(1)

Ki Ageng Suryomentaram adalah salah satu keturunan dari Hamengku Buwono VII bersama Bendoro Raden Ayu Retnomandojo. Kakek dari Ibunya adalah Patih Danurejo VI. Nama asli dari Ki Ageng Suryomentaram adalah Kudiarmadji. Disebabkan statusnya adalah sebagai keturunan bangsawan, sejak kecil ia diberi gelar BRM, Bendoro Raden Mas, dan di umurnya ke delapan belas, gelar tersebut diganti dengan BPH, Bendoro Pangeran Haryo. Mengenai nama panggilan, sebenarnya ia usai dianugerahi gelar Pangeran Surya Mataram, tetapi olehnya sendiri gelar tersebut ditanggalkan. Selepas itu, ia lebih nyaman dan terkenal dengan panggilang Ki Ageng Suryomentaram.

Perjalanan hidup Suryomentaram bisa disebut tidak jauh berbeda dengan kisah Sidharta Gautama. Kenyataan bahwa ia sering kali melarikan diri dari keraton dan memilih untuk berbaur dengan rakyat jelata merupakan salah satu alasan mengapa demikian.

Dikisahkan, Suryomentaram pernah kabur ke Kroya, Purworejo. Di sana, ia hidup layaknya rakyat jelata, bertahan hidup dengan berdagang, menjadi buruh tani, kuli, dan semacamnya. Selain itu, yang menjadikan kehidupannya mirip dengan Gautama adalah keresahannya yang pada akhirnya membuatnya untuk berkontemplai di tempat yang tenang. Hal tersebut sering dilakukan Suryomentaram sebagai eksekusi atas keresahannya melihat realitas disekitarnya yang menurutnya serba sulit, yaitu keadaan para buruh tani, petani, kuli, tukang sayur, dan semacamnya yang antara kerja dan penghasilannya jomplang.

Dari keseluruhan hidupnya, yang paling dikenal dari sosok Ki Ageng Suryomentaram adalah konsep “Kaweruh Begjo” yang akan kita diskusikan di bawah nanti. Di dalam konsep tersebut, terdapat satu istilah lagi yang sampai sekarang tidak terhapus masa, yaitu istilah “Ojo Dumeh” atau jangan menyombongkan diri.

Baginya, sekilas saja, menyombongkan diri adalah salah satu tanda yang paling jelas bahwa seseorang telah gagal memahami dirinya sendiri. Dan lagi, tambah Suryomentaram, siapa saja yang gagal memahami dirinya sendiri, maka tidak mungkin dia menemukan kebahagiaan yang berarti. Untuk itu, mungkin saja, melalui istilah tersebut Suryomentaram menginginkan agar kita semua mendapatkan kebahagiaan yang berarti sehingga tidak bisa tidak kita penting untuk “Ojo Dumeh”. Ki Ageng Suryomentaram meninggal pada 18 Maret 1962 diumurnya yang ke-69.

Enam “Sa”

Sebelum masuk pada pemikiran Ki Ageng Suryomentaram, rasanya penting untuk mengenal konsep “Enam Sa” terlebih dahulu—setidaknya sebagai gerbang. “Enam Sa” yang dimaksud yaitu, sabutuhe, saperlune, sacukupe, sabenere, samesthine, dan sapenake. Secara umum, keenam kata kunci tersebut mengkerucut pada pola yang sama yaitu pola untuk menyadari kadar dan ukuran masing-masing dari diri kita yang nantinya akan berdampak pada kebahagiaan atau begjo.

Lebih dalam, kata kunci pertama adalah istilah filosofis terkait pentingnya hidup dengan tidak terlalu berharap lebih. Semisal dalam satu hari, biasanya kita membutuhkan dua porsi untuk sarapan dan makan malam, maka ya dicukupkan dengan itu, tidak perlu mencari sampai tiga atau empat porsi. Sebab pada prinsipnya yang kita butuhkan hanya itu—berlandaskan kebiasaannya tadi—tidak lebih. Adapun yang ketiga dan keempat itu tidak lebih dari keinginan yang bagi Suryomentaram rawan menjebak. Tidak berbeda jauh dengan itu adalah kata kunci kedua dan ketiga. Keduanya memiliki pola yang sama dengan yang pertama, yaitu menyadari ukuran dan mencukupkan dengan itu, tidak lebih.

Untuk yang keempat, ini merupakan anjuran untuk tidak terlalu ribet dalam bertindak. Dengan kata lain, kita tidak penting untuk terjebak dalam suatu pertimbangan yang ekstrim dalam menentukan apakah sesuatu harus kita lakukan atau tidak. Saran Suryomentaram, kita cukup bertindak sesuai dengan apa yang kita yakini benar. Andai A menurut kita benar, maka just do it, jika tidak, cukup ditinggalkan.

Adapun kata kunci kelima, masih senafas dengan yang pertama, ini adalah upaya untuk menjalani hidup sebagaimana mestinya. Kalau biasanya kita makan tiga kali sehari, ya makan tiga kali, tidak perlu lebih dan kurang. Di poin ini, terutama, seseorang baru bisa mengamalkannya saat dia usai berhasil memahami kadarnya sendiri, kadar apapun itu. Sebab pada prinsipnya, ini adalah berbicara tentang kadar yang semestinya kita lakukan, baik itu kadar sebagai manusia sosial, biologis, dan sejenisnya.

Terakhir, sapenake, merupakan anjuran dari Suryomentaram agar kita lebih bisa realistis dalam menjalani hidup. Saat semester ini kita hanya bisa mendapatkan IP 2,00, maka ya sudah, cukup diterima. Kalau di umur ini masih belum dapat pacar yang sesuai harapan, ya sudah diterima saja. Poinnya, dalam keadaan apapun, dimanapun, kapanpun, tidak akan pernah ada alasan untuk kita tidak menikmati hidup. Kira-kira demikian. 

Ringkasnya, dalam konsep gerbang ini, Suryomentaram memberikan kita suatu refleksi untuk menjadikan hidup kita selalu seimbang. Hal ini hanya bisa tercapai saat kita usai mampu memahami ukuran dan kadar dari diri kita masing-masing.

Kaweruh jiwo dan pangawikan pribadi

Bagi Suryomentaram, jika seseorang ingin bahagia, dia harus melewati tiga tahapan terlebih dahulu. Tahapan mengerti diri sendiri, mengerti orang lain, dan mengerti lingkungan. Pertama, ini bukan saja sekedar mengerti atau tahu, tetapi juga harus disertai dengan semangat jujur. Sebagai langkah awal untuk menuju begjo, seseorang harus selalu berupaya berkontemplasi atas dirinya sendiri sampai dia mengerti hakikat dirinya secara apa adanya, bukan di ada-ada.

Kedua, tidak lain adalah bentuk lanjutan dari kesadaran yang pertama. Tahap ini tidak mungkin bisa tercapai secara maksimal saat langkah pertama belum beres. Untuk mengerti orang lain secara menyeluruh, seseorang harus mengenali dirinya secara efektif.

Tak berbeda dengan kesadaran kedua, langkah ketiga juga merupakan bentuk lanjutan dari yang pertama dan kedua. Ketika kesadaran pertama dan kedua terlampaui, maka baru seseorang bisa dengan mudah memahami lingkungan di sekitarnya. Dan kiranya, nembe di titik inilah, seseorang berpotensi menemukan kebahagiaannya.

Adapun yang di maksud begjo dalam bagian ini bukanlah bahagia yang sekedar bahagia lantas sedih luar bisa lagi. Akan tetapi, ini adalah bahagia yang tidak pandang waktu, tempat dan keadaan. Dalam artian, bagi Suryomentaram, yang disebut begjo, pada prinsipnya memang demikian, yaitu tidak memandang apapun. Siapa saja berpotensi untuk selalu berbahagia. Namun, lagi-lagi, ungkap Suryomentaram, itu tergantung bagaimana dia mengenali dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Dan mengenai model konkritnya, ini bisa dirujuk kembali pada konsep “Enam Sa” nya Suryomentaram di atas.

Lebih lanjut, agar kita mudah melampaui tiga tahapan tadi, Suryomentaram menawarkan apa yang dia sebut “Pangawikan Pribadi” atau mempelajari diri sendiri. Hal ini penting sebab secara prinsip bahagia tidaknya kita atau nyaman tidaknya kita tidaklah bergantung terhadap apapun kecuali diri kita sendiri. Artinya yang memegang kunci begjo kita adalah diri kita sendiri, bukan orang tua kita, dosen, teman dekat, pacar, atau lainnya. Pada polanya, persoalan ini tertaut erat dengan pentingnya menyadari ukuran dan kadar diri sendiri. Suryomentaram memberikan parikan filosofis terkait langkah mencapai begjo. Adalah anjuran untuk hidup “Sak iki, ing kene, lan ngene” atau hidupnya “sekarang, di sini, dan begini”.

Poinnya, di sini Suryomentaram menganjurkan kepada kita untuk selalu berupaya menerima kondisi “kebeginian” kita. Dan satu lagi yang kiranya menarik untuk disampaikan di sini: terkait diskusi ini, beberapa ribu tahun silam, Socrates pernah menekankan frasa “Gnoti’s afton” (kenalilah dirimu).

Bersambung…

Author: Saifullah Muhammad

ABOUT THE AUTHOR

Saifullah Muhammad

Cah santri Ngaji Filsafat. Asal Kerek, Tuban. Tinggal di tepian Kali Gajah Wong Yogyakarta sejak 2013. Menyukai brokoli goreng. Sering rindu pada bau rumput yang baru dipotong.


COMMENTS