Azis Ahmad

“Ustaz, bagaimana hukumnya salat di kamar mandi?” tanyaku pada sesi tanya-jawab setelah mauidzoh hasanah. Ustadz kondang yang didatangkan dari Indonesia itu seperti kaget mendengarnya. Mungkin dikiranya aku bergurau atau mengetes wawasan keilmuannya.

Tidak! Aku serius menanyakan itu. Harap maklum, aku hanya seorang TKI biasa di Hongkong, bekerja sebagai buruh rumah tangga. Mengajiku ya hanya sekadar alif ba ta seperti yang pernah diajarkan guru ngaji di kampung sewaktu kecil dulu. Meski tidak tahu banyak hal perkara agama, aku ingin menunaikan kewajiban salat lima waktu. Hanya itu bekal untuk akhiratku nanti.

Hatiku dag-dig-dug menanti jawaban. Sudah lima tahun aku hidup di negeri orang. Selama itu pula kutunaikan kewajiban salat dengan menggelar sajadah di kamar mandi. Hanya ini yang bisa kulakukan. Sebab, entah kenapa, majikanku tidak membolehkan aku untuk salat. Dia mengancam akan mengusirku jika mendapatiku menjalankan ibadah wajib itu. Lha bagaimana lagi? Masjid juga sulit ditemukan di negara ini. Kalau aku dipecat atau diusir bagaimana nanti aku bisa menafkahi anak dan istriku di Indonesia sana? Untuk itu, aku secara diam-diam mendirikan salat di dalam kamar mandi.

Sang ustaz mengarahkan pandangannya kepadaku. Dia balik bertanya.

“Lha kenapa harus salat di kamar mandi, Pak?”

“Majikan saya galak, ustaz. Kalau saya sampai ketahuan melaksanakan salat saya akan dipecat” jawabku. 

Ustaz itu berkata menimpali, “Tidak masalah, Pak. Asal kamar mandinya dalam keadaan suci.”

Mataku berkaca-kaca mendengar jawaban itu. Sebagai seorang TKI yang tidak tahu banyak tentang ajaran agama Islam, jawaban itu melegakan hati. Semoga saja salatku selama ini tidak sia-sia, diterima sebagai laku pengabdian kepada sang Pencipta.

Waktu kuceritakan kisahku ini, ustaz itu seperti terharu melihatku. Terkadang aku berpikir betapa nikmatnya menjadi muslim yang hidup di negeri asalku, Indonesia. Di sana masjid  berdiri di mana-mana. Pengajian, mulai dari rutinan malam Jumat, acara selapanan, dan hari-hari besar keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi, Isra Mikraj dan lain sebagainya. Kajian keagamaan seperti selalu ada setiap hari. Di masjid, bahkan di mall bisa menjadi tempat pengajian. Sedangkan di sini, untuk mengikuti pengajian seperti ini saja para TKI harus mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit. Kami harus iuran untuk membayar gedung, sound system, dan juga transportasi untuk ustaz yang didatangkan jauh dari Indonesia.

Kisahku ini hanya sebagian kecil dari kisah kehidupan muslim di luar negeri. Tidak semuanya mengalami nasib seperti yang kualami. Tentu banyak juga majikan berhati baik yang membolehkan pembantunya yang muslim untuk melaksanakan ritual keagamaannya.

Dari pengalaman hidupku ini, aku hanya ingin mengatakan bahwa menjadi muslim di Indonesia adalah suatu keberuntungan. Di sana, di Indonesia, mereka dapat dengan leluasa menjalankan kewajiban agamanya, bisa salat berjamaah setiap saat, bisa berkonsultasi dengan banyak kiai, dan tidak mengalami sikap diskriminasi seperti yang dialami banyak muslim di luar negeri. Sungguh sangat ironis jika mereka yang tinggal di Indonesia tidak mensyukuri itu atau justru dengan leluasa meninggalkan kewajiban-kewajiban agamanya.

Cerita teman di negara lain

Pernah juga kudengar cerita dari kawan. Katanya, muslim di Yunani, tepatnya di Athena sampai saat ini belum memiliki bangunan masjid. Ya, masjid dalam pengertian memiliki menara, ada kubahnya, pengeras suara seperti di seantero Indonesia itu. Pihak pemerintah Yunani juga tidak berani mendirikan masjid untuk umat Islam di sana.  Bagi sebagian masyarakat Yunani, masjid dianggap sebagai simbol Turki Usmani yang pernah menguasai Yunani selama beberapa abad. Jika sampai ada masjid yang berdiri, itu berarti mereka telah mengkhianati para pahlawan Yunani yang berjuang mengusir Turki Usmani.

Dalam hati aku bertanya, jika masjid saja tidak ada bagaimana mereka mengekspresikan agamanya? Bukankah agama itu untuk dirayakan? Diekspresikan bersama dalam ritual-ritual keagamaan tertentu? Entah tahlilan, lomba hadhroh, MTQ, dan silahkan diisi sendiri perayaan-perayaan keagamaan lainnya. Dan yang tidak kalah pentingnya, bagaimana generasi muda Islam di Yunani itu dapat mempelajari agamanya? Ini berbeda jauh dengan di negeriku sana. Di Indonesia, masjid megah berdiri di mana-mana, mulai inisiatif pemerintah daerah sampai pengusaha yang ingin wakaf untuk bekal akhiratnya. Sekolah Islam juga begitu. Mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, dan pesantren menjamur di mana-mana. Ormas-ormas Islam juga dengan leluasa dapat mengekspresikan corak keislamannya selama tidak melanggar konstitusi negara.

Hmm… Kupikir tidak ada negara yang menjamin umatnya dalam beragama sebebas dan senikmat di Indonesia. Masihkah saudara-saudaraku umat Islam Indonesia mensyukuri semua itu? Semoga demikian. Di sini aku merindukan kembali ke negara asalku, negeri dimana aku bisa dengan leluasa menunaikan kewajibanku. Negeri dimana Islam tumbuh subur dalam kebudayaan, bermesraan dengan ragam perbedaan, dan seiring sejalan dengan semangat kebangsaan. Aku ingin segera pulang.

 

Catatan: Tulisan ini terinspirasi saat saya mentranskrip wawancara penelitian dosen UIN Sunan Kalijaga di 4 negara di Uni Eropa dan satu wawancara dengan seorang ustaz di Solo tahun 2014 lalu.

Author: Azis Ahmad

ABOUT THE AUTHOR

Azis Ahmad

Founder @kedai_sayuran


COMMENTS