Sandal-sandal menghadap ke arah (dalam) masjid. Tidak beraturan. Setiap satu dengan pasangannya jarang saling berdekatan. Kadang sampai tumpang tindih. Tapi, penampilan berantakan dari sandal-sandal tadi tidak berlaku saat jamaah hendak pulang dari masjid. Posisi sandal menghadap ke luar. Searah dengan kaki yang hendak keluar dari masjid. Berbeda dengan saat masuk masjid tadi. Kini, sandal-sandal siap dipakai kembali oleh pemiliknya jika ingin pulang. Tidak perlu terlalu repot mencari pasangannya. Semua sudah tertata rapi. Tidak ada yang saling tumpang tindih.

Kita tidak perlu repot-repot berdebat siapa pelakunya. Hanya ada satu golongan yang patut dicurigai sebagai “tersangka” dalam kasus ini: office boy Masjid Jendral Sudirman. Para takmir ini dengan telaten menata satu per satu sandal jamaah santri Ngaji Filsafat. Ditata tak lama setelah Ngaji Filsafat dimulai.

Mungkin menata sandal jamaah Ngaji Filsafat bukanlah kisah yang teramat istimewa. Tidak layak rasanya jika sampai memasukkannya dalam kategori amal agama. Masih ada amal-amal lain yang wajah keagamaanya tampak lebih jelas. Sekilas, amal menata sandal ini kalah dengan seorang ahli ibadah yang salat malam enam puluh rakaat. Kalah juga dengan mereka yang mengkhatamkan Al-Quran dalam jangka waktu sebulan, atau bahkan seminggu. Juga seakan kalah jika dibanding dengan para ustadz yang bicara agama sampai berbusa-busa. Tapi itu hanya sekilas. Zahiriahnya saja. Secara manawi, belum tentu.

Kita mungkin sering mendengar dari sebuah hadits Nabi Saw yang memiliki arti kurang lebih seperti ini, “Banyak amal kecil yang bermakna besar. Tidak jarang amal (yang kelihatannya) besar tapi memiliki makna yang kecil”. Pangendikan Nabi Saw ini seperti menjadi peringatan bagi kita untuk tidak memandang amal secara zahiriahnya saja. Ada unsur ruh amaliyah yang justru lebih penting. Bahkan seringkali menentukan kualitas amal itu sendiri.

Lalu, apa hubungannya dengan menata sandal santri ngaji atau jamaah masjid?

Memang, menata sandal tentu secara kasat mata adalah perbuatan yang sepele. Menata sandal bisa dilakukan oleh semua orang. Tidak perlu orang yang pernah mengkaji ribuan kitab agama. Tidak perlu mereka yang telah hafal ratusan ayat Al-Quran dan hadis. Bahkan menata sandal bisa dilakukan oleh mereka yang tidak hafal sama sekali umm Al-Quran, surat Al-Fatihah. Tapi dibalik keremeh-temehan menata sandal santri ngaji atau jamaah, ada pelajaran yang tidak bisa dianggap remeh seremeh sandal.

Pertama, menata sandal sebagai upaya merendahkan diri. Kita telah mafhum, bahwa bagian terendah dari diri manusia adalah kakinya. Sandal, merupakan atribut tubuh yang meletakkan dirinya lebih rendah dari kaki. Ia tidak pernah sekalipun meletakkan diri sejajar dengan kaki, apalagi lebih tinggi. Itu hanya akan menghilangkan fungsi utama sandal. Ini artinya, tidak ada atribut manusia yang lebih rendah melebihi sandal mereka.

Menata sandal jamaah santri ngaji berarti mengurusi atribut terendah manusia. Tentu hal ini, lagi-lagi secara kasat mata, akan “merendahkan” harga diri manusia. Apalagi jika diamalkan oleh mereka yang telah terbiasa dengan atribut agama. Tentu ini adalah hal yang “murahan”. Tidak ada panggilan bagi mereka yang mengurusi barang rendahan kecuali akan ikut menjadi rendah.

Tapi justru dari sinilah nilai plus dari menata sandal. Menata sandal jamaah ngaji berarti melatih diri untuk bersikap merendah (tawaduk), serta menghilangkan sikap sombong. Secara jalan berpikiran yang masuk akal, tidak pantas rasanya menyombongkan pekerjaan menata sandal. Jika pun ada yang menyombongkan diri dengan menata sandal, berarti orangnya yang keterlaluan.

Kita tahu, bahwa sombong adalah satu di antara dua pangkal dosa umat manusia selain nafsu. Tidak sedikit ulama yang menyebut dosa sombong adalah dosa yang sulit untuk diampuni oleh Tuhan. Lebih sulit diampuni dari segala jenis dosa yang bersumber dari nafsu. Nabi Saw pun sering mengecam orang yang sombong dengan sebutan “tidak pantas masuk surga”.

