Ismail

Albert Camus dengan absurditas adalah tokoh penutup Ngaji Filsafat sesi Filsafat Barat Lagi (27/3). Kedua tokoh sebelumnya, Rene Descartes dengan skeptisismenya yang “mengkhotbahkan” pentingnya meragukan segala sesuatu kemudian bersamaan dengan itu mempersilahkan rasio untuk menyaringnya. Lain hal dengan Henri Berson dengan intuisionismenya.

Gagasan dari ketiga tokoh tersebut sama-sama penting. Jika kita mampu mengombinasikan ketiganya tentu itu sudah prestasi luar biasa. Baik tidaknya suatu penerapan gagasan mereka, menurut Fahruddin Faiz, tergantung pas tidaknya proporsi dan efisiensi untuk kehidupan kita.

Marcus Aurelius (Ngaji Filsafat edisi 209 sesi The Philosopher King) pernah mengatakan bahwa agar hidup berjalan dengan baik, maka kita harus memfungsikan kepala, tangan dan hati. Dalam pemahaman saya, kepala itu bisa melambangkan fungsi rasionalitas. Tangan itu adalah simbol dari aktualisasi dan eksistensi diri dalam masyarakat. Sedangkan, hati adalah lambang spiritualitas.

Kalau saya bisa mengelompok, berdasarkan pembagian Marcus, ketiga tokoh yang sudah dibahas dalam sesi Filsafat Barat Lagi maka Descartes itu kepalanya, Henri itu hatinya dan terakhir Camus itu simbol dari tangan.

Albert Camus adalah salah satu tokoh filsafat abad ke-20. Lahir di Mondovi, Aljazair pada tahun 1913, meninggal pada tahun 1960. Selama hidupnya, Camus banyak memberikan kontribusi dalam memperkaya discursive tradition ilmu pengetahuan. Camus mulai berkarya sejak umur 29 tahun.

Karya Camus sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Inggris juga bahasa Indonesia. Dalam tulisannya menunjukkan bahwa Camus memiliki minat utama terkait tema-tema etika, kemanusiaan, keadilan, politik, dan juga cinta. Dari karya-karya itu ia dianugerahi penghargaan. Tepat tiga tahun sebelum meninggal, tahun 1957 Camus dianugerahi penghargaan Nobel dalam bidang sastra.

“Hidup manusia itu absurd” kata Camus. Absurd berasal dari Bahasa Latin: Absurdus. Ab-surdus berarti tuli atau bodoh. Absurd tidak berarti logically impossible, namun lebih kepada humanly impossible. Sedangkan absurdisme yaitu satu aliran filsafat pemikiran yang menyatakan bahwa upaya-upaya manusia untuk menemukan makna batin/terdalam/tinggi/ akan sepenuhnya gagal, sehingga bersifat absurd. Secara sederhana pandangan absurditas, mengutip penjelasan Fahruddin Faiz, yaitu  apa yang ideal dipikirkan dan direncanakan namun dalam kenyataannya tidak sama. Apa yang kita matangkan secara rasional dan perfect dalam dunia tetapi dalam realitasnya seringkali membelot.

Dari mana sumber absurditas itu datang? Saya menangkap ada satu hal yang ternyata menjadi dalang dari absurditas ini. Sumber dari absurditas ini ternyata harapan. Manusia itu kok repot amat hanya untuk menjadi manusia normal saja, kata Camus, mereka menghabiskan banyak energi, tenaga dan waktu. Untuk apa? Untuk menjadi manusia normal. Sumber dari harapan mereka yang ingin menjadi manusia normal. Masalahnya muncul adalah apa yang terjadi seringkali tidak sesuai dengan harapan.

Saya juga mengamini bahwa iya yah memang salah satu sumber absurditas itu adalah harapan itu sendiri. Namun saya juga mulai mempertanyakan, apa yang diinginkan oleh Camus? Ternyata Camus menginginkan manusia itu bebas. Itu namanya harapan. Ketika absurdisme menjangkiti seseorang, kemudian bagaimana manusia meresponsnya? Di sini saya mencatat ada tiga hal, menurut Camus, reaksi manusia menghadapi absurdisme.

Pertama, putus asa. Tak jarang seseorang merasa tidak berdaya, merasa tidak memiliki keyakinan lagi untuk bangkit berhadapan dengan absurditas. Jalan yang paling pendek mereka lalui dengan bunuh diri. Cara seperti ini sangat tidak direkomendasikan oleh Camus.

Kedua, bunuh diri filosofi. Ya sudahlah kita tidak perlu berpikir terlalu njlimet, tak usah berpikir ideal lagi. Gara-gara pengejaran demi pengejaran terhadap hal yang sempurna kita malah terjebak pada absurditas. Ya sudah dibunuh saja cara berpikir yang mendalam, kritis, dan sistematis. Hidup secara apa adanya saja. Cara yang kedua ini pun tidak terlalu disarankankan oleh Camus ketika berhadapan dengan absurditas.

Ketiga, Camus mengajak kita untuk berani berhadapan dengan absurdisme. Kita mestinya tidak boleh diam saja menghadapi keadaan yang absurd ini. Kita harus berontak. Namun dalam pemberontakkan ini kita awali dari membebaskan diri kita, katanya Camus, dari kungkungan di luar diri kita. Lewat pemberontakan yang berasaskan kesadaran diri yang bebas itulah kita bisa eksis. Makanya Camus mendeklarasikan, “I rebel, therefore I exist.”

Dari penjelasan di atas, Camus seakan ingin mengatakan eksislah. Keadaan apapun jangan sampai menghilangkan keberadaan kita sebagai manusia. Jangan karena tujuan, harapan yang kita cita-citakan belum tercapai lantas kita melarikan diri dari pentas dunia ini.

Demikian catatan singkat dari Ngaji Filsafat edisi yang saya pahami. Pembacaan lebih lanjut merujuk pada karya Camus, salah satunya The Rebel: An Essay on Man in Revolt (1951).

Author: Ismail

ABOUT THE AUTHOR

Ismail

Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS