Judul: Para Pembunuh Tuhan | Penulis: A. Setyo Wibowo, dkk | Penerbit: Kanisius, 2019 | Tebal: 136 hlm | ISBN: 978-979-21-2159-9

Tuhan, mungkin adalah “kata” yang selalu disebut-sebut dalam keseharian kita, apalagi umat Islam yang memang dalam lima waktu sehari semalam diwajibkan untuk mengingat Tuhan. Meskipun sulit untuk dijangkau, tetapi Tuhan selalu menarik untuk diperbincangkan dan obrolkan. Dan tak ada wacana dari berbagai diskursus dari masa ke masa yang lebih sering diobrolkan selain kata Tuhan.

Obrolan manusia mengenai Tuhan sungguh sangat menarik dan luar biasa, baik dari para ahli, teologi, filosof, agamawan, sufi, intelektual, bahkan melebihi kaum atheis sekalipun. Obrolan manusia tentang Tuhan telah menghasilkan bertumpuk-tumpuk, ribuan bahkan miliyaran karya. Karya ini tentu dituangkan dalam suatu konsep, ide, kata, dan doktrin, yang mana tujuannya agar manusia sendiri mampu memahami kerangka berpikir mengenai konsep ketuhanan yang dianut.

Dalam hal ini termasuk tulisan ini dan karya Karen Armstrong berjudul Sejarah Tuhan (Mizan: 2007), yang berusaha memotret fakta-fakta menarik mengenai obrolan manusia tentang Tuhan. Menurutnya obrolan manusia mengenai Tuhan, telah berlangsung seumuran dengan adanya peradaban manusia sekitar 4.000 tahun lamanya. Karenanya, tak ada agama satu pun yang bisa memastikan pertama kali dianut manusia. Sejauh manusia mendefinisikan agama berkaitan dengan wahyu ketuhanan adalah agama yang dibawa Nabi Ibrahim.

Karena tak ada yang bisa mendefinisikan tentang Tuhan, maka kita jangan heran kalau setiap perabadan memiliki ciri khas tersendiri dalam mempresentasikan tentang Tuhan. Sebut saja misalnya, dalam perabadan Yunani Kuno, menganggap bintang sebagai Tuhan (Dewa), Venus adalah Tuhan Kecantikan, Mars dianggap Dewa Peperangan, Minerva adalah Dewa Kekayaan, sementara Apollo atau Dewa Matahari dianggap sebagai Tuhan paling tinggi.

Demikian dalam peradaban agama Hindu pada masa lampau juga memiliki banyak dewa seperti Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa yang diyakini sebagai Tuhan. Mesir pra Islam pun tak ketinggalan, juga memiliki ciri khas dalam menyakini adanya tuhan seperti, Dewa Iziz, Oziris, dan Dewa Ra’ dianggap sebagai Tuhan paling tertinggi. Arab Quraisy pra Islam pun ikut terkena virus kepercayaan terhadap dewa ini, seperti al-Latta, al-Uzza, dan Manna, yang merupakan Tuhan terbesar, di samping ratusan berhala lainnya.

Obrolan tentang Tuhan di kalangan para intelektual filosof pun juga menarik mulai dari para filosof paripatetik Yunani hingga para filsuf paripatetik Muslim pun memang distinct dan uniqie. Misalnya, Plato (427-347 SM) menyebut Tuhan sebagai kebaikan tertinggi atau demeiougos (sang pencipta) dari alam dan sebagai ide tertinggi dari alam ide. Aristoteles (384-322 SM) menyebut Pengerak yang tidak Bergerak (Unmoved Mover, atau al-Muharrik Alladzi La Yataharrak) atau Penggerak Pertama (The Prime Mover), dan Plotinus (204-270 M) menyebut Yang Satu (The One).

Para filsuf paripatetik atau masya’iyah muslim awal seperti, al-Kindi (806-873 M) menyebut dengan Yang Benar Pertama (al-Haqq al-Awwal), atau Yang Benar Tunggal (al-Haqq al-Wahid), al-Farabi (806-873 M) menyebut sebagai Akal yang Selalu Berpikir tentang Diri-Nya, dan Ibn Sina (806-873 M) menyebut Wajib al-Wujud, sedangkan al-Ghazali (1058-1111 M) menyebut Yang Awwal dan Yang Terakhir, Yang Nyata dan Yang Tersembunyi, sebagaimana yang diambil dari sejumlah nama Asma’al-Husna.

Dari padangan ini kita bisa tahu bahwa setiap individu memiliki pandangan tersendiri tentang konsep ketuhanan. Lalu pertanyaannya, bagaimana seandainya Tuhan dengan segala penyebutan yang distinct dan uniqie dari setiap individu itu diburu dan dibunuh oleh manusia yang menyebutkan diri sebagai manusia modern?

Sudah bukan rahasia lagi bahwa abad ke-19 M menjadi awal dari manusia modern memburu dan membunuh Tuhan. Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) dianggap sebagai biangkeladi dari semua pembunuhan atas Tuhan. Klaim “Tuhan telah mati” oleh Nietzsche bisa dipahami sebagai Tuhan yang langsung merujuk pada Tuhan Kristiani yang agamanya ia kritik habis-habisan (hlm. 08).

Kata Tuhan yang dinyatakan mati oleh Nietzsche, secara singkat bisa merujuk pada apa saja yang dituhankan oleh manusia sebagai hal dasar segaka sesuatu (being). Bahkan lebih dari itu semua, bisa merujuk pada Tuhan kita, ada tertinggi yang kita junjung dan kita jadikan pusat hidup sebagaimana penyebutan di atas.

Bagi Nietzsche dan para pengikutnya mulai dari stereotip humanisme Jean Paul-Sartre, Martin Haidegger hingga disseminasi Michel Faucault yang beranggapan bahwa kematian tuhan adalah fakta taken for granted yang tak perlu dipertanyakan, tinggal dilanjutkan. Dengan demikian, yang namanya kodrat manusia tak ada karena tak ada Tuhan untuk mengadakan. Selama Tuhan dianggap ada, manusia akan berpikir dengan skema kodrat manusia.

Hilangnya Tuhan dalam narasi kemanusian begitu tampak bagi Nietzsche. Narasi Tuhan dalam corak estetika orang Yunani Kuno dicurigai sebagai protagonis yang hanya terjadi dalam jagad mimpi-mimpi (traumes) yang ini kemudian disebut sebagai aforisme atau metode berpikir hermeneutics of suspicious. Misalnya Dewa Apollo bertolak dari mitologi dan dipandang sebagai dewa terang yang berkuasa atan dunia fantasi di dalam jiwa setiap orang (hlm.77).

Dalam sejarah pemikiran filsafat Barat modern yang sangat kuat dipengaruhi kekristenan bentuk ideal itu adalah tuhan itu sendiri. Tuhan adalah kebenaran absolut, ide metafisis tertinggi. Tuhan mucul berbagai variasi makna, nilai di luar semua itu tak bermakna dan tak bernilai.

Bagi Nietzsche dan para pengikutnya Tuhan semacam ini perlu ditiadakan. Di sinilah proses nihilisme terjadi dan Nietzsche berkata bahwa “Tuhan telah mati” yang merujuk pada kenyataan bahwa Tuhan yang seringkali bersifat moral yang pada akhirnya terlalu bersifat manusiawi. Titik tolak “Tuhan telah mati” adalah kata-kata Dosteievsky—seorang penganut filsafat eksistensialisme atheis, “kalau tuhan tak ada, segalanya diperbolehkan”. Dengan kematian Tuhan tak ada alasan yang bisa dipegang manusia.

Dalam konteks kematian Tuhan ini, ada semacam peralihan tanggung jawab manusia, kalau dulu tanggung jawab pada Tuhan, sekarang harus dipikul sendiri. Manusia harus bisa bertanggung jawab atas pilihan-pilihan di depan seluruh manusia secara total.

Diakui sebagai bagian dari dampak pernyataan Nietzsche atau tidak, kini Tuhan bagi manusia modern ternyata hanya sekedar proyeksi untuk hasrat-hasrat manusiawi. Oleh karena itu, Tuhan tak lagi bisa dipercaya pure secara teologis. Selain itu, bagi kita Tuhan yang moralistik seringkali hanya topeng yang dipakai sebagai sarana segelintir orang mengejar nafsu-nafsunya yang terlalu manusiawi seperti tahta, kekuasaan, perempuan/seks, dan harta kekayaan duniawi.

Pada akhirnya, tanpa disadari manusia memang seringkali membunuh “Tuhan teologis” dan lebih meyakini “Tuhan historis”. Manusia selalu menciptakan “tuhan-tuhan” baru untuk mengisi hidupnya. Begitu.

Author: Syahuri Arsyi

ABOUT THE AUTHOR

Syahuri Arsyi

Mahasiswa dan Penikmat Ngaji Filsafat Virtual


COMMENTS