kredit gambar. jogjainside.com

Budaya erat berkaitan dengan agama. Inti pokok dari nilai-nilai agama itu bisa disalurkan melalui budaya masyarakat setempat, sehingga masyarakat dapat melaksanakannya dengan leluasa dan terus diwariskan. Kegiatan agama itu sendiri, bila dilaksanakan secara terus-menerus dan diwariskan turun menurun, akan menjadi sebuah budaya, atau membudaya. Dari sini kebudayaan terbentuk.

Dalam buku Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya (2009), Larry A. Samovar dan Richard E. Porter mengungkapkan bahwa kebudayaan dapat berarti simpanan yang terkumpul dari pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pilihan waktu, peranan, relasi ruang, konsep yang luas, dan objek material atau kepemilikan yang dimiliki dan dipertahankan oleh sekelompok orang atau suatu generasi. Nilai yang terkumpul dari berbagai kebiasaan itu akan melahirkan sikap kebersamaan yang tinggi, saling menyayangi, dan menghormati satu sama lain.

Nilai-nilai inilah yang kemudian menurut saya ingin diwujudkan dalam sebuah acara yang sudah menjadi tradisi turun-menurun di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu tradisi sekaten. Tradisi tersebut dilaksanakan dalam rangka menyambut kelahiran Rasulullah Saw, dan dilaksanakan satu tahun sekali selama tujuh hari. Sekitar sebulan sebelum puncak acara, diadakan pasar malam, yang berisi berbagai macam fasilitas permainan, jual-beli, dan berbagai macam pertunjukan, penuh dengan keramaian, menjadi salah satu jujukan anak kecil sampai orang tua mencari hiburan. Tujuan utama dari tradisi sekaten adalah sebagai media untuk menyebarkan agama Islam, khususnya pada zaman walisongo dahulu. Sejarah bermulanya upacara ini sangat kompleks dengan nilai-nilai agama.

Asal-usul istilah Sekaten berkembang dalam beberapa versi. Ada yang berpendapat bahwa sekaten berasal dari kata sekati, yaitu nama dari dua perangkat pusaka Kraton berupa gamelan yang disebut Kanjeng Kyai Sekati yang ditabuh dalam rangkaian acara peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Pendapat lain mengatakan bahwa sekaten berasal dari kata suka dan ati (suka hati, senang hati) karena orang-orang menyambut hari Maulud Nabi Saw dengan perasaan syukur dan bahagia dalam perayaan pasar malam di alun-alun utara.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata sekaten berasal dari kata syahadataini, dua kalimat dalam syahadat Islam, yaitu syahadat tauhid (Asyhadu alla ila-ha-illallah) yang berarti “Saya bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah”, dan syahadat rasul (Wa asyhadu anna Muhammadarrosululloh) yang berarti “Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah.” Dari berbagai pendapat di atas, tradisi sekaten ini mengandung nilai-nilai kesenian, sosial, pendidikan, dan dakwah, terkumpul menjadi satu dalam perhelatan sekatenan tersebut. Etika yang diwujudkan dalam hidup bersosial, dihiasi dengan nilai estetika dalam rona pelaksanaan, akan memperkuat dakwah islami dan mengokohkan kesatuan insani.

Berawal dari keresahan para wali, bagaimana cara menyebarkan agama yang mudah untuk diterima di kalangan masyarakat yang masih awam dan kental akan budaya. Karena kebiasaan masyarakat setempat senang dengan kesenian, maka Sunan Kalijaga berinisiatif untuk menjadikan seni sebagai media dakwah.

