Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS Ar-Ra’d [13]: 11).

Agaknya tempat akan menentukan bagaimana seseorang berperilaku. Setiap manusia pada dasarnya sangat adaptif dan cenderung fleksibel, ia selalu menyelaraskan diri dengan tempat yang ia masuki. Layaknya air yang tidak dapat dipastikan bentuknya. Ketika dituangkan ke gelas air akan berbentuk seperti gelas itu dan jika air tadi memenuhi botol maka bentuknya pun seperti botol.

Berbeda dengan benda, tempat atau ruang. Sebuah gelas tidak mungkin menyesuaikan diri dengan air dan mustahil bagi botol berubah bentuk menjadi gelas meskipun ia berada di antara sekawanan gelas. Botol tetaplah botol dan gelas akan selalu menjadi gelas. Benda-benda itu kaku. Begitu pula dengan tempat ataupun ruang, mereka tidak adaptif, semua yang ada pada benda itu adalah suatu keniscayaan, suatu hal yang dikehendaki oleh si penciptanya dan tentu ada campur tangan Sang Maha Pencipta di sana.

Dengan kekakuan benda, tempat dan ruang itu, tugas manusia adalah mencari tahu fungsinya dan mempergunakan fungsi tersebut secara maksimal untuk kemaslahatan bersama. Sebab, sejatinya perilaku itu adalah salah satu misi dari penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi, yakni perpanjangan tangan Tuhan (wakil Allah). Untuk itu, menyadari dan mengenali potensi-potensi dari semua ciptaan Allah dan sunatullah, secara tidak langsung telah membaca dan mengenal lebih dekat kepada Sang Pencipta Alam beserta isinya. Setidaknya satu langkah lebih dekat dengan-Nya bila dibandingkan dengan hanya memakai benda dan menempati ruang tanpa mengenali dan memaksimalkan fungsi benda dan tempat tadi untuk kemaslahatan sekelilingnya. Manusia hanya “menumpang” hidup dan singgah tanpa makna lebih.

Masjid Jenderal Sudirman adalah salah satu perwujudan dari benda yang memiliki ruang dan merupakan sebuah tempat. Terletak di Yogyakarta, tepatnya di Jalan Rajawali No. 10, Demangan Baru, Kel. Depok, Kec. Caturtunggal, Kab. Sleman, Yogyakarta. Masjid ini berada di antara kampus-kampus terkenal di Yogyakarta—UGM, UNY, UIN, USD, UAJY, UPNVYK. Banyak kampus ternama mengelilingi masjid ini, maka tidak heran jika pengunjungnya di dominasi dari kalangan muda atau yang berjiwa muda dengan pemikiran masing-masing dari mereka.

Jejak gerak geostrategi Masjid Jenderal Sudirman sebenarnya bermaksud untuk mencermati lokasi Masjid Jendral Sudirman dan strategi masjid dalam memanfaatkan geografi tempat. Untuk melihat lebih jauh, terlebih dahulu kita perlu mengetahui apa itu geostrategi.

Geostrategi

Geostrategi  adalah sebuah pendekatan, dan pendekatan ini merupakan gabungan dari dua ilmu pengetahuan yakni ilmu geografi dan ilmu strategi atau pertahanan. Awalnya geostrategi diartikan sebagai pendekatan geopolitik atau turunan dari geopolitik yang digunakan untuk kepentingan perang dan militer, dan cenderung mengarah pada hal-hal yang berbau imperialisme (penjajahan). Tepatnya penaklukan suatu wilayah dengan kemampuan memahami geopolitik dan geostrategi. 

Belanda misalnya, dengan kemampuan menganalisis potensi geografi negaranya dan mengatur rencana berdasarkan konstelasi geografi, mampu menjajah hingga ke wilayah Asia. Kesadaran akan ruang bagi pemimpin-pemimpin yang memiliki motif politik dalam konteks kenegaraan ini tentu saja akan mempengaruhi keputusan politiknya. Keputusan tersebut juga akan berdampak pada negara tadi atau bahkan dunia. Berdampak positif atau negatif sangat tergantung pada cara pemimpin negara tersebut memanfaatkan dan memandang anugerah geografi yang diberikan pada negaranya. Sebut saja Hitler, seorang diktator yang berani menyerang negara disekitarnya dan tega membunuh bangsa Yahudi, diantaranya sebab bisikan dari ahli geografi politik yang menjadi penasihat politiknya, yaitu Haushoffer. Malapetaka Perang Dunia II (1939-1945) pun terjadi.

