Sebagai pengguna internet aktif, kita sangat sering berselancar di dunia maya terkhusus media sosial. Hanya sedikit dari masyarakat kita yang tidak memiliki ponsel pintar, biarpun tak cukup secara ekonomi, setidaknya memiliki ponsel pintar meski dengan kualitas yang standar. Sebagian besar pengguna internet di Indonesia menjadi penguna aktif media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram ataupun WhatsApp. Media sosial yang dipunya digunakan sebagai ruang berbagi, mencari informasi, referensi, maupun sebagai alat mencari dan menghasilkan uang, media promosi, jaul beli online dan lain sebagainya. Tapi ada juga yang menggunakan media sosial untuk menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian.

Kini sudah memasuki bulan April 2019, tanggal 17 nanti akan dilaksanakan pesta demokrasi untuk memilih pemimpin lima tahun kedepan. Dua kubu yang sedang ikut dalam kontestasi, bersama elit-elit parpat politik yang mendukung mereka, membuat banyak strategi pemenangan, mulai dari mencitrakan calon sebagai tokoh yang luar biasa, sampai menyerang lawan politik dengan kampanye negatif, atau bahkan dari beberapa oknum yang pro atau kontra salah satu calon, membuat berita-berita yang provokatif. Adakalanya salah satu calon dicitrakan buruk dengan data yang simpang siur, namun karena pemberitaannya dilakukan secara masif, akhirnya menjadi semacam alternatif kebenaran dan dipercaya publik yang fanatik. Sebagai pengguna media sosial dan sekaligus sebagai generasi penerus yang akan membawa negeri ini ke masa depan, setiap generasi haruslah cerdas dalam menyaring informasi serta cerdas dalam bermedia sosial.

Saya sendiri pernah mendapatkan pesan yang isinya sangat provokatif. Mendapatkan pesan itu saya hampir saja tersugesti untuk menyebarkannya ke grup WhatsApp, karena isinya menunjukkan data-data yang sepertinya akurat. Pada satu sisi saya sendiri tidak setuju dengan isi konten dalam pesan tersebut. Sisi yang lain saya berinisiatif untuk mengecek kebenaran isi pesan di internet. Ternyata terbuki dalam sebuah laman sebuah situs, saya menemukan bukti bahwa pesan tersebut tidak benar. Tapi heran saya, di bagian akhir pesan tersebut, tertulis himbauan yang mengatakan, “Saya akan keluar dari iman saya jika tidak menyebarkan pesan ini.” Lucu sekali bukan.

Salah satu aliran dalam filsafat ada yang namanya rasionalisme. Bapak filsafat modern, Rene Descartes (1596-1650 M) adalah salah seorang filsuf penggawanya. Rasionalisme memiliki asumsi bahwa rasio atau akal budi adalah tonggak utama dari tercapainya pengetahuan, atau bisa kita sebut segala sesuatu harusnya masuk akal (logis). Meski paham ini berlawanan dengan empirisme yang berpandangan bahwa tonggak mendapatkan pengetahuan melalui panca indra. Keduanya tetap menjadi pandu dalam memperoleh pengetahuan. Sebab manusia tidak akan pernah menyebut “sesuatu” sebelum mengetahui sesuatu tersebut sebelumya, atau sering disebut sebagai “pengetahuan bawaan”. Kita juga dapat sumbangsih dari Platon (427-347 SM) mengenai dunia idea dimana pengetahuan sejati berada didalamnya.

Ada juga aliran skeptisisme yang memandang segala sesuatu selalu tidak pasti. Dalam sejarahnya, skeptisisme berawal pada masa Pyrrhon (sekitar 365-270 SM). Kemudian pada masa Socrates yang dihukum mati dengan meminum racun, lalu pada masa Akademia Platon. Kelompok ini memiliki pemikiran bahwa segala sesuatu di sekitar kita ataupun diri kita sendiri, dengan pasti, dan sangat tidak mungkin mengetahui kebenaran atau kesesatan secara pasti.

Ingat Sokrates dalam ungkapannya bahwa, “Orang yang paling bijak adalah orang yang mengetahui bahwa ia tidak mengetahui.” Mungkin kita di dunia nyata maupun maya, banyak mendapati orang yang lupa atas ketidaktahuannya. Mereka berasumsi dengan pengetahuan yang mereka sendiri, merasa kompatibel dengan kapasitas yang dimiliki sendiri, yang ternyata ketika dicari dalil rasionalnya, ternyata hanya sok tahu, dan dengan sendirinya menunjukan ketidaktahuannya. Contoh yang sering kita jumpai di dunia maya, warganet yang berkomentar seenaknya tentang agama, atau seorang yang pengetahuannya minim tentang ilmu tafsir, menafsirkan al-Quran seenaknya sendiri, atau berdalih macam-macam. Bukankah ia malah menujukan kecongkaannya sendiri?

Kita juga harusnya memahami, kenapa muncul orang-orang seperrti itu. Kita dapat memahami kondisi sosial politik sekarang ini. Apalagi terdapat kalangan yang secara ideologis mendukung salah satu kelompok, memberikan dukungan penuh kepada calon yang mereka tokohkan dengan strategi tertentu untuk meraih kemenangan kekuasaan politik. Tak ayal beragama cara digunakan, seperti isu agama, mengunakan suku, ras dan budaya, dengan menampilkan kampanye negatif kepada lawan politiknya. Masalahnya banyak warganet dalam lingkungan kita belum sepenuhnya dewasa dalam bersikap, apalagi berkomentar di dunia maya, akan terjebak pada arus yang mereka sendiri tidak pahami dengan berujar seenaknya.

Sementara itu, metode kefilsafatan seperti rasionalisme dan skeptisisme bila dipahami ketika sedang beraktivitas berselancar di dunia maya, membuat kita menjadi waspada akan adanya penyebaran berita-berita bohong, ujaran kebencaian dan konten negatif lainnya. Seandainya kita mendapatkan pesan singkat dari sebuah grup WhatsApp, yang bernada provokatf maupun dengan nada seruan, kita tidak mudah mempercayainya, kita akan melihat kemasukakalannya terlebih dahulu, dan menahan pesan itu. Meskipun bisa jadi pesan itu diatasnamakan otoritas keagamaan kita atau mungkin mengatasnamakan kiai kita. Sehingga dengan begitu kita akan terhindar dari arus penyebaran informasi yang keliru, salah, yang dapat membuat masyarakat menjadi resah. Tak seharusnya sebagai seorang yang berpikir, menggunakan media sosial secara tidak bijak.

Author: Muhammad Shofiyunnashir Arrosyidi

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Shofiyunnashir Arrosyidi

Santri JPPI Minhajul Muslim Yogyakarta; Penikmat Ngaji Filsafat


COMMENTS