Di Gang Krembangan Surabaya, Na Willa dan Farida merupa karib. Keluarga Na Willa tak pernah absen ke gereja. Sementara sore di rumah Farida, anak-anak gang belajar mengaji pada abangnya Farida. Sesekali juga Na Willa. Laiknya yang lain, ia mempunyai tuding, buku Iqro, dan penyangga kayu lipat untuk meletakkan Iqro. Menjelang Natal, Farida turut bergembira menghias pohon natal di rumah Na Willa.

Keseharian Na Willa dan Farida yang begitu itu direstui orang tua mereka. Ibu-ibu menjadi jembatan yang baik memantik pemahaman-pemahaman. Sore menjelang Magrib, Na Willa dan Farida musti menyudahi keriangannya bermain. Beragam mainan yang tergelar harus dibereskan keduanya. Farida musti lekas pulang untuk siap-siap shalat. Demikian ibu memberi pemahaman kepada Na Willa.

Kita turut senang mendapati kehidupan Na Willa dalam buku berjudul sama yang diterbitkan POST Press—penerbit kecil di Jakarta yang hanya menerbitkan buku-buku baik dalam jumlah sangat sedikit—bertarikh 2018. Konon, Na Willa ialah nama kecil si penulis, Reda Gaudiamo. Seperti Na Willa, Reda mengalami masa kecil yang menyenangkan di tengah perbedaan agama dan suku di lingkungan tinggalnya. Kendati begitu, ada yang membuatnya sedih sebab kedua hal itu. Misalnya saat Na Willa diteriaki “Cino Asu!” oleh seorang kawannya.

Kawan yang meneriaki Na Willa itu kiranya juga tak sedikit kita jumpai dalam keseharian, dengan narasi yang macam-macam. Perbedaan-perbedaan, utamanya yang bertaut dengan agama, ras, dan belakangan preferensi politik menjadikan kehidupan kita gagal selugu keakraban Na Willa dan Farida. Tak peduli seberapa tinggi gelar akademis dan/atau seberapa banyak bacaan berkelindan agama yang dikhatamkan, kita kelimpungan dalam rimba saling tuding, hakim-menghakimi. Berlomba menjadi pakar dadakan serta meyakini diri paling benar dan suci.

Taman keluarga

Dalam term sosial keagamaan, saya tak mengalami masa kecil sebaik Na Willa. Meski berkawan baik dengan orang yang berlain agama, bapak melarangku memberi ucapan selamat kepada mereka begitu Natal tiba. Larangan bapak itu tetap berlaku sampai sekarang. Meskipun beliau tahu larangan demikian tak kan diindahkan lagi oleh anak-anaknya yang beranjak dewasa. Bapak telanjur teguh beranggapan bahwa memberi ucapan selamat terhadap hari besar umat lain sama artinya dengan menodai keislaman diri. Anggapan yang masih jamak kita jumpai sampai saat ini. Di jagat maya, perdebatan-perdebatan begitu itu tak pernah usang. Menyeret sebagian kita dalam pusaran perdebatan itu lagi-itu lagi.

Anak-anak yang dididik dalam lingkungan keluarga yang lekat dengan narasi Islam eksklusif ini selamanya akan terjebak dalam bingar eksklusivismenya. Selama dirinya tak berupaya mencari diskursus-diskursus sosial-agama yang agak atau sama sekali berlainan dengan yang disajikan di rumah. Pencarian-pencarian itu tak jarang membuatnya bimbang, bahkan sampai ke lembah kegamangan yang serba-membingungkan. Dalam misi pencarian itu, si anak tak sekadar menguji kebenaran bahwa memberi ucapan selamat kepada kaum agama lain itu mengikis identitas keislaman seseorang, tapi lebih jauh lagi.

Kebutuhan untuk terus mencari, menggali, memahami nilai-nilai agama ini kiranya bagian dari kebutuhan aktualisasi diri dalam hierarki Maslow, Hierarchy of Needs. Seseorang terus mempelajari dan mengembangkan dirinya demi menemukan bentuk paling pas dan nyaman baginya. Termasuk terus mempelajari, menguji nilai-nilai agama yang pernah didapat dari pengasuhan orang tua dengan pelbagai pengetahuan dan pemahaman baru yang ia miliki. Ragam pengetahuan dan pemahaman itu lekat dengan bacaan dan lingkungan sosial tempat ia berada.

Menyudahi eksklusivisme intelektual

Di zaman kiwari, kita tak bisa menyangkal kedigdayaan teknologi irit tombol temuan manusia yang kecerdasannya menyaingi penemunya. Beragam kemudahan juga kesulitan muncul beriringan dalam semesta hidup terbaru. Hidup menjelma opera. Kita sering tak sadar bersaing berebut panggung. Menjadi narsis.

Dorongan kuat yang timbul dalam diri untuk menjadi narsis atau menonjol itu kiranya perlu disikapi untuk dicarikan bentuk yang pas guna mengalirkan pelbagai narasi baik bertaut agama. Pelbagai laman berikhtiar menghamparkan bacaan sarat nilai agama dus tak mengesampingkan nalar kritis bermunculan. Di Indonesia kita mendapati alif.id, islami.co, islamberkemajuan.id, langgar.co, harakatuna.com, dan lebih banyak lagi. Termasuk buku-buku sarat nilai agama yang dikemas populer sehingga tak menjemukan pembaca. Beragam laman dan buku-buku pengusung misi luhur itu masih terus berdesakan berebut pembaca dengan narasi-narasi ekslusivitas beragama yang mudah menyulut bara antarumat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di salah satu perayaan ulang tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, digelarlah jajak pendapat menyoal nilai-nilai apa yang sama pada semua bangsa dan negara. Hasilnya ialah nilai-nilai kemanusiaan seperti kedamaian, kesatuan, kesederhanaan, kasih, sayang, kejujuran, rendah hati, tanggung jawab, tenggang rasa, kebebasan, dan cinta. Konon, Islam—dan semua agama lain—begitu lekat dengan nilai-nilai itu.

Kita sejatinya mafhum bahwa ekslusivitas beragama itu keliru. Di tinjau dari mana pun akan lebih besar mudarat yang bakal timbul oleh karenanya. Di antara yang dapat kita lakukan ialah menyaingi laju tersebarnya beragam konten yang mengagung-agungkan eksklusivitas beragama itu. Kita yang kebetulan lebih dulu tahu dan mengonsumsi ragam konten agama yang inklusif dan berkemanusiaan melalui jagat maya tak semestinya menjadi abai pada realitas di sekitar dengan hanya bergulat dan bersaing pengetahuan dalam lingkup sosial yang kecil. Kita sudah semestinya enyah dari ambisi eksklusivisme intelektual. Intelektual yang hanya sibuk berdebat—dan bersaing—dengan sesamanya.

Sudah saatnya tidak lagi menyepelekan konten-konten hoaks atau konten yang kiranya mudah membakar api ketegangan yang tersebar di sekitar, memandangnya sekadar sebagai urusan orang-orang tak cakap pengetahuan. Perlahan-lahan kita musti menyicil turut dalam obrolan-obrolan itu, baik di jagat maya maupun nyata. Menandingi narasi intoleransi, fanatisme, ketimpangan gender, tak berkeadilan dengan antitesis-antitesis dari kesemua itu. Tentu dengan cara yang santun dan beradab. Misalnya mengalami diskusi berbekal tautan-tautan menuju pelbagai artikel, infografis, audio-video yang mencerahkan nalar kritis kemanusiaan. Bukan semata-mata memberi dakwaan salah pada orang lain, tetapi dengan menyulut rasa keingintahuan yang selanjutnya akan berkembang menjadi keragu-raguan atas pelbagai sikap ekslusif yang diyakini. Penciptaan kondisi yang demikian itu kiranya begitu penting.

Salah satu gereja protestan di Jakarta, Gereja Komunitas Anugerah Salemba memiliki agenda Rabuan. Di bawah asuhan seorang pendeta-intelektual, mereka mendiskusikan pelbagai isu mutakhir dalam term keagamaan. Diskusi itu mewujud sikap. Mereka pernah terlibat dengan barisan perjuangan ibu-ibu Kendeng mempertahankan tanahnya yang hijau. Di Yogyakarta, ada Masjid Jendral Sudirman yang rutin menggelar Ngaji Filsafat dan ngaji-kajian lain bertaut seni-budaya. Masjid tak sekadar tempat ibadah yang sifatnya ritual. Dua realitas itu kiranya contoh yang baik bagi kehidupan kita sebagai umat beragama sekaligus bangsa multikultural. Tsah!

Author: Rizka Nur Laily Muallifa

ABOUT THE AUTHOR

Rizka Nur Laily Muallifa

From Solo. Pembaca tak khusyuk. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Pamrih di @bacaanbiasa


COMMENTS