Tidak tahu dan tidak mau tahu terhadap sesuatu itu sebenarnya juga hak setiap orang, tetapi ketika sikap tidak tahu dan tidak mau tahu itu dilanjutkan dengan vonis negatif, mencaci, merendahkan, menyesatkan, menjelek-jelekkan, atau memberi label yang negatif (ad hominem), berarti dia sedang melakukan sebentuk ketidakadilan.”—Fahruddin Faiz—

Dalam tulisan ini saya ingin berkomentar soal kekaguman kepada aktivitas para Ahlus Shuffah millenial. Mereka adalah kawan-kawan dibalik Ngaji Filsafat Masjid Jendral Sudirman, yang digelar setiap Rabu malam selepas Isya bersama Dr. Fahruddin Faiz itu, dan para jamaah setianya, baik yang live datang ke Masjid Jendral Sudirman, via Youtube, via unduhan di mjscolombo.com, via buku-buku terbitan MJS Press, via cerita teman yang memutar Mp3 Ngaji Filsafat-nya Pak Faiz, dan lain-lain.

Dulu, pada era Nabi Muhammad Saw sampai sayyiduna Abu Bakar, ada sekelompok kecil umat Islam yang mendiami Masjidil Haram, mereka dikenal sebagai Ahlus Shuffah yang dipimpim oleh sayyiduna Abu Hurairoh. Mereka berdiskusi, belajar Al-Quran, mendalami realitas Islam, zikir, dan macam aktivitas pokok lainnya. Tak heran jika sebagian ulama kita menganggap bahwa “kajian di shuffah“ ini sebagai prototipe universitas Islam pertama (the first islamic university). Sebagaimana menurut Ismail Fajrie al-Atas, etape pertama jami'ah/kampus dalam dunia Islam adalah "mazhab" Ahlus Shuffah. Singkat cerita, mereka adalah para sarjana paling awal dalam dunia Islam. Semangat mereka tidak hanya pada jihad dan beribadah, namun ditambah lagi dengan semangat diskusi dan ngaji.

Sebetulnya jauh sebelum era Ahlus Shuffah, tepatnya tahun 387 SM, Athena telah memiliki Akademia sebagai tempat belajar yang didirikan oleh Plato. Akademia mengajarkan orang-orang belajar persoalan πολιτεία (politeia) yang bermakna polis (kota) atau Negara Kota (the state) dalam bahasa Inggris. Bagi Plato, Politeia adalah persoalan tentang bagaimana cara hidup. Plato merumuskan persoalan-persoalan mengenai bagaimana cara manusia hidup sebagai bagian dari masyarakat di satu sisi, dan keharusan sejarah untuk membangun bumi di sisi lain. Oleh karenanya melalui Akademia, Plato mengajarkan manusia bagaimana cara hidup bijaksana sebagai makhluk sosial sekaligus sebagai makhluk intelektual. (Cecep Sumarna, 2008).

Baca juga: Pekalongan, Kota Sufi Internasional

Tradisi seperti di atas melahirkan tokoh-tokoh panutan sejak zamannya bahkan abadi hingga sekarang. Sebut saja sahabat nabi, sayyiduna Abu Hurairah, yang banyak meriwayatkan hadis nabi, beliau adalah pentolan Ahlus Shuffah. Sementara di sisi lain, Akademia Plato melahirkan sosok Aristoteles, filosof sekaligus pendiri pusat studi Lyceum.

Dua sejarah ini tidak bisa dihilangkan. Bahwa Ahlus Shuffah maupun Akademia adalah tempat orang-orang pada zamannya mencari pengetahuan. Berusaha mempertanyakan jawaban yang selama ini diyakini, supaya keyakinan tidak berubah menjadi sebentuk justifikasi. Bahwa ketidaktahuan adalah penyakit yang segera harus disembuhkan. Hanya diam saja juga bukanlah sikap yang dapat dibenarkan.

Kesejarahan Ahlus Shuffah tidak berhenti, justru masih eksis hingga era millenium ke dua masehi ini: era millenial. Masjid Jendral Sudirman adalah salah satunya. Masjid ini merupakan paket komplit, memiliki percetakan sendiri, platform Youtube sendiri, Facebook, Instagram, Twitter, Website. Ngaji, kajian dan diskusinya pun cukup dapat diterima generasi pada zamannya. Hal yang paling lekat dari MJS adalah Ngaji Filsafat bersama Pak Faiz. Menurut saya, Masjid Jendral Sudirman tidak hanya menjadi tempat para penerus Ahlus Shuffah, justru sekaligus menjadi pewaris Akademia Plato.

Beberapa kali saya mengikuti kajian Pak Faiz, sebagian besar mereka adalah para mahasiswa, ya ABG-ABG millennial lah. Dari mereka ada yang sarungan, pakai songkok, ada juga pakai peci maiyahan, ada yang pakai jaket Banser, ada yang berkaos oblong bergambar Mbah Jenggot, Karl Marx. Artinya Masjid Jendral Sudirman adalah tempat belajar bagi semua mazhab fashion millenial. Tentu saja yang perempuan bergaya mulai dari ukhti-ukhti hijabers sampai ala-ala Nissa Sabyan. Saya bilang juga apa, Masjid Jendral Sudirman adalah paket komplit dimana para millenial meneruskan generasi mulia para Ahlus Shuffah sekaligus penerus Akademia Plato.

Author: Muhammad Fairuz Rosyid

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Fairuz Rosyid

Alumni PBA IAIN Pekalongan, sekarang sedang menempuh studi di Pascasarjana PBA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Anggota di Komunitas LOPIS Pekalongan


COMMENTS