Membaca buku jadi jalan untuk membuka cakrawala dunia.” Kalimat ini bukan sekedar bualan belaka. Melainkan dampaknya bisa dirasakan di kehidupan nyata.

Di Aula Desa Titidu, Kecamatan Kwandang, Gorontalo Utara, terdapat sejumlah buku berderet di rak: kusam, beberapa berdebu, dan letaknya tidak beraturan. Saya mengira deretan buku-buku tersebut sudah jarang dijamah oleh anak-anak maupun masyarakat pembacanya. Bisa jadi, terakhir kali buku dijamah kala usai pembuatan taman baca dan pengadaan buku bacaan.

Kenyataan tersebut lazim ditemui di banyak tempat. Taman baca didirikan terkadang hanya sebagai simbolisasi bahwa di tempat tersebut bergeliat aktivitas literasi masyarakat. Tetapi, jangankan berjalan dan diberdayakan, dirawat usai peresmian pun menjadi langkah yang sulit untuk ditunaikan. Akhirnya mangkrak. Meskipun demikian, saya sendiri masih optimis, masih banyak tempat taman baca yang memang didirikan telah berfungsi secara optimal, serta memberi dampak positif terhadap masyarakat sekitar.

Berangkat dari kondisi itu, saya bersama sembilan teman lainnya berinisiatif untuk memberdayakan ulang buku bacaan di Aula Desa Titidu melalui program Rumah ABC (Asyik Baca dan Cerita). Selain diorientasikan untuk menghidupkan taman baca, program ini diselenggarakan untuk membiasakan membaca kepada anak-anak sekaligus agar tidak alergi dengan buku.

 “Sini dik, maju sini”, kata Tamal, salah satu teman saya. Kami pun mengajak anak-anak agar bergeser posisi duduk lebih maju ke depan. Mereka semua masih malu.

Saya teringat ketika masih seusia mereka. Malu pada sesuatu yang baru dikenal itu jadi kewajaran, karena pengajaran dari orang tua untuk berlaku sopan pada siapa pun jadi hal yang tidak bisa dialpakan. Malu jadi bagian dari sopan, menurut saya. Meski kadang sampai kelewat sopan, malu dilestarikan hingga bisa membuang segala kesempatan baik yang datang pada diri manusia.

Kami merayu, menarik pelan tangan mereka, dan memajang muka ceria agar anak-anak mau diajak untuk duduk di depan. Meski butuh ketelatenan, anak-anak akhirnya luruh dan mengikuti juga. Kami duduk di antara mereka, bertanya nama dan kelas berapa untuk mengakrabkan diri.

Seperti yang saya sebut di awal, orientasi program Rumah ABC memang berkiblat pada buku, tapi namanya juga anak-anak, semuanya ingin disulap jadi wahana bermain. Selain itu, tabiat anak-anak juga sering merasa bosan pada hal-hal yang acap kali diulang-ulang.

Karena itu, kami mengawali Rumah ABC ini dengan bernyanyi, menggerakkan badan, dan bertepuk tangan. Usai itu, dongeng jadi pilihan kedua untuk menghibur dan memberi satu dua pesan yang familiar kepada anak-anak. Kejujuran, percaya pada diri sendiri, berani, dan tidak mau menyerah jadi pesan yang disisipkan kala dongeng dirajut dalam ucapan.

Mendongeng ini jadi sesi yang menyita banyak perhatian anak-anak. Meski tidak ada yang sampai terlelap dan mendengkur keras-keras. Saya mengamati hampir semua mata tertuju kepada Nisa, teman saya yang mengambil peran sebagai pendongeng sebelum membaca buku.

Mendongeng selesei, masuk pada sesi membaca. Beberapa buku bacaan yang disesuaikan dengan usia telah disiapkan sebelumnya. Kami mengawalinya dengan tema sejarah. Kami memperkirakan buku cerita akan lebih menarik minat anak-anak untuk membaca ketimbang buku matematika yang sering membuat kening mengerut.

Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007) karya Tuti A. Windri dan Wahyu Untara merupakan buku yang dimaksud. Buku itu punya bahasa sederhana dan varian cerita sejarah dari masing-masing pulau di Indonesia. Mulai dari Sumatera sampai Papua, cerita disuguhkan. Masing-masing memuat empat cerita yang populer di pulau tersebut dengan tebal kisaran 50-60 halaman berilustrasi.

Sesi membaca ini dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan rentang usia. Saya kebagian anak-anak kelas enam sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama. Usia-usia yang tidak mau ditekan, disuruh, apalagi dimarahi. Dalam ilmu sosial, pada rentang usia tersebut anak banyak bergantung pada teman sepermainan, termasuk dalam hal memperoleh pengetahuan baru. Makanya tidak jarang ditemui, bila satu anak tidak datang, kemungkinan anak-anak kelompok sepermainannya juga tidak datang, begitu pun sebaliknya.

Terlebih lagi zaman sekarang, gawai telah menyedot banyak perhatian pada diri anak-anak. Bukan saja situs-situs tertentu yang tidak diperbolehkan untuk diakses, tapi aplikasi dan game dengan ragam jenisnya sudah diakrabi anak-anak. Kemudahan akses menjelajah dan bermain game, tak ayal menjadi pengalih perhatian anak serta menjadi tembok penghalang untuk suka pada buku. Maka saya tidak mengambil target terlalu muluk. Mereka cukup tidak bermain gawai dan mau membaca minimal lima halaman saja sudah saya acungi jempol.

Raka, salah satu anak yang turut dalam Rumah ABC, saya tanya, “Apa suka membaca buku?

Ia hanya menjawab singkat, “Suka”.

Buku apa saja yang pernah dibaca”, tanya saya lebih lanjut.

Buku tema, kak”, ujarnya. Kalau dulu mungkin semacam buku-buku pelajaran atau lembar kerja siswa (LKS). Buku saklek, berisi definisi, syarat dan rukun yang tidak boleh diuraikan, tapi harus dihafalkan sesuai dengan kalimat yang tertera pada buku.

Pertanyaan serupa juga saya tanyakan kepada Fijar dan Rifki. Keduanya menjawab suka. “Iya kak, orang tua sering membelikan buku”, jelas Fijar. Tapi ia lupa buku apa saja yang pernah dikhatamkannya.

Sedangkan Rifki, pernah membaca habis buku Malin Kundang. Cerita dari Sumatera Barat yang telah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Hampir pada setiap buku pelajaran, pendongeng, atau ketika ibu-ibu dan bapak-bapak yang ingin membuat jera anaknya, menceritakan cerita Malin Kundang berulang-ulang. Tentunya setiap kepala mempunyai versi cerita berbeda dengan muara yang sama: gambaran tentang anak yang durhaka kepada orangtua.

Target saya ternyata meleset jauh sekali. Raka, Fijar, dan Rifki mengkhatamkan buku Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia sekitar dua puluhan menit. Mereka membaca dari sejak halaman pertama, dibuka tiap lembarnya, sampai pada sampul buku bagian belakang. Setelah dilahap habis isi buku, mereka bermain gawai kembali meski waktu belum menunjukkan sesi istirahat. Saya biarkan, lebih dari untung mereka bermain usai membaca, daripada tanpa mau membaca sama sekali.

Setengah jam berlalu, berakhirlah sesi membaca. Sebagai bujuk rayu agar esok anak-anak mau datang kembali, kami menyediakan penganan dengan cita rasa lokal: pisang goreng. Mereka berebut untuk mengambil kembali, hampir semua mengambil dua-tiga pisang goreng. Kami menutup aktivitas di aula dengan berdoa dan foto bersama untuk dokumentasi perdana Rumah ABC.

Saya merasa anak-anak yang tinggal di sekitar Rumah ABC Desa Titidu bukan tidak suka pada buku atau tidak mau membaca buku, tapi hanya tidak ada yang menemani mereka membaca buku. Apalagi dengan suasana di luar kelas, diberi semacam reward, tentu membaca buku akan menjadi aktivitas yang menyenangkan. Selama ini, membaca buku dalam benak anak-anak mungkin masih dianggap sebagai beban. Sebab, ada tekanan tanpa contoh, lengkap dengan hukumannya.

Sederhananya orang tua sering menyuruh anaknya untuk membaca buku, tapi orang tuanya sibuk bermain gawai. Si anak disuruh belajar sepulang sekolah, tapi tidak pernah ditanya apa saja yang sudah dibaca? Apa isinya? dan seterusnya. Orang tua kadang juga luput untuk memberi apresiasi dan penghargaan kepada anak kala mampu menyeleseikan satu buku. Membelikan mainan, jajanan pasar, ataupun buku baru. Apresiasi murah meriah tapi bisa membuat hati bungah.

Potensi menyukai dan membaca buku anak-anak di Desa Titidu, Kecamatan Kwandang, Gorontalo Utara—teras utara Indonesia—sudah terbangun. Jauh dari kata tertinggal. Bahkan, saya rasa, daya literasi anak-anak di sini bisa disandingkan dengan anak-anak di kota lain yang memiliki akses lebih mudah terhadap buku. Demikian.

Author: Ahmad Sugeng Riady

ABOUT THE AUTHOR

Ahmad Sugeng Riady

Mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama, Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Marbot Masjid Jendral Sudirman


COMMENTS