Ade Cahyadi

 Dari laman sosial media kita sering menjumpai narasi kajian keislaman yang berkaitan dengan seni atau estetika. Sekian banyak rujukan yang bebas dipilih warganet membuat narasi-narasi hukum tentang seni mudah diakses dan dibagikan. Narasi yang ditawarkan beragam. Ada yang cenderung membolehkan sampai mutlak mengharamkan. Sayangnya pemilihan narasi hukum tentang seni sering tercerabut dari konteks. Kurangnya kesadaran dalam menelaah informasi dan tergesah-gesah membagikan narasi-narasi tersebut membuat kita tenggelam dalam banjir informasi yang dangkal.

Padahal, kalau kita mau mengetahui inti dari informasi kita bisa lebih tekun membaca dari referensi dan rujukan buku atau sumber lain yang terpercaya. Dengan merujuk sumber-sumber mampu menjelaskan sebab musabab, sampai pergantian kondisi ruang dan waktu sehingga memunculkan kesimpulan posisi hukum, yang tentunya beragam. Salah satu gerbang yang sudah tersedia untuk belajar hukum dan perspektif tentang seni dari para filsuf Islam adalah pada gelaran Ngaji Filsafat di Masjid Jendral Sudirman.

Ngaji Filsafat bulan September 2019 ini, Pak Fahrudin Faiz mengangkat tema tentang Seni dan Estetika Islam dengan empat tokoh yang diangkat yaitu Ismail Raji al-Faruqi, Seyyed Hossein Nasr, Muhammad Iqbal dan Hazrat Inayat Khan. Dimulai pada Rabu, 4 September kemarin, beliau menjelaskan Seni dan Estetika Islam menurut Ismail Raji al-Faruqi. Pembahasan ngaji kali ini diambil dari salah satu pembahasan dalam buku The Cultural Atlas of Islam (1986) karya Ismail Raji al-Faruqi dan Lois Lamya al-Faruqi, yakni Seni Tauhid.

Pada dasarnya, agama diturunkan untuk membawa kebermanfaatan bagi manusia. Dalam penyampaian agama ada hal etika yang mengatur tentang baik atau buruk suatu kejadian yang muaranya adalah kebermanfaatan itu sendiri. Ekspresi penyampaian nilai-nilai agama dominan pada ranah emosionalnya agar mudah diterima. Itulah mengapa perlu dakwah yang tidak sekadar larangan dan anjuran, halal dan haram, mubah dan makruh, akan tetapi estetika juga harus dimiliki. Nilai estetika inilah yang akan menjadi pesona sehingga nilai-nilai agama yang disampaikan akan lebih mudah diterima.

Kita bisa melihat lagi bagaimana para Wali Songo menyampaikan Islam lewat pewayangan, geguritan, mocopat dan kesenian lain yang sudah ada dan diterima oleh masyarakat nusantara. Islam dapat berkembang lebih luas di tanah nusantara lewat jalan-jalan kesenian. Walaupun terjadi lewat perkawinan dan perdagangan sebagai jalur dakwah, namun jalur kesenian sampai hari ini yang bekasnya masih dominan bisa kita nikmati. Maka dari itu, sangat dianjurkan bagi orang-orang beragama untuk memiliki ke-nyeni-an dalam hidupnya. Jangan sampai kita beragama dengan gersang dan keras, sehingga jauh dari keindahan. Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.

Seni mengandung makna yang bersumber dari pengalaman subjektif senimannya. Nilai yang subjektif ini disampaikan dalam bentuk-bentuk yang mampu dipahami secara objektif diluar diri senimannya. Ekspresi objektif ini bisa berupa titik, garis, bidang, ruang, warna, bentuk, aksara, nada, bunyi, gerak. Macam-macam ekspresi inilah yang nantinya berkembang merupa beragam jenis seni dan bisa dinikmati oleh siapa saja. Singkatnya seni adalah objektifikasi subjektifitas.

Implikasi tauhid

Dalam seni Islam mengandung nilai subjektifitas tertinggi, yakni tauhid. Tauhid adalah poros dari segala aspek dalam diri umat Islam. Maka dari itu, tauhid memiliki implikasi yang harus diikuti sebagai konsekuensi seseorang mengaku bertauhid. Dalam bertauhid, seorang mukmin mengakui hanya ada dua variabel saja, yakni Khalik dan makhluk. Selain Khalik hanya ada makhluk. Maka dalam perlakuannya Khalik sebagai hubungan vertikal hamba dan Tuhan. Selain itu semuanya setara. Apabila kita sombong, berarti kita menganggap diri ini melebihi makhluk dan menyerupai Khalik. Inilah mengapa konsekuensi dari sombong begitu berat, bagi barang siapa dalam dirinya ada secuil kesombongan tidak akan mencium bau surga. Pemahaman tentang konsep Khalik dan makhluk ini bisa disebut dengan implikasi doktrinal.