Kemudian dibuatlah salah satu perangkat musik berupa gamelan oleh Sunan Giri. Gamelan inilah yang kemudian menarik hati masyarakat untuk berkumpul melihatnya, gamelan waktu itu dimainkan oleh Sunan Kalijaga di sebuah masjid. Setelah berkumpul, kesempatan ini digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah dan dalam bentuk drama wayang. Sejak saat itu orang-orang mulai mengenal dan akhirnya banyak yang kemudian memeluk agama Islam. Sunan Kalijaga sadar bahwa masyarakat senang dengan perayaan, apalagi keramaian yang dihubungkan dengan agama dan diselingi dengan gamelan, tentu akan sangat menarik perhatian. Akhirnya, beliau berinisiatif untuk menyelenggarakan perayaan setiap menyongsong hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Dari kebiasaan itulah yang kemudian menjadi tradisi yang disebut sekaten.

Dakwah melalui budaya memiliki pengaruh mendalam di masyarakat, karena budaya merupakan bagian yang tak terlepaskan dari masyarakat. Dalam Al-Quran surat Al-A’raf ayat 199 Allah berfirman, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf (tradisi yang baik), serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” Di sini dijelaskan bahwa yang dimaksud ma’ruf dalam ayat tersebut adalah tradisi atau kebiasaan yang baik. Dalam istilah ushul fiqh disebut dengan istilah ‘urf.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili berkata, “Yang realistis, maksud dari ‘urf dalam ayat di atas adalah arti secara bahasa, yaitu tradisi baik yang telah dikenal masyarakat”. (Az-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, 2/836). Agama menyuruh kita untuk membiasakan hal-hal yang baik, karena hal yang baik akan mengalirkan nilai-nilai yang baik pula dan melahirkan generasi yang tidak berpaling dari kemurnian ajaran agama. Saya rasa bukan hanya Islam yang menekankan hal tersebut, namun juga agama-agama lain tidak terlepas dari tradisi yang dinilai baik.

Setiap tahap dari tradisi sekaten mengandung nilai dakwah yang mendalam. Mengajarkan masyarakat tentang bersyukur, yang tergambar dalam peringatan Maulid Nabi, syukur atas kelahiran, segala jasa, dan perjuangan beliau menyebarkan agama Allah di muka bumi. Masyarakat akan tahu bagaimana perjalanan hidup Rasulullah Saw. Kemudian diadakan acara grebek maulid dan penyebaran keping logam, yang memberikan pesan untuk senantiasa bersadakah dan saling berbagi. Berkumpulnya orang-orang dalam acara tersebut akan membangun jalinan persaudaraan dan kokohnya persatuan. Segala tahapan dari acara tersebut dapat menjadi strategi dakwah yang efektif di masa kini. Di mana banyak orang yang senang dengan kesenian. Apalagi sebelum puncak acara diadakan pasar malam, ini akan menambah daya tarik dalam mengaplikasikan ajaran Islam, yaitu mempererat tali silaturrahim baik antar keluarga maupun orang yang baru kita kenal, dengan adanya pasar malam ini akan menjadi momen tersendiri bagi masyarakat Yogyakarta dan selainnya, serta dapat menguatkan perekonomian umat.

Dapat dibayangkan semua elemen dapat mengambil andil dan bagian, mulai dari pedagang, wahana hiburan, kesenian, sampai tukang parkir. Dengan momen yang diadakan satu kali dalam setahun, tentunya akan menarik masyarakat dan membludaknya pengunjung untuk tidak mau ketinggalan dalam acara tersebut. Dan hasilnya akan meningkatkan perekonomian yang nantinya dimanfaatkan untuk kepentingan syiar Islam, sebagai ajang untuk merawat warisan walisongo, seni, dan tradisi. Oleh karenanya, tradisi sekaten harus tetap dijaga asal-usulnya dari arus pengaruh yang hanya mementingkan secara ekonomi, agar makna yang sesungguhnya dari acara sekaten dapat terealisasikan sebagai bentuk perayaan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw.

Author: M. Sabron Sukmanul Hakim

ABOUT THE AUTHOR

M. Sabron Sukmanul Hakim

Program Studi Magister Komunikasi Penyiaran Islam, Pascasarjana Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Email: sabronsukma@gmail.com


COMMENTS