Sejak saat itu, baik geografi politik maupun geografi strategi dijauhi para pakar karena lebih untuk membenarkan kebijaksanaan ekspansif suatu negara. Namun jika pemahaman tentang geografi yang dipadu-padankan atau diintegrasi dan interkoneksikan dengan bidang keilmuan lain secara berintegritas, berbekal keilmuan yang cukup mengenai bidang tersebut, maka akan menghasilkan manfaat yang sangat luar biasa untuk orang di sekitarnya atau bahkan dunia.

Misalnya saja Singapura. Negara ini dapat dibilang sebagai negara yang berhasil memahami geostrategi dan geopolitik negara dan memanfaatkan kondisi geografis untuk kepentingan nasionalnya dan mendatangkan kemanfaatan. Negara yang luasnya tidak lebih dari satu Provinsi D.I. Yogyakarta mampu bersaing dengan negara-negara maju di Asia bahkan dunia. Singapura berhasil membuat bargaining position dengan posisi geografisnya. Hal ini membuktikan bahwa menyadari potensi geografi dan mengelolanya dapat menghadirkan kemaslahatan dan kesejahteraan bersama. Maka sudah seharusnya, sebagai salah satu cabang ilmu, geografi strategi meninggalkan watak ekspansifnya. Ekspansif atau menjajah dalam arti sebenarnya tentu tidak dibenarkan sebab terdapat unsur-unsur pelanggaran hak asasi manusia.

Berbicara tentang geostrategi memang bukanlah hal yang baru. Pendekatan ini sudah sejak lama ada, bahkan selalu digunakan dihampir setiap kita membuat suatu pilihan. Contohnya saja dalam memilih pasangan. Salah satu langkah pertama yang harus dilihat adalah potensi diri, hal apa yang bisa membuat kita percaya diri berhadapan dengan sang pujaan hati dan keluarganya. Kemudian unsur-unsur kedekatan kita dengannya, tepatnya pada titik mana diri kita dan pasangan bertemu. Kedua hal ini dapat dianologikan sebagai potensi geografi, sebab dua hal tersebut merupakan faktor internal atau anugerah pada diri kita masing-masing.

Lantas setelah kita memahami potensi diri, kita dapat menentukan strategi. Strategi ini adalah untuk membuat mapan posisi yang sudah kita miliki. Singkatnya, kita sudah memiliki paras yang enak dilihat, pekerjaan, umur pas untuk menikah, dari keluarga baik-baik, satu agama lebih utama, satu suku lebih aman, bekerja di daerah yang sama lebih lancar, komunikasi nyambung, visi dan misi sama, dan lain sebagainya, maka langkah yang selanjutnya ialah membuat strategi tepat menikah.

Dengan segala potensi yang dimiliki ia harus menentukan satu orang yang akan menjadi pasangan. Maka agar mendapatkan pasangan yang maksimal, ia juga harus memaksimalkan potensi yang ada pada masing-masing dari kita. Strategi-strategi ini biasanya akan muncul seiring dengan intensitas kita melakukan percobaan. Percobaan dalam arti usaha yang positif, bukan dengan menjajah atau menjajaki banyak perempuan jika laki-laki atau jalan dengan banyak laki-laki jika perempuan. Kuantitas usaha di sini juga dilakukan dengan strategi, tidak semua cewek atau cowok harus didekati, selektif dalam mencoba, belajar dari sejarah bukan sekadar pengalaman.

Sejenak kita tinggalkan geostrategi dalam mencari jodoh, kembali ke topik pembahasan yakni geostrategi Masjid Jendral Sudirman. Berikut paparan inti dari tulisan ini.

