Wil Jandra

 الحمد لله الذي شرع للناس عيدَ الاضحي مباركا ونعيما مشكورا ويوماَ مسرورا .  والذي نحمده ونستعينه ونستغفره ونُكبره ونَقول الله أكبر الله أكبر و لله الحمد -. الله أكبر كبيرا  والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. والصلاة والسلام على مَن أَرسلَه اللهُ رحمةَ للعالمين بشيرا ونذيرا, وعلى آله وصحبه ومن تبعهم باءحسان الى يوم الدين مؤمناَ ومخلصا.  أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده . أما بعد فيا اأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ -.إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ (3)

Allahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd.

Pada pagi hari yang berbahagia ini, pertama-tama marilah kita bertakwa dan senantiasa bersyukur ke hadhirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya yang tak terhingga, sehingga dapat melaksanakan ibadah Idul Adha 10 Zulhijjah 1440 H/11 Agustus 2019 M tahun ini, semoga Allah memberi pahala berlipat ganda, dan semoga hidup kita selalu diberkahi-Nya. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada nabi besar Muhammad Saw, para sahabat, keluarga dan pengikutnya sampai akhir zaman. Amin ya rabbal alamin.

Kaum muslimin sidang Idul Adha yang berbahagia!

Saat ini enam juta lebih umat manusia dari seluruh penjuru dunia datang ke tanah suci untuk menunaikan  ibadah haji dengan susah payah dan berdesak-desakan. Mereka sampai kelelahan bahkan ada yang meninggal dunia. Kalaulah bukan panggilan iman, mana mungkin seseorang mau meninggalkan  urusannya dengan pengorbanan harta, waktu, tenaga serta jiwa.

Hidup kita sekarang dalam dunia modern, dunia yang sudah berubah, dunia yang sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Perubahan adalah suatu keniscayaan dalam hidup ini. Suka atau tidak, fakta sudah terjadi. Dua puluh tahun yang lalu Wartel (Warung Telekomunikasi) adalah bisnis yang menguntungkan, namun saat ini Wartel sudah tidak kita jumpai lagi, karena semua orang memiliki handphone. Dulu Blackberry merajai chating di Indonesia, semua orang selalu meminta pin BB, namun sekarang sudah dilibas oleh WhatsApp dan Line. Sepuluh tahun yang lalu Yahoo adalah raksasa dunia internet, faktanya hari ini habis terlindas oleh Google. Sepuluh tahun yang lalu, surat kabar, majalah, dan televisi adalah media informasi paling efektif, fakta hari ini, mereka tergusur oleh YouTube, Facebook, Twitter, Instagram, Linkedin. Saat ini pun transaksi perbankan hanya lewat aplikasi yang tertanam di HP kita, sehingga transaksi bisa dari mana saja dan kapan saja.

10 tahun yang lalu gerai Matahari, Ramayana, Carrefour, Hypermart adalah raja dunia retail. Fakta hari ini, gerai mereka banyak tutup, tergantikan oleh Bukalapak, Tokopedia, Blibli, dll. 10 tahun yang lalu kita masih pakai Pos untuk mengirim surat, sekarang sudah jarang orang kirim surat apalagi Wesel Pos untuk kirim uang. Perangko tidak laku lagi. Kantor Pos sudah bersiap untuk tutup karena pengiriman barang pun telah diambil alih oleh biro jasa lainnya. 10 tahun yang lalu ojek adalah profesi yang tidak dipandang sebelah mata pun. Tetapi fakta menunjukkan hari ini, tukang ojek adalah S1 bahkan S2, karena ojek sudah online.

10 tahun lalu order Taxi sangat menjengkelkan, sekarang pesan Grab, atau GoCar dalam 5 menit datang. 10 tahun lalu Anda pesan hotel dan tiket pesawat lewat travel agen. Fakta hari ini, ribuan travel agen berguguran tergantikan oleh Traveloka, Agoda, Pegipegi dll. 10 tahun lalu mencari teman lama cukup sulit terutama teman sekolah SD, SMP ataupun SMA saat ini HP sudah penuh dengan Group WhatsApp Alumni.

Jika Anda tidak terbuka pada perubahan zaman, maka hari ini Anda adalah orang yang tergilas oleh zaman dan percayalah 10 tahun yang akan datang Anda akan berada pada barisan orang yang “tertinggal”, karena perubahan dan inovasi, tidak akan pernah berhenti, meski Anda berkeras untuk tidak ikut berubah.

Di dunia ini tidak ada tempat berhenti. Jangan pernah lambat nanti engkau tergilas, jangan pernah berhenti nanti engkau mati. Teruslah bergerak, ikutilah perubahan itu. “Innallaha yugayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bianfusihim.” (Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka merubah diri mereka sendiri). (QS Ar-Ra’d [13]: 11).

Bagaimanapun dunia berubah namun iman tidak boleh berubah, saudara-saudara jangan sampai tidak pernah ke mesjid, tidak pernah shalat berjamaah, tidak pernah menolong orang, tidak pernah memberi. Sekali iman goncang dan berubah maka hancurlah kehidupan ini. Namun dunia yang selalu berubah ini, yang sangat dicintai adalah uang atau harta benda. Tujuan hidup di dunia adalah mencari karunia Allah, “Wabtagi fi maa atakallahud daral akhirata wala tansa nashibaka minaddunya… .” (Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat…). (QS Al-Qashash [28]: 77).

Memang tujuan hidup di dunia ini adalah untuk mencari karunia Allah, tetapi seringkali yang diutamakan adalah mencari harta, karena harta adalah kebutuhan pokok. Di Indonesia banyak orang miskin tapi ada sepuluh orang terkaya di Indonesia ini dimana kekayaan seseorang sama dengan RAB dua propinsi, kalau sepuluh orang berarti sama dengan RAB dua puluh propinsi; satu orang terkaya di Indonesia ini memiliki uang sama dengan RAB lima propinsi.

Kekayaan sepuluh orang terkaya di Indonesia belumlah melampaui kekayaan Abu Bakar Shidiq, atau Abdurrahman bin Auf, apalagi kekayaan Nabi Sulaiman yang memanfaatkan uangnya untuk kepentingan fi sabilillah. Harta adalah sebagian dari rezeki, manusia seringkali melihat rezeki hanya persoalan uang yang dihasilkan dari jerih payah bekerja, padahal rezeki Allah itu teramat luas. Setidaknya disebutkan ada delapan jalan rezeki yang Allah SWT berikan untuk hamba-hambanya, yaitu:

  1. Rezeki telah dijamin oleh Allah. “Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya.” (QS Hud [11]: 6). Contoh: Meskipun seorang anak yatim piatu tidak memiliki orangtua, namun ia akan tetap hidup sampai besar dirawat panti asuhan atau diadopsi oleh keluarga lain.
  2. Rezeki karena usaha. “Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya.” (QS At-Tur [53]: 39). Contoh: Karena keuletan dalam usaha, kini bangsa Turki bisa makmur, padahal alamnya tidak begitu kaya.
  3. Rezeki karena bersyukur. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS Ibrahim [14]: 7). Contoh: Brunei Darusalam baru-baru ini menerapkan syariat Islam sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmat-Nya, maka mereka kini menemukan ladang gas baru kapasitas miliaran kubik.
  4. Rezeki tak terduga. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS At-Talaq [65]: 2). Contoh: Karena ketakwaan penduduk Mekkah dan Madinah, siapa sangka minyak dan gas berada di bawah tanah Hijaz (Arab Saudi).
  5. Rezeki karena istighfar. “Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.” (QS Nuh [71]: 10-11). Contoh: Kaum Nabi Yunus, setelah mereka bertobat maka Allah karuniakan kemakmuran bagi mereka sampai empat puluh tahun. Riwayat lain mengatakan delapan puluh tahun lamanya.
  6. Rezeki karena menikah. “Dan menikahlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemapanan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS An-Nur [24]: 32). Contoh: Ketika masih bujangan, Abdurrahman bin Auf ra. hanya seorang penjual tali, namun setelah menikah ia menjadi pengusaha besar owner pasar Madinah.
  7. Rezeki karena anak. “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (QS. Al-Isra [31]: 31). Contoh: Yakub waktu mudanya hijrah dari rumahnya dan menjadi pengembala kambing, setelah menikah dan memiliki 12 anak, justru kambing-kambingnya juga makin bertambah banyak.
  8. Rezeki karena sedekah. “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.” (QS Al Baqarah [2]: 245). Contoh: Kedermawanan Utsman bin Affan ra. hingga kini masih ada warisannya dan tabungannya masih tersimpan di Bank Syariah Arab Saudi.

