Judul: Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim |  Penulis: Jalaluddin Rakhmat | Penerbit: Mizan, Bandung | Tebal: 320 halaman | Terbit: Cetakan XI, 1999

Sepertinya, sudah lama buku ini tidak dijamah, berdebu dan berdiri tegak di rak. Tampak cover depan buku masih lumayan bagus, meski sobek dibagian tengah atas dan mengerut dibagian pojok bawah. Mungkin terakhir kali dijamah ketika para marbut masih mendiami kamar tengah asrama atau malah lebih dari itu. Buku yang kurang mendapat perhatian, sepertinya. Saya beranggapan, buku itu dahulu pernah jadi salah satu primadona bagi pembaca. Salah satu buku yang wajib dikhatamkan, kira-kira begitu. Buku yang sudah lama saya masukkan ke daftar bacaan, namun tak kunjung saya mulai. Beberapa waktu tersita karena kesibukan, beberapanya lagi karena dirayu oleh buku dengan judul lebih baru.

Buku itu memiliki cover yang kurang memikat pembaca. Cover dengan warna dasar putih, lengkap dengan judul buku, sekaligus sketsa penulisnya yang berkacamata dengan wajah sumringah. Cover yang ingin mendapat perhatian pembaca. Saya terkejut ketika mendapati kalimat di bagian cover belakang. “Dalam tempo yang relatif cepat—sekitar dua bulan—buku ini telah tersedot pasar dan perlu dicetak ulang.” Seperti mengajak pembaca untuk membeli dan mengoleksi, sebelum stoknya habis lagi. Kalimat itu juga memberi tanda tanya untuk segera memperoleh jawaban, faktor penulisnya atau faktor yang ditulis di dalam buku sehingga laku laris?

Tertera nama Jalaluddin Rakhmat sebagai penulis. Nama yang tidak asing, tapi juga tidak begitu akrab di telinga saya. Nama itu selintas pernah saya dapati ketika membaca artikel yang mengulas Ikatan Cendekiawan Muda Indonesia (ICMI). Saya terlalu kepo dengan penulis yang satu ini, hingga google saya suruh untuk menelusuri identitasnya. Di bawah nama sang penulis, tajuk buku itu disematkan dengan pilihan kata Islam Aktual. Tajuk sederhana, tapi mengundang tanya pembaca. Apa yang dimaksud dengan Islam (yang) aktual? Bagaimana perumusannya? Sedangkan di pojok kanan bawah, tertera kalimat “Refleksi-Sosial Seorang Cendekiawan Muslim”, sebuah frasa penegasan para penerbit terkait identitas penulis.

Seperti pada paragraf awal, buku ini memang pernah jadi primadona. Saya membaca buku yang sudah mengalami cetak ulang ke XI di tahun 1999. Padahal buku dicetak pertama kali pada tahun 1991. Deretan tahun tidak berbanding lurus dengan cetakan buku. Cetakan bisa jadi indikasi buku laku dipasaran.

Islam Aktual memuat tujuh bagian di samping pendahaluan dan epilog. Ada banyak problem yang menjadi perhatian dan diulas dalam buku ini. Meski tidak detail, namun setidaknya sudah mampu mengajak pembaca untuk berpikir ulang. Secara garis besar, buku ini berkiblat pada referensi primer umat Islam, yakni Al-Quran dan hadis dengan didukung ragam disiplin ilmu.

Pada bagian prolog dijelaskan maksud tajuk Islam aktual. Islam aktual sendiri berbeda dengan Islam konseptual (hlm. 13-18). Islam konseptual bisa ditemui dalam Al-Quran, hadis, serta rumusan-rumusan ideal agama Islam dari para ulama dan tokoh agama di masa terdahulu. Sedangkan Islam aktual, menyasar pada laku seorang muslim yang telah ada di Islam konseptual. Titik tekan Islam aktual ada pada perilaku, sikap, atau etika yang dilakukan sehari-hari. Konsep kejujuran, diaktualisasikan dengan tidak melakukan korupsi, misalnya begitu.

Setidaknya ada dua hal yang menjadi syarat untuk menunaikan laku Islam aktual. Syarat ini nantinya akan saling berkaitan, memberi pengaruh, dan memerlukan ikhtiar. Ikhtiar yang mengharuskan sikap istikamah, ajek, kontinu, atau secara terus-menerus dalam hal kebaikan. Terpenuhinya semua hal ini sebagai modal awal bagi seorang muslim yang ingin mengejawantahkan ajaran-ajaran Islam dalam keseharian.

Syarat pertama yang dimaksud yakni keterbukaan. Keterbukaan dijumpai di banyak rumusan gagasan dari para tokoh terkemuka. Keterbukaan yang dipertautkan dengan diksi kemajuan, kejayaan, kemakmuran, serta diksi-diksi lain yang memiliki makna tersirat untuk membuat ati bungah manusia, meski kadang hanya utopia, kadang juga menjebak manusia pada romantisme masa lalu.

Keterbukaan mengharuskan manusia legowo, menerima terhadap segala sesuatu yang bertamu pada dirinya. Dalam konteks demikian, menerima dan menyelami segala khazanah ilmu pengetahuan, tidak memilah-milah dengan mempertentangkan ilmu agama dan ilmu sekuler. Belajar ilmu agama terus-menerus tetapi cuek pada ilmu umum juga repot. Sebab dalam menjalai kehidupan, manusia banyak memerlukan piranti ilmu lain, perlu sokongan ilmu-ilmu misalnya peternakan, pertanian, administrasi, dan sebagainya. Begitupun sebaliknya, belajar ilmu umum saja, tapi acuh pada ilmu agama, membuat hidup menjadi kering dan kurang bermakna. Maka keduanya harus seimbang, saling sokong.

Lebih dalam lagi, Jalaluddin Rakhmat mengkritik siapapun yang berpikiran sempit. Begini misalnya, dalam agama Islam ada banyak aliran atau kelompok. Setiap dari aliran atau kelompok, memiliki kajian keilmuan yang sesuai dengan corak afiliasi mereka. Berikut ada sekian pendapat dari tokoh, yang disertai dengan dalil dan argumen yang sama-sama kuatnya. Bersyukur jika tokoh tersebut memberi denyut untuk menyelami khazanah keilmuan yang lebih luas. Terkadang malah menjadi kaku, kekeh mempertahankan konstruk pemikiran tokoh sebagai sumbu dalam memahami Islam dengan membabat habis lawan bicaranya.

Setiap esai dalam buku hampir selalu memuat pesan-pesan baik tersurat maupun tersirat untuk mengoptimalkan potensi keterbukaan ilmu pengetahuan pada diri umat Islam khususnya. Saya rasa memang selayaknya begitu. Setiap umat Islam harus memiliki keterbukaan, menerima ilmu pengetahuan dari mana dan dari siapa pun datangnya. Toh, selama dalam bingkai belajar dan mencari ilmu, tidak ada dalil yang melarangnya.

Setelah umat Islam terbuka, mampu dan mau menerima ilmu dari ragam sumber, syarat selanjutnya merubah ilmu jadi amal. Lagi-lagi Jalaluddin Rakhmat menegaskan bahwa amal ilmu harus memuat unsur keberpihakan. Pada siapa? Kepada mereka-mereka yang hidupnya melarat, aksesnya dibatasi, didiskriminasi, disingkirkan tanpa persetujuan, dan kepada siapa pun yang memang membutuhkan bantuan.

Seperti yang saya sebut di paragraf awal, titik tekan Islam Aktual ada pada laku, laku keberpihakan kepada yang membutuhkan dan memang perlu dibantu. Saya rasa syarat kedua ini sulit, tidak setiap umat Islam mampu melakukannya. Hanya sedikit manusia berilmu yang mau mendedikasikan ilmunya tanpa pamrih. Beberapa ada yang menggunakan ilmu yang dimiliki sebagai instrumen untuk berdekatan atau memperoleh kekuasaan. Beberapanya lagi justru asik dengan ilmu yang sedang digeluti. Sampai-samapi lupa bahwa ada kewajiban amal yang harus ditunaikan. Kasus semacam ini menurut Imam Al-Ghazali dalam Al Kasyfu wat Tabyin fi Ghururil Khalqi Ajma’in disebut ketertipuan.

Keterbukaan dan keberpihakan memang perlu dievaluasi kembali oleh umat Islam. Jangan-jangan, selama ini ilmu yang kita dapat masih dari satu corak saja. Sehingga membuat lupa bahwa di luar sana masih banyak khazanah ilmu yang perlu disingkap. Begitu pun, jangan-jangan kita masih belum memikirkan amal ilmu yang didapat ini dialamatkan?

Begitu. Saya rasa hadirnya buku Islam Aktual pada masanya sebagai komentar atas realitas yang terjadi. Bahkan beberapa judul esai yang digunakan langsung menunjuk pada pokok permasalahan. Meskipun ada juga esai-esai yang hanya berkisah sejarah Islam masa Nabi dan sahabat tanpa ada konklusi dan kontekstualisasi. Tapi terlepas dari itu semua, dua syarat—keterbukaan dan keberpihakan—yang tersirat dari buku, telah berhasil memberikan sumbangsih gagasan yang masih relevan untuk didiskusikan dan diimplementasikan sampai hari ini. Demikian.

Author: Ahmad Sugeng Riady

ABOUT THE AUTHOR

Ahmad Sugeng Riady

Mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama, Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Marbot Masjid Jendral Sudirman


COMMENTS