Implikasi selanjutnya adalah ketaatan untuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi apa yang dilarang termasuk dalam hal ibadah ritual. Implikasi ini yang selanjutnya disebut implikasi ritual. Secara intelektual, bertauhid berarti juga meningkatkan kualitas dan kuantitas pengetahuan. Patut dipertanyakan ketika seseorang bertauhid, namun malas menimba ilmu dan segala yang bersifat intelektual. Seharusnya semakin baik kualitas tauhid seseorang, maka semakin kaya pula kualitas intelektualnya. Ketika kita serius bertauhid secara intelektual, maka tidak ada hirarki lagi antar sesama makhluk. Inilah yang disebut sebagai implikasi intelektual.

Dalam kontek sosial, bertauhid juga menuntut implikasi kebaikan antar sesama manusia. Semakin  baik seseorang bertauhid, maka seharusnya perilaku kepada sesama manusia dan alam semesta juga semakin baik. Kesadaran hubungan antar sesama manusia menjadi setara tidak ada lagi hirarki sosial bahkan perbudakan. Sedangkan hubungan manusia dengan makhluk selain manusia harusnya tidak lagi antroposentris. Implikasi inilah yang disebut sebagai implikasi sosial.

Implikasi yang terakhir, adalah menyajikan segala sesuatu yang terbaik bagi sang Khalik. Termasuk kelima implikasi yang sudah disebutkan di atas akan diusahakan bentuknya yang terbaik. Hal inilah yang menuntut siapa saja yang bertauhid untuk menampilkan estetika dalam semua dimensi keberagamaannya. Implikasi inilah yang disebut implikasi estetik yang dibahas lebih rinci dalam Ngaji Filsafat.

Karakteristik seni rupa Islam

Subjektifitas dalam seni Islam merepresentasikan woldview Islam itu sendiri. Kesan yang ditujukan ketika seseorang menikmati seni Islam adalah pengalaman spiritual-transendental. Mendorong seseorang untuk ingin dekat dengan Allah Ta’ala. Dalam perkembangannya, seni Islam sering dikesankan tidak berkembang karena larangan-larangan tertentu sehingga menimbulkan batasan. Seperti misalnya dilarang untuk menggambar, atau menciptakan objek realis dari manusia dan binatang.

Pada zaman Nabi Saw, hal tersebut terjadi karena banyaknya objek sesembahan atau berhala yang berbentuk realis. Jika kita melihat maksud dari larangan tersebut lebih mendalam, dapat ditarik satu makna, yakni seni Islam memiliki prinsip anti imitasi dan anti ketidakkreatifan. Kalau hanya meniru obyek yang sudah ada, maka tidak ada unsur kreatif didalamnya. Dengan prinsip anti imitasi dan anti ketidakkreatifan ini justru seharusnya seni Islam terus berkembang.

Karakteristik seni rupa Islam menurut al-Faruqi yakni abstrak/denaturalis. Bentuk-bentuk yang hadir biasanya bersifat tidak mudah dipahami dan merangsang penikmatnya untuk berpikir lebih dalam. Pola-pola yang ada memiliki keberulangan bentuk.

Sebagai contoh, kita bisa melihat objek-objek diagonal maupun adaptasi dari tanaman yang abstrak namun selalu diulang. Hal ini menandakan ketidakterbatasan yang mengarah kepada Allah Ta’ala; kebesaran. Karya abstrak yang polanya berulang dapat diaplikasikan dalam media yang besar. Biasanya dapat dilihat pada dinding dan kubah bangunan masjid. Hal ini juga menggambarkan kebesaran Allah Ta’ala. Kesan yang muncul dari seni Islam adalah dinamis. Sebagaimana kehidupan yang selalu berubah, namun juga muncul pola-pola tertentu.

Makna-makna dari karakter seni muaranya adalah sifat-sifat Sang Khalik, sehingga manusia yang menikmati karya seni Islam akan dibawa lebih jauh ke dalam dimensi spiritualitas. Hal inilah yang harusnya selalu diusahakan tidak hanya secara rupa, namun juga dalam perilaku sebagai orang beragama.

Dalam seni Islam tidak berlaku logika simbolisme. Beberapa waktu yang lalu kita dihadapkan dengan pendapat seorang penceramah tentang bentuk/arsitektur masjid yang didominasi bentuk segitiga. Menurut penceramah tersebut, bahwa segitiga adalah simbol Illuminati, yang menandakan sebuah teori konspirasi tentang adanya tanda berkuasanya Dajjal. Bentuk segitiga yang disimbolkan menjadi makna-makna tertentu ini tidak dikenal dalam seni Islam.

Ketika simbolisasi yang dialamatkan pada suatu bentuk, menjadi minim kebermanfaatannya. Padahal semua bentuk memiliki fungsinya masing-masing. Kekeliruan dalam memahami seni Islam setidaknya diakibatkan karena membaca konsep dan sejarah seni Islam dengan kacamata pandang dunia Barat, atau malah termakan teori konspirasi. 

Author: Ade Cahyadi

ABOUT THE AUTHOR

Ade Cahyadi

MJS Squad #4. Suka melihat-lihat gambar. Kadang mendekam di galeri maya @thekucingliar


COMMENTS