Andalusia, tempat di mana tokoh-tokoh besar berkiprah dan pemikiran-pemikiran keislaman reformatif lahir. Di tengah perkembangan keilmuan filsafat dan akidah di Timur, di Bagdad maupun Khurasan kala itu, Andalusia menjadi bagian dari perkembangan peradaban Islam di Eropa, bukan berarti tanpa makna sama sekali dan memang sudah tak diragukan lagi.

Kehadiran Islam di tanah Eropa Barat cukup memberikan warna dan corak tersendiri, tak hanya bagi keilmuan Islam maupun bagi masyarakat Andalusia pada umumnya. Akan tetapi, juga menghadirkan keilmuan Islam yang sangat khas di tengah masyarakat pluralistik tanpa harus menghilangkan jati diri serta akar rumput sebagimana ajaran Nabi Saw.

Tentu, keberadaan Andalusia yang sedemikian tak bisa dilepaskan dari peran para tokoh, pemikir dan intelektual Islam Andalusia itu sendiri. Sebut saja misalnya, Ibnu Bajjah, Ibnu Tufayl, Ibu Rusyd, sebagimana yang umum dikenal di kalangan akademisi universitas-universitas di Indonesia dan dunia. Tanpa peran intelektual Muslim yang membawa semangat obor pembaruan dan pencerahan tersebut, Andalusia bisa jadi tak termasuk bagian dari sejarah besar perabadan Islam.

Tokoh lain yang ikut membawa obor pencerahan dan pembaruan adalah Ibnu Hazm al-Andalusi. Dikenal sebagai tokoh yang memiliki permikiran sangat tekstualis, ketika berbicara tentang hukum Islam. Sebagai salah seorang intelektual Andalusia, Ibnu Hazm menekuni studi agama-agama, etika, dan sejarah. Maka tak heran, jika para pengkaji pemikirannya menyebut Ibnu Hazm sebagai seorang encyclopedist sejati. Selain itu, ia adalah seorang filsuf, sejarawan, teolog, sastrwan, psikolog, dan tentunya ahli hukum Islam.

Secara garis besar biografi Ibnu Hazm lahir pada 29/30 Ramadhan 483 H, bertepatan dengan 08 November 993 M. Nama lengkapnya, Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazim bin Galib bin Khalf bin Sufyan bin Yazid. Sosok kakeknya yang bernama Yazid, diidentifikasikan sebagai seorang muslim berdarah Persia, namun lahir dan dibesarkan di Andalusia. Ibnu Hazm sendiri dijuluki Abu Muhammad dengan nisbah al-Andalusi.

Sejak kecil Ibnu Hazm diasuh dan dididik oleh para baby sister keluarga dan pembantu istana. Karena keluarganya berasal dari keluarga ningrat dan ayahnya memiliki posisi dan kedudukan tinggi sebagai wazir sejak masa Khalifah al-Mansur Abi Amir. Karena itu, bisa dikatakan bahwa Ibnu Hazm hidup di masa dan zaman yang tepat, hidup dimana mazhab-mazhan fikih sudah mapan, mazhab-mazhab dalam teologi Islam juga sudah berkembang pesat, bahkan filsafat sudah menjadi tren di dunia Islam di Timur (Bagdad).

Karya-karya Ibnu Hazm dalam berbagai bidang di antara adalah an-Nubad fi al-Fiqh az-Zahiri (fikih), ar-Radd ‘Ala ibn an-Nagrila al-Yahudi (perbandingan agama dan teologi), Jawami’ as-Sirah (sejarah), Tauq al-Hammah (etika dan sastra), dan ar-Radd ‘Ala al-Kindi al-Failasuf (filsafat dan ilmu).

Baca juga: Hidup Bahagia Ala Filsafat Stoa

Bagi penulis, di antara karya Ibnu Hazm di atas yang menarik dan unik adalah Tauq al-Hammah. Menarik dan uniknya, karena karyanya ini memiliki dua sayap pemikiran secara bersamaan. Pada satu sayap sisi karyanya berbicara tentang autobiografi Ibnu Hazm, sisi sayap satunya lagi diposisikan sebagai kitab tentang cinta dan kasih sayang yang sarat akan pengalaman pribadinya.

Tauq al-Hammah oleh Ibnu Hazm dikonsepsikan dan dideskripsikan dengan penuh emosi sampai pada taraf sophistic dan filosofis. Cinta dalam pemikiran Ibnu Hazm diposisikan dalam pandangan seorang manusia biasa dan seorang pemikir. Ini berbeda dengan konsepsi cinta dalam pemikiran Rabi'ah al-Adawiyah dan Imam al-Ghazali yang memposisikan diri sebagai seorang sufi.

Kesan dan pengalaman Ibnu Hazm ketika jatuh cinta di waktu muda, dituliskannya begini, “Ketika masih remaja, aku jatuh cinta kepada seorang gadis berambut pirang. Sejak saat itu, aku tak mengagumi gadis berambut hitam, meski pemilikinya berada di matahari atau sangat molek. Sejak saat itu, aku tak lagi mengagumi siapa pun lagi kecuali gadis berambut pirang.” (hlm. 47).

Kisah cinta pertamanya bersemi tatkala Ibnu Hazm baru berumur 18 tahun. Sementara gadis pujaan yang berambut pirang baru berumur 16 tahun. Ibnu Hazm mengatakan bahwa gadis itu adalah seorang yang sangat cantik, bertabiat baik, pandai bernyanyi dan pandai memainkan kecapi. Dalam pengakuan Ibnu Hazm, “Saya ingat benar ketika saya selalu pergi ke ruangan tempat ia tinggal. Rasanya saya selalu ingin menuju pintu itu agar bisa dekat dengannya. Begitu ia melihat saya di dekat pintu, dengan gerakan lemah gemulai ia pergi ke tempat lain. Saya pun menguntitnya sampai ke pintu rumah tempat ia tinggal.” (hlm. 48).

Namun sayang, kisah cinta keduanya tak bertahan lama. Sebab ketika Ibnu Hazm berumur 20 tahun ia pindah bersama keluarganya, dan si gadis idaman tidak ikut pindah. Tak berapa lama gadis itu meninggal. Mendengar hal itu, jiwa Ibnu Hazm menjadi galau, ia juga tak pernah berganti baju selama tujuh bulan dan air matanya jarang kering.

Sebenarnya, romantika kisah cinta Ibnu Hazm hampir sama dengan kisah cinta remaja pada umumnya yang terjadi saat ini. Bedanya, Ibnu Hazm menyadari bahwa sebagai ulama dan agamawan, cintanya yang terbesar adalah cinta kepada Tuhan. Dan cinta yang dijalani sesama manusia juga karena Tuhan. Jika cinta yang dijalani karena Tuhan, maka menurutnya pasti diliputi oleh kesetian dan kesucian.

Author: Syahuri Arsyi

ABOUT THE AUTHOR

Syahuri Arsyi

Mahasiswa dan Penikmat Ngaji Filsafat Virtual


COMMENTS