Lev Widodo

Maaf. Tebakan Anda salah. Walaupun judul tulisan ini Sepatu Sang Filsuf, saya tak hendak berkisah tentang Mahatma Gandhi yang membuang sepatunya untuk membahagiakan orang miskin yang menemukannya. Saya ingin bertutur tentang sepatu yang lain, tentang filsuf yang lain. Filsuf tanpa nama, dari negeri tak dikenal.

Dia punya sepasang sepatu tua. Setiap hari dia memakainya. Sekarang sudah rusak. Tapi, dia ingin terus memakai sepatu tersebut. Ribuan kenangan, dari yang paling manis sampai yang paling pahit, melekat pada sepatu tercinta itu.

Maka, sang filsuf mendatangi tukang sepatu untuk memperbaiki "kenangannya". Hari sudah petang dan bengkel sepatu harus segera tutup. Filsuf kita melepas sepatu rusaknya dari kakinya yang lelah, lalu menyodorkannya kepada tukang sepatu.

"Maaf, Pak," ujar tukang sepatu, "kami sudah mau tutup. Besok saja kembali ke sini."

"Ini sepatu saya satu-satunya. Saya pulang ke rumah pakai apa?"

"Oke. Tinggalkan di sini saja. Minggu depan silakan ambil. Bapak pakai sepatu saya saja."

"Masak pakai sepatu orang lain? Apa kata dunia?"

"Tidak usah gengsi, Pak. Kenapa malu pakai sepatu orang? Bapak 'kan filsuf. Suka bicara menggunakan pikiran orang lain."

Anekdot ini melontarkan lembing sindiran tajam ke jantung kita, baik yang belajar filsafat maupun yang tidak. Berapa banyak gagasan orisinal dalam kepala kita? Demi memperoleh afirmasi dari sebanyak-banyaknya orang, kita cenderung lebih suka mengutip pikiran orang lain yang terkenal dan hebat, daripada merujuk pikiran sendiri. Kita lebih suka memakai "sepatu intelektual" orang lain yang mahal dan branded daripada mengenakan sepatu sendiri yang menurut kita jadul dan katrok.

Demi mencapai keamanan dan kemenangan ego, kita memilih menjadi orang lain. Jati diri pun terkubur di sudut relung hati yang terlupakan.

Kita tahu, hasrat untuk menjadi orang lain merupakan penyebab alienasi jiwa. Kerinduan membuncah untuk memiliki kebahagiaan abadi adalah simptom jiwa yang teralienasi. Kebahagian dikejar jungkir balik. Penderitaan ditolak mati-matian.

Kalau berhasil merebut sepercik kebahagiaan, kita genggam kebahagiaan tersebut kuat-kuat. Tak ingin melepaskannya. Tak rela mengikhlaskannya walaupun kebahagiaan itu telah menjadi masa lalu yang mustahil kembali. Yang tak mungkin terulang lagi.

Sikap batin demikian membentuk relasi sosial yang toxic, impulsif, dan posesif. Kita kecanduan berhubungan dengan orang-orang tertentu yang mengafirmasi perasaan, pikiran, ucapan, atau perbuatan kita. Kita ingin selamanya bersama sosok-sosok yang secara tentatif memuaskan dahaga eksistensial kita.

Hati melekat, bahkan terikat sangat erat, dengan kefanaan. Kemerdekaan sejati, apa yang dicari para filsuf dan mistikus sepanjang masa, tak kita miliki.

Kita terpisah jauh dari jati diri. Kita mengidentifikasi dan mendefinisikan diri sebagai orang lain yang kita idolakan. Konsep diri kita dibentuk oleh persepsi pihak lain terhadap kita. Identitas bukan hal genuine yang memancar dari dalam, melainkan "topeng" yang terberikan, yang nafsu ingin mengenakannya.

Maka, kita pun menjadi serasah yang hanyut terseret-seret arus sungai kehidupan. Rubuh-rubuh gedhang. Bila pemikiran Nietzsche sedang viral, kita ikut tergila-gila kepada "sang pembunuh Tuhan" itu. Ketika gagasan Nasr Hamid Abu Zayd sedang digandrungi, kita tak mau ketinggalan berkicau tentang hermeneuitika. Saat orang-orang berikrar "NKRI Harga Mati", pada profil akun media sosial, kita memasang bendera merah putih, dibubuhi slogan "NKRI Harga Mati".

Jika teman-teman mengenakan jilbab, kita juga mengenakan jilbab, hanya supaya tak merasa terasing dan terkucil. Tatkala kawan-kawan kita yang mendadak saleh membersihkan gigi dengan siwak, kita pun ke mana-mana mengantongi siwak.

Lalu, siapa kita?

Alienasi jiwa merupakan fenomena psikososial yang sudah sangat tua. Sebelum dibicarakan Carl Jung, Karl Marx dan Kierkegaard sudah mempelajarinya. Mundur ribuan tahun ke belakang, Sokrates telah menyaksikan simptom alienasi jiwa dalam masyarakat Athena. Karena itu, dia tak henti-hentinya mengingatkan: gnoti's afton, kenalilah dirimu.

Siapakah aku? Apakah aku adalah idolaku? Apakah aku adalah persepsi orang lain terhadapku? Apakah aku adalah apapun yang kini sedang trend dan viral? Apakah aku adalah peran sosialku? Apakah aku adalah agamaku, bangsaku, sukuku, kampung halamanku? Apakah aku adalah pakaianku? Apakah aku adalah tubuhku? Apakah aku adalah emosiku? Apakah aku adalah pikiranku?

Apapun jawabannya, alienasi jiwa perlu segera disembuhkan. Sebab, bila dibiarkan begitu saja, ia menjadi tumor-ganas rohani yang menggerogoti dan merusak kesehatan jiwa kita. Alienasi jiwa akan menjelma bisikan untuk menghancurkan baik diri sendiri maupun orang lain. Joker adalah korban alienasi jiwa. Demikian pula Sulli, mendiang artis K-Pop yang kematiannya menggoncang jagat hiburan Korea Selatan.

Problem besar kebudayaan semacam itu berawal dari sesuatu yang kecil dan sepele, yaitu mengenakan pikiran orang lain, melupakan jati diri. Bila tak disindir tukang sepatu, boleh jadi filsuf yang saya kisahkan di awal tulisan ini karena mengalami dahaga eksistensial dan alienasi jiwa kelak menjadi seperti Hitler atau Nero. Siapa yang tahu?

Author: Lev Widodo

ABOUT THE AUTHOR

Lev Widodo

Blimbing sukmo


COMMENTS