Ismail

Ada banyak kesyukuran yang terus saya tahmidkan saat berada di Yogyakarta. Di satu sisi, saya dapat menghirup udara kehidupan yang penuh keragaman di kota ini. Di sisi lain, saya memperoleh kesempatan untuk bercermin kepada cermin kehidupan yang terpantul melalui pribadi-pribadi, teks-teks yang berjalan bahkan bangunan dan masyarakat yang merangkul keberadaan saya di sini. Hal tersebut sebagian nikmat yang tidak boleh saya abaikan. Meskipun tidak jarang saya terjebak pada ketidaksadaran kurang mensyukuri itu semua. Demikian halnya dapat Ngaji Filsafat di Masjid Jendral Sudirman menjadi suatu kesyukuran tersendiri.

Tulisan ini tidak bermaksud tenggelam dalam lautan kata-kata yang penuh—mungkin pembaca merasa—dengan pujian semata. Namun untaian kata-kata ini lahir dari sebuah refleksi diri saya yang secara pribadi setelah sekian lama mengikuti Ngaji Filsafat.

Ketika mengawali langkah di Yogyakarta pada akhir 2017, saya sudah mendengar kabar bahwa di Masjid Jendral Sudirman rutin mengadakan Ngaji Filsafat. Pembicaranya adalah dosen filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Informasi tersebut saya peroleh dari seorang teman yang sedang menempuh studi di Universitas Islam di Yogyakarta. Dari situlah awal mula saya mengetahui Ngaji Filsafat.

Ngaji Filsafat edisi ke-166 sesi Scientific Attitude: Bidayah Al-Hidayah Ghazali adalah materi pertama kali yang saya ikuti. Sejak saat itu saya mulai rutin datang mengikuti Ngaji Filsafat berikutnya dan seterusnya. Hanya karena kesibukan atau kegiatan mendesak lain yang memaksa saya tidak hadir. Dari akumulasi ngaji saat itu hingga sekarang, saya merasa bahwa dalam Ngaji Filsafat itu sebenarnya saya sedang ngaji diri saya sendiri. Semakin sering saya mengikuti dan juga mendengar rekaman materi Ngaji Filsafat, semakin saya bisa membaca, menganalisis, dan tidak jarang juga mengkritisi diri saya sendiri.

Mengapa saya memberikan kesimpulan bahwa Ngaji Filsafat adalah ngaji diri? Karena hasil ideal dari berfilsafat adalah bagaimana kita sebagai manusia dapat berpikir rasional, kritis, dan sistematis dalam kehidupan. Ketika roh filsafat itu menjadi habitus (norma atau nilai), meminjam istilah Pierre Bourdieu dalam Outline of a Theory of Practice (1995), maka spiritnya bisa bermanfaat bagi social community, terutama bagi diri. Pernyataan tersebut senada dengan yang disampaikan oleh Fahruddin faiz, pengampu Ngaji Filsafat, bahwa setidaknya dari Ngaji Filsafat minimal dapat memperbaiki diri agar terus menjadi insan yang lebih baik. Syukur-syukur dapat dijalankan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tema Ngaji Filsafat yang diangkat setiap bulannya cukup beragam. Kita seakan-akan diantarkan untuk jalan-jalan keliling dunia, tepatnya dunia pemikiran. Suatu waktu kita diajak melihat dunia pemikiran tokoh-tokoh Yunani kuno, Socrates, Al-Kindi, Imam Al-Ghazali, Auguste Comte, Voltaire, Kahlil Gibran, Muhammad Iqbal, Ali Syari’ati, Karl Max, Umberto Eco, Sunan Kalijaga, Mahatma Ghandi dan masih banyak lainnya. Pada bulan selanjutnya kita diajak traveling ke tema Filsafat Cinta, Feminisme, hingga Filsafat Sejarah dan tema lain lagi lainnya.

Hampir tiap bulan kita touring, kalau bukan ke Barat, ya ke Timur atau mudik ke Nusantara. Dari semua penjelajahan itu menjadi salah satu cara agar kita dapat mengambil hikmah dari luar diri untuk merawat dan mengembangkan unsur jiwa serta untuk mengaji diri. Bourdieu mengistilahkannya internalisasi yakni mengambil, menyerap, dan membangun habitus dari luar.

Tentunya kita tidak hanya fokus dan terlena menampung semua kebaikan, kebenaran, kewarasan, pengetahuan, cinta, serta semua yang ideal, rasional, bahkan hal-hal yang spiritual sekalipun. Pada saat internalisasi kita harus ngaji diri terlebih dahulu sebelum menerapkan atau mengaplikasikan untuk orang lain maupun masyarakat (eksternalisasi). Problemnya tidak semua yang baik dari luar itu pas, cocok, maupun sesuai dengan diri kita. Sehingga proses seleksi untuk memilih mana yang pas untuk diri kita dibutuhkan ngaji ke dalam diri terlebih dahulu. Saya mengistilahkan hal itu dengan “kontekstualisasi internal-eksternal”, yakni meletakkan kebaikan apapun sesuai dengan kebutuhan, waktu, tempat yang tepat untuk diri dan orang lain.

Suatu ketika kita menghadapi masalah, kemudian ada teman yang dengan semangat menasehati, mengomentari, atau memberi saran. Meskipun semua masukan itu baik dalam persepsi mereka, namun belum tentu itu pas dalam ideal keadaan kita. Seperti juga ada seorang kawan lain lagi yang setelah mendengar sekelumit problem dari teman kemudian mendorong untuk mengeluarkan semua yang ia ketahui, baik pengalamannya maupun pengalaman orang lain untuk “menghakimi” temannya. Niat bercerita agar bisa keluar dari masalah, eh ternyata dapat masalah baru lagi. Hal-hal seperti ini setidaknya pernah kita jumpai. Untuk itu kita perlu ngaji diri agar tidak salah mengkontekstualkan sesuatu.

Ngaji diri pun selalu melekat dalam diri baginda Nabi Muhammad Saw. Karena itu, tidak heran jika ada sahabat atau orang yang meminta nasihat kepada Rasulullah dan mendapatkan nasihat yang beragam. Rasulullah sudah pasti sadar nasihat apa yang baik untuk diberikan kepada para masing-masing orang. Jika kita membaca asbabul wurud tentu akan menemukan betapa Rasulullah tidak terlepas dari ngaji diri.

Saya kira Ngaji filsafat itu penting untuk ngaji diri. Ajakan ini tidak perlu jauh-jauh untuk memaksa orang lain agar mengaji dirinya. Bisa bercermin dari perolehan mengikuti Ngaji Filsafat untuk melihat diri sendiri saja sudah menjadi kesyukuran. Secara subyektif sudah tercapai. Adapun ketika orang lain tergerak dengan membaca tulisan ini untuk memfilsafati diri, saya anggap sebagai bonus saja.

Menempatkan Ngaji Filsafat dengan beraneka ragam materi, tema, tokoh serta pemikiran filsafat dalam menata epithumia (nafsu rendah), thumos (hasrat dan harga diri), logostikon (rasio), dan eros (spiritual) versi Plato atau untuk meraih puncak kebahagiaan seperti dalam pandangan al-Farabi melalui keutamaan teoritis, keutamaan berpikir, dan keutamaan moral bahkan berkaca pada al-Ghazali untuk menggapai kebahagiaan dengan menyeimbangkan aspek ukhrawiyah (nikmat kebahagiaan akhirat), nafsiyah (nikmat keutamaan jiwa), badaniyah (nikmat keutamaan badan), kharijiyah (nikmat eksternal), dan taufiqiyyah (nikmat taufik) membutuhkan ngaji diri terlebih dahulu.

Al-Ghazali pernah mengatakan bahwa, “Ia yang mengenal dirinya adalah yang merasakan kebahagiaan sejati”. Artinya kita diajak ngaji diri. Bahkan deklarasi menjadi Ubermensch (manusia super) Nietzsche, Kharisma Max Weber, Rausyan Fikr Ali Syari’ati, atau Insan Kamil Ibnu Arabi merupakan hasil dari ngaji diri atas diri masing-masing. Dalam Al-Quran  Surah adz-Dzariyat ayat 21 sebenarnya sudah jelas mengajak manusia untuk menengok ke dalam dirinya. Karena itu, mengikuti Ngaji Filsafat saya diniatkan sebagai media untuk ngaji diri kemudian diinternalisasi mana yang sesuai untuk hidup kita.

Author: Ismail

ABOUT THE AUTHOR

Ismail

Mahasiswa Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga, Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS