Kalau ditanya apa pekerjaan bapak, saya akan mantap menjawab: “Bapak rumah tangga”. Benar, bapak saya bekerja di wilayah domestik. Mencuci pakaian kotor, melipat baju, membersihkan rumah, merapikan pekarangan dan kadangkala memasak. Lalu apa yang ibu saya kerjakan? Ibu kadang membantu apa yang dikerjakan bapak, pekerjaan yang paling sering dibantu adalah memasak. Keseharian ibu adalah pencari nafkah utama keluarga.

Apakah bapak tidak mendapat cibiran dari tetangga karena tidak bekerja? Atau pertanyaan lainnya, apakah ibu tidak kurang ajar menjadikan suaminya sebagai bapak rumah tangga? Pertanyaan macam itu terlalu sering kami (saya) dengar, saya hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan macam itu. Semenjak kuliah saja saya kemudian mafhum dengan pembagian peran bapak dan ibu selama ini. Bapak yang secara biologis laki-laki, dalam pandangan umum, adalah pemimpin/kepala keluarga yang bertanggung jawab atas segala kebutuhan keluarga. Namun karena satu dan hal lainnya, ternyata bapak melakukan pekerjaan domestik yang selama ini diyakini pekerjaan perempuan, pekerjaan istri. Sedangkan ibu, yang secara biologis perempuan, dalam pandangan masyarakat adalah makmum atau orang yang mengikuti imam/pemimpin, namun pada praktiknya ibu mengambil peran publik dengan bekerja sebagai pemenuh kebutuhan rumah tangga pertama, yang selama ini diyakini sebagai tugas laki-laki, tugas suami.

Pertanyaannya adalah apakah bapak-ibu saya belajar tentang konsep gender atau semacamnya? Baik. Bapak dan ibu saya hanya belajar di sekolah rakyat (SR). Bagi saya, yang dilahirkan dari rahim ibu atas kerjasama dengan bapak, beliau berdua hanya melakukan kewajibannya masing-masing. Yang diperlukan hanyalah menjadi manusia untuk memahami, bahwa baik laki-laki maupun perempuan mempunyai peran yang sama. Kecuali tentunya hal-hal yang bersifat biologis atau kodrat. Bapak tidak bisa memungkiri bahwa dirinya adalah laki-laki dengan segala perangkat reproduksinya, dan ibu adalah perempuan dengan segala perangkat reproduksinya. Bahwa hal-hal selain itu sudah pasti bisa dipertukarkan dan bersifat ikhtiyari.

Memasak atau berjualan, mencuci atau mencangkul, menyapu atau berdagang bukanlah perkara penting untuk diperdebatkan siapa dan dari jenis kelamin mana yang harus mengerjakan, yang paling penting daripada perdebatan (siapa yang harus melakukan) adalah semua itu harus dilakukan oleh siapapun. Karena sebagai sebuah keluarga membutuhkan rumah untuk bernaung, membutuhkan nasi dan lauk untuk dimakan, membutuhkan rupiah untuk ditukar dengan beberapa kebutuhan pokok.

Saya bahkan masih sangat ingat pembagian kerja saat saya masih kecil. Saya yang perempuan mendapatkan tugas rumah menyapu dan mengepel lantai. Kakak perempuan saya mencuci dan melipat baju. Kakak lelaki saya bertugas mencuci piring dan adik laki-kaki saya mendapatkan mandat sebagai pembuang sampah. Satu waktu adik pergi bermain dan lupa membuang sampah, saya diminta oleh bapak untuk membuang sampah itu. Saya tidak terima karena itu bukan tugas saya dan saya katakan itu pada bapak. Apa yang dikatakan bapak pada saya: “Siapa yang menanak nasi? Kenapa kamu juga ikut makan?” Pertanyaan bapak memperteguh bahwa pekerjaan apapun bisa dilakukan oleh siapapun (jenis kelamin apapun), bahwa pekerjaan tertentu tidak melulu harus dikerjakan oleh jenis kelamin tertentu.

Dalam kehidupan rumah tangga ibu dan bapak, saya yang berperan sebagai anak rumah tangga diajarkan, bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai tugas dan peran yang sama sesuai dengan kapasitasnya.

Pada seluruh kehidupan rumah tangga yang dijalani oleh ibu dan bapak, dimana saya menjadi bagiannya, saya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang lebih unggul daripada laki-laki ataupun perempuan. Semua memiliki peran yang sama, memiliki tanggung jawab yang sama (seusai dengan kapasitasnya). Bahwa dengan seluruh perangkat biologisnya tidak ada dasar bagi laki-laki ataupun perempuan untuk merendahkan jenis kelamin tertentu, bahkan pada jenis kelamin yang sama pun tidak ada kewenangan itu. Hubungan yang setara lahir dari sebuah pengakuan atas segala kekurangan, bahwa tanpa laki-laki, perempuan takkan mampu hidup dan bertahan. Begitu juga sebaliknya, tanpa perempuan, laki-laki takkan mampu mengerjakan semuanya sendiri. Ketergantungan satu sama lain dan keterbatasan diri adalah titik awal bagi manusia untuk menghargai manusia segala jenis kelamin, umur, agama, budaya, suku, warna kulit, kelas sosial.

Saat ini memang ibu menempati posisi kepala keluarga untuk urusan kebutuhan hidup, dan bapak adalah kepala keluarga dalam urusan perlindungan. Keduanya menjadi kepala keluarga dalam urusan dan kapasitasnya. Dan kami anak-anaknya menempati posisi yang setara dalam pembagian pekerjaan rumah tangga. Tapi apakah posisi ini akan langgeng? Tidak. Posisi ini bisa saja berubah menurut kondisi dan situasi, bisa jadi kami yang awalnya berperan sebagai anak rumah tangga juga akan mengambil peran sebagai pencari rizki utama keluarga, dan pada tahap itu kami (anak) akan mengambil alih posisi kepala keluarga itu.

***

Cahaya ilmu

Jumat itu, saya terdampar di sebuah bangunan di tengah keramaian Jakarta. Memenuhi ruangan itu tumpukan buku-buku beserta jejeran kursi meja yang penuh sesak manusia dengan komputer jinjingnya masing-masing. Hening, yang terdengar hanya bunyi gesekan jari-jari tangan dengan tuts-tuts keyboard dan desahan kertas yang dibuka dengan agak tergesa-gesa dan berkali-kali. Mata saya tetap fokus pada kertas digital dan berkali-kali menekuri beberapa buku untuk waktu yang lama sekali, namun ternyata kosong. Saya mencoba menghibur diri bahwa ini hanyalah persoalan kemauan saja, mari terus lawan dengan terus membacanya sampai paham. Tapi ternyata saya salah, ini bukan hanya soal ketekunan. Ini adalah juga soal kesiapan hati untuk menerima cahaya, menerima sesuatu yang bersih, yang suci.

Ya, ini perkara kesiapan untuk menerima cahaya. Cahaya hanya akan bisa masuk dalam satu ruangan jika penutup atau sekatnya terbuka. Kerelaan untuk membuka sekat inilah pangkal persoalannya, sekat ini kadang bernama kesombongan atau pada lain waktu bernama kekejian, dan pada waktu yang lainnya lagi adalah kemaksiatan. Bagaimanakah sekat itu menjelma dengan nama-nama berbeda dan secara bertahap membuat sekat bertambah tebal untuk tak terjangkau oleh cahaya? Apakah ia semacam campuran dari semua bahan bangunan yang kemudian membeku dan tak dapat ditembus lagi dengan cahaya? Ataukah ia serupa kaca yang tertutup debu yang pada waktunya bisa dibersihkan?

Butuh hati yang bersih untuk menerima cahaya. Ya, cahaya. Ilmu adalah cahaya, ilmu itu serupa cahaya. Untuk menerima sinarnya kita butuh upaya untuk membuka sekat yang menghalangi diri. Usaha untuk menyingkap sekat adalah niscaya, karena tanpa adanya cahaya semua menjadi gelap. Dan dalam kegelapan kita berada dalam prasangka, seringkali seolah paling tahu dan seolah benar sendiri.

Saya selalu percaya bahwa Ilmu itu mengantarkan pada kebenaran juga kebaikan. Jika ada orang yang berilmu dan ternyata ia tak sampai pada kebenaran serta kebaikan, yakinlah pada tahap tertentu ia telah kehilangan ilmu itu. Sebab, tidak mungkin ilmu tidak mengantarkan orang pada kebenaran dan kebaikan. Seandainya saja, kita—saya dan Anda—senantiasa berada dalam ilmu niscaya ketidakadilan, kerakusan serta kekejian takkan muncul. Semua yang menyakitkan itu datang karena pada saat itu ada salah satu di antara kita atau beberapa orang dari kita telah kehilangan ilmu untuk beberapa saat, namun tetap menganggap dirinya berilmu.

Bila meyakini ilmu adalah cahaya, maka orang yang bersama ilmu adalah orang yang bersama cahaya. Dalam terangan cahaya, prasangkanya yang gelap takkan mendapatkan tempat. Dalam naungan cahaya, kekejian takkan tampil sebagai kebugilan. Dalam sinar cahaya, kemaksiatan takkan dapat tempat. Karena dengan adanya cahaya semua yang gelap menjadi terang, semua yang abu-abu menjadi jelas. Cahaya adalah penuntun jalan bagi manusia untuk kemaslahatan. Tanpa cahaya, kita hanya bisa meraba dan menerka. Tanpa cahaya, kita akan kehilangan arah.

Mencari cahaya adalah jihad kita sebagai manusia. Karena hanya dalam cahayalah kita mampu berjalan ke jalan yang lurus. 

Tuhan, lapangkanlah dada kami agar siap menerima ilmu, agar lekas memahami ilmu. Supaya siap menerima cahaya.

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-23 Jumat, 15 Maret 2019/08 Rajab 1440 H

Author: Nur Hayati Aida

ABOUT THE AUTHOR

Nur Hayati Aida

Santriwati, dari Jepara


COMMENTS