juga keluarkan dari kantong sebilah bulan // cinta itu memiliki undang-undang // maka saat tengah berbuah, jangan pernah ia kau biarkan.” Kemudian saya mengangguk sambil masih bersemangat membaca buku ini seolah mendengar Nizar berucap: “Aku menulis puisi, kau yang meresensi!”.

Musyfiqur Rahman—setelah terbitnya Asyhadu An La Imraata Illa Anti (Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau) terbitan Basabasi, Yogyakarta, kali ini disusul sajak Nizar bertajuk Begitulah, Kutulis Sejarah Para Perempuan yang diterbitkan Diva Press (Oktober, 2019). Keduanya bertemakan perempuan yang menjadi ciri khas kepenyairan sekaligus keberpihakan Nizar Qabbani terhadap para perempuan. Tak heran, dirinya ditahbiskan sebagai penyair cinta atau penyair perempuan pada masanya.

Bersampul ilustrasi seorang perempuan mengenakan rok merah marun, tampak bersijengket—sukutangan berhasil memperkuat rasa penasaran perihal sejarah apa yang hendak disajikan Nizar. Apakah sejarah tentang asal-usul yang mengisahkan masa lampau hingga terbentuklah manusia berjenis kelamin perempuan? Atau sebagaimana penyair mengimajinasikan keindahan seseorang yang dicintainya dalam wujud paling puisi?

Barangkali dalam sajaknya, Pengantar 1 sampai 3, Nizar menawarkan jawaban, “Kau adalah awal mula // lalu barulah ada para perempuan” (hlm. 18). Meski masih terkesan simbolis, dalam sajak pengantar yang lain dituliskan, “Aku tak menulis kepiluan seorang perempuan pun // Aku hanya menulis sejarah para perempuan.” Lalu, kepiluan dan sejarah para perempuan seperti apa yang dimaksud Nizar? Mengapa dalam Percakapan Bersama Perempuan Paruh Baya, ia bersajak, “Benar bahwa sejarah // akan memutar kembali dirinya sendiri” (hlm. 101)? Apakah setelah membaca buku ini, kita akan dipahamkan kepada pengetahuan semula tentang perempuan menurut versi pembaca?

Merujuk kepada pilu yang dimaksud Nizar, Musyfiqur mewartakan, “Kepiluan seorang perempuan dalam pengamalan personal Nizar dapat dipastikan adalah istrinya yang meninggal secara mengenaskan” (hlm. 13). Persoalan lain, ia ingin menegasikan seluruh konstruksi besar kesejarahan masa lalu yang telah “meracuni” pemahaman manusia sehingga asumsi tersebut sering kali dijadikan alasan untuk menempatkan perempuan tak lebih sebagai masyarakat kelas rendah yang dituntut untuk tunduk dan patuh kepada kelas utama, para lelaki (hlm. 12).

Menangkap pernyataan tersebut, benar adanya jika puisi-puisi Nizar seolah mewakilkan jeritan hati perempuan. Baca sajaknya bertajuk, Maukah Engkau Pergi Bersamaku Menuju Lautan Matra?, Schizophrenia, Engkau Menulis Puisi, Aku yang Menandatangani, Kepada Nona yang Menciptakan Keheningan, Percakapan Bersama Perempuan Paruh Baya, hingga Wahai Nona yang Melepas Feminitasnya. Tujuh dari tujuh belas puisi yang digarap dengan ramah oleh penerjemah cukup menjadi jawaban atas keberpihakan Nizar. Lalu mengapa saya menyebutnya ramah?

Tak lepas dari kepiawaian Musyfiqur mengalihbahasakan teks Arab ke dalam bahasa Indonesia, saya turut mengamini ungkapan Maman S. Mahayana, “Saya menikmati puisi Nizar Qabbani ini seperti bukan karya terjemahan. Diksinya terjaga dengan sangat baik.” Itulah sebabnya—selayaknya puisi romantisme yang memiliki karakter ‘segar’—kita dapat menangkap maksud tanpa dipersulit dengan pemahaman yang rumit.

Berbeda dengan Aku Ingin Engkau Menjadi Perempuan Sejati, Nizar tampak mengindahkan perempuan sebagai sesuatu yang agung, “Mungkin sesekali aku bisa menemukan sebuah jazirah // dan sesekali pula mutiara dapat kujarah // namun, menemu perempuan adalah mukjizat termegah” (hlm. 21). Uniknya, ia juga memperhatikan konsonan akhir dalam setiap lariknya, sehingga nilai estetis puisi dapat tercipta.

