Kebanyakan orang berpikir bahwa seni hanyalah hasil imajinasi seseorang yang tidak ada kaitannya dengan realitas yang ada diluar dirinya. Seni seringkali dianggap sebagai hasil kontemplasi terdalam manusia yang tidak berefek bagi kehidupan sosial. Ungkapan semacam itu kemudian melahirkan pesimisme terhadap seni, dan secara tidak langsung menunjukkan ketidaktahuannya tentang seni. Bahkan tidak menutup kemungkinan ia sedang tidak mengenali dirinya. Sebab, seni adalah bagian terdalam dari diri manusia, yaitu rasanya (perasaan). Seni tidak dapat dianggap sebagai hal yang terpisah dari kehidupan manusia. Sebaliknya, tanpa seni maka sulit bagi seseorang untuk mengenali alam sekitarnya. Seni tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya individu, tetapi juga berhubungan dengan kehidupan itu sendiri. Artinya hal-hal yang sifatnya sosial pun menjadi perhatian seni.

Kemudian muncul pertanyaan, apa itu seni? Seni itu buat apa? Apa efeknya seni pada kehidupan? Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang perlu menjadi bahan renungan tentang seni. Dengan mengangkat tema tentang seni dan kehidupan, penulis berusaha menjelaskan tentang posisi seni dalam kehidupan. Mungkin Anda akan bertanya mengapa penulis mengangkat tema ini? Tulisan ini merupakan bagian dari keikutsertaan penulis mengikut Ngaji Filsafat di Masjid Jendral Sudirman.

Pada kesempatan Ngaji Filsafat bulan Agustus, tema yang diangkat mengenai Tokoh Muda. Salah satu tokoh yang dibahas adalah Chairil Anwar (28/8). Melalui karya-karyanya, Chairil dikenang meskipun ia meninggal pada usia yang cukup muda, 27 tahun. Lewat puisi-puisinya itulah bagaimana seorang Chairil memberikan kepada kita banyak pelajaran, tidak hanya menyangkut persoalan sosial, tetapi juga hal-hal yang sifatnya religius.

Pada kesempatan ini, penulis sedikit mengulas tentang puisi Chairil yang mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan sosial. Sebagaimana judul yang diangkat, yaitu seni dan kehidupan, penulis akan berusaha mengungkap relasi seni dan kehidupan itu seperti apa. Apakah seni adalah hal yang terpisah dari kehidupan atau seni dan kehidupan merupakan dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Sebab keduanya dekat dengan kehidupan dan manusia. Tak ada definisi tentang seni, namun bila kita berpikir secara mendalam, maka kita akan menemukan suatu simpulan bahwa seni itu adalah bagian dari kita sendiri.

Telah banyak karya-karya seni yang ditulis oleh para penyair besar yang mengungkapkan tentang hubungan seni dan kehidupan. Ribuan novel, epos, puisi, dan musik yang mengekspresikan tentang kehidupan manusia. Karya seni merupakan hasil dari ekspresi kehidupan pengarangnya, orang-orang yang disaksikan, atau tentang hal-hal yang ada disekitarnya. Literature is an expression of society (Ranciere, 1998: 65). Apa yang diungkapkan oleh pengarang dalam karyanya tidak bisa dilepaskan dengan kehidupan itu sendiri. Sebagaimana ditegaskan juga oleh filsuf Yunani klasik, Plato, bahwa seni adalah tiruan (mimesis) kehidupan.

Dalam puisi-puisi karya Chairil, kita akan menemukan di antaranya puisi yang berjudul Karawang-Bekasi. Puisi tersebut berusaha menggambarkan semangat yang gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Puisi tersebut menyiratkan ada semangat yang membara dalam diri seorang Khairil yang tak pantang menyerah. Sebagaimana yang terdapat pada kutipan berikut ini:

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

Terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang Diliputi debu

Kenang, kenanglah kami.

Lewat bait-bait puisinya Chairil, menunjukkan bahwa perjuangan sangat lekat dengan seni. Chairil mengungkapkan apa yang dialaminya melalui puisinya. Ini menunjukkan bahwa seni sangat berhubungan dengan kehidupan. Begitu juga dengan puisi yang berjudul Diponegoro, Chairil menunjukkan kuatnya semangat perjuangan yang melekat dalam karyanya.

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

 

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati

Puisi Diponegoro masih menunjukkan kegigihan dalam memperjuangkan kemerdekaan menentang segala tirani. Chairil menggambarkan bahwa seni tidak hanya untuk dinikmati semata, tetapi seni mendorong semangat juang bagi pembacanya. Lewat puisi-puisinya, Chairil mengajari kita bagaimana seni seharusnya. Seni tidak hanya membentuk seseorang untuk asyik dengan dirinya sendiri, melainkan seni mengajari orang bagaimana memahami realitas yang ada diluar dirinya. Karya seni bukan hanya kumpulan kata menjadi syair, tetapi adalah ekspresi jiwa terdalam seseorang terhadap apa yang dialami dan disaksikannya. Selain Chairil, masih banyak pengarang-penyair lain yang berusaha mengekspresikan pengalaman sosial yang dialaminya lewat karya-karya sastra mereka. Seperti Pramoedya Ananta Toer, yang melakukan kritik sosial dalam novel tretalogi Pulau Buru. Dalam novel-novel tersebut Pramoedya menggambarkan segala derita kehidupan yang dialaminya, digambarkan dalam novel tersebut.

Dengan seni, manusia akan mengasah kehalusan rasanya sehingga dapat memahami alam disekitarnya. Melalui kontemplasi yang mendalam, seorang dapat melahirkan karya seni yang besar. Lewat seni juga dapat mengekspresikan perasaan seorang hamba kepada Sang Khalik. Seperti yang diungkapkan oleh Jalaludin Rumi melalui puisi-puisi cintanya. Rumi mengekspresikan perasaan pecinta kepada Sang Kekasih.

Keharmonisan antara hati dan akal pun dapat terjadi melalui seni. Seni akan membentuk seseorang memiliki kehalusan budi sehingga ia dapat beriteraksi dengan orang-orang disekitarnya dengan baik. Seni membentuk seseorang untuk menjadi orang yang halus budi dan memiliki sense of belonging. Seni tidak terbatas oleh ruang tertentu, seni tidak pernah terbatas pada background seseorang, tetapi seni meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa seni bukanlah sekedar karya imajinasi seseorang atau suatu yang tidak memiliki efek terhadap kehidupan. Tetapi seni merupakan bagian dari kehidupan seni itu sendiri. Seseorang mampu mengungkapkan segala pengalaman hidupnya lewat karya seni, seperti puisi, novel, musik ataupun karya seni lainnya. Mempelajari seni berarti kita sedang membangun keharmonisan antara akal dan rasa.

Author: Iwan Saputra

SHARE THIS POST
ABOUT THE AUTHOR

Iwan Saputra

Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS