Ita Aprilia

Mengenai filsafat kebanyakan orang akan mulai menceritakan dengan menarik kembali dari negeri asalnya Yunani dengan tokoh-tokohnya seperti Socrates, Plato dan juga Aristoteles. Kita tentu hafal dengan istilah philoshopia yang berarti cinta kebijaksanaan yang juga sekaligus merupakan akar dari kata filsafat. Filsafat lahir ketika manusia tidak lagi mempercayai mitos atau mistis dan kemudian beralih pada logos atau logika.

Filsafat sebenarnya mengajak kita untuk berani mempertanyakan hidup kita sendiri. Seperti yang dilakukan Socrates, “Apakah manusia itu dan apakah yang merupakan kebaikan tertinggi bagi manusia?”

Jalan pertama untuk membuka gerbang filsafat adalah memiliki keinginan untuk berpikir logis atau rasional, kemudian mulai mempertanyakan semuanya atau curious. Seperti yang dikatakan filsuf modern dari Perancis abad ke XVII Rene Descartes dengan diktumnya, cogito ergo sum: aku berpikir, maka aku ada. Apakah ada bukti bahwa semua yang kita tinggali ini benar-benar ada atau nyata? Bagaimana jika semua ini hanya mimpi? Bukankah mimpi juga seperti kehidupan nyata? Bagaimana jika ternyata dunia tempat kita tinggal ini hanya ciptaan setan untuk memperdaya manusia? Apakah semua yang ada di dunia ini nyata? Ragukanlah semuanya dan kemudian saat kita meragukan segalanya kita akan menemukan satu yang pasti, yaitu diri kita sendiri yang meragukan segalanya.

Jalan selanjutnya adalah wisdom, kebijaksanaan. Kebijaksanaan bukanlah kebenaran. Tapi kebenaran merupakan jalan menuju kebijaksanan. Orang Jawa mengatakan bijaksana adalah pas atau tepat kapan harus melakukan sesuatu, alias pener. Tapi benar belum tentu bijaksana.

Tugas filsafat adalah mengkritisi konsep dan mengkonstruksi konsep. Namun memang lebih mudah untuk bersikap destruktif secara kritis ketimbang bersikap konstruktif secara koheren. Seperti yang dikatakan Martin Heidegger, “Kita lebih banyak merasa terlempar dalam fakta-fakta atau faktalitas.” Argumen yang memang mesti kita ajukan adalah “mengapa?”

Filsafat sebenarnya ingin agar kita hidup secara lebih serius dengan mengajukan argumen “mengapa“ itu dalam hidup kita. Misalnya, mengapa kita memilih suatu agama tertentu? Mengapa kuliah jurusan ini? Kebanyakan kita akan kesusahan menjawab pertanyaan ini dan kemudian hanya bertemu dengan kalimat, “Sudah jalannya begini!?”. Demikian gambaran betapa kita tidak pernah serius dalam hidup. Itulah sebabanya mengapa menjadi filosof, dalam artian menjadi orang yang mencari kebijaksanaan dalam hidup, minimal untuk hidup kita sendiri.

Ada beberapa cara untuk berpikir filosofis. Pertama adalah radikal atau mendalam, kemudian komprehensif atau menyeuluruh dalam arti tidak ada satupun yang berada di luar jangkauannya, konseptual, koheren dan yang terakhir adalah bebas dan bertanggung jawab. Tanggung jawab ini dilakukan ketika orang mulai menerapkan pemikirannya.

Apakah sampai di sini sudah menemukan definisi filsafat? Saya akan kutip dari Louis O. Kattsoff dalam buku Pengantar Filsafat. Buku ini menjelaskan apa itu filsafat serta mencoba menjawab pertanyaan apa itu filsafat dalam perenungan kefilsafatan.

Ketika saya belajar logika untuk pertama kalinya pada pertemuan kelas yang pertama, seorang guru besar mengatakan, “Tuan-tuan menginginkan agar saya mengawali kuliah ini dengan memberikan definisi tentang logika. Sebenarnya suatu definisi tentang logika hanya mungkin kita peroleh setelah kita menamatkan buku yang bersangkutan.” Guru besar tadi berhenti sejenak, memandang sekelilingnya dengan tersenyum, dan kemudian menambahkan, “Tuan-tuan, sesungguhnya kita tidak akan pernah menamatkan buku tersebut.” Begitupun dengan filsafat, tak pernah tamat kita mempelajarinya.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan hasil mendengarkan rekaman Ngaji Filsafat edisi Pengantar Filsafat, dari buku karya Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat serta dari catatan lain.

Author: Ita Aprilia

ABOUT THE AUTHOR

Ita Aprilia

Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS