kredit foto: pulifusutokin.funkiskoket.com

“Dasar kekanak-kanakan!”. Barangkali justifikasi seperti tersebut telah begitu familiar kita dengar. Kekanak-kanakan biasanya mengacu pada definisi sifat yang ditampakkan berada di bawah level usianya. Setiap kita agaknya pernah melontarkan maupun menerima penilaian itu.

Fenomena orang kekanak-kanakan ini bukanlah hal baru. Psikolog Jim Ward Nichols dari Stevens Institute of Technology Amerika Serikat mempopulerkan istilah kidult yang merupakan gabungan dari kata kid dan adult. Di Amerika Serikat, fenomena kidult sebenarnya telah terdeteksi sejak tahun 1960-an, malahan semakin marak pada era 1980-an. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan masyarakat usia 20-an tahun yang masih menikmati masa anak-anak baik secara penampilan, gaya hidup, maupun pemikiran.

Contoh fenomena pada masa itu adalah laki-laki dewasa yang masih kecanduan main PlayStation atau perempuan dewasa tapi masih senang mengenakan blus renda yang berpita. Agaknya juga terjadi di Indonesia pada masa sekarang yaitu ketakutan untuk menikah karena enggan memikul tanggung jawab besar dalam rumah tangga. Mereka menolak dewasa sebab masih ingin menikmati zona nyaman sebagai anak-anak dengan lebih sedikit tanggung jawab.

Kenyataan tersebut ternyata turut dirasakan di Australia. Kalangan masyarakat usia 25 tahun ke atas menunda menikah, punya anak, membeli rumah, dan memilih travelling keliling dunia. Mereka juga memandang karier dan relationship sebagai ajang coba–coba, membelanjakan uang tanpa perencanaan yang matang. Kidult juga telah menjangkiti masyarakat di berbagai negara, seperti Inggris, Jerman, sampai Jepang. Sebab itu terdapat bermacam-macam istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi demikian selain kidult. Antara lain adalah middlescent, middle-youth, adultscent, peterpans, grups (grow–ups), kippers, nesthockers, mammones, dan freeters.

Lantas kita bertanya-tanya apakah ada ukuran kepribadian ideal manusia berdasarkan umur? Ataukah mengukur kepribadian itu hanya dengan perkiraan dan berdasarkan keumuman saja? Psikolog sekaligus filsuf Gordon Allport (1897-1967) punya gagasan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun sebelum membahas teori-teorinya, mari kita berkenalan dulu dengan sosok psikolog asal Amerika Serikat ini.

Nama lengkapnya adalah Gordon Willard Allport. Ia lahir pada 11 November 1897 di Montezuna, Indiana. Allport telah menyukai filsafat sejak kecil. Ia sendiri terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga kehidupan sosialnya agak terganggu (soliter). Allport mengembangkan teori psychology of the individual (keunikan individu). Kata Allport, setiap orang istimewa, maka jangan menggeneralisasi. Setiap orang punya kekhususan masing-masing, maka ketika kita melihat individu secara umum sering kali menjadi tidak akurat. Apa yang perlu dilakukan adalah melihat individu per individu.

Tadinya Allport mengidolakan Sigmund Freud, tapi kemudian menentang gagasan psikoanalisis Freud yang terlalu sibuk pada bawah sadar. Menurut Allport, manusia digerakkan bukan oleh masa lalu yang kemudian membentuk alam bawah sadar, tapi digerakkan oleh orientasi masa depan. Kita hidup demi target masa depan sehingga kesadaran kita mengarah pada masa depan.

“Manusia sibuk mengarahkan hidupnya untuk masa depan, sementara psikologi pada banyak bagian sibuk mengulik masa lalu. Untuk memahami seperti apa seseorang, perlu dilihat ingin jadi apa dia di masa depan, setiap perilaku/pernyataan akan mengarah pada kemungkinan masa depan”, tutur Allport dalam Becoming: Basic Consideratios for a Psychology of Personality (1964).

Allport adalah seorang yang reflektif sekaligus eklektik (menginginkan yang terbaik). Tak heran kirannya ia sampai merevisi definisi mengenai kepribadian hingga 49 kali! Menurut Allport, ada empat unsur pembangun kepribadian, berdasarkan definisi terakhir yang dia kemukakan.

Pertama, organisasi dinamis yang berarti kepribadian merupakan suatu struktur diri yang bisa berubah dan berkembang sebagai penyesuaian terhadap lingkungan. Misalnya, dulu rajin tapi sekarang malas, dulu sangat berani sekarang menjadi agak penakut. Kedua, sistem psikofisik yang bisa dimaknai bahwa kepribadian adalah keutuhan lahir dan batin, alias paket utuh mental dan fisik. Maksudnya, jika dalam batinnya rajin, maka lahirnya juga rajin. Jika seseorang bilang jatuh cinta tapi kenyataannya tidak peduli, tandanya ada yang bermasalah antara fisik dan batin. Ketiga, determinasi yaitu bagian diri yang menentukan apa yang dilakukan dan yang tidak dilakukan. Keempat, unik/khas yaitu menandai bahwa setiap orang pasti berbeda dan punya keunikan sendiri-sendiri.

Pesan Allport, jika ingin melihat kepribadian seseorang, maka lihatlah secara utuh tindakan-tindakannya yang khas.

Sekarang kita masuk pada perkembangan kepribadian manusia. Berdasar pemaparan Fahruddin Faiz pada kesempatan Ngaji Filsafat edisi Kepribadian Gordon Allport (12/12), perkembangan kepribadian dibagi menjadi lima.

Pertama, usia 0-3 tahun. Pada level ini ada tiga jenis ego yang muncul. Pertama, sense of bodily self yaitu kesadaran tentang fisik. Misalnya menyadari mana tangannya, wajahnya, kakinya. Kedua, sense of continuing self identity atau kesadaran identitas diri yang berkesinambungan, yaitu sadar bahwa dirinya pada usia 1 tahun tak berbeda dengan dirinya saat berusia 2 tahun dan masih sama dengan dirinya saat usia 3 tahun. Ketiga, self esteem yaitu kebanggaan bahwa dirinya ada dan mampu berbuat sesuatu. Seseorang yang egonya terlalu tinggi, menganggap hanya dirinya yang ada, dunia sekitar hanya mengurusi dirinya, maka terdeteksi dengan sangat jelas bahwa level kepribadiannya masih bayi. Tandanya dia masih perlu dimomong atau diarahkan.

Kedua, usia 4-6 tahun. Di level ini seseorang punya dua jenis ego yaitu extension of self (kesadaran akan adanya objek/orang lain) dan self image (kesadaran tentang gambaran diri). Pada level extension of self, seseorang sudah mengerti tentang mainannya, sosok ayah, babysitter, dan seterusnya. Pada level self image, seseorang memiliki sosok ideal yang dibanggakan, misalnya superhero.

Ketiga, usia 6-12 tahun. Pada level ini seseorang punya ego bernama self as rational cooper yaitu kesadaran berpikir rasional untuk memecahkan masalah. Mulai memahami dirinya secara realistis. Akal mulai berjalan menuju sempurna, sehingga sudah bisa diberikan pelajaran maupun masalah.

Keempat, usia remaja. Pada level ini seseorang punya ego propriate striving, yang artinya sudah bisa berpikir secara jangka panjang atau membuat perencanaan. Seseorang mulai punya gambaran “ke depan mau jadi apa”. Berbeda dengan level anak-anak yang bisa menyebut secara spesifik cita-citanya namun tidak disertai pertimbangan tentang mudah atau sulit cara menuju dan mewujudkannya. Seseorang di level remaja sudah bisa mengukur untuk menuju ke suatu cita-cita harus melalui apa saja. Pada usia ini seseorang juga mulai berpikir untuk pacaran karena sadar ke depan dirinya ingin berkeluarga.

Kelima, usia dewasa. Inilah level sempurna karena telah memiliki ego bernama self as knower yaitu kesadaran utuh mengenai diri karena telah menjalani semua level ego. Di level ini, seseorang punya kebanggan pada diri, punya sosok yang diidolakan, namun bisa mengontrolnya secara rasional dan bertanggung jawab.

Selanjutnya, Allport juga memiliki konsep mengenai kepribadian yang sehat dan matang. Poin-poin berikut kiranya dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengukur diri.

Pertama, perluasan perasaan diri. Hal ini adalah lawan dari egois. Seseorang berada di titik sadar bahwa dirinya butuh orang lain dan lingkungan. Semakin luas pergaulan, wawasan, dan pengalaman, maka akan semakin baik. Seseorang telah menanggalkan keegoisan yang menganggap dunia harus datang padanya dan merasa diri sangat penting sehingga orang lain harus mengikutinya. Menganggap segalanya mesti berpusat pada diri sendiri adalah tanda mental kurang sehat.

Kedua, hubungan dengan orang lain hangat dan akrab. Seseorang berada di titik punya banyak sahabat dan tetap membuka diri agar bisa akrab dengan siapa saja. Ketiga, emosinya aman. Bukan berarti seseorang tidak boleh atau tidak bisa marah, kecewa, sedih. Namun segala bentuk emosi itu bisa dikontrol. Justru, tidak bisa marah, tersinggung, sedih, adalah pertanda ada yang salah.

Keempat, persepsinya realistis. Seseorang selalu melihat sesuatu secara objektif, tidak dikurangi dan dilebihkan. Orang yang realistis itu melihat kenyataan apa adanya, sehingga punya kecenderungan lebih bahagia. Kelima, punya keterampilan menyelesaikam masalah atau tugas. Orang yang merasa tak bisa apa-apa jiwanya cenderung gelisah.

Keenam, pemahaman diri. Semakin mengenali seperti apa diri sendiri, semakin mudah mengontrol diri. Ketujuh, punya filosofi hidup yang komprehensif. Hal ini bisa menjadi bekal masa depan. Semua orang punya filosofi hidup, tapi tidak semua orang menyadarinya. Maka yang perlu kita lakukan adalah sadari hal ini lalu jadikan itu kendaraan melangkah ke masa depan.

Allport juga membahas terkait orientasi religious sebagai bentuk komitmen mendalam atas agama yang adalah suatu tanda kematangan pribadi. Allport membaginya menjadi dua.

Pertama, orientasi religius ekstrinsik. Artinya menjalankan agama tapi untuk dilihat orang, untuk dikagumi orang, atau untuk menempati posisi dan jabatan tertentu, atau untuk tujuan lain di luar kebutuhan batin spiritual itu sendiri. Agama menjadi bungkus dan alat kepentingan di luar agama.

Kedua, orientasi religius intrinsik. Artinya sebagai pribadi tidak mengedepankan atribut keagamaan di hadapan banyak orang. Keyakinan spiritualnya menjadi bagian pribadinya, lebur dengan kepribadiannya, larut dalam percakapan dan tindakannya. Beribadah semata untuk memenuhi kehausannya akan pengenalan kepada Yang Mahakuasa, Khaliknya. Ia tidak peduli dengan penilaian orang lain, tidak mengincar apapun dengan ibadahnya itu, tulus lahir batin di hadapan Sang Pencipta. Kalaupun karena keberagamaannya ia menemui ancaman atau hambatan, ia tetap bersuka hati, dan meneguhkan keyakinannya akan pembelaan Yang Mahaagung. Pada akhirnya ia bergembira karena kebaikan dan kemurahan Tuhan di dalam perjalanan hidupnya, dan menikmati keakraban dengan-Nya dalam beragam peristiwa, besar maupun kecil.

Author: Ahada Ramadhana

ABOUT THE AUTHOR

Ahada Ramadhana

Asisten Redaktur di Akurat.co


COMMENTS