Menerjemahkan makna sekaligus memainkan rima hingga berirama bukanlah hal yang mudah. Kejelian Musyfiqur tampak dalam puisi Nizar berikut, “Serta tertulis dalam buku-buku air, mawar, dan melati // aku ingin engkau ucapkan salam perpisahan bagai merpati // seperti air dalam gumpalan awan begitu murni” (hlm. 24). Pun dalam larik Schizophrenia, ketepatan diksi mampu mempengaruhi pelafalan, “Di antara kita ada banyak pemimpin tiran, informan // kantong-kantong kekuasaan // dan perusahaan saham gabungan // yang hendak memberantas cinta, revolusi, dan tulisan” (hlm. 75). Inilah sekelumit penemuan yang saya yakin—berdampak pada spontanitas pembaca untuk mengatakan bahwa puisi-puisi ini memang layak dinikmati.

Menyoal ciri khas, hampir seluruh puisi Nizar mengandung repetisi. Menariknya, Nizar berkolaborasi dengan teknik penerjemah yang luwes, puisi-puisi ini berhasil memblokade istilah monoton. Meskipun demikian, kita tidak boleh mengabaikan makna yang ingin disampaikan penulis dalam sajak-sajaknya. Berikut saya tuliskan secara acak repetisi Nizar.

Apakah aku jatuh hati padamu?

Tak ada yang pasti

Apakah aku mengalami gangguan penglihatan dan jiwa?

Tak ada yang pasti

Apakah aku berkepribadian ganda?

Tak ada yang pasti

(Aku Ingin Engkau Menjadi Perempuan Sejati)

*

Apa yang akan terjadi pada lautan dan bahtera?

Apa yang akan terjadi pada kejora?

Apa yang akan terjadi pada peradaban dan juga kota?

(Apa?)

*

Aku lukis di atas kanvas

Aku lukis di atas kaca

Aku lukis pada hujan, lautan, dan catatan malam

(Sajak Cinta 1980)

Tak perlu diragukan, kumpulan puisi ini mampu memperkaya wawasan kita terhadap khazanah sastra Timur yang tentu mempengaruhi khazanah sastra kita. Begitulah, Kutulis Sejarah Para Perempuan, Nizar Qabbani dengan sajak-sajaknya mengajak kita untuk bijak memahami naluri perempuan sebagai bukan hanya perempuan. Namun seseorang yang mulia, agung, dan harum. Bukan hanya harum, tapi semerbak. Maka bilamana menemui fakta negatif yang mengatasnamakan perempuan, sajak Nizar berujar sebagaimana aku lirik sedang memproklamirkan gejolak batinnya yang menyangkal ketidakadilan. Sebagai bukti, simak cuplikan puisi Nizar berikut:

Aku ingin engkau menjadi perempuan sejati

Karena peradaban itu perempuan

Sajak juga perempuan

Tangkai tombak juga perempuan

Botol parfum juga perempuan

Paris—di tengah-tengah banyak kota—juga perempuan

Beirut—dengan segala lukanya—tetaplah perempuan

Atas nama orang-orang yang ingin menguah puisi

Jadilah perempuan

Atas nama orang-orang yang ingin mencipta cinta

Jadilah perempuan

Atas nama orang-orang yang ingin mengenal Tuhan

Jadilah perempuan

Betapa perempuan sangat diagungkan oleh aku lirik, seolah memecah konsensus terhadap predikat negatif perempuan—menjadikannya mulia dan utama: jadilah perempuan. Mantra ini memberi gambaran bahwa sajak-sajak Nizar sewajarnya lahir sebagai singgasana bagi para perempuan yang membutuhkan perlindungan dan cinta kasih. Ketulusan lahir menjelma bait, membingkai ideologi pembaca, mengajaknya turut serta dalam lautan esensi yang dalam dan hendak berujar, Maukah Engkau Pergi Bersamaku Menuju Lautan Matra?. Baitnya bersuara:

Lalu mengapa engkau tak mengenakan topi matahari?

Pergi bersamaku

Aku benar-benar jemu dengan jalinan akademik ini

Yang memaesimu dengan gaya ala istri-istri tanpa cinta

Dan menyandangimu dengan gaya puisi berlajur

Lalu mengapa kita tak menuju lautan matra saja?

Matra tak mesti mengulangi dirinya sendiri

Tak mesti pula kembali ke sajak-sajak klasiknya

Matra adalah perubahan dan kelahiran

Aku ingin engkau berubah dan mengubahku

Aku ingin melahirkanmu lalu engkau melahirkanku

Aku ingin mengukir tubuhmu dengan khath Kufi

Seperti seorang perempuan yang sedang jatuh hati

Mengukir nama sang kekasih di dadanya

Sebelum ia berangkat ke medan laga

“Begitulah, kutulis sejarah para perempuan!” tegas Nizar. Sebagaimana pembaca bebas menafsirkan puisi, buku ini menawarkan hal yang sama pula. Membaca buku ini, saya merasa menyelami telaga ibu (perempuan) yang menyelinap—hidup dan dihidupkan Nizar ke dalam benak pembacanya.

Author: Mutia Senja

ABOUT THE AUTHOR

Mutia Senja

Alumnus IAIN Surakarta. Lahir di Sragen, Jawa Tengah. Bergiat di Sekolah Menulis Sragen. Hobinya menulis sesuka hati


COMMENTS