Salah satu kisah yang masyhur tentang dosa kesombongan adalah cerita tentang Iblis. Iblis yang merasa lebih baik dari Adam menolak perintah Tuhan untuk sujud penghormatan pada Adam. Iblis merasa lebih baik dari Adam. Iblis diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah. Iblis telah menyembah Tuhan ribuan tahun, sementara Adam belum pernah sama sekali. Dalam pikiran Iblis, hal yang konyol, jika dirinya yang menganggap diri lebih mulia, harus sujud menghormati Adam. Jalan berpikir senioritas dan superioritas bermain dalam pengandaian Iblis.

Di sinilah awal kehancuran Iblis. Ia yang telah hidup ribuan tahun sebagai makhluk Tuhan yang baik-baik tiba-tiba berbalik seratus delapan puluh serajat. Ia menjadi pesakitan. Dilaknat Tuhan sampai hari kebangkitan. Sebabnya sederhana, tidak mau melakukan sujud (penghormatan) pada Adam. Padahal, semua itu adalah perintah Tuhan. Pangkalnya? Kesombongan yang ada pada dirinya.

Dari Timur Tengah, ada sebuah kisah yang menarik tentang kesombongan.

Alkisah, ada seorang alim di dataran Arab yang disowani calon muridnya. Si calon murid ini, yang konon katanya juga seorang wazir (kepala daerah) datang dengan niat belajar agama. Tapi bukannya menyuruh si calon murid untuk membuka kitab, sialim justru menyuruh calon muridnya untuk pergi ke pasar. Mencukur gundul rambut kepalanya. Serta memberi uang bagi setiap orang yang bersedia memukul kepalanya.

Tentu si murid pada awalnya tidak terima. Ia datang dengan niat untuk belajar agama, bukan untuk menghinakan diri. Tapi si alim dengan tenang menjelaskan, justru dengan semua perintah inilah ia mengajari calon muridnya ilmu agama. Sang alim ingin mengajarakan arti tawaduk pada calon muridnya itu. Juga untuk mengikis habis sisa-sisa kesombongan yang masih ada dalam hati calon muridnya. Di sinilah arti penting membuang rasa sombong.

Kedua, menata sandal dengan tulus adalah ibadah. Telah kita ketahui bersama, bahwa salah satu ajaran pokok dalam agama Islam adalah niat. Nabi Saw pernah menyindir tentang hal ini, bahwa “Setiap perbuatan sesuai dengan niatan pelakunya”. Betapa banyak perbuatan yang kelihatan sepele memilki makna besar karena niatan yang benar. Tapi tidak jarang niat menghancurkan makna amalan-amalan besar. Tak terkecuali menata sandal. Jika hal ini diniatkan untuk ibadah, tentu akan bernilai besar. Memang, menata sandal sekilas seperti perbuatan yang tergolong “hanya”. Tapi pastinya Tuhan punya cara pandang yang kompleks dalam menilai sebuah perbuatan.

Dengan demikian, bukan sangat tidak mungkin menata sandal akan dicatat ibadah oleh Tuhan sebagai ibadah. Tapi saya selalu percaya, menata sandal jamaah santri Ngaji Filsafat lebih dari ibadah. Hal itu semacam satu di antara ratusan jalan menuju Tuhan. Zainuddin al-Malibari, seorang kiai sepuh dari daratan Arab pernah menyinggung, “Setiap orang memiliki jalan masing-masing menuju Tuhan. Hendaklah setiap orang meraih jalannya masing-masing”.

Merujuk pada keterangan yang disampaikan oleh al-Malibari ini, maka bukan hal yang tidak mungkin, menata sandal sebagai jalan menuju Tuhan. Toh Tuhan tidak pernah membatasi jenis amal yang bisa dilakukan oleh hambanya. “Satu Tuhan seribu jalan”, demikian kata para pemuka agama. Semua hal bisa menjadi berkualitas selama diiringi dengan niat yang baik dan benar.

Mudah-mudahan keberkahan selalu menaungi para penata sandal di Masjid Jendral Sudirman dan juga untuk semua penata sandal di seluruh dunia. 

Author: Hamdani Mubarok

ABOUT THE AUTHOR

Hamdani Mubarok

Squad #4 Literasi Masjid.


COMMENTS

  • Saifun Nuha

    Mantap keren tulisannya, dr sandal nymbung iblis nymbung ke arab nymbung kmna”… Barakallah… 😇