Dari tulisan Jalaluddin Rakhmat dalam buku Doa Bukan Lampu Aladin (2012) pada baris judul Berdoa dengan Rendah Hati (hlm. 43-48) berikut ini barangkali pas untuk kita baca pahami dalam konteks bermunajat kepada Allah. Rakhmat menceritakan tentang Sa’ad bin Waqqas, yang adalah sahabat Nabi Muhammad Saw. Ia berusia panjang sepeninggal Nabi Saw. Pada hari-hari terakhir hidupnya, ia buta dan tinggal di Makkah. Ia sering didatangi orang yang meminta berkah. Tidak semua orang ia berkati. Tapi orang yang diberkati selalu berhasil memperoleh hajatnya atau menyelesaikan urusannya.

Abdullah bin Sa’ad meriwayatkan kepada kita: “Aku mengunjungi dia. Ia selalu baik padaku dan selalu mendoakan aku. Karena aku anak yang selalu ingin tahu, aku bertanya kepadanya: Doa tuan untuk orang lain tampaknya selalu diijabah. Mengapa tuan tidak berdoa agar disembuhkan dari kebutaan tuan? Orang tua itu menjawab: Pasrah kepada kehendak Allah jauh lebih baik dari kenikmatan karena bisa melihat.” Pasrah kepada Allah adalah koentji.

Kisah dari khazanah Islam di atas dikutip oleh dokter Larry Dossey, sebelum ia mengutip perkembangan penelitian tentang efek doa bagi kesembuhan. Ia menyebut doa sebagai kata-kata yang menyembuhkan (the healing words). Berbagai penelitian kedokteran tentang efek doa dilaporkan Dossey dalam bukunya Healing Words: The Power of Prayer and the Practice of Medicine.

Meskipun Larry Dossey banyak mengutip kisah-kisah tentang kemujaraban doa untuk menyembuhkan penyakit, namun menurut Psikolog LeShan, “hanya sekitar 20% saja pasien yang sembuh karena doa”.

Kenapa begitu, bukankah Tuhan itu Maha Kuasa? Para ulama menjelaskan, doa bukan hanya melibatkan kekuasaan Tuhan yang menerima doa. Doa juga menyangkut sifat-sifat makhluk yang berdoa. Bisa jadi doa tidak dijawab bukan karena Tuhan tidak berkuasa, tapi karena pendoa tidak benar dalam berdoa. Doa gagal bukan karena doanya, tapi karena pendoanya, “not of praying but of the prayer”. Air mata yang bercucuran pun bukan menjadi takaran keterkabulan doa.

Sebab lain doa tidak terkabul, adalah karena kebijaksanaan Ilahi di dalamnya. Timnas Indonesia U-22 berdoa ketika melawan Timnas Vietnam U-22 pada Piala AFF U-22 2019, masing-masing berdoa untuk kemenangan tim yang dibela. Jika Tuhan mengabulkan keduanya, apa yang akan terjadi? Ada dua orang calon presiden. Jutaan pendukungnya berdoa agar jagoannya menang dalam pemilu, apa yang akan terjadi? Ratusan juta orang berdoa agar semuanya panjang umur. Bayangkan kalau semua doa itu diijabah? Dunia ini pasti kacau balau. Bumi akan penuh sesak, karena tidak satu pun orang mati. Kalau doa semua yang sakit dikabulkan, seluruh rumah sakit tutup, maka saya dan istri sebagai dokter musti balik kampung mengurusi sawit.

“Jika Tuhan mengabulkan semua doaku yang tolol sepanjang hidupku, aku tidak tahu di mana aku sekarang?” tulis novelis dari Irlandia, C.S Lewis. Kenang-kenanglah doa-doa kita dahulu, lalu betapa bijaknya Tuhan menempatkan kita pada keadaan kita saat ini. Karena itu berdoalah dengan rendah hati, seperti yang kita ucapkan dalam doa hajat: Tuhanku, jangan Engkau tinggalkan aku di sini dengan dosa kecuali Engkau ampuni, dengan aib kecuali Engkau tutupi, dengan rezeki kecuali Engkau luaskan, dengan penyakit kecuali Engkau sembuhkan. Penuhi keperluanku itu jika ia mendatangkan kebaikan kepadaku dan memperoleh rida-Mu!”

Ali ibn Abi Thalib menasehati kita semua lewat sebuah surat yang dikirim pada putranya Hasan: “Oleh karena itu, kemana saja Anda kehendaki, bukalah pintu-pintu nikmat-Nya dan biarlah hujan rahmat-Nya yang melimpah jatuh kepada Anda. Keterlambatan dalam penerimaan doa itu janganlah hendaknya mengecewakan Anda, karena anugerah doa sesuai dengan ukuran niat Anda. Kadang-kadang penerimaan doa tertunda dengan maksud agar menjadi suatu sumber ganjaran yang lebih besar kepada si peminta dan sumber dari pemberian-pemberian yang lebih baik kepada si pengharap. Kadang-kadang Anda meminta sesuatu tetapi tidak diberikan pada Anda, dan sesauatu yang lebih baik diberikan pada Anda di kemudian hari, atau sesuatu diambil dari Anda demi suatu kebaikan yang lebih besar bagi Anda, karena kadang-kadang Anda meminta sesuatu yang merugikan bagi Agama Anda apabila itu diberikan pada Anda. Oleh karena itu, permohonan Anda hendaklah untuk hal-hal yang keindahannya tetap langgeng dan bebannya harus tetap jauh dari Anda. Mengenai kekayaan, itu tak akan langgeng bagi Anda, dan Anda pun tidak diciptakan dan hidup untuk hal itu.” (Nahjul Balaghah surat no. 31, hal. 629).

Author: Arbangi Kadarusman

ABOUT THE AUTHOR

Arbangi Kadarusman

Pakne Aulia, tinggal di kota Empek-empek


COMMENTS