Ade Cahyadi

 Melanjutkan tulisan sebelumnya Seputar Seni Islam, bagian tulisan berikut menyangkut seni Islam dari Al-Quran; sublimasi isi Al-Quran; dan sampai pada ragam rupa seni Islam.

Seni Islam dari Al-Quran

Muatan sastrawi dalam Al-Quran disampaikan melalui unsur-unsur puisi, sajak, syair namun tidak secara penuh, sehingga memunculkan keunikan dan keistimewaan. Adanya sublimasi sastrawi membuat Al-Quran tak disaingi. Walaupun secara tegas didalamnya ada tantangan untuk bisa membuat isi yang semisal dengannya, namun tetap saja mustahil untuk bisa disaingi. Hal ini terjadi karena, pertama, Al-Quran menggunakan frasa dan istilah yang pas dalam konteks nilai yang dibahas.

Kedua, frasa yang digunakan terkadang cocok, berirama,  kadang ada frasa yang berbeda dan mencolok digunakan dalam suatu pembahasan ayat. Hal ini tidak menjadikan menjadi rancu, namun terasa indah. Ketiga, kata dan frasa yang digunakan dalam Al-Quran bersifat lugas, namun memiliki arti yang luas. Hal ini dapat kita amati dari banyaknya tafsiran tentang ayat Al-Quran.

Keempat, ayat yang sama dapat mendatangkan kesan yang berbeda dalam kondisi ruang dan waktu yang berbeda. Kelima, keumpamaan atau analogi yang tepat digunakan membuat pemaknaan yang begitu mendalam. Keenam, komposisi gaya bahasa yang kuat, empatik, halus dan peka. Al-Quran menggunakan berbagai sudut pandang, sehingga pembaca dapat merasakan keberpihakan kepada siapa ayat-ayat disampaikan dan bagaimana sudut pandang Sang Khalik ketika ayat tertentu disampaikan. Ketujuh, kesusastraan Al-Quran tidak hanya berlaku disuatu zaman dan suatu kaum, namun universal disetiap zaman dan setiap umat.

Al-Quran sendiri diturunkan dan disusun secara tidak kronologis. Hal ini menekankan pemaknaan pesan yang menggugah, menuntut, menghentak dan mencuri perhatian dengan ayat-ayat yang unik (Alif Laam Raa, Alif Laam Miim, Nuun dsb) serta larangan yang tiba-tiba. Sedangkan bagian ayat yang dirasa penting dan menjadi nilai inti suatu ajaran disampaikan secara lembut dengan analogi-analogi yang menyentuh jiwa.

Sublimasi isi Al-Quran

Sublimasi isi atau perubahan ke arah satu tingkat yang lebih tinggi dalam kesusatraan Al-Quran disampaikan dalam pesan yang indah. Diantaranya adalah akal sehat dan rasionalitas adalah sikap yang ideal untuk dimiliki oleh manusia karena sudah dikaruniai akal pikiran. Penekanan pesan tentang berpikir sering ditegaskan dalam penutup ayat afala ta’qiluun, afalaa tadzakkaruun, dan sebagainya. Bahkan aktivitas berpikir sering dikaitkan dengan keimanan dan ketakwaan.

Puncak muatan sastra dalam Al-Quran menyampaikan bahwa manusia adalah makhluk terbaik dan bebas dari keterbatasan yang tidak bisa diatasi. Perbedaan manusia dengan makhluk lainnya ialah kebebasan menentukan perbuatan. Berbeda dengan hewan dan tumbuhan yang hanya mengikuti prinsip-prinsip alam atau sunatullah, manusia dikaruniai kemampuan akal untuk menentukan segala sesuatu sekaligus dampaknya. Kondisi ini yang akan menyebabkan dampak dari satu kejadian merambat pada kejadian lain, dan manusia diberi akal untuk mengatasi permasalahan itu semua. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha.

Makna puncak dari sastra Al-Quran adalah dorongan manusia untuk tetap hidup dengan segala sesuatu yang dimiliki. Itulah mengapa dalam Islam dilarang yang namanya bunuh diri. Sebagai makhluk berakal maka sesungguhnya kemampuan untuk mengatasi permasalahan hidup sangat mampu untuk dilakukan, kecuali memang malas untuk melakukannya. Pesan Al-Quran seringkali menghadirkan konsep yang menyatu antara konsep niat dan juga tindakan. Muara dari kesatuan konsep ini adalah kehidupan yang membaik dari hari ke hari.

Misalnya juga terkait kehidupan berkeluarga, dipesankan sebagai kehidupan yang mulia. Banyaknya penekanan pada ayat-ayat keluarga, istilah-istilah dalam berkeluarga dan larangan berzina sebagai pesan penekanan pada kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Pesan-pesan dalam Al-Quran bersifat universal, sehingga setiap orang mampu meneladani nilai dan makna yang tersirat tanpa membedakan suku, rasa, bangsa, dan batasan yang membuat perbedaan tidak setara pada manusia. Pesan lain yang juga penting dalam pembahasan isi Al-Quran ialah kedalaman dan keluasan makna yang disampaikan. Al-Quran menimbulkan sensasi estetik ketika diperdengarkan, walaupun si pembaca menyajikan bacaan dengan beragam cara. Beragam cara inilah yang menjadikan Al-Quran memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan estetikanya.

Ragam rupa seni Islam

Dalam seni kaligrafi, sumber utama yang ditekankan adalah ayat-ayat Al-Quran dan visinya. Penyampaiannya dapat dikategorikan menjadi beberapa bentuk sesuai dengan kedekatan dengan visi Al-Quran. Pertama, kaligrafi tradisional. Contohnya bisa kita temui dalam mushaf-mushaf Al-Quran dan kitab-kitab yang dapat kita jumpai saat ini. Standar tulisan yang mudah dibaca menjadikan kaligrafi ini sangat dekat penyampaiannya dengan visi dan tujuan Al-Quran.

Kedua, kaligrafi figural. Kaligrafi ini disajikan dalam bentuk ornamen tertentu entah dari ayat-ayat yang dibentuk atau tambahan bentuk ornamen yang lain. Kaligrafi jenis ini masih menyampaikan visi Al-Quran walau memang tingkat kedekatannya dibawah kaligrafi yang pertama.

Ketiga, kaligrafi simbolik. Kaligrafi ini menjadikan sebagian dari bagian ayat Al-Quran menjadi simbol sendiri. Munculnya makna yang berbeda menjadikan kaligrafi ini sudah tidak membawa visi awal Al-Quran itu sendiri.

Keempat, abstrak murni. Seni ini sudah tidak dapat diketahui lagi unsur yang dibentuk menggunakan unsur-unsur Al-Quran ataupun bukan. Kerumitan bentuk ini menyebabkan seni abstrak murni bukan lagi bagian seni kaligrafi dan meninggalkan sakralitas ayat-ayat Al-Quran.

Ornamen-ornamen dari seni rupa Islam memiliki corak yang berhubungan dengan kedekatan spiritual. Kesan ini ditujukan agar seni Islam menyampaikan maksud dan tujuan nilai-nilai tauhid. Selain itu, transfigurasi atau perubahan nilai suatu bahan akan terjadi apabila digunakan menjadi suatu ornamen seni yang sakral. Kesakralan itu muncul karena makna tauhid yang juga sakral disalurkan kepada bentuk, ruang, bidang garis dengan bahan-bahannya. Kebesaran dan ketidakterbatasan merepresentasikan sifat Tuhan, sehingga ketika bisa menikmati ornamen-ornamen, kita dibawa masuk lebih dalam pada ekspresi spiritual, dan mengalihkan  dari duniawi. Istilah ornamen-ornamen ini biasa disebut ornamen “Arabase”.

Seni ruang dalam Islam memiliki bentuk yang komplek dan ambigu. Ambigu karena tampak luar bangunan hanya memiliki bentuk-bentuk dasar dan ornamen yang digunakan tidak terlalu rumit. Namun berbeda apabila memasuki ruangan yang ada di dalam bangunan, kesan yang terasa akan berbeda dengan tampak luarnya. Seni ruang atau interior dengan ornamen yang khas dengan bentuk abstrak yang diulang dan besar memunculkan kesan mewah. Ornamen-ornamen ini ditampilkan dengan kerumitan yang konsisten dan besar. Hal ini menggambarkan tentang diri seorang muslim tentang ketakwaan. Ketakwaan bukan kemewahan yang bisa dilihat dari luarnya, namun ketakwaan adalah kemewahan yang ada di dalam diri seorang muslim.

Seni suara dalam Islam dalam perkembangannya mampu beradaptasi dengan budaya di luar Arab—sebagai pusat perkembangan Islam. Pro kontra terhadap seni suara juga selalu hadir seiring perkembangannya. Ada yang haram mutlak, ada yang dipertimbangkan sesuai dengan pengaruhnya. Semisalnya musik membuat terlena dengan dunia, maka musik tersebut bisa menjadi haram. Kalau mendekatkan kepada Allah, maka musik tersebut halal, dan bisa menjadi mubah apabila musik dibuat dan dinikmati hanya sekadar iseng saja. Pada dasarnya yang menentukan bagaimana hukum musik adalah malahi-nya, yaitu pengaruh atau dampaknya.

Akulturasi musik Islam dengan budaya setempat membuat seni musik Islam menjadi beragam. Hampir di pelosok dunia yang memiliki seni musik yang khas ketika Islam masuk ke daerah tersebut akan muncul seni Islam dengan corak daerah setempat. Geguritan, mocopat dan tembang Jawa pada era Wali Songo menjadi media yang bisa diterima oleh masyarakat nusantara sebagai media dakwah dalam bentuk seni musik Islam. Penampilan dan pertunjukan yang terinspirasi dari Al-Quran bisa kita dapati disekeliling kita. Mulai dari puitisasi ayat, sampai pembacaan lantunan ayat Al-Quran sebelum acara-acara peringatan hari besar agama Islam, kemasyarakatan dan seremonial.

Seni musik dalam Islam memiliki ciri yang khas, dan dapat ditelusuri sampai sejarah pra-Islam. Secara umum seni musik Islam memiliki instrumen musik dari alat-alat yang memiliki dawai seperti gitar, kecapi. Menggunakan tiupan udara atau aerofon seperti seruling; membranfon. Atau alat musik yang menggunakan membran seperti terbang, beduk, drum dan sejenisnya. Munculnya keberagaman karakteristik musik Islam dari berbagai budaya menunjukkan bahwa adanya kesamaan nilai dari budaya setempat dengan nilai-nilai Islam.

Seperti seni kaligrafi, seni suara dalam Islam juga memiliki lapisan religiustitas. Pertama, bentuk seni murni menggunakan ayat Al-Quran dan dilantunkan dengan suara yang indah, seperti tilawah dan qiraah. Kedua, adzan, selawat, talbiyah merupakan seni Islam yang mengandung unsur dan nilai tauhid walaupun tidak mengambil langsung dari ayat-ayat Al-Quran. Ketiga, improvisasi suara dengan makna religius namun ada tambahan instrumen bunyi-bunyian alat musik tertentu. Keempat, lagu-lagu dengan tema religius. Kelima, lagu-lagu yang tidak mengandung nilai religiusitas.

Dalam menilai dan mamahami makna religiusitas seni musik, akan memiliki perbedaan antara satu orang dengn orang yang lain. Bisa saja seseorang memahami nilai religiusitas apabila langsung menggunakan frasa dan kata-kata yang ada dalam Al-Quran. Ada juga yang menggambarkan makna religiusitas dengan frasa dan kata yang terkait dengan tema kemiskinan dan isu sosial. Hal ini masih relevan karena salah satu implikasi tauhid adalah berkaitan dengan implikasi sosial, pun dengan implikasi-implikasi tauhid yang lain.

Perbedaan seni suara dalam Islam menjadikannya menjadi kaya dengan corak dan ciri khas. Perbedaan-perbedaan ini dipengaruhi oleh, pertama, kedekatan kelahiran corak musik dengan pusat perkembangan Islam. Semakin jauh dari pusat perkembangan Islam, semakin beragam pula corak seni musik yang akan muncul.

Kedua, percampuran dengan budaya setempat, termasuk aksen atau dialek kebahasaan. Dialek bahasa Al-Quran akan berbeda antara orang Arab dengan orang Jawa. Hal ini seharusnya menjadikan kekayaan khasanah kesenian Islam.

Ketiga, proses masuknya Islam ke suatu wilayah juga menentukan corak yang muncul. Seperti halnya musik Islam yang ada pada wilayah dengan proses perkembangan masuknya Islam lewat jalur peperangan, dengan proses Islamisasi dengan pendekatan budaya akan memengaruhi pula dalam corak seni suaranya. Keempat, pengalaman keberagamaan dari seniman suara.

Kembali pada pokok seni Islam Ismail Raji al-Faruqi, secara umum, menempatkan tauhid sebagai poros dalam segala hal kehidupan seorang muslim. Ekspresi-ekspresi keberagamaan yang muncul disesuaikan dengan implikasi-implikasi atas pernyataan bertauhid. Implikasi inilah yang membuat tauhid menjadi cerminan dari segala aspek kehidupan seorang muslim. Bagi seseorang yang mengaku beragama maka sudah seharusnya memiliki ke-nyeni-an dalam dirinya; kepekaan terhadap seni dan keindahan. Selain untuk meluaskan pangetahuan dan pandangan, juga sebagai media mengingatkan tentang keindahan Sang Khalik. Wallahu a’lam. 

Author: Ade Cahyadi

ABOUT THE AUTHOR

Ade Cahyadi

MJS Squad #4. Suka melihat-lihat gambar. Kadang mendekam di galeri maya @thekucingliar


COMMENTS