Geostrategi Masjid Jendral Sudirman

Pendekatan geostrategi dalam tataran implemetasi dapat diterapkan untuk melihat dan mengamati posisi-posisi suatu benda atau bangunan, dengan cara memahami kemampuan berdasarkan latar belakang yang dimiliki dan potensi geografi yang melekat pada benda atau bangunan tersebut. Dengan demikian, implemetasi dari geostrategi Masjid Jendral Sudirman ialah memahami posisi dan mengamati peran Masjid Jendral Sudirman yang terletak di antara hiruk-pikuk aktivitas manusia perkotaan, kompleks perumahan, hotel, sekolah, pertokoan, atmosfir kampus, café, distro dan lainnya serta potensi geografi dari masjid itu sendiri.

Bangunan Masjid Jendral Sudirman terbilang cukup sederhana, dari tampak luarnya tidak ada keistimewaan khusus dari bangunan yang bercat warna hijau dan semu kuning ini. Secara fisik, bangunan masjid terlihat biasa-biasa saja, hampir tidak ada bedanya dengan masjid-masjid pada umumnya.

Namun, orang-orang yang berada di sekitar masjid maupun yang terlibat secara langsung ataupun tidak langsung dengan masjid ini, membuat Masjid Jendral Sudirman mentereng, tidak kalah kuantitas pengunjungnya dengan cafe, distro, kampus atau pertokoan yang ada disekitarnya. Tak berlebihan juga bila dikatakan Masjid Jendral Sudirman sebagai bangunan layaknya universitas dimana setiap orang dapat masuk bahkan tanpa melalui seleksi dan segera dapat menimba ilmu di dalamnya. Tak juga aneh jika menyebut tempat ini sebagai tempat singgah kedua bagi banyak orang kala penat melakoni rutinitas. Masjid Jendral Sudirman menjadi salah satu tempat alternatif bagi kalangan yang melakoni seni kehidupan (the art of life), selain utamanya sebagai tempat ibadah.

Untuk menjadi masjid seperti demikian, tentu bukan hal yang dapat dilakukan dalam satu hari. Butuh usaha dan waktu yang tidak instan sehingga masjid mempunyai posisi di hati masyarakat. Kemampuan dalam melakukan hal tersebut bermula dari kesadaran akan potensi geografi masjid. Tentu potensi tersebut akan sia-sia jika tidak dikembangkan, dan akan menjadi aksiomatik belaka bila tanpa melakukan pergerakan.

Di Indonesia, fungsi utama masjid lebih ditonjolkan pada perkara ubudiyah (ibadah). Masjid dikenal sebagai instansi bagi pemeluk agama Islam guna menunaikan ritual-ritual keagamaan. Ritual yang lebih erat hubungannya dengan ibadah melangit (vertikal) dan terkadang kurang pada aktivitas yang menyentuh bumi (horizontal). Ibadah vertikal seperti salat merupakan hal yang mainstrem terlihat, namun akan berbeda jika masjid digunakan untuk belajar dan menuntut ilmu dari para guru, bahkan masjid yang mempunyai penerbitan buku sendiri. Hal ini tentu masih jarang ditemui dibanyak tempat di Indonesia.

Masjid Jendral Sudirman dan orang-orang didalamnya membuktikan bahwa masjid bukan sekadar tempat singgah para jamaahnya, bukan hanya tempat menunaikan ritual keagamaan semata, apalagi masjid menjadi sepi nyaris tidak berdaya. Masjid ini mampu bersaing dan memiliki fungsi strategis untuk bertahan dengan arus globalisasi dan perkembangan bangunan-bangunan disekitarnya.

Geostrategi Masjid Jendral Sudirman berarti menelusuri bagaimana lokasi masjid dimanfaatkan secara maksimal agar tetap dapat bersaing namun tidak kehilangan fungsi-fungsi fundamentalnya. Bersaing dengan bangunan-bangunan di sekitar masjid tidak harus merubah bangunan masjid, merenovasinya dengan dana yang siginifikan, atau mengganti interior masjid dan menambah sentuhan-sentuhan modern di dalamnya. Cukup menjadi masjid yang pokok selayaknya dan apa adanya dengan memprioritaskan kenyamanan bersama. Tidak ada yang berubah dari bangunan fisik Masjid Jendral Sudirman meskipun bangunan-bangunan di sekitarnya semakin hari semakin modern. Masjid Jendral Sudirman tetaplah masjid, bersahaja dan terbuka bagi siapapun yang ingin mengunjunginya, dari berbagai latar belakang kelas, agama, suku, maupun budaya.