Marilah kita tempatkan harta yang merupakan rezeki dalam kehidupan kita pada posisinya yang proporsional. Harta adalah alat, bukan tujuan. Harta adalah alat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Alat untuk beribadah kepada Allah SWT. Alat untuk menolong sesama. Janganlah terlalu mencintai harta berlebihan. Karena harta bukanlah tujuan, kita tidak boleh menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Kita harus mencari harta yang halal dengan jujur, amanah dan bertanggungjawab. Sekali-kali jangan pernah menipu. Jangan melakukan manipulasi, korupsi atau yang batil sehingga harta menjadi berkah.

Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.

Setelah mempunyai rezeki dan harta yang banyak, lalu kenapa kita harus berkurban? Karena perintah Allah SWT, dan perintah Allah kepada hambanya tentu mengandung hikmah untuk umat manusia yang berlomba mencari kebaikan. Sebelum diperintahkan kepada Nabi Ibrahim a.s, perintah berkurban sudah ada sejak zaman Nabi Adam a.s. Hal ini dimuat dalam Al-Maidah ayat 27.

Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): Aku pasti membunuhmu! Berkata Habil: Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.”

Perintah berkurban juga datang pada Nabi Ibrahim pada usianya yang ke-100 tahun. Nabi Ibrahim mendapat mimpi yang datang dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail, yang sangat dinantikan kelahirannya. Mimpi seperti ini terjadi hingga tiga kali. Dengan penuh ketakwaan, keduanya memenuhi perintah ini. Tentu saja Ismail tidak pernah disembelih oleh ayahnya sendiri.

Maka tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim! sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu.” (QS As-Saffat [37]: 103-105).

Ketika pisau telah diarahkan ke arah leher Ismail, lalu Allah SWT menggantikannya dengan seekor domba yang besar. Kisah dan sejarah tersebut yang kini menjadi hikmah mengapa kita harus berkurban. Ketika keikhlasan Nabi Ibrahim menjadi bukti ketakwaan kepada Allah SWT, maka itulah yang patut menjadi contoh seluruh muslim dunia. Beberapa poin dari hikmah yang dapat kita petik sebagai alasan menunaikan kurban.

Pertama, tanda syukur kepada Allah SWT. Manusia yang diberi rizki lebih, hendaknya berbagi kepada sesama yang belum beruntung. Salah satunya dengan membagikan daging kurban. Tidak semua orang mampu mengkonsumsi daging.

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (nikmat) yang banyak. Oleh karena itu dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu adalah orang yang terputus.” (QS Al-Kautsar [108]: 1-3).

Sebagian ulama menyatakan bahwa ayat tersebut adalah ayat yang menjelaskan tentang wajibnya berkurban. Al-Kautsar juga bermakna “Nikmat yang Melimpah”. Allah SWT menjelaskan kewajiban berkurban merupakan bukti dari syukur kita terhadap-Nya, karena banyaknya nikmat yang dianugerahkan kepada kita. Agama tauhid dalam sejarahnya tidak terlepas dari perkara ‘kurban’. Sejarah kurban terdapat di dalam Al-Quran saat Habil dan Qabil diminta untuk melakukan kurban sesuai dengan profesi mereka, meskipun bentuk kurban ini tidak sama dengan kita.

Kurban dalam syariat Islam memiliki dimensi spiritual dan sosial. Dimensi spiritual, karena ia merupakan bentuk ketaatan dan kepatuhan kita terhadap perintah Allah SWT dengan mengorbankan sedikit dari apa yang kita miliki, berupa kesanggupan untuk menyembelih hewan kurban. Sedangkan dimensi sosialnya, kurban merupakan identitas toleransi muslim terhadap muslim lainnya. Dimensi ini tercermin dari adanya upaya untuk memberikan nikmat yang sama untuk mengkonsumsi daging sebagai bentuk kurban yang lumrah. Kurban efektif untuk menyambung silaturrahmi antara sesama muslim. Di samping itu, memberikan daging kurban kepada yang membutuhkan akan memberikan efek psikologis berupa rasa kebahagiaan, syukur, terima kasih dan semakin intimnya komunikasi dan interaksi sosial.

Ritual kurban sekaligus tradisi yang menyertainya, telah lestari mulai dari pertama kali diwajibkan hingga akhir zaman. Alangkah indahnya kurban sebagai simbol kebersamaan. Sebagai simbol kedermawanan dan kesetiakawanan. Namun, hendaknya kurban menjadi ajang keikhlasan dan ketulusan untuk mematuhi perintah Allah SWT, sekaligus sebagai cerminan simpati dan empati dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat. Dan kita berharap, berkurban bukan ajang untuk menunjukkan riya’ karena jumlah kurban dan apa yang kita kurbankan. Namun semata-mata sebagai ketaatan terhadap perintah Allah SWT.

Kedua, menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim yang memang diajarkan oleh Rasulullah Saw.  

Ketiga, kurban mempunyai manfaat langsung kepada sesama. Kurban tidak semata ibadah vertikal, tetapi juga horizonal. Manusia yang berkurban sama saja dengan menyejahterakan sesama. Bahkan dengan berkurban, kita juga dapat menebar persaudaraan. Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Setiap muslim diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah ta’ala berfirman, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS Al-Isra’ [17]: 7).

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahilham.

Ibadah kurban adalah simbol dari penyembelihan cinta berlebihan pada harta atau dunia dan menuju pada cinta Allah sebagai cinta yang hakiki. Jika merasa berat melakukan kurban berarti cinta kepada Allah masih rendah daripada cinta dunia. Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus di atas segala-galanya. Firman Allah dalam Surah At-Tawbah ayat 24 berbunyi:

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 

(Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik).

Seorang muslim memang tidak dibenarkan mencintai dunia melebihi kecintaannya kepada Allah. Nabi Ibrahim a.s, Siti Hajar dan Ismail a.s merupakan figur-figur yang memang kecintaan mereka pada Allah patut kita teladani, sebagaimana firman Allah SWT:

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ

(Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah). (QS Al-Mumtahanah [60]: 4).

Sebelum Nabi Ibrahim sesungguhnya sudah ada pengorbanan dan perjuangan yang besar yaitu Nabi Nuh as. Dalam sejarah, banjir dan topan yang paling besar dan mengerikan di dunia ini adalah pada masa Nabi Nuh. Bangsa inilah yang pertama dibinasakan secara massal oleh Allah SWT, jauh lebih dahsyat dari stunami Aceh. Allah memusnahkan mereka dengan mendatangkan banjir besar yang menenggelamkan mereka. Lihat Surah Al-A’raf ayat 64. Bencana terjadi karena umat Nabi Nuh telah durhaka, dan masyarakatnya melakukan kemaksiatan yang melampaui batas. Bersyukurlah kita, Allah tidak menyegerakan azab, menerima taubat, dan Allah masih melipatgandakan pahala kebaikan. Sebuah kebaikan bisa berlipat pahalanya dari sepuluh sampai tujuh ratus kali. Berniat baik saja sudah dapat satu pahala. Niat buruk tidak dicatat kecuali setelah dilakukan, itupun dihitung satu keburukan saja. Kalau mengurungkan niat buruknya, malah dicatat sebagai satu kebaikan. Begitulah sabda Rasulullah dalam sebuah hadis riwayat Bukhari.

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً واحِدَةً

Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.

Demikianlah hikmah dan tujuan disyariatkannya berkurban, tetapi apa yang terjadi sekarang, maksiat masih saja merajalela di muka bumi. Salah satu buktinya adalah seorang majikan telah menindas dan berlaku kejam terhadap pembantunya, sehingga Khanifah, seorang yang menjadi asisten rumah tangga di Singapura menjadi cacat permanen seumur hidup. Pemerintah Singapura menjatuhkan hukuman 11 tahun penjara kepada pelaku kekejaman. Di samping itu manusia sekarang banyak yang telah berperilaku bohong yang dalam bahasa kerennya adalah menyebarkan berita hoax. Penyebaran berita hoax bisa berakibat fatal dalam kehidupan. Tersebarnya dengan mudah berita bohong adalah karena hawa nafsu manusia yang tidak bertanggungjawab, dan rendahnya daya baca masyarakat.

Jika manusia telah berketerusan melakukan maksiat, ia tidak punya malu lagi kepada Allah, maka Allah pun akan menyegerakan azab, mungkin melebihi stunami aceh, mungkin kembali seperti azab umat Nabi Nuh. Gunung Merapi ada di daerah kita, tahun 2006 gempa telah mengguncang Yogyakarta. Gempa mengguncang Lombok dan Palu. Minggu lalu gempa mengguncang Banten. Kalau kita tidak lagi mencintai Allah, mungkin Allah akan menguji kita atau mengazab dengan musibah. Na’uzubillahi min zalik.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.

Bapak-bapak, Ibu-ibu jamaah Idul Adha rahimakumullah.

Lalu demikian, andaikan rasa cinta kita masih terpatri kepada Allah sebagaimana Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim, lantas sejauh mana pengorbanan atas nama cinta kita? Contoh sederhana infak dan shadaqah. Sejauh mana dan sebesar apa pengorbanan dan cinta kita kepada Allah berbanding cinta kepada dunia. Cinta duniakah atau cinta kepada Allah. Pada kenyataannya, kajian-kajian keislaman, terlihat begitu sepi dan jauh berkurang. Terlihat telah didominasi oleh berbagai acara YouTube yang penuh dengan hiburan.

Jujurlah, bahwa selama ini kita rajin ibadah ketika ada masalah. Kita menangis dalam berdoa ketika ada duka. Kita perlu Allah ketika berbagai masalah dan duka datang menghampiri kita. Ingatalah ketika gempa bumi terjadi di Yogyakarta masjid-masjid penuh saat sholat lima waktu, tetapi ketika gempa telah tiada, masjid sepi kembali dan kita pun pergi meninggalkan Allah.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.

Hal ini membuktikan bahwa memang nafsu hewaniyah masih mendominasi dalam semua lini kehidupan kita. Nafsu-nafsu seperti inilah yang dimaksud dalam konteks Idul Kurban, yang harus disembelih dan dihapus dalam setiap hati sanubari manusia. Inilah yang digambarkan dan dicontoh oleh Nabi Ibrahim yang pada hakikatnya “menyembelih” cinta-cinta lain yang ada di hatinya. Itulah makna Idul Adha. Di samping berlomba menyembelih kambing kita harus iringi dengan menyembelih cinta lain yang ada di hati kita. Itulah pengorbanan atas nama cinta yang paling indah.

Marilah kita meminta ampun dan bertaubat atas segala dosa, keteledoran dan kesalahan kita selama ini dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحسْاَنٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.

 أَللّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِاْلإيْماَنِ كاَمِلِيْنَ وَبِاْلإِسْلاَمِ مُتَمَسِّكِيْنَ وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ وَفِي اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ وَلِلنِّعَمِ شاَكِرِيْنَ وَعَلَى اْلبَلاَءِ صاَبِرِيْنَ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ،

 اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا،

Ya Allah, Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami, terimalah semua amal ibadah kami, semoga ketakwaan ada pada kami sepanjang masa.

Berilah kami kesabaran dalam menerima ujian, kebijaksanaan untuk menyatakan kebenaran dan keberanian untuk membela keadilan.

Ya Allah, ya Tuhan kami, jadikanlah negeri ini negari yang aman, bebas dari korupsi dan kolusi, sehingga tidak menjadi negara yang bangkrut. Mohon diberikan keberkatan dan bukakan pintu-pintu rezeki di langit dan dibumi ya Allah.

Allahumma ya rabbana, berikanlah kepada kami pemimpin yang memperhatikan rakyat, bertanggungjawab menyejahteraakan rakyat, adil, jujur, beriman, kreatif, pintar. Dan berilah petunjuk kepada para wakil-wakil rakyat dan seluruh kaum muslimin bangsa Indonesia ke jalan yang benar yaitu jalan yang Engkau ridai bukan jalan orang engkau murkai dan orang yang sesat.

Ya Allah Tuhan Kami, lindungilah kami bangsa Indonesia dari malapetaka dan bencana alam, berilah pertolongan dan kekuatan agar senantiasa mencinta Allah dan Rasul-Nya sebagai cinta yang utama.

Ya Allah, janganlah kami disiksa bila kami terlupa dan tersalah. Janganlah Engkau bebani dengan beban yang kami tidak sanggup memikulnya, ampunilah kami dan maafkanlah kami.

Rabbana atina fiddunya hasanatan wafil akhirati hasanatan waqina azabannar.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِ  

Author: Wil Jandra

ABOUT THE AUTHOR

Wil Jandra

Guru Besar pada Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta


COMMENTS