Shidqi Niam

Ia adalah murid Sigmund Freud. Antara murid dan guru tak jarang akhirnya berbeda pandangan. Malah belakangan banyak yang mengkritik Freud. Salah satunya adalah kecenderungan psikoanalisis Freud yang selalu kembali dan bermuara pada selangkangan, ya, seks. Berbeda dengan gurunya, Erich memiliki pemikiran psikologi sosialnya sendiri. Seperti contoh ketika laki-laki sendiri kemungkinan besar tidak akan berani menggoda atau catcalling kepada seorang perempuan. Namun jika bergerombol pasti akan saling bersahut-sahutan menggoda. Pun dengan kematian. Jika seseorang ditemukan mati di belakang rumah, sudah bisa dipastikan satu desa akan ramai memperbincangkan. Namun dalam situasi perang, mayat tergeletak dimana-mana tak ada yang menghiraukan.

Kembali kepada pemikiran tentang cinta-nya Erich Fromm. Saya awali dengan sebuah pertanyaan penting dan sulit, apakah itu cinta? Silakan bayangkan jawabannya sembari pelan-pelan memahami cinta ala Erich Fromm. Lalu pertanyaan yang tak kalah penting: lebih enak dan nyaman dicintai atau mencintai? Ini jawabannya cukup sulit. Kita tentu menginginkan keduanya, mencintai dan dicintai dengan sungguh-sungguh. Apalagi persoalan manusia-manusia modern hari ini adalah kesendirian dan kesepian. Hal itu yang mengawali kenapa Erich Fromm mencoba memahami cinta, selain dipicu dari tetangganya yang patah hati kemudian menyendiri lalu bunuh diri.

Cinta, bagi Erich, adalah sebuah seni yang harus dipelajari. Meski seni membutuhkan bakat, namun juga membutuhkan belajar. Bukankah semua manusia mempunyai bakat cinta dan mencintai? Nah, di sini Erich menitik-tekankan bagaimana cara kita mencintai, bukan pada apa yang kita cintai. Selain itu, banyak dari kita mencari dulu seseorang atau apa yang pantas untuk dicintai. Jika laki-laki akan mencari perempuan yang cantik, salehah dan baik menurut dia, lalu dia akan memutuskan untuk mencintai. Erich mengajarkan bahwa urusan pertama dan utama dalam cinta adalah bagaimana caramu mencintai. Berperilakulah seperti pecinta. Apa saja akan bisa kita cintai dengan baik. Sebab bila fokusnya pada apa yang kita cintai, bukan caranya, cenderung akan menjadi egois dan pemilih. Padahal egois dan pemilih bukanlah sifat dari cinta. Jadi fokus yang pertama adalah cara mencintai dengan benar.

Seperti halnya menulis. Pertama-tama jangan pikirkan dulu materi apa yang akan menjadi bahan tulisan. Tapi pelajarilah tata cara menulis. Bila sudah tahu bagaimana cara menulis dengan baik, materi apapun akan tertulis dengan baik. Begitupun apa atau siapapun, akan kita cintai dengan baik asal sudah memahami caranya dengan baik.

Jadi, cinta itu standing in, bukan falling for. Bukannya jatuh cinta tapi mendirikan cinta. Seperti dalam Islam terkait salat, bukan laksanakan namun dirikanlah salat.

Cinta, sebagaimana seni, harus dipelajari dan dipraktikkan sesering mungkin. Pecinta sejati tahu apa yang akan dilakukan setelah cintanya diterima orang yang ia cintai. Tapi jangan sampai setelah cintanya diterima, malah masuk golongan Petani (Pemuda Takut Nikah).

Cinta adalah watak; sebuah karakter. Menjadi karakter yang mencintai adalah sebuah kemewahan. Dan sudah seharusnya semua manusia memiliki karakter pecinta. Karakter juga menentukan jalan hidup atau takdir kita. Berawal dari habit/kebiasaan akan melahirkan sebuah karakter yang mana berguna untuk menjalani kehidupan ini yang berarti menentukan takdir. Jika karakter kita adalah seorang pemarah, tentu dalam menyikapi kehidupan ini serba dengan amarah. Bayangkan bila dalam diri kita karakternya adalah pecinta. Tentu semua aspek kehidupan ini akan lebih indah untuk dijalani.

Seperti seorang pelukis. Janganlah sibuk mencari panorama yang indah untuk dilukis. Namun latihlah kemampuan melukis dan jika sudah mahir tentu pemandangan apapun akan indah dilukis. Sebab sejatinya pecinta adalah tidak hanya mencintai sesuatu yang dianggapnya ‘indah’, namun di luar itu juga. Seperti tidak hanya mencintai lawan jenis yang menarik kita. Namun bagaimana kita bisa mencintai hal-hal yang dianggap ‘tidak indah’. Semisal kemiskinan, ketimpangan sosial dan apa-apa yang jauh dari kehidupan kita. Mencintai sesuatu saja, atau seseorang saja, itu bukanlah cinta. Namun egois yang diperluas.

Semenjak manusia dilahirkan, sejak Adam diciptakan, kita memiliki persoalan eksistensