Nadia

Dalam menjalani keseharian biasanya kita telah melakukan hal-hal yang direncanakan atau disusun sedemikian rupa. Seperti, “Aku akan ke pasar besok untuk membeli garam”, atau “Jam 12.30 ngampus tapi akan datang lebih awal agar bisa salin tugas teman, heheheh…”. Banyak hal yang telah menjadi rutinitas keseharian kita. Tak jarang berarti sering, sebab padatnya rutinitas (duniawi) menjadikan kita sering lupa dengan hal-hal yang penting atau wajib (akhirat), tapi apakah kita “tidak tahu?”, “kurang tahu?”, atau “tahu tapi tahu itu dimanipulasi oleh kita sendiri?”

Menipu Tuhan! Pernyataan ini tentu membuat banyak pertanyaan dalam benak kita: masa iya menipu Tuhan, Tuhan kan Maha Melihat. Mungkin kita tidak sadar saat melakukan kesalahan atau hal-hal negatif, tapi lagi-lagi kita akan memuluskan semua itu dengan memanipulasi pikiran kita sendiri.

Tentunya tindak manipulasi itu datang dari dalam diri sendiri, atau bisa jadi terhasut bujuk orang lain. Datang dari diri sendiri ini jelas, karena apa yang kita pikirkan dan lakukan merupakan bagian alam sadar. Hanya saja hal-hal yang belum kita ketahui bahwa itu buruk dan kita melakukannya. Namun yang dimaksud di sini adalah yang telah kita ketahui buruknya namun kita masih melakukannya. Banyak versi alasan yang datang dari pikiran sendiri yang seolah-olah menjadikannya boleh, atau malah benar, tak masalah. Dengan pikiran kita sendiri menjustifikasi apa yang kita perbuat dan lakukan. Lebih parahnya kita juga memberitahukan itu kepada orang lain.

Menipu dengan memanipulasi perbuatan atau pikiran biasanya diketahui, setidaknya dari frasa yang terlontar. Sebagai contoh terlontar kata-kata, “Tapikan…”, “Allah kan Maha Pengasih”, “Tidak apa-apa, yang pentingkan…” atau “Ya udah ntar aja tobatnya…” dan masih banyak lagi ungkapan andalan untuk memuluskan keinginan diri.

Misalnya pada masa-masa kampanye, mafhum terjadi kampanye ilegal yaitu para calon memberi uang kepada masyarakat atau individu pemilih. Ketika masyarakat atau individu tersebut diingatkan bahwa menerima uang kampaye itu tidak boleh karena itu termasuk uang haram, tapi yang saya temui mereka malah menjawab, “Iya kami juga tahu, tapi kan yang penting kita tidak minta, Allah juga tahu itu.” Hmmm…

Contoh selanjutnya yang paling popular dikalangan muda-mudi zaman sekarang soal pacarana. Meskipun sudah dan telah dijelaskan bahwa pacaran itu mendekati “zina”, tapi para muda-mudi akan berpikir mencari alasan yang membenarkan dan memuluskan keinginannya itu. Misalnya mereka akan menemukan alasan baru dengan mengatakan, “Kami pacaran baik-baik kok, hanya chattingan di WhatsApp, kalau ketemu saling tunduk-tundukkan pandangan”, atau “Oh, yang dilarang agama itu kan kalau pacaran yang menjurus ke hal-hal negatif, tapi kalau kita tetap menjaga jarak kok untuk saling mengenal. Nah, terus kalau enggak serasi, iya tinggal putus, hehehe…” Ya, itu hanya sekedar contoh yang paling sedikit dan yang paling sederhana. Masih banyak lagi yang kita sengajakan atau kita manipulasi demi keinginan diri sendiri.

Kita melakukan hal itu (memanipulasi diri) seakan ingin menunjukan kepada Allah SWT, bahwa yang kita lakukan itu selalu benar. Ah, jangan jauh-jauh sampai membawa nama Tuhan, kita sadari betul-betul sendiri saja, kalau sebetulnya kita sedang bertindak memanipulasi diri demi membenarkan tindakan kita sendiri juga. Akal kita peralat buat membenarkan segala pikiran dan tindakan. Demikianlah manusia cenderung kuat akan membenarkan isi kepalanya untuk keinginan dirinya sendiri.

Author: Nadia

ABOUT THE AUTHOR

Nadia

Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Buton, asal Kota Baubau


COMMENTS