Ismail

Manusia merupakan makhluk yang istimewa di antara ciptaan Allah yang lain. Wujud keistimewaan dan kelebihan anak Adam adalah dilengkapinya dengan akal budi. Dengan fasilitas ‘VVIP’ akal budi inilah manusia berpotensi untuk menjalankan tugas kemanusiaan di atas pentas alam semesta. Di samping keistimewaan tersebut, manusia tak luput dari kelemahan dan keterbatasan. Yang paling menonjol adalah keterbatasan waktu, tempat, dan pengalaman. Dari keterbatasan itulah sebenarnya membuka ruang luas untuk kita saling melengkapi satu sama lain. Fitrah manusia yang terbatas sekaligus memberi ruang gerak sebagai murid yang berproses menjahit keterbatasan demi keterbatasannya.

Tulisan ini ditujukan kepada semua pembaca yang menganggap diri adalah murid. Bisa murid dari lembaga pendidikan formal, bisa murid yang berasal dari sekolah non formal, maupun termasuk murid dari keduanya. Termasuk juga diluar yang tidak saya sebutkan. Menganggap diri kita adalah murid, pada titik inilah posisi dasar (asumsi) tulisan ini berlaku.

Ide tulisan ini saya dapat setelah membaca buku Hazrat Inayat Khan, yang berjudul Complete Works of Pir-O-Murshid Hazrat Inayat Khan (2002). Tokoh Hazrat Inayat Khan ini saya ketahui dari guru saya, Pak Fahruddin Faiz, pengampu Ngaji Filsafat di Masjid Jendral Sudirman, Yogyakarta. Pengetahuan saya mengenai tokoh tersebut saya peroleh dalam posisi sebagai murid. Artinya tulisan ini sudah pasti menjadi paling penting bagi saya sebagai murid.

Ihwal ide dari Hazrat Inayat Khan yang akan saya bahas dalam tulisan ini penting untuk diketengahkan di era kemajuan teknologi, khususnya kecepatan dalam mengakses informasi melalui peranti elektronik atau mekanik dengan fungsi praktis; gadget. Sangkutan paling mudah untuk melihat pengaruh dari kemajuan dan kecepatan adalah jebolnya batasan-batasan memperoleh pengetahuan.

Hari ini kita memiliki kemudahan dalam mengakses pengetahuan yang diperoleh melalui media sosial seperti Youtube, Twitter, Facebook, maupun Instagram. Tentunya kemudahan akses tidak terjadi sebelum teknologi belum terlalu maju. Dengan demikian semua orang punya otoritas untuk ‘membunyikan’ pengetahuan yang didapat. Meskipun otoritas tersebut belum tentu otoritatif. Jadi, semua orang bisa jadi murid sekaligus guru atau guru sekaligus murid.

Berdasarkan hal tersebut, penjelasan Hazrat Inayat Khan akan sesuatu yang diperlukan oleh murid kiranya penting untuk didengarkan. Saya menyadari bahwa konteks audience Hazrat Inayat Khan saat itu adalah lingkar murid sufi. Akan tetapi, gagasan atau isi pembicaraannya bisa saja diperdengarkan kembali di mana saja tanpa harus kaku dan terkurung pada lingkup ruang sufi saja. Lalu apa saja bekal untuk para murid?

Mengasah kepekaan spiritualitas

Persoalan batin adalah hal pertama yang butuh perhatian lebih dari para murid. Bentuk perhatian yang paling pokok, menurut Inayat Khan adalah dengan menjaga dan terus melatih kepekaan spiritual yang sudah ada di dalam diri secara terus menerus. Oleh karena spiritual itu sebagai salah satu fitrahnya manusia maka sangat relevan dengan apa yang Inayat khan tegaskan untuk menjaga ‘cahaya’ spiritual terus berpendar. Namun harus diingat, bahwa hasil dari latihan ini tidak langsung datang. Boleh jadi seseorang sudah berikthiar selama dua atau lima bulan namun hasilnya belum dirasakan. Itulah mengapa, kata Inayat Khan, “a person without patience…” yang tidak sabar tentu merasa dan menganggap berat.

Mengasah spiritualitas ini salah satunya bisa lewat musik. Dalam buku The Mysticism of Sound and Music (1991) Inayat Khan mengkategorikan musik sebagai kesenian Ilahi (divine art). Sebab, “We may certainly see God in all arts and in all sciences, but in music alone we see God free from all forms and thoughts. In every other art there is idolatry. Every thought, every word has its form. Sound alone is free from form.” (Kita tentu dapat melihat Tuhan dalam semua seni dan dalam semua ilmu pengetahuan, tetapi dalam musik saja kita melihat Tuhan bebas dari segala bentuk dan pikiran. Di setiap seni lainnya ada penyembahan berhala. Setiap pemikiran, setiap kata memiliki bentuknya. Suara saja bebas dari bentuk).

Namun, definisi musik yang dimaksud oleh Inayat Khan bukanlah seperti pengertian musik yang barangkali kita pahami sekarang. Tentu musik yang dimaknai oleh Inayat Khan jauh lebih dalam dan luas. Musik bagi Inayat Khan adalah "the word we use in our everyday language" (kata yang kita gunakan dalam bahasa sehari-hari). Lebih rinci Inayat Khan menjelaskan bahwa yang termasuk musik itu, yakni arsitektur adalah musik, perkebunan adalah musik, pertanian adalah musik, lukisan adalah musik, dan puisi adalah musik. Bahkan, tegas Inayat Khan, sesuatu yang mengandung nilai keindahan dan keharmonisan adalah musik. Jadi lewat musik seperti yang dipahami oleh Inayat Khan tersebut sebenarnya seseorang bisa terus mengasah kepekaan spiritualnya untuk secara terus-menerus.

Belajar

Hal kedua yang diperlukan oleh murid adalah belajar. Belajar adalah satu-satunya jalan untuk memperoleh bekal hidup untuk keperluan dunia maupun bekal persiapan akhirat. Bagi Inayat Khan, seorang murid belajar tidak hanya lewat buku, tetapi juga pada yang selain buku. Melalui objek belajar yang tidak tertulis, seperti diri manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan semua yang ada di alam semesta ini bisa mengantarkan kita untuk menemukan harmoni dan kreativitas di dalamnya.

Secara tidak langsung Inayat Khan mendorong kita untuk menjadikan objek apapun sebagai ‘materi’ pelajaran. Karena sejatinya semua itu menyimpan hikmah yang tidak kita sadari. Hanya saja, semua objek pelajaran tersebut tidak serta merta kita telan mentah-mentah. Semua itu baru tampak struktur harmoni, nilai-nilai kreatif, dan hikmah jikalau kita merenunginya, jikalau kita merefleksikannya.

Hidup seimbang

Ketidakteraturan ritme hidup mungkin sering terjadi pada jadwal kehidupan keseharian kita. Jangan-jangan waktu istrahat kita jauh lebih banyak daripada waktu untuk bekerja. Sebaliknya, jangan-jangan tenaga dan waktu kita terlalu banyak diperuntukan untuk bekerja terus-menerus tapi minim istirahat. Karena sejatinya badan kita adalah amanah dari-Nya. Menjaga dan merawat badan adalah wujud tanggung jawab kita.

Tidak hanya soal bekerja dan istrahat yang harus diseimbangkan, tetapi juga makanan dan minuman yang kita konsumsi diusahakan seimbang. Kalau kita perhatikan bahwa alam semesta ini penuh dengan keseimbangan. Kita tidak bisa membayangkan ada sebagian anggota tubuh misalnya pertumbuhan kuku sama dengan rambut. Jadi Inayat Khan berpesan hiduplah dengan seimbang mungkin.

Bersikap

Inayat Khan membedakan cara bersikap terhadap sesama murid dan bukan murid. Sesama murid dalam makna yang luas bisa berarti sesama madzhab, sesama anggota pengajian, sesama seideologi, sesama pemahaman. Sementara itu, yang bukan murid bisa dimaknai yang tidak sebendara organisasi, beda madzab dengan kita. Sikap kita terhadap yang segolongan yakni kasih sayang dan bersimpati. Sementara terhadap yang beda dengan kita perlu bersikap toleransi. Bagi Inayat Khan, sesuatu yang baik di dunia tidak semestinya dipaksakan untuk orang lain, termasuk mengenai apa yang kita pahami.

Saya pikir beberapa poin di atas bisa menjadi cermin bagi kita. Cermin yang berfungsi sebagai penunjuk titik lemah kita atau cermin yang berfungsi untuk memperjelas apa yang sudah jelas dalam kita yang mendaku diri sebagai murid di atas pentas dunia ini. Dengan demikian kita bisa menjalani hidup dengan seimbang. Mampukah kita bertahan menjadi murid yang baik dengan bekal petuah dari Hazrat Inayat Khan? Mari kita berefleksi!

Author: Ismail

ABOUT THE AUTHOR

Ismail

Mahasiswa Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga, Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS