Ertaja, guru rohani pertama saya, mulai bersekolah di Taman Kanak-Kanak pada Senin, 15 Juli 2019. Memasuki tengah malam di hari-tanggal itu, saya terbangun dari tidur. Mengkamar-mandi sebentar. Lalu kembali mengkasur. Tapi saya tidak bisa diserang oleh tidur. Beberapa ulah tidur Ertaja dan terutama adiknya, Sarira, mengharuskan saya untuk menenangkan mereka. Otak saya juga berputar-putar. Saya menebak-nebak mengapa pagi di hari pertama Ertaja akan bersekolah itu bagi saya terasa sangat meluhung.

Saya merasa ada sesuatu yang saya khawatirkan pada Ertaja. Saya membayangkan bahwa ia akan diperlakukan dunia ini secara sedemikian rupa sebagaimana ia tangiskan di saat ia membrojol lebih-kurang 4 tahun 4 bulan lalu. Saya juga menyadari bahwa keayahan saya pelan-pelan merangkak menuju kelaziman. Saya mengarungi kehidupan sebagaimana ayah saya juga pernah mengarunginya: menyekolahkan anak.

Selepas Subuh, saya menjamak tidur sebentar. Tepat pada pukul 07 kurang 10 menit, saya merebuskan air panas untuk Ertaja. Ia saya mandikan. Seperti biasa, memandikan anak-anak adalah satu di antara amal yang saya sukai di dalam keluarga kecil saya. Setelah ia berpakaian, bersama mamanya dan adiknya, kami mengantarkannya ke sekolah. Hingga kurang dari satu jam saya berada di sekolah untuk memperhatikan gerak-geriknya.

Sejak hari pertama itu, hingga kini, ia tidak mau memakai seragam seperti teman-temannya. Kami menerimanya dan membiarkannya. Kepala sekolah juga mengatakan bahwa dulu ada anak yang selama setahun bersekolah di sana tanpa mau memakai seragam. Meski begitu, seragam itu kami masukkan ke dalam tasnya. Sekiranya tiba-tiba di sekolah ia mau menyamai teman-temannya, tentu ia tidak harus menunggu esok hari.

Saya hendak meneteskan airmata saat menyaksikannya duduk di bangku kelas. Tapi saya malu pada guru-guru dan teman-temannya. Dari daftar siswa di kelas itu, Ertaja ternyata siswa yang paling muda. Sebagian besar teman-temannya sudah berumur 5 tahun. Ada juga yang masih 4 tahun namun berselisih dua hingga tujuh bulan dengan Ertaja. Berulang-ulang, di sekolah itu, saya mencium kepalanya dan mensalawatinya. Saya berharap Kanjeng Nabi berkersa untuk menolehkan wajah sucinya ke wajah Ertaja.

Wahyu tumurun

Sejak Ertaja dilahirkan oleh mamanya, saya serasa dihadapkan pada keadaan lahir yang terus-menerus menjumpalitkan keadaan batin saya tanpa henti. Kata orang Jawa, seorang lelaki menjadi lelaki sebagaimana ia ditakdirkan sesuai takdirnya tepat ketika ia dianugerahi anak pertama. Faktanya memang demikian. Ertaja mengantarkan saya pada pengalaman-pengalaman yang kadang saya tangisi, tertawai, cueki, dan saya hikmahi dalam kedirian saya sendiri. Di situ mula-kala saya menyebutnya dan adiknya sebagai guru rohani.

Saya pernah beberapa kali menangis di malam ketika sebelumnya saya berubah menjadi Hulk di depannya atau ketika tiba-tiba saya gagal membendung amarah karena ulahnya. Saya juga kerap memaki diri saya sendiri ketika ingatan saya terpelanting ke dalam peristiwa di saat saya membentaknya. Pernah suatu ketika saya berada dalam jalinan pergaulan emosional dengannya. Kala itu, saking emosinya, saya merasa bahwa semua ibadah yang saya lakukan sungguh tidak membekas dan menjelma menjadi kasih-sayang untuk sesama. Saya juga merasa bahwa saya benar-benar tidak berharga menjadi manusia. Dan, seperti biasa, saya akan memaki dan merutuki diri saya sendiri.

Orang Jawa bilang bahwa anak itu wahyu tumurun. Maksudnya, “wahyu” yang diturunkan Gusti Allah kepada orangtuanya. Tentu bukan wahyu dalam pengertian sebagaimana kitab suci diwahyukan. “Wahyu tumurun” merupakan istilah untuk melafalkan ajaran suci tentang keharusan-keharusan hidup yang sepatutnya dikerjakan oleh orangtua mulai sejak si orangtua itu punya anak sampai ia mati. Semacam istilah untuk menyebutkan pelajaran tertentu yang diberikan Gusti Allah kepada orangtua melalui kehadiran anaknya.

Marah dan syukur

Anak yang didatangkan kepada sepasang suami-istri, tidak bisa direkayasa untuk bertabiat-sifat sesuai kesukaan suami-istri itu. Anak selalu mengajarkan pelajaran tertentu sampai orangtuanya terkadang eneg, emosi, marah, dan merasa perlu merenungkan hidupnya. Orangtua pasti sering tidak tahu bagaimana tingkah anaknya. Hanya saja, kalau orangtua sampai marah-marah pada anaknya, orangtua harus bersyukur. Si anak telah menunjukkan bahwa di dalam diri orangtuanya masih ada api. Tegasnya, masih ada setan. Cara memadamkannya adalah agar orangtua selalu menjaga wudhu atau kesucian lahir-batin mereka berdua. Cara lainnya adalah dengan bersedekah. Terutama setiap kali orangtua baru saja memarahi anaknya. Agar jiwa anaknya terbersihkan dan tersucikan. Kebersih-sucian jiwa anak akan memantul pada kebersih-sucian jiwa orangtua.

Syekh Ibnu Arabi dalam Kitab Fushush al-Hikam, hlm. 197 pernah menulis. Katanya, “Tidakkah kau lihat anak kecil yang lihai mengerjai orang dewasa? Orang dewasa ia kudeta dari kuasa-kendali yang selama ini mengungkung anak-anak dan dunianya. Lalu si dewasa itu ia permainkan, ia jungkir-balikkan, dan ia pertontonkan keajaiban pikirannya. Jadilah si dewasa tertekuk di bawah ketiaknya. Anehnya, si dewasa tidak merasa bahwa ia sedang diketiaki. Sehingga ia rela mengurusi anaknya itu, sibuk mendidiknya, membelainya, dan menghamburkan waktu untuk kemaslahatannya, sampai-sampai kesempitan di dadanya pelan-pelan menyirna. Itu menandakan bahwa anak-anak lah penguasa orang dewasa. Dan, itu tidak mungkin terjadi kecuali karena kuatnya maqom (derajat) sang anak di depan Tuhan.

Maqom atau derajat anak-anak itu lebih tinggi ketimbang orang dewasa. Tentu sangat lucu jika ada orangtua dan atau orang dewasa yang derajatnya lebih rendah, namun, berani menghardik, membentak, dan memarahi anak-anak yang derajatnya lebih tinggi. Tidak mengeluh apalagi marah sewaktu mengurus anak merupakan jalan utama pendidikan ruhani. Gerutu, marah, emosi, dan kesal hati pada anak-anak hanya akan mengurangi keberkahan rezeki. Baik rezeki orangtua maupun rezeki anak. Malah, anak-anak itu akan tumbuh sebagai manusia yang penuh kesakitan. Hari ini orangtua tidak merasakannya. Tapi saat si anak sudah menunjukkan sembilu yang menyakitkan itu, orangtua mungkin hanya akan mengeluh lagi, dan meminta ampun. Kita berlindung pada Gusti Allah dari hal demikian.

Orangtua yang sering memarahi anak, setelah marah itu reda, hendaklah segera bersyukur. Bahwa mereka masih bisa mendapatkan “wahyu”, yaitu disingkapkan pada mereka sebuah pengetahuan tentang iblis yang masih bermajelis di dalam diri mereka. Orangtua harus juga segera beristighfar. Karena anak yang datang kepadanya, ternyata ia tidak kuat mengurusnya dengan cinta. Saya sendiri masih berada dalam golongan yang belum kuat mencintai itu. Semoga kita termasuk yang berhasil mencintai anak-anak kita. Amin.

Kekasihsayangan dan perkeluargaan

Entah bagaimana takdir yang harus dijalani Ertaja nanti. Mudah-mudahan ia melesat ke langit. Jauh meninggalkan ayahnya yang sampai hari ini masih kerap gagal belajar menjadi manusia bumi. Saya jadi ingat beberapa minggu lalu saat seorang kawan mengirimkan saya selayar meme. Isinya berupa kalimat singkat tentang peradaban modern yang kita hidupi hari ini.

Peradaban modern sering disebut peradaban maju. Padahal, ia peradaban rapuh. Sebab ia dibangun dan dihidupkan oleh orang-orang, terutama filsuf dan pemikir, yang tidak pernah punya pengalaman nyata dengan anak-anak di dalam keluarganya. Mulai dari Thomas Hobbes (1588 M-1679 M), Rene Descartes (1596 M-1650 M), John Locke (1632 M-1704 M), Baruch Spinoza (1632 M-1677 M), hingga Immanuel Kant (1724 M-1804 M). Jean-Jacquees Rousseau (1722 M-1788 M) memiliki anak. Tapi ia menyerahkan anaknya untuk diadopsi oleh orang lain. Dengan kata lain, peradaban modern ini adalah sebuah kampung yang dibangun oleh orang-orang yang tidak punya pengalaman kerahiman atau kekasih-sayangan dengan anak-anak dan perkeluargaan.

Saya jadi insaf kenapa orang Jawa menyebut rumah dengan kata “Omah”. Dalam tafsir jarwodosok-nya, omah dimaknai sebagai obah-usiking manah atau tempat jumpalitannya hati. Kadang marah, kadang cinta, kadang sayang, kadang benci, kadang gembira, kadang sedih. Meski begitu, namun, di dalam kejumpalitan-hati itulah kesempurnaan manusia dipahat. Agar ia bisa memakmurkan dunia dan membasuhnya dengan kasih-sayang (hamemayu hayuning bawana).

Bagaimana mungkin dunia ini akan mencapai taraf kemakmuran dan derajat kemuliaan bila ia dibangun oleh si miskin pengalaman kekasih-sayangan dan perkeluargaan? Bagaimana pula kehidupan ini akan lulus dijalani oleh manusia yang hatinya tidak berusik-ubah untuk melewati nafsu amarah, lawamah, supiyah, dan lalu mencapai nafsu muthmainnah agar siap lahir-batin untuk pulang ke hadirat ibu segala rindu? Wallahu alam.

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-33 Jumat, 19 Juli 2019/16 Dzulqaidah 1440 H

Author: Muhammad Yaser Arafat

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Yaser Arafat

Peneliti kebudayaan, aktif di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta.


COMMENTS