Apa pun yang dilakukan kekasih tercinta akan selalu dicinta—Ibnu Arabi.

Cinta, lima huruf yang dapat menjadikan seseorang menjadi apa dan siapa saja. Cinta ibarat magnet. Kekuatannya dapat menarik logam yang ada disekitarnya. Karena cinta, orang saling membenci, berkelahi, mengadu domba. Karena cinta, yang jauh jadi dekat, yang dekat menjadi jauh. Karena cinta, orang dapat menyakiti dirinya sendiri. Dengan kekuatan cinta pula mengantarkan para pecinta pada duka nestapa. Begitulah dahsyatnya kekuatan cinta.

Seseorang yang konsisten dalam mencintai sesuatu, maka ia akan selalu bersama dengan sesuatu itu pada setiap keadaan. Sesuai kutipan Ibnu Arabi di atas, seorang pecinta sejati akan mengatakan, “Apa pun yang dilakukan kekasih tercinta akan selalu dicinta”. Demikianlah bila seseorang dimabuk cinta, konsistensi dalam rasa cinta. Kemana dia memandang, yang dilihat adalah dia yang dicintai. Ketika berucap, tak lain yang terucap adalah nama orang yang dicintai. Semua tentang dia. Ketika cinta telah mengepung, kata-kata puitis pun akan mengapung di permukaan, puisi-puisi tercipta untuk mengungkapkan perasaan sang pecinta.

Kisah Layla Majnun adalah sebuah alegori cinta ilahiat. Sebuah roman yang ditulis oleh seorang sastrawan kelahiran Ganja, Azerbaijan, Nizami Ganjavi. Kisah ini merupakan simbolisme dari cinta ketuhanan di mana hakikatnya adalah untuk menarik orang untuk mencintai Allah lewat roman.

Dari roman Layla Majnun dipakai sebagai lambang (ibarat atau kias) perikehidupan manusia yang sebenarnya untuk mendidik (akhlak) ataupun menerangkan perihal cinta yang ilahiat lewat jalan cinta antar manusia. Seperti kata Ibnu Arabi, untuk mengenal Allah, mencintai antar manusia adalah penghubungnya. Ia merupakan tangga untuk bisa berkenalan dengan Allah yaitu berkenalan dulu dengan mahkluk yang diciptakan-Nya, “Sesungguhnya cinta tulus antar manusia adalah awal perjalanan menuju pengenalan kepada Tuhan, memasuki pengalaman mencintai-Nya dan limpahan anugerah dan kemurahan-Nya.”

Setidaknya kita pernah mendapati seseorang sedang jatuh cinta. Tapi jatuh cinta yang romantik ala-ala sinetron. Padahal jatuh cinta itu butuh latihan, ada seninya. Latihanlah mencintai biar hati lembut, atau menjadi halus. Mencintai tak harus kepada lawan jenis, tapi bisa kepada teman, mencintai saudara, orangtua, alam, hewan dan seterusnya.

Apalagi pada suasana sekarang menjelang Pilpres 2019, April mendatang, yang awalnya kawan bisa jadi lawan. Apa yang melanda adalah krisis cinta, hati jadi keras, yang keluar adalah makian, kasar. Satu-satunya yang dapat melembutkan hati adalah mencintai. Tapi jangan tunggu dicintai dulu, melainkan seperti kata Erich Fromm, mulailah mencintai. Sebab cinta itu memberi bukan menerima. Bila tak mampu memberi cinta, bisa jadi sedang terjangkit ketidakmampuan menghasilkan cinta.

Dikisahkan Layla adalah pemudi cantik bermata indah, berambut hitam pekat seperti malam. Qays (karena sangking cintanya jadi Majnun) pemuda yang tampan, dan rupawan. Mereka adalah sama-sama anak orang terpandang, bangsawan yang dihormati dan disegani. Dipertemukan disebuah sekolah yang sama, sekolah elit, unggulan. Layla dikenal kecantikannya. Qays dikenal ketampanannya. Kemudian keduanya saling jatuh hati. Namun, cinta keduanya mendapat halangan, terutama dari ayah Layla. Sebab, mereka masih sekolah, daripada timbul fitnah dan mencemarkan nama baik keluarga, akhirnya ayah Layla menyuruhnya berhenti sekolah saja. Sejak saat itu mereka tak lagi bertemu. Babak pertama dimulai.

Qays mulai menjadi Majnun (gila). Ia tidak lagi dapat menemui pujaan hatinya, begitu pun sebaliknya. Karena itu, syair-syair Majnun mulai mengalir seperti air. Selain sudah pintar membuat syair, ditambah lagi pada saat-saat seperti ini, kemampuannya mencipta syair semakin terasah. Rintihan dan ratapannya diungkapkan lewat syair. Simak berikut ini.

//… Wahai Layla, cinta telah membuatku lemah tak berdaya // seperti anak hilang jauh dari kelurga dan tidak memiliki apa-apa // Cinta laksana air yang menetes menimpa bebatuan // Waktu berlalu dan bebatuan itu akan hancur berkepingan // berserak bagai kaca berpecahan // begitulah cinta yang kau bawa padaku // dan kini telah hancur binasa hatiku // hingga orang-orang memanggilku si gila yang suka merintih dan menangis pedih // Mereka mengatakan aku telah tersesat // Duhai, mana mungkin cinta akan menyesatkan // Jiwa mereka sebenarnya kering, laksana dedaunan // Diterpa panas mentari siang // Bagiku cinta adalah keindahan // yang membuat mata tak bisa terpejam // pemuda mana yang bisa selamat dari api cinta //

Seperti langit mendung, hati Majnun yang awalnya cerah sekarang berubah menjadi berkabut dikerubungi awan hitam. Cintanya pada Layla dipasung oleh orang di luar dirinya, ditentang orangtuanya. Kata Majnun, “Mereka menganggap cinta adalah dosa. Cinta bagi mereka adalah noda yang harus dibasuh”. “Padahal”, lanjut Majnun, “cinta telah masuk ke dalam sanubari tanpa kami undang. Bagai ilham dari langit yang datang menerjang. Lalu bersemayam dalam jiwa. Dan kini kami akan mati karenanya karena cinta telah melilit seluruh jiwa. Katakan padaku, siapa orangnya yang bisa bebas dari penyakit cinta?”

Majnun tak dapat berbuat apa-apa selain menumpahkan air mata dan menggoreskan tinta diujung kertas merangkai kata-kata yang membuat setiap orang yang membaca turut larut dalam kesedihannya.

Ke mana-mana yang keluar dari mulut Majnun adalah Layla, Layla, dan Layla. Bagaimana tidak, dipisahkan saat lagi cinta sepenuhnya. Lihatlah, dihadapan cinta, logika patah berkeping-keping. Ini sebenarnya Nizami sedang memberi gambaran bahwa jika seseorang sedang jatuh cinta dengan Allah, maka akan keluar secara otomatis dari mulutnya nama Allah. Sengaja atau tidak, pasti akan keluar nama Allah. Kalau dihatinya telah tumbuh nama Allah, tidak bisa dipaksa. Pondasinya adalah cinta. Kalau sudah cinta, tidak perlu dipaksa, otomatis nama Allah akan keluar ketika cinta ada dalam diri. Inilah kenapa latihan jatuh cinta itu perlu, agar diri paham bahwa ternyata seperti ini cinta itu.

Lain kesempatan Layla membalas surat Majnun, “Semua yang tampak dari manusia adalah kebencian, namun cinta telah memberikan kekuatan. Orang-orang mencemooh hubungan kita. Sesungguhnya mereka tidak tahu betapa kerinduan yang tersimpan di dalam dada.

Begitulah cinta. Seseorang tidak akan bisa menipu dirinya ketika ia sedang jatuh cinta. Mungkin ia bisa menipu banyak orang, tapi tidak untuk dirinya. Kata Kahlil Gibran, seorang penyair dari Lebanon, “Pasrahlah! Ketika cinta telah memanggilmu.

Berbagai cara dilakukan Majnun agar dapat bertemu dengan Layla. Pernah ia menyamar sebagai pelayan perempuan, untuk sekedar bertemu atau sedekar menatap Layla. Namun, aksinya ketahuan, Majnun diusir, lalu pergi. Tak berhenti di situ, Majnun kembali menyamar. Kali ini jadi pengemis. Melalui syairnya, Majnun mengungkapkan betapa besar bahaya yang ia undang, demi bertemu dengan Layla. Majnun mengorbankan segala yang ada padanya, merubah dirinya, penampilannya hingga Layla pun tak mengenali dengan segenap tetes air mata yang menyertai. Setelah berjalan di perkampungan, Majnun membuang semua tanda didirinya agar tak ada orang yang mengenali. Bagai budak hina, ia berjalan menengadahkan tangan meminta sedekah. Bocah-bocah tak sudi melihatnya. Mereka berkumpul mengelilingi Majnun, menghardik dan melempari seperti anjing.

Lelah melihat penderitaan anaknya yang saban hari saban murung, ayah Majnun datang ke rumah Layla, meminta kepada orangtua Layla agar Majnun dan Layla ini menikah. Tapi sayang, lamarannya ditolak. Kata ayah Layla, “Siapa saja boleh menikahi anak saya, kecuali putra Anda.” Ayah Layla tidak mau menikahkan anaknya dengan orang gila, tidak waras seperti Majnun. Meskipun ayah Layla sangat paham sekali kegilaan Majnun adalah karena kecintaan yang teramat dalam kepada putrinya.

Majnun yang tadinya senang mau dilamarkan dengan Layla, kembali lagi harus menelan kecewa sehingga kegilaannya semakin parah. Namun, Majnun dalam syairnya berkata bahwa ia akan senantiasa berada di sisi Layla. Majnun berdoa semoga kasih sayang Allah dilimpahkan kepada Layla.

Majnun percaya bahwa cinta akan memberinya hidup karena kesedihan, patah hati itu lah yang memberinya hidup lewat kenangan-kenangan, memori-memori yang telah dilewati. Cinta itu sakit, tapi ngangeni. Ibaratnya, cinta itu candu. Meskipun sudah disakiti, dikecewakan, sakit, tapi ya tetap cinta. Dunia ini ada karena cinta. Demikianlah adanya cinta.

Cinta di dadaku bukanlah untuk rumah, tapi cinta di dadaku adalah untuk siapa yang ada di dalamnya.” Syair ini yang sangat terkenal dari Majnun. Majnun mendatangi rumah Layla saat suasana rumah sepi dan menciumi dinding-dinding rumah. Dengan melakukan itu setidaknya sudah dapat mengobati rasa rindunya terhadap Layla.

Ayah Majnun berusaha untuk menghiburnya, dicarikan perempuan-perempuan cantik, dibuatkan pesta setiap malam, tapi Majnun tidak mau, yang dia ingat hanya Layla. Kemudian Ayah Majnun mengajaknya naik haji ke Mekkah. Dalam bayangan ayahnya, Majnun berdoa untuk melupakan Layla, sebab di Mekkah doa-doa biasanya dikabulkan. Saat menjalankan ritual haji, tiba-tiba ada orang yang mengucapkan kata Layla. Hati Majnun kembali diguncang duka. Majnun kumat lagi. Doa yang diharapkan ayahnya yang akan mendaras di hadapan Kakbah untuk melupakan Layla malah berbanding terbalik. Majnun semakin lantang berdoa agar cintanya dengan pujaan hati dapat dipersatukan dalam sebuah tali pernikahan.

… Aku mencintai Layla, namun halangan menghadangku untuk bertandang. Aku menyayanginya dan tidak bisa berpaling dari selain dia. Bagaimana bisa aku bisa berpaling darinya, sedang hatiku telah tergadai padanya. Aku bertaubat padamu Rabbi karena kepadamu jua aku kembali. Wahai Raja Diraja para pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta ini, aku hanya memohon kepadamu satu hal saja, tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku akan tetap hidup.

Majnun memanjatkan doa tersebut di depan Kakbah dengan bergelimang air mata.

Majnun terus mendaras doanya, “Ya, Allah, tambahkanlah kerinduan dan kecintaanku padanya. Seandainya semakin berkurang umurku karena cinta maka tambahlah umurnya, Layla. Wahai Tuhan, tambahkanlah cintaku kepada Layla dan jangan membuatku lupa untuk mengingatnya selamanya.” Doa ini diafiliasikan oleh Nizami bukan pada orang, manusia, tapi pada Allah. Meminta kepada Allah agar jatuh cinta pada-Nya, dianugerahi rasa cinta pada Allah, cinta ilahiat.

Takdir tak berbanding lurus dengan kenyataan yang diterima oleh Majnun. Layla dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan lelaki tua. Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Majnun saat mengetahui Layla akan menikah.

Wahai dunia, begitukah balasanmu pada pecinta yang tulus ini? Begitukah balasan yang aku terima dari kesetiaan dan pengorbananku? Kemarin aku merasa senang karena bayang-bayang Layla masih hadir dalam mimpiku. Namun kini, bayangan itu pun engkau renggut. Apalagi yang aku miliki sekarang?” Hati Majnun merasa tercabik-cabik. Ia merasa apa yang telah ia usahakan selama ini sia-sia, termasuk doa-doa yang selalu dirapalkan tiada henti.

Layla terpaksa menikah, lebih tepatnya dipaksa. Saat Majnun mengetahui pernikahan Layla, ia pingsan berhari-hari dan semakin mengalir syair-syair kesedihannya. Layla dan Majnun sama-sama tertekan, terutama Layla, “… Kini aku menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan padaku kekasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk cinta, engkau atau aku?

Namun, selama pernikahannya, Layla tak pernah disentuh oleh suaminya karena memang Layla tidak mau menyerahkan tubuhnya pada si suami. Bahkan hingga suaminya meninggal. Setelah itu kondisinya menurun drastis, sakit-sakitan. Sebelum meninggal, Layla berpesan kepada ibunya.

Sebelum aku pulang esok atau lusa, bila mana aku mati, kenakan aku baju pengantin yang paling bagus. Jangan bungkus aku dengan kain kafan. Carilah kain berwarna merah muda, bagai darah segar sorang syahid. Lalu riaslah wajah dan tubuhku secantik mungkin bagaikan pengantin yang paling cantik seluruh bumi. Alis Majnun dan bulu mataku ambillah dari debu yang melekat di kaki kekasihku. Dan jangan usapkan ke tubuhku minyak wangi kasturi atau minyak wangi apa pun. Usaplah dengan air mata Majnun, kekasihku. Wahai ibu, katakan pada pengembara yang selalu diliputi kesengsaraan itu, semua sudah usai. Layla, sahabatnya yang dalam kesedihan itu sekarang sudah tiada. Ia telah bebas dari belenggu duniawi. Hatinya hanya diberikan kepadamu dan dia mati untukmu.

Ini pesan terakhir Layla untuk ibunya, lalu dia meninggal dunia, meninggalkan segala kesakitan.

Dapat dibayangkan bagaimana kondisi Majnun. Ia kembali tumbang berhari-hari. Setelah itu ia berlari ke makam Layla dan tidak kemana-mana lagi, menghabiskan waktu bersama pusara kekasihnya itu. Pada akhirnya, Majnun meninggal memeluk makam kekasihnya tersebut.

Nizami menutup ceritanya ini dengan menghadirkan salah satu sufi, di mana sufi tersebut bermimpi. Dalam mimpi itu Majnun bertemu dengan Allah. “Wahai Majnun,” sapa Allah, “Kenapa kamu menyebut namaku dengan Layla di dunia?

Jadi sebenarnya ini adalah kisah tentang cinta ilahiat. Cinta kepada Tuhan yang sudah sangat mendalam. Inilah yang membuat para sufi mabuk Allah, yang membuat para sufi ketika berada dipuncak kenikmatan cinta yang keluar dari mulutnya hanya Allah. Sungguh, Nizami membungkus ceritanya dengan apik. Semoga kita termasuk orang-orang yang terus mencintai dan memberi cinta, terutama terus latihan mencintai Allah.

Author: Silmi Novita Nurman

ABOUT THE AUTHOR

Silmi Novita Nurman

@moratorium_senja


COMMENTS