Masjid Jendral Sudirman terletak di lokasi yang strategis, di pinggir-tengah kota Yogyakarta, berada di sekitaran kampus-kampus ternama di Yogyakarta, memiliki akses yang mudah di jangkau, dan berada di antara bangunan-bangunan hotel, café, distro. Letak yang super highway strategis masjid akan berakhir pada hal yang biasa-biasa saja bila Masjid Jendral Sudirman tidak membuat pergerakan untuk ikut berotasi dengan gerakan-gerakan anti-mainstream. Sebab bila pergerakan yang dilakukan sama saja dengan masjid-masjid pada umumnya, konsekuensi logisnya masjid ini tak ubahnya seperti ratusan ribu atau bahkan jutaan masjid yang hanya menyuarakan azan, salat berjamaah, dan agenda ritual lainnya dan ramai pada saat peringatan-peringatan hari besar Islam. Lebih jauh lagi, tentu masjid ini akan tenggelam seiring dengan pesatnya kemajuan di wilayah-wilayah sekitarnya.

Globalisasi kini telah menjadi keniscayaan. Jika tidak menyadari potensi yang kita miliki dan melakukan pergerakan yang progresif akan kemampuan diri, cepat atau lambat kita akan terseret arus, tenggelam dalam rotasi peradaban dan waktu. Mengambil peran dan bermain dalam arena percaturan global kini tidak bisa dielakan lagi. Salah satu langkah progresif Masjid Jendral Sudirman yang sudah lakukan untuk dapat melakoni perannya sebagai institusi keagamaan ialah memaksimalkan fungsi masjid, yang tidak hanya sebagai tempat untuk menunaikan ritual peribadahan, namun juga mewujudkan abstraksi dari ritual tersebut ke hal-hal yang lebih nyata.

Sejauh ini dalam memahami fungsi masjid hanya terbatas pada tempatnya, tidak lebih. Hal demikian ini yang coba diperluas oleh Masjid Jendral Sudirman, yaitu selain difungsikan untuk menunaikan ritual ibadah, juga membuat ngaji, kajian dan kegiatan dalam bingkai spiritual, mengasah pada yang intelektual sembari menguri-uri kebudayaan. Ketiganya menjadi core gerak mamakmurkan masjid. Transfer ilmu-ilmu pengetahuan pun berlangsung. Ilmu itu ibarat buruan, jika tidak diikat maka akan lepas, dan salah satu ikatan ilmu itu ialah dengan tulisan. Selain sebagai wadah tranfer ilmu pengetahuan lewat ngaji dan kajian, Masjid Jendral Sudirman juga bereksperimentasi dengan adanya lini literasi dan penerbitan buku. Para santri ngaji didorong ikut serta menghidupkannya dengan cara mengirimkan tulisan dari hasil olah ngaji maupun dari tema yang bermacam-macam. Tersedia juga Ruang Baca dan koleksi buku bacaan yang diharapkan dapat menjadi daya dukung hal tersebut.

Dengan memaksimalkan fungsi horizontal dan vertikal, Masjid Jendral Sudirman dengan kondisi geografis yang dimilikinya dapat melakukan bargaining position di antara bangunan-bangunan di sekitarnya dan bertahan dari arus globalisasi. Hal yang sama bila ditelaah kembali sebenarnya dimiliki oleh hampir semua masjid, tinggal tergantung bagaimana orientasi, prioritas, dan komitmen para marbot dan jamaah sekitar masjid dalam rangka memakmurkan masjid. Jeli melihat sudut untuk melakukan gerakan-gerakan yang dapat membumikan agama Allah ke sekitarnya dan secara lebih luas lagi. Ngaji Filsafat dan penerbitan MJS Press antara lain dapat dikatakan sebagai bukti bahwa masjid dapat terjun dan berkecimpung dengan arus modernitas di tengah-tengah generasi muda. Itulah yang dimaksud dengan geostrategi Masjid Jendral Sudirman dalam tulisan ini. Terima kasih.

Author: Ulfa Ramadhani Nasution

ABOUT THE AUTHOR

Ulfa Ramadhani Nasution

MJS Squad #4


COMMENTS