Menyaksikan video viral seorang siswa sekolah menengah di Gresik berinisial AA melecehkan dan menantang seorang guru bernama Nur Khalim di depan teman-teman sekelasnya, membuat saya sedih dan kecewa. Saya ngelus dada berkali-kali.

Terlepas dari ujung kasus ini—bersama kedua orang tuanya, AA sudah meminta maaf kepada sang guru setelah mediasi di kantor polisi—pengakuan AA sendiri, bahwa ia diprovokasi oleh teman-teman sekelasnya saat berbuat demikian itu, kasus ini tidak dengan sendirinya dilupakan begitu saja. Kasus semacam ini tidak pernah benar-benar selesai. Hilang satu tumbuh seribu. Pemecahan masalahnya pun kompleks.

Selain si anak sendiri, ada banyak komponen yang harus bertanggungjawab. Guru, sekolah, teman, lingkungan pergaulan, hingga keluarga yang dalam hal ini kedua orang tua turut memiliki andil dibaliknya. Saya akan lebih menyoroti peran keluarga, khususnya orang tua. Mengingat keluarga adalah lingkungan pertama yang menjadi tempat sekaligus pondasi untuk menempa karakter seorang anak. Pada dasarnya, keluarga yang paling bertanggungjawab.

Era sekarang tentu berbeda dengan zaman Orde Baru atau sebelumnya. Dulu, senakal-nakalnya anak, jarang ada yang berani melecehkan orang yang lebih tua, katakanlah kepada guru dan orang tua. Keadaan, lingkungan dan budaya zaman memang membentuk anak untuk menghormati orang yang lebih tua. Namun belakangan, di era digital yang dianggap modern dan maju ini, perkembangan karakter anak semakin sulit dikendalikan, khususnya ketika memasuki umur-umur pubertas atau saat menapaki jenjang pendidikan di sekolah menengah.

Kini hampir setiap siswa SMP dan SMA memiliki gadget. Mungkin ada yang tidak memiliki gadget, utamanya di daerah pedesaan, namun secara garis besar, pelajar di tingkat sekolah menengah, atas, atau bahkan masih duduk di bangku sekolah dasar, sudah tidak asing dengan platform-platform media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter dan Youtube. Sejak dini, anak-anak sekarang sudah mampu mengakses dunia. Welcome to generasi millennial!

Masifnya perkembangan teknologi ibarat mata pisau. Di sisi lain mampu membantu pekerjaan manusia, dan sisi buruknya mampu mereduksi kearifan-kearifan lokal dan rasa kemanusiaan. Melalui bantuan teknologi, kita mampu menuangkan kreativitas, berdagang hingga promosi. Melalui teknologi pula, mudah orang menghina orang lain dan menyebarkan kebencian. Di sini, kedewasaan mental menjadi salah satu faktor yang menentukan.

Kemajuan teknologi digital tidak bisa kita hambat. Pilihannya dua: ikut dan hanyut atau tinggalkan dan tertinggal. Pilihan yang paling umum adalah mengikuti arus zaman, tapi jangan sampai hanyut apalagi tenggelam. Dalam menghadapi kemajuan digital, yang terpenting adalah controlling. Di sinilah keluarga memegang peran penting. Orang tua selaku pemimpin dan teladan bagi keluarga harus mampu memberi pengertian tentang batasan-batasan perihal penggunaan gadget kepada anaknya. Mana yang boleh dan pantas bagi mereka. Mana yang terlarang dan harus dihindari. Tugas orang tua zaman now semakin berat, sebab selain harus mengarahkan ‘sisi digital’ anak, mereka juga dituntut mampu menjadi ‘teladan digital’ yang baik pula. Konsekuensinya, orang tua harus paham dan belajar tentang perkembangan digital, utamanya mengenai media sosial, agar mampu memberikan pendidikan digital yang baik untuk anak-anaknya.

Sekedar contoh keluarga era digital yang dianggap sukses dan boleh jadi sebagai role model saat ini salah satunya adalah keluarga Gen Halilintar. Dengan 11 anak, kedua orang tua Gen Halilintar menanamkan pendidikan karakter sekaligus pendidikan digital kepada anak-anaknya. Sejauh ini, tampak keluarga ini tergolong sukses. Sejak masih kecil, mereka dibiasakan mandiri dan melakukan pekerjaan rumah tanpa pembantu, mulai dari menyapu hingga memasak. Masing-masing anak mampu berbahasa Inggris sejak kecil dan dibebaskan melakukan sesuatu sesuai bakat yang digemarinya dengan tetap memberikan controlling terhadap mereka.

Bu Gen—sebagai ibu dari Gen Halilintar—menyatakan, di saat banyak orang tua di luar khawatir dengan dampak negatif dari gadget dan membatasi umur pemakaiannya, ia bersama suaminya justru mendorong dan membebaskan anak-anaknya menggunakan gadget untuk mengeksplorasi bakat dan daya kreativitasnya. Tentu saja dengan tetap memberikan pantauan, saran, masukan dan teladan. Terbukti, setiap anggota keluarga Gen Halilintar memiliki channel Youtube pribadi dan memperoleh jutaan subscribers. Pundi-pundi rupiah pun mengalir dengan sendirinya. Dari sini tampak bahwa Gen Halilintar memilih untuk tidak menghindari kemajuan teknologi dan bahkan mereka bisa memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sumber penghasilan.

Saya tidak mengatakan bahwa setiap keluarga harus menjadi seperti keluarga Gen Halilintar dan setiap orang tua harus menjadi seperti Pak Hali dan Bu Gen. Setidaknya kita mampu belajar banyak dari keluarga ini. Terutama sekali tentang digital parenting, yakni bagaimana orang tua harus memiliki pola dan strategi pengasuhan khusus terhadap kebiasaan anak menggunakan gadget alias perangkat digital. Orang tua zaman now setidaknya melek digital dan sadar bahwa zaman di mana anaknya hidup saat ini tidaklah serupa dengan zaman yang dilaluinya saat kecil dulu, zaman tatkala bermain layang-layang di sawah adalah puncak kemewahan.

Rasulullah Saw bersabda: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya. Karena mereka hidup di zaman mereka, bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.” Hadis ini boleh jadi tepat untuk dijadikan renungan oleh orang tua zaman now. Anak sekarang tidak bisa dipaksa dan ditekan. Orang tua dituntut untuk melunak namun tetap memberikan pengawasan dengan cara yang sesuai dengan zaman si anak, bukan dengan cara mereka saat dididik dan diawasi orang tuanya dulu.

Cara sederhana dalam memberikan pengawasan dan menanamkan pengertian yang paling mudah adalah dengan mewujudkan family time: sharing dan ngobrol ringan tentang kegiatan anak-anak, baik saat bersama temannya maupun di media sosial sembari menyisipkan nasihat dan mengingatkan tentang batas-batas kewajaran. Family time tidak harus menunggu libur sekolah dan tempat yang mewah. Sewaktu sarapan dan makan malam di meja makan atau ruang keluarga bisa disulap menjadi family time. Syaratnya hanya kesediaan orang tua untuk meluangkan waktu bagi anak-anaknya. Family time yang sehat dan interaktif tidak hanya membantu orang tua dalam memberikan controlling, namun juga media di mana anak-anak menyampaikan uneg-uneg mereka. Saya jadi teringat kalimat Don Corleone dalam film The Godfather: “Seseorang yang tidak menghabiskan waktu dengan keluarganya adalah seseorang yang tidak pantas diperjuangkan.”

Menjadi orang tua memang tidak pernah mudah, lebih-lebih di era digital seperti sekarang ini. Orang tua di era digital dituntut memberikan pengawasan yang lebih luas, sebab anak-anak mereka tidak hanya berinteraksi secara langsung di dunia nyata, melainkan juga di dunia maya. Di sisi lain, pembiaran dan pembatasan justru mampu menekan kondisi psikis si anak. Dilematis memang. Tapi bagaimanapun itu adalah tugas orang tua selaku pemimpin keluarga. Dan bukankah setiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawabannya?

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-20 Jumat, 22 Februari 2019/17 Jumadilakhir 1440 H

Author: Muhammad Imdad

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Imdad

Lahir di Banyuwangi. Santri PP. Alfalah Ploso Kediri, PP. Queen Alfalah Kediri, PP. Darussholah Jember dan PP. Bustanul Makmur Banyuwangi. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, mengambil konsentrasi Akidah dan Filsafat Islam. Aktif menulis puisi, cerpen dan esai sejak SMA. Saat ini tinggal di Perumahan Polri Gowok Blok E1 no. 206 A, Sleman Yogyakarta.


COMMENTS