Agama yang mengikuti zaman atau zaman yang mengikuti agama? Sebuah pertanyaan sekaligus bahan perenungan bagi diri kita masing-masing. Rona perkembangan zaman semakin terlihat jelas, terkesan melenakan dan membuat banyak orang terpukau. Sebagian besar orang mengejar keduniaan, tidak peduli akan ombak yang menghantam, tidak takut akan tenggelam, dan bagi yang sudah berhasil menyelaminya akan enggan untuk meninggalkannya. Itulah keindahan zaman yang membuat kita tertipu dan buta dengan kebaikan. Orang semakin sulit untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Di sisi lain, banyak terjadi ketimpangan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, menodai keadilan, mengotori agama dan inti dari sebuah pengetahuan. Agama yang seharusnya mengatur jalan hidup manusia, seakan kini hanya sebatas ilmu yang dipelajari untuk memenuhi kurikulum sekolahan, kepentingan golongan, tanpa mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Ada yang mengatakan bahwa karena kita hidup di zaman yang berbeda dengan zaman Rasulullah SAW, maka kita harus bertindak sesuai zaman. Benar adanya bahwa kita tidak akan bisa menghindar dari laju perkembangan zaman karena kita sedang berada di dalamnya. Namun landasan spiritual dan inti ajaran agama tidak boleh lepas dari diri kita, karena itu yang menjadi semangat ruh yang dapat membedakan mana yang baik dan tidaknya suatu perbuatan, mana yang harus dan tidak perlu untuk kita lakukan. Kita tidak bisa menyalahkan zaman, karena zaman tidak pernah bersalah. Zaman hanya berjalan sesuai sunatullah, sesuai garis yang telah Allah tetapkan. Apa yang kita hadapi saat ini itulah yang terbaik dari Allah Swt. Rasulullah Saw melarang kita untuk mengatakan “seandainya”.

Imam Al-Ghazali pernah berkata, bahwa apa yang terjadi saat ini itulah yang terbaik untuk kita. Bila sudah berusaha dan berdoa semampu kita, kemudian Allah menakdirkan yang lain, yakinlah bahwa itu yang terbaik bagi kita, karena Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

Arus zaman

Suguhan zaman yang kini serba instan, ditambah suara tabuh gendang modernisasi semakin membahana, pemikiran keras semakin subur dan menjalar ke berbagai kalangan. Akhlak yang seharusnya dijunjung tinggi semakin merosot dan hampir tidak dipedulikan lagi. Tuntunan agama tidak lagi menjadi acuan terdepan, namun disembunyian bahkan dihilangkan untuk nanti dimunculkan saat dibutuhkan. Agama dijadikan alat pencitraan mengikuti perkembangan zaman, bukan zaman yang mengikuti agama. Padahal agama mencakup setiap sendi kehidupan dan berlaku sepanjang zaman.

Kita terkadang menutup-nutupi kebenaran atas dasar kepentingan pribadi, menampakkan keburukan seolah-olah itu dibolehkan dengan mengutip ayat-ayat yang ditafsirkan sesuka hati. Menggunakan dalil untuk membungkus keburukan, hukum diakali untuk supaya mengikuti nafsunya. Jika demikian halnya, dimana fungsi Al-Quran sebagai pedoman hidup? Di mana posisi kita sebagai seorang hamba yang senantiasa mengikuti perintah dan aturan-Nya? Allah Swt telah menegaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 42, “Wa laa talbisul haqqo bil baathili wa taktumul haqqo wa antum ta'lamuun.” (Dan janganlah kalian membungkus kebenaran dengan keburukan dan menutup kebenaran padahal kalian mengetahui).

Dalam ayat tersebut, Allah menyindir atau menegur orang yang sudah mempelajari dan mengetahui hukum agama, namun tidak menyuarakannya, malah menutupi dan membenarkan yang buruk. Sebuah kata mutiara berbunyi, “Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit”. Seiring dekatnya sebuah hubungan, terkadang kita malu untuk menegur saudara, sahabat, dan orang-orang terdekat kita, merasa takut dibenci, dikucilkan dan sebagainya. Kendati demikian, sedapatnya kita menasehati, menegur secara halus, sebagai wujud kasih sayang kita terhadap sesama dan bentuk penghambaan kita terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ayat 42 dari surah Al-Baqarah di atas, mengandung makna bahwa segala sesuatu yang namanya kebenaran tetaplah sebuah kebenaran, tidak bisa dihiasi dengan kebatilan. Sedangkan kebatilan tetaplah sebuah kebatilan walaupun dibungkus dengan rupa kebenaran. Artinya bahwa suatu kebenaran pasti akan selalu terungkap. Begitu pula dengan keburukan, sekuat apapun ditimbun, namun pada akhirnya akan tercium juga. Terlebih di zaman kini, zaman teknologi serba canggih, di mana akses informasi begitu cepat, beragam media saling berpacu berebut bintang, mengarahkan pembaca kepada apa yang diinginkan media itu ataupun opini orang tertentu. Dengan berbagai cara kini kita mampu menghias kata terlepas dari baik tidaknya cara atau sesuai tidaknya dengan kenyataan. Sebab media sifatnya bebas dan tidak terbatas bagi siapapun penggunanya, tanpa memandang strata sosial maupun pendidikan.

Islam sebagai agama yang sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat, juga mengalami perkembangan dalam praktik maupun hukum-hukum yang dikeluarkan. Namun esensinya harus tetap dijaga, jangan sampai menyimpang dari syariat yang asal. Goncangan modernisme menghantam berbagai peradaban Islam, generasi terkini bahkan tidak banyak mengenal sejarah Islam, akhlak dan moral yang merosot menyebabkan timbulnya kebencian yang pada akhirnya melahirkan permusuhan. Tentu ini semua jauh dari inti pokok Islam di tengah arus zaman.

Keimanan

Di tengah arus zaman, keimanan seharusnya dipertahankan, bukan digadaikan dan bergantung pada kepentingan pribadi, politik, maupun golongan. Mempertahankan iman merupakan prinsip mulia, sebagaimana Allah menjelaskan dalam Al-Quran, “… Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Hujurat [49]: 7-8).

Seorang yang menjaga imannya seperti berjalan di atas jalan yang lurus, kemudian banyak godaan dan bisikan dari segala arah, baik secara nyata maupun tidak. Meskipun demikian, ia tetap tegar dan terus berjalan di jalur itu. Kadar iman seseorang hanya dapat diketahui oleh Allah Swt, malaikat pun tidak mengetahui kadar iman seseorang, karena iman merupakan anugerah terbesar yang Allah Swt berikan kepada manusia. Dengan iman tersebut akan membuat manusia menjadi mulia. Mempertahankan iman inilah yang menjadi ujian bagi manusia, terlebih di tengah zaman saat ini.

Persoalan iman menjadi pertimbangan berat ketika dihadapkan dengan pilihan politik, yang di mana salah satu pilihan itu menjanjikan keuntungan untuk dirinya. Seakan berat mengatakan kebenaran ketika dihadapkan pada yang materialistik dan kekuasaan. Pun amanah yang seharusnya ditunaikan menjadi berlalu, karena saat itu iman sedang kosong. Seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadis, “Tidak ada iman bagi mereka yang tidak memiliki amanah.” Zaman terus bergerak, namun iman jangan sampai tergadaikan.

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi 04 Jumat, 04 Oktober 2019/05 Syafar 1441 H

Author: M Sabron Sukmanul Hakim

ABOUT THE AUTHOR

M Sabron Sukmanul Hakim

Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta


COMMENTS