kredit gambar: wikipedia.org

Istilah hermeneutik dapat ditelisik sampai peradaban Yunani kuno. Hermenutik (hermeneuin dalam bahasa Yunani dan hermeneutics dalam bahasa Inggris) diambil dari nama tokoh mitologi Yunani, Hermes. Ia merupakan duta besar bagi para dewa yang bertugas untuk menyampaikan pesan-pesan ilahi kepada manusia. Tentu saja, jika dipahami dalam tugas Hermes, bukanlah tugas yang ringan. Agar pesan ilahi yang hendak disampaikan kepada manusia diterima utuh dan bulat, Hermes terlebih dahulu harus memahami dan menafsirkan untuk dirinya sendiri. Setelah memahami pesan-pesan itu bagi dirinya, ia baru menerjemahkan, menyatakan, dan menyuratkan  maksud pesan-pesan itu kepada manusia (F. Budi Hardiman, 2015: 11).

Dalam arti terminologisnya, hermeneutik adalah suatu proses yang mengubah suatu situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Usaha untuk beralih dari sesuatu yang relatif gelap ke sesuatu yang lebih terang. Dalam pengertian hermeneuein dapat dipahami sebagai semacam peralihan dari sesuatu yang relatif abstrak dan gelap, yakni pikiran-pikiran, ke dalam bentuk ungkapan-ungkapan yang jelas, yaitu dalam bentuk bahasa (F. Budi Hardiman, 2014: 2).

Untuk mengerti sesuatu, tak semudah seperti membalikan telapak tangan. Artinya, banyak yang turut terlibat mempengaruhi proses terjadinya sesuatu. Dalam kegiatan manusia untuk mengerti atau membuat interpretasi, dilakukan melalui bahasa. Tidak mungkin berbuat apapun tanpa menggunakan bahasa. Bahasa yang kita tangkap melalui indera terlebih dahulu harus kita pahami dan kemudian diartikulasikan lewat pilihan kata dan rangkaian terjemahan kita.

Sejak awal kemunculannya, hermeneutika menunjuk pada ilmu interpretasi, khususnya prinsip-prinsip eksegesis (penjelasan atau penafsiran teks, misalnya kitab suci agama). Tetapi bidang hermeneutika telah juga dipahami (secara kronologisnya) sebagai: (1) teori eksegesis Bibel, (2) metodologi filologi secara umum, (3) ilmu pemahaman linguistik, (4) fondasi metodologis geisteswessenshaften, (5) fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial, dan (6) sistem interpretasi, baik recollektif maupun iconoclastic, yang digunakan manusia untuk meraih makna dibalik mitos dan simbol (Richard E. Palmer, 2016: 38).

Artikel ini pada sebagian besar isinya penulis peroleh dari buku Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida karya F. Budi Hardiman dan beberapa tambahan artikel lain. Untuk membatasi wilayah diskusi, tentu saja di sini tidak akan menelisik semua tokoh-tokoh besar yang menyumbangkan gagasan dan pemikiran terhadap hermeneutik. Pun untuk menegaskan isi artikel ini penulis akan mengambil nama tokoh pemikir hermeneutik, yaitu Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834). (Satu tokoh lagi yaitu Wilhelm Christian Ludwig Dilthey (1833-1911) akan tayang menyusul kemudian–red)

Telisik singkat latar intelektual Schleiermacher

Schleiermacher lahir pada 21 November 1768 di Breslau, Silesia, yang sekarang merupakan wilayah Polandia. Schleiermacher dibesarkan oleh orang tuanya dalam tradisi Protestan. Pada 1783 Schleiermacher mengikuti sekolah pendidikan menengah Moravian di Niesky. Selain mengikuti tradisi keluarga, Schleiermacher termotivasi untuk mencari pengalaman iman yang mendalam dalam hidup Kriste (Leonard Hale, 1996: 11). Schleiermacher sudah menunjukan bakat yang khusus sebagai pengkotbah sejak dini.

Tahun 1785 Schleiermacher dikirim ke sebuah seminari di Barby dan melanjutkan studi teologi. Di seminari, pendiriannya mulai bimbang setelah berkenalan dengan literatur ilmiah, filsafat dan juga roman-roman non-religius, di antaranya karya Goethe. Schleiermacher dikenal sebagai mahasiswa yang tekun dan pandai. Di bawah bimbingan Johann August Eberhard, Schleiermacher mempelajari filsafat Immanuel Kant (Kritik atas Akal Budi Murni) dan mengevaluasinya. Pergaulan hidupnya dengan banyak tokoh kalangan cendekiawan dan sastrawan romantik memberikan sumbangan besar dalam filsafat hermeneutiknya. Schleiermacher tidak membuat hermeneutikanya dari suatu kevakuman. Karyanya harus dilihat dalam skema latar belakang perkembangan diri dan zamannya. Hermeneutika Schleiermacher harus dilihat sebagai bagian dari pergerakan romantik awal (1795–1810) yang merevolusi kehidupan intelektual di pusat Eropa. Pandangannya yang sangat diperhitungkan dalam filsafat agama dapat dikembalikan pada pengaruh aliran ini (F. Budi Hardiman, 2015: 29).

Pada masa Schleiermacher hidup, estetika dan etika gereja yang begitu pervasive dalam kehidupan sehari-hari menunjukan pendarnya mulai sayup. Kant muncul menyempitkan agama pada moralitas, mempertanyakan daya jangkau kognitif akal budi terhadap ‘yang transenden’ dan Hegel yang menyaring agama menjadi rasionalitas belaka dan kemudian melahirkan aliran romantisme. Pada masa inilah kritisisme, protestantisme, dan romantisisme membentuk latar hermeneutika Schleiermacher.

Sumbangsih Kant yaitu pemilahan antara fenomena yang penuh aturan dan noumena yang bebas-unik-batiniah. Schleiermacher memakai pemahaman tersebut untuk melihat teks sebagai fenomena berupa aturan-aturan sintaksis komunitas bahasa si pengarang yang supra individual dan noumena berupa muatan batin individual pengarang yang ingin diungkapkan.

Dekonstruksi terhadap dogmatisasi penafsir teks suci oleh kalangan magisterium gereja sehingga penafsiran teks menjadi monopoli kalangan elit tertentu gereja saja dan inilah yang melahirkan gerakan protestantisme. Titik tolak inilah yang mengembangkan pemikiran Schleiermacher tentang pemahaman sebagai seni yang menekankan kebebasan individu penafsir dari segala dogmatisme tafsir untuk secara intuitif menangkap makna batiniah teks asli.

Sumbangan romantisisme bagi hermeneutik Schleiermacher adalah hermeneutika sebagai upaya pemahaman teks, bukan sebagai objek intelektual dengan memetakan aturan-aturan sintaksis semata, melainkan sebagai upaya memperoleh kembali yang subjektif-individual dari balik teks tersebut dengan kebebasan imajinasi intuisi (Syafieh, 2018: 10). Hal ini bertolak dari romantisisme Kant dalam hal tekanan pada kehendak bebas dan doktrin bahwa realitas semesta pada dasarnya spiritual dengan alam sendiri merupakan cermin dari jiwa manusia. Pengetahuan tentang semesta spiritual tidak dapat diperoleh lewat cara-cara analitik rasional, tetapi hanya dengan keterlibatan—ketertenggelaman emosional dan intuitif dalam suatu proses.

Hermeneutik Schleiermacher

Menurut Schleiermacher, hermeneutika merupakan kecakapan atau seni memahami (the art of understanding) dalam bahasa Jerman, yaitu Verstehen. Pemahaman mengacu pada hasil, yaitu sesuatu yang telah ditangkap. Sedangkan memahami mengacu pada proses, yaitu kegiatan menangkap. Maka pemakaian kata kerja akan lebih mewakili untuk melukiskan dinamika itu daripada pemakaian kata benda. Istilah memahami (Verstehen) dalam hermeneutika mengacu pada proses menangkap makna dalam bahasa atau, dikatakan lebih luas, yang menjadi target pemahaman adalah struktur-struktur simbol atau teks. Maka kiranya kita perlu membedakan dua hal, yaitu antara “memahami apa yang dikatakan dalam konteks bahasa dengan kemungkinan-kemungkinannya” dan “memahami sebagai sebuah fakta di dalam pemikiran si penuturnya” (F. Budi Hardiman, 2015: 32).

Setiap penutur mempunyai waktu dan tempat, dan bahasa yang dimodifikasi atau diartikulasikan menurut kedua hal tersebut. Kedua hal tersebut mengalami kesenjangan satu dengan yang lain. Kesenjangan ini yang kemudian melahirkan kesalahpahaman. Karena itu dibutuhkan suatu proses pemahaman sebagai upaya mengatasi kesenjangan.

Dengan demikian filsafat hermeneutik Schleiermacher mengambil titk tolak bukan atas kesepahaman, melainkan sebaliknya, berangkat dari kesalahpahaman. Dari sini hermeneutik kemudian dikatakan sebagai sebuah “seni” atau bisa disebut juga “kecakapan” dengan bertolak dari keadaan tanpa pemahaman bersama atau bahkan kesalahpahaman umum. Sehingga untuk dapat menemukan maknanya yang asli dibutuhkan proses berpikir yang rumit dan tidak dengan begitu spontan. Fokus hermeneutik Schleiermacher adalah pada cara mengatasi sebuah kesenjangan ruang dan waktu antara teks, penulis, dan pembaca dengan tujuan menemukan maksud asli penulis teks tanpa prasangka. Kesenjangan antara kata dan pikiran dengan upaya rasional yang disebut “interpretasi” (F. Budi Hardiman, 2015: 34-35).

Pendekatan interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis

Ada dua tugas hermeneutika yang pada hakikatnya identik satu sama lain, yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. Kedua hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menangkap dunia mental yang tercermin di dalam teks dengan cara transposisi dengan situasi penulis. Hermeneutika Schleiermacher pada intinya meyakini bahwa tidak ada pemahaman berjarak (understanding at a distance). Pemahaman artinya memiliki keterlibatan internal dengan apa yang dipahami (Syafieh, 2018: 12). Schleiermacher memberi penekanan bahwa distingsi-distingsi, temasuk pendekatan gramatikal dan psikologis, ini tidak boleh dipertentangkan, justru harus diterapkan sekaligus untuk memahami suatu teks, sebab semua saling berkelindan, melengkapi dan memerlukan.

Penggunaan interpretasi gramatis dan interpretasi psikologis harus ditempatkan pada pemahaman yang sejajar. Kesetaraan ini yang kemudian dalam filsafat hermeneutik Schleiermacher dengan istilah lingkaran hermeneutik, yang intinya bahwa setiap bagian dapat dipahami hanya dari keseluruhan yang mencakupnya, dan sebaliknya (F. Budi Hardiman, 2015: 44). Keduanya adalah saling melengkapi.

Bagi Schleiermacher, ada beberapa kaidah dan prinsip gramatikal yang harus dipegang. Pertama, the vocabulary and the history of the era of an author relate as the whole from which his writings must be understood as the part, and the whole must, in turn, be understood from the part (Friedrich Schleiermacher, 1998: 24). Padanan kata (bahasa) dan sejarah era pengarang dipandang sebagai keseluruhan (whole) yang darinya teks-teksnya harus dipahami sebagai bagian (part), dan keseluruhan (whole) pada gilirannya dipahami dari bagian-bagiannya, identik dan berkelindan.

Kedua, everything in a given utterance which requires a more precise determination may only be determined from the language area which is common to the author and his original audience (Friedrich Schleiermacher, 1998: 30). Segala hal yang ada dalam ungkapan tertentu yang menuntut penentuan (makna) yang lebih tepat hanya dapat ditetapkan melalui bidang bahasa yang telah diketahui oleh pengarang dan audiens orisinal.

Ketiga, the sense of every word in a given location must be determined according to its being together with those that surround it (Friedrich Schleiermacher, 1998: 44). Makna setiap kata pada tempat tertentu sesuai dengan kebersamaannya dengan kata-kata lain yang berada di sekitarnya.

Sebagai contoh, kita mengambil sebuah buku yang memberikan pengaruh terhadap pandangan kaum perempuan modern Indonesia, yaitu Door Duisternis Tot Licht (1911). Buku ini lebih merupakan kumpulan teks korespondensi Raden Ajeng Kartini yang diterbitkan oleh salah satu rekan korespondensinya sendiri, J.H. Abendanon. Sekarang kita lebih mengenal buku itu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Jika sekarang kita membaca buku yang terakhir disebut, tentu saja akan dikagetkan dengan kegagapan struktur bangunan kalimat dan bahasanya. Jelas saja terjadi kesenjangan waktu antara pembaca dan penulisnya, konteks kebudayaan, dan terutama pengalaman-pengalaman subjektifnya. Pembaca tidak dengan mudah untuk dapat menangkap dan masuk kedalam “dunia mental” penulisnya. Kemudian bagaimana proses memahami makna berlangsung?

Interpretasi gramatikal adalah penafsiran yang didasarkan pada analisis bahasa. Dari Schleiermacher kita mendapatkan sebuah gambaran bahwa proses heremeneutis sebagai pembalikan dari proses penulisan teks. Sementara penulis bertransposisi dari pikirannya ke ungkapannya dalam struktur bangunan kalimat-kalimat, pembaca melakukan sebaliknya. Dengan demikian pembaca akan masuk dan terlibat ke dunia mental penulisnya. Sebagai gambaran, ambilah buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Panggil Aku Kartini Saja. Pada buku ini Pram mentransposisikan dirinya sebagai Kartini. Pram bukan hanya menggunakan pendekatan interpretasi gramatikal, namun sekaligus menggunakan pendekatan interpretasi psikologis, mengatasi semua kesenjangan atas teks-teks Kartini. Sehingga Pram melahirkan interpretasi, bahkan melampaui penulisnya, Kartini.

Sedangkan pendekatan interpretasi psikologi, dimana seorang penafsir yang bertujuan untuk memahami dunia mental penulisnya tidak bisa semata-mata membangun perhatian dari aspek bahasa. Namun harus memperhatikan aspek kejiwaan pengarang, merancang kembali pengalaman dunia mental atas teks. Pembaca seperti mengalami kembali pengalaman penulis. Dengan demikian penafsir bertransposisi ke dalam hidup batin pengarang. Pram dalam Panggil Aku Kartini Saja menggunakan subjektifitasnya dalam upaya membaca pribadi khas penulis dan secara objektif manangkap situasi lingkungan di luar penulis.

 

Referensi:

“F.D.E. Schleiermacher dan Hermeneutika Romantisme”, Makalah Syafieh pada seminar mata kuliah Hermenuetika pada Program S-3 Pascasarjana UIN Sumatera Utara Medan.

“Seni Memahami: Hermeneutika dari Schleiermacher sampai Gadamer”, Makalah F. Budi Hardiman pada kesempatan kuliah pertama Kelas Filsafat Salihara, Jakarta, 4 Februari 2014.

F. Budi Hardiman, Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida, Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and Criticism And Other Writings, Cambridge: Cambridge University Pres, 1998.

Jurnal Studi Keislaman AL HIKMAH, Vol 7, Nomor 2, September 2017.

Leonard Hale, Jujur terhadap Pietisme: Menilai Kembali Reputasi Pietisme dalam Gereja-Gereja Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016.

Author: Petrus Harry Kurniawan

ABOUT THE AUTHOR

Petrus Harry Kurniawan

Mahasiswa Program Magister Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Santri online Ngaji Filsafat


COMMENTS