Fatimah

Mendengar kata “Permainan” mungkin akan dianggap santai oleh kebanyakan orang. Karena selama ini permainan itu suatu bentuk aktivitas yang menyenangkan ketika dilakukan. Sesuatu aktivitas yang menimbulkan keasyikan tanpa paksaan. Sungguh santai bukan? Tetapi apakah benar kata “Permainan” sesantai itu?

Pada kesempatan mengikuti Ngaji Filsafat edisi Falsafah Hidup tema Permainan bersama Pak Fahruddin Faiz di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta—kegiatan mengaji yang keempat kalinya saya ikuti—beliau menyampaikan bahwa permainan itu tidaklah sekedar main-main. Tetapi adalah hakikat hidup atau masuk dalam bagian hidup manusia. Manusia hidup di dunia ini sebenarnya hanyalah main-main. Shakespeare menyebut, “All the world’s a stage.” Dunia ini adalah panggung sandiwara.

Jadi apa yang disebut bermain itu sebenarnya? Pak Faiz menyampaikan bahwa bermain itu adalah serius dalam ketidakseriusan. Penjelasan yang sederhana, tetapi cukup membingungkan juga. Misalkan, ketika kamu asyik bermain game di smart phone, kamu terlihat sangat khusyuk dalam bermain. Syahdu. Bahkan ketika ada orang memanggil atau terjadi perang disebelahpun, kamu tidak tahu. Kamu terlihat begitu serius. Tetapi apakah benar bermain game itu sesuatu yang sangat serius? Tentu tidak. Bermain hanyalah sebagai penghibur diri saja. Bermain itu bebas dan menyenangkan. Efek menyenangkan inilah yang dicari dalam permainan.

Sebagai guyonan, Pak Faiz menyampaikan, “Jika kamu menemukan kisah yang tidak enak dalam hidupmu anggap saja itu hanyalah acting. Anggap saja kamu sedang casting. Biar hidupmu tidak terlalu sumpek. Dari permainan yang dilakukan hal yang lebih penting adalah prosesnya. Nikmati proses permainan yang sedang berjalan dalam hidupmu.”

Hidup adalah permainan, beliau memberikan contoh misalkan seorang mahasiswa harus menjalani proses perkuliahan. Capek dalam mengerjakan tugas, bergadang dalam mengerjakan tugas dan bahkan mengalami kendala lainnya semua dijalani saja. Tanpa menikmati proses perkuliahan nanti nikmatnya tidak terasa, tidak ada cerita yang spesial dalam hidup.

Pak Faiz menjelaskan bahwa hidup harus dilanjutkan seperti bermain. Selaras dengan quote yang dikutip dari Platon, “Life must be lived as play.” Disambung dengan quote dari Platon lainnya, “You can discover more about a person in an hour of play than ini year of conversation.” Bahwa kita dapat menemukan banyak karakter seseorang hanya dalam satu jam permainan, dibandingkan bercakap-cakap dengan orang tersebut dalam beberapa tahun.

Jadi jika ingin menemukan karakter seseorang, libatkanlah diri bermain dengan orang tersebut. Jangan langsung menghakimi seseorang dari kata-katanya saja. Kebiasaan manusia sekarang apa saja dikomentari. Padahal tidak mengenali atau tidak pernah terlibat langsung dengan objek yang dikomentari. Jika ingin memahami karakter seseorang, ajakklah dia bermain terlebih dahulu.

Selain Shakespeare, Platon, quote dari Friedrich Nietzsche juga menarik. Nietzsche mengatakan, “In every real man a child is hidden that wants to play.” Di setiap dalam diri manusia sejati ada anak-anak disembunyikan yang ingin bermain.

Hidup ini jangan dibawa terus-terusan [untuk] serius. Jika hidup ini serius terus, berarti hilanglah sejatinya manusia. Kita itu sesekali perlu bermain. Jika ada teman-temanmu [yang] usil, jangan marah. Itu disebabkan anak-anaknya sedang keluar. Perihal ini adalah insting manusia yang ingin bermain,” tandas Pak Faiz.

Bermain itu ternyata mempunyai teori. Ada dua bagian teori dalam bermain yang dijelaskan oleh Pak Faiz, yaitu teori klasik dan teori modern.

Tori klasik tentang permainan

Pertama, surplus energy theory dari Herbert Spencer, seorang filsuf Inggris dan seorang pemikir teori liberal klasik. Manusia seringkali memiliki kelebihan energi. Bermain menjadi cara yang dapat menggunakan kelebihan energi tersebut tanpa dibuang sia-sia. Bermain di sini terpisah dari pekerjaan. Bermain hanya benar-benar bermain dengan menggunankan kelebihan energi yang tentunya melahirkan perasaan senang. Pak Faiz menyampaikan bila ada teman kita yang sambat, “Ngapain, ya, enaknya?” Itu sebenarnya dia ingin bermaian karena adanya kelebihan energi yang dimiliki.

Kedua, recreation theory dari Lazarus, dari Betania—sebelah timur Yerusalem. Bermain dan rekreasi adalah aktivitas yang terkait erat. Rekreasi merupakan kegiatan yang diinginkan manusia secara natural. Anak-anak yang padat akan aktivitas: pagi belajar di sekolah, siang belajar tambahan, sore mengaji, maka perlu mengajak mereka untuk rekreasi. Kegiatan rekreasi ini dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan, sehingga diharapkan menimbulkan rasa yang menyenangkan. Tentunya dilaksanakan dengan santai, tidak kaku dan menyenangkan.

Ketiga, anticipatory theory dari Karl Groos, ahli psikologi dan filsuf berkebangsaan Jerman. Anticipatory theory menyatakan bahwa permainan pada anak-anak bagi manusia adalah persiapan untuk hidup dewasa. Semua jenis permainan menemukan skill tertentu yang dibutuhkan di masa depan. Dijelaskan oleh Pak Faiz bahwa, dibalik permainan, ada skill yang diperlukan di masa depan. Sambil bermain anak-anak dapat melatih diri untuk fungsi di kemudian hari. Misalkan main catur dapat melatih diri untuk berpikir. Main petak umpet, main kelereng, main bola dan permainan lainnya pasti mempunyai rahasia tersendiri untuk melatih perkembangan diri anak.

Keempat, recapitulation dari G. Stanley Hall, perintis psikolog dan pendidik Amerika (1846-1924). Permainan hari ini adalah warisan nenek moyang yang dihidupkan dalam permainan. Melalui tindakan anak bermain, keluarlah prilaku primitif manusia tentang masa lalu evolusi. Misalkan adanya perlombaan lari, perihal ini adalah rekapitulasi orang zaman dahulu yang suka berlari atau karena zaman dahulu tidak ada transportsi maka berlari dilakukan agar bisa cepat sampai ditempat yang ditujui.

Teori modern tentang permainan

Pertama, psikoanalisis. Bermain berfungsi untuk melepaskan emosi-emosi dalam diri dan mengatasi pengalaman traumatik, atau mengurangi rasa kecemasan pada anak. Bentuk permainan berdasarkan teori psikoanalisis, ditunjukkan berupa bermain fantasi dan imajinasi pada saat bermain sendiri. Misalkan ada sesuatu yang benar-benar membendung dalam diri, membuat emosi dan rasanya ingin menendang orang lain. Maka emosi bisa dilampiaskan dengan bermain sepak bola. Hal ini bisa menguntungkan seseorang secara psikologis.

Kedua, kognitif. Tahap perkembangan kognitif mampu mengaktifkan otak anak: daya tiru, daya ingat, daya tangkap, daya imajinasi. Tahap ini harus dilalui seseorang anak berdasarkan usia yang dilalui. Sebuah permainan dapat diberikan kepada anak dengan tingkat perkembangan kognitifnya. Misalkan anak kecil jika ingin bermain bola, maka berikanlah bola anak-anak terlebih dahulu. Jika sudah dewasa baru menggunakan bola yang biasa digunakan oleh orang dewasa.

Ketiga, teori belajar sosial. Manusia belajar melalui pengalaman langsung. Pengalaman bisa diperoleh dengan bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Pak Faiz menyampaikan bahwa sekarang orang-orang mainnya di smartphone. Padahal teori untuk bermain ada dalam kegiatan interaksi sosial dengan masyarakat. Dari lingkungan sosial, perilaku kita terbentuk. Baik dari cara pandang ataupun cara berpikir yang dimiliki dalam menyerap informasi. Bahkan perilaku kita juga bisa mempengaruhi lingkungan.

Keempat, teori kompensasi. Sebuah permainan adalah permainan yang serius. Bermain tidak hanya sebatas bermain, tetapi bermain yang bisa mengahasilkan uang. Sebuah permainan yang disukai seperti bermain bola, menari, acting yang tujuan awalnya hanya untuk menghibur diri lalu terbesitlah untuk keseriusan dan menjadikannya sebagai pekerjaaan.

Lebih lanjut Pak Faiz menjelaskan bahwa, manusia itu adalah seorang pemain yang memainkan permainan. Seorang filusuf Belanda, Johan Huizinga, menyebut manusia sebagai “Homo Ludens” dari judul buku yang ditulisnya pada 1938. Homo Ludens dilatar belakangi oleh ludic society atau society of the participle dan karena maraknnya dominasi industri hiburan, infotainment dan digital-games di zaman sekarang.

Selain membahas teori tentang permainan, ada hal pokok yang terkadang tidak kita sadari dari sebuah permainan, yaitu hakikat dari permainan. Hakikat bermain adalah mendahului dan menjiwai budaya. Bermain tidak hanya dilakukan oleh anak-anak dan hal ini bukanlah sesuatu jenjang proses dalam pertumbuhan manusia.

Menurut Huzinga, bermain adalah unsur yang permanen dari segala jenjang hidup manusia, bahkan meresapi dan menyuarakan bidang-bidang kebudayaan lainnya. Ada ludic element turut berperan dalam berbagai ranah hidup manusia seperti agama, politik, bisnis, hukum, seni dan sastra.

Manusia mempunyai unsur jasmani dan rohani. Ternyata, permainan juga mempunyai unsur juga, yaitu eros dan agon. Eros terkait dengan rasa cinta, senang dan suka dalam bermain. Sedangkan agon yaitu rasa keperwiraan, semangat kesatriaan, hasrat mengalahkan dan perlawanan. Eros dan agon saling terkait satu sama lain. Saling memberikan warna satu sama lain yang tak terpisahkan.

Misalnya seorang yang sedang asyik bermain catur, pada saat bermain itu diri seseorang menyatu dengan permainan. Adanya rasa senang ketika bermain. Di sinilah eros menyatukan permainan dengan diri manusia yang menimbulkan rasa senang tersebut. Di sisi lain, eros tidak bisa terpisah kesatuannya dari agon. Tanpa agon tidak akan ada permainan. Tanpa permainan tidak akan ada eros. Agon adalah sebuah keinginan untuk mengalahkan lawan guna mencapai kemenangan. Perihal ini misalnya dapat kita lihat di dalam permainan sepak bola yaitu adanya keinginan kuat untuk mengalahkan lawan.

Seiring dengan kesatuan antara agon dan eros, Driyarkara merumuskan filosofi permainan dalam buku Filsafat Manusia.

Bermainlah dalam permainan, tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh [permainan] lagi. Mainlah dengan eros, tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Mainlah dengan agon tetapi jangan mau dipermainkan agon. Barang siapa yang mempermainkan permainan, akan menjadi permainan permainan. Bermainlah untuk bahagia tetapi janganlah mempermainkan bahagia.”

Tinggal nikmati saja permainan dalam hidup. Bermain dengan senang, tetapi jangan main-main dalam kehidupan ini. Mari kita ciptakan permainan yang tidak mempermainkan diri dan tidak melepaskan kenyataan dalam hidup. Tetap mempunyai pandangan yang mendalam dan sehat tentang permainan. Hati-hati jangan sampai dipermainkan.

Main yuk!

Author: Fatimah

ABOUT THE AUTHOR

Fatimah

Squad #4 literasi masjid, suka bermain


COMMENTS