Pengungkapan kebenaran secara komprehensif sudah diupayakan sejak peradaban kuno sampai abad modern. Banyak pemikir dan ilmuan telah mencoba menemukan hukum-hukum yang terbentang di alam ide dan semesta untuk diberikan pada dunia pengetahuan. Seketika muncul dalam benak saya pertanyaan-pertanyaan apakah kebenaran itu dilandaskan oleh pemikiran? Atau mungkin sesuatu bisa dianggap sebagai kebenaran berdasarkan pengalaman? Sementara setiap orang memiliki pikiran dan pengalaman yang berbeda-beda? Lantas bagaimana dapat dimengerti kebenaran jika berlainan? Hmm membingungkan memang.

Kali ini saya mencoba sedikit mengkaji tentang kebenaran berdasarkan pengalaman. Sebab tak semua kebenaran bisa diungkapkan menggunakan akal sehat secara langsung. Ada kenyataan yang harus kita alami terlebih dahulu sebelum kita mengetahui hakekat aslinya. Kebanyakan filsafat Barat lebih menekankan pemikiran (rasional) ketimbang pengalaman. Sementara itu, sebuah kenyataan bisa dibuktikan secara rasional, tapi bisa juga dengan mengalaminya secara langsung.

Benar kata Platon, bahwa “Ide mendahului realitas.” Seringkali manusia memikirkan sesuatu hal yang sama sekali belum terjadi pada kehidupan nyata. Ketika ia kebetulan menemui sesuatu kejadian yang sama persis dengan pemikirannya maka akan diklaim kejadian itu sebagai bentuk nyata dari pikirannya. Seperti halnya ketika seseorang laki-laki menyukai perempuan yang cantik, lemah-lembut, dan lucu, sebelumnya perempuan seperti gambaran itu belum ada pada kehidupannya dan ketika ada seorang perempuan bernama Dewi memiliki kriteria yang sama dengan kesukaan laki-laki tersebut maka diklaimlah Dewi sebagai wanita yang cantik, lemah-lembut, dan lucu itu.

Diktum Rane Descartes yang terkenal mengatakan, bahwa “Aku berpikir maka aku ada.” Namun pada kenyataannya banyak bentuk pemikiran seringkali terbantahkan oleh kehidupan nyata. Bukannya menemukan kebenaran malah terjebak dan disibukan oleh aktivitas pemikiran-pemikiran sendiri. Malahan, karena tidak adanya pengalaman membuat seseorang mengkultuskan pemikiran dirinya sendiri. Boleh jadi ia menjadi seseorang yang paling benar, menjadi seorang yang paling genius dengan menemukan teori yang sebelumnya tidak ditemukan oleh kebanyakan pemikir dan ilmuan. Namun kenyataannya tidak semua orang bisa menerima dan menelan mentah-mentah pemikirannya secara langsung. Bahwa setiap orang memiliki pemahaman berbeda-beda terhadap suatu hal dan ini juga tergantung pada pengalamannya masing-masing. Ketika kita mengkultuskan suatu pemikiran adakalanya akan bertabrakan dengan realitas.

Misal ada yang mempercayai pemikiran A, ada mempercayai pemikiran Z, ada yang mempercayai pemikiran bla bla bla. Bila semua pemikiran itu diperdebatkan maka yang terjadi benturan-benturan dan perpecahan-perpecahan.

Pemahaman masing-masing orang akan sesuatu pun berbeda-beda. Satu pemikiran seseorang mungkin tak bisa diganggu gugat, sebab ia menuruti pemikiran A atau Z karena mereka memiliki semacam kesamaan, atau bersetuju dengan pemikiran tokoh tertentu. Seseorang juga bisa berdaulat pada pemikirannya sendiri tanpa harus menyalahkan pemikiran orang lain. Pastinya segalanya tak bisa diseragamkan. Setiap orang memiliki pemikiran, pemahaman, pendapat yang berbeda tergantung pada pengetahuannya atau pengalamannya. Pada yang terakhir ini, mengikuti kata Al-Ghazali, “Aku mengalami maka aku ada.”

Selain itu, pada kenyataannya setiap orang mempunyai penafsiran masing-masing. Meskipun kebenaran bersifat tak terbantahkan namun kebenaran memiliki banyak sudut yang tak mudah untuk dipahami secara komprehensif. Kemudian setiap orang akan menangkap kebenaran yang seolah-olah berbeda-beda itu sesuai dengan takaran ilmu, volume pengetahuan yang berbeda juga. Sedangkan tafsiran tentang apa yang ia tangkap dan diyakini sebagai sebuah kebenaran bukanlah sesuatu yang mutlak, bisa jadi ada kebenaran lain yang lebih benar, dan tak menutup kemungkinan untuk menerima kebenaran itu. Bisa juga kebenaran tersebut hanya berlaku pada dirinya tapi tidak untuk orang lain. Manusia hanya bisa menafsirkan selebihnya Tuhan yang mutlak benar.

Ada juga sebagian yang selalu penasaran dan menuntut dirinya untuk sesegera mungkin memecahkan kebenaran berbekal pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki. Ada kebenaran yang tak bisa dimengerti mengikuti logika-logika pikiran, ada juga kebenaran yang harus dimengerti hanya dengan menggunakan rasa dan pengalaman. Nah, seseorang tidak bisa menuntut untuk memecahkan suatu kebenaran karena seseorang tersebut belum tentu mengalaminya. Bisa jadi semua pikirannya hanya menjadi ilusi dan bualan belaka yang sama sekali tak terjadi di dunia nyata. Sering kita juga terjebak antara kenyataan dan mimpi. Seseorang bisa merasa mimpinya adalah kenyataan dan ketika ia bangun dari tidur ia baru tersadar dan mengerti bahwa yang dialminya hanya sekedar mimpi. Sigmund Freud meneliti soal mimpi dan menuliskan dibukunya yang berjudul The Interpretation of Dreams (1899). Kata Freud, “Alam bawah sadar adalah tempat di mana mimpi itu bersembunyi. Melalui tidur, ketidaksadaran itu bermula.”

Selanjutnya, pikiran bukanlah kenyataan, pikiran selalu berubah menurut pengamatan. Sedangkan untuk mencapai sebuah kebenaran tak semudah membalikkan tangan, namun kebenaran bisa diyakini sesuai dengan apa yang kita kita alami sendiri dan tidak semua kenyataan didasarkan pada materi yang memiliki bentuk fisik dan mampu ditangkap oleh panca indera. Sebab ada sesuatu yang sifatnya metafisika. Akan sangat susah untuk memahami sesuatu yang tak terlihat dengan pikiran, sebab pada dasarnya akal manusia memiliki keterbatasan dan pemikiran cendengrung menggunakan abraksi-abraksi visual untuk memahami sesuatu. Salah satu yang bisa kita sikapi untuk memahami hal-hal yang bersifat metafisika adalah dengan keyakinan. Karena ada kebenaran yang harus diyakini terlebih dahulu sebelum dialami, lalu dengan sendirinya lewat pengalaman tersebut akan membuatnya menjadi paham sebagai sebuah kebenaran. Lain itu, pengalaman penting bagi manusia, makanya orang-orang tua dahulu sering mengatakan, “Pengalaman adalah guru yang terbaik.”

Terakhir, kita diwajibkan untuk menuntut ilmu. Dengan ilmu kita gunakan untuk mengungkap banyak kebanaran. Tapi alangkah baiknya kita mensyukuri ilmu yang kita miliki hari ini dan menggunakannya untuk berbuat baik. Dan pada hakikatnya ilmu adalah nur (cahaya). Jika sesorang menerima cahaya yang cukup, maka teranglah seluruh ruangan, pikiran dan penglihatannya. Dengan cahaya memungkinkan seseorang itu berjalan ke suatu arah yang benar.

Author: Rizki Eka Kurniawan

ABOUT THE AUTHOR

Rizki Eka Kurniawan

Pelajar akhiran yang menggiati dunia sastra, mencoba terjun dalam dunia tulis menulis, kebiasaanya membaca buku


COMMENTS