Tuan dan puan tentu pernah membaca atau mendengar tentang sebuah cerita pendek legendaris karya Ali Akbar Navis yang berjudul Robohnya Surau Kami. Cerpen ini diterbitkan pertama kali oleh majalah Kisah pada tahun 1955. Guna memanggil ingatan, berikut saya ringkaskan kisahnya.

Ada seorang kakek penjaga surau yang mendedikasikan sepenuh waktunya untuk beribadah. Selain rutinitas ibadah, kakek mengasah pisau warga dengan upah ucapan terima kasih. Adapun biaya hidupnya sehari-hari, didapat dari sedekah jamaah dan hasil panen ikan mas di kolam depan surau secara berkala.

Kehidupan kakek yang tiada beranak istri ini berubah total ketika suatu hari datang Ajo Sidi, si tukang cerita. Ajo Sidi berkisah tentang Haji Saleh saat dihisab di Hari Kiamat. Allah bertanya tentang pekerjaannya di dunia, dan dijawab, “Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.” Meskipun Haji Saleh sudah merincikan seluruh amal ibadahnya satu-persatu, Tuhan masih bertanya amalan lainnya. Di akhir, Haji Saleh justru dimasukkan ke dalam bara api neraka.

Di neraka, Haji Saleh terkaget karena bertemu teman-temannya yang taat menjalankan ibadah di dunia. Mereka sepakat untuk melakukan protes, mengapa amalan ibadah yang berlimpah justru malah tidak berguna. Mereka pun menghadap Tuhan. “Kalian di dunia tinggal di mana?” tanya Tuhan. Jawab Haji Saleh, “Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.”

Beberapa pertanyaan Tuhan selanjutnya: “O, di negeri yang tanahnya subur itu?” “Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?” “Di negeri di mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?” “Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?” “Negeri yang lama diperbudak negeri lain?” “Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?” “Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?”

Tuhan meneruskan, “Kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua […] Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka…”

Kondisi negeri tempat tinggal Haji Saleh itu mengingatkan kita tentang kondisi Arab jahiliah, sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw. Negeri yang tidak berperadaban. Ja’far bin Abi Thalib, ketua rombongan kaum Muslimin yang hijrah ke Habsyah (Etiopia atau Abyssinia) untuk meminta perlindungan Raja Negus, menjabarkan makna jahiliah dan dampak perubahan yang dibawa Muhammad.

“Wahai raja, mulanya kami adalah bangsa yang tidak beradab, menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan kezaliman, merusak hubungan keluarga, berburuk sangka terhadap tamu. Pihak yang kuat di antara kami memakan pihak yang lemah. Seperti itulah kondisi kami hingga Tuhan mengutus kepada kami seorang rasul yang keturunan, kebenaran, kejujuran, dan kebaikannya telah kami kenal […] Ia memerintahkan kami untuk berbicara benar, menepati janji, memelihara hubungan kekerabatan, menghormati tamu, serta menjauhi kejahatan dan pertumpahan darah. Ia melarang kami melakukan kezaliman, berkata bohong, memakan harta anak yatim, dan memfitnah wanita baik-baik.”

Muhammad lahir di tengah kenyataan keruntuhan moral. Ketika kondisi masyarakat jahiliah semakin tidak karuan, Muhammad melakukan khalwat ke Gua Hira, sesuai ritus penganut agama hanif ketika itu. Sosok al-amin diliputi resah gelisah, menjauh sementara dari kerumunan. Berbagai pertanyaan bergelayut di benaknya. Muhammad yang terbiasa hidup sulit semenjak belia, memiliki kepekaan untuk peduli pada nasib sesama.

Di saat sedang merenungkan kerusakan masyarakatnya, malaikat Jibril datang. Iqra! Perintah itu diulang sampai tiga kali. Al-Quran diturunkan dan Muhmmad diangkat menjadi Nabi. Muhammad menerima perkataan yang berat (QS Al-Muzammil [73]: 5). Inilah awal mula perjuangan mengubah sejarah. Muhammad diberi bekal kitab suci untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliah menuju peradaban yang cerah. Wahyu pada mulanya turun untuk menjawab pertanyaan yang menjadi kegelisahan Muhammad.

Al-Quran turun sebagai peringatan, berita gembira, pedoman, petunjuk, rambu-rambu moral untuk kebaikan dan demi terjaganya kelestarian semesta. Awal mula turunnya wahyu memberi kita pelajaran penting, bahwa perintah untuk memberi peringatan atau membacakan wahyu adalah dalam rangka memberi jawaban atas berbagai permasalahan, menjawab keresahan dan kebingungan manusia. Perhatian utama Al-Quran, kata Fazlur Rahman, adalah manusia dan perbaikan moralnya.

Puncaknya, Nabi Muhammad Saw dengan bimbingan Al-Quran berhasil membangun tatanan masyarakat madani di Madinah al-Munawwarah. Namun tak bertahan lama sepeninggal beliau, peradaban itu runtuh. Hasrat kepentingan pribadi, kesombongan, tradisi jahiliah, dan mentalitas pecundang, telah menutupi cahaya Al-Quran. Ayat-ayat suci justru digunakan untuk saling membela diri dan menghakimi sesama. Hingga hari ini, banyak yang membaca dan menghafal Al-Quran, namun sedikit yang berperilaku sebagaimana ajaran nabi, yang digambarkan sebagai Al-Quran berjalan, berupa sikap senantiasa menebar kasih, kedamaian, keselamatan, kebaikan, keadilan, persatuan.

Pada akhir abad ke-19, para pembaharu menggaungkan jargon al-ruju ila al-qur’an wa al-sunnah (kembali kepada Al-Quran dan Sunnah), dengan jalan membuka lebar pintu ijtihad. Mereka resah dengan kemunduran umat yang disebabkan oleh karena meninggalkan ajaran Islam yang otentik, sehingga keagungan Islam tertutupi oleh perilaku pemeluknya sendiri yang tidak sesuai nilai qurani. Sebagaimana agama diturunkan Allah sesuai perkembangan sejarah dan akal manusia, maka pemahaman terhadap Al-Quran pun harus berkembang, sesuai kebutuhan serta konteks ruang dan waktu yang terus bergerak maju.

Para pembaharu ini gerah dengan pengulangan tafsir yang tidak membawa dampak pada kemajuan umat. Buya Hamka mengingatkan, tidak benar jika dikatakan bahwa semua ilmu ada di dalam Al-Quran, yang benar adalah Al-Quran memerintahkan untuk menyelidiki semua pengetahuan.

Dimulai dari niat tulus memahami kitab suci untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama. Lalu menggali makna asal Al-Quran sesuai konteks turunnya, memahami makna di balik pesan harfiah yang disebut dengan ratio legis (menurut Fazlur Rahman), maqashid (dalam konsep Muhammad al-Thalibi), maghza (dalam pandangan Nasr Hamid Abu Zayd). Makna dibalik pesan literal inilah yang harus disingkap untuk disesuaikan dengan kondisi kekinian dan kedisinian. Dasarnya adalah kaidah tsabat al-nash wa harakat al-muhtawa (teks itu tetap, tetapi kandungan maknanya berkembang).

Umat Islam harus menjadikan etos Al-Quran sebagai pendorong menuju khairu ummah, serta menjaga keseimbangan orientasi duniawi dan ukhrawi, sesuai doa: rabbana atina fi al-dunya hasanah, wa fi al-akhirah hasanah.[]

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-29 Jumat, 10 Mei 2019/05 Ramadhan 1440 H

Author: Muhammad Ridha Basri

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Ridha Basri

Sehari-hari ngadem di Grha Suara Muhammadiyah


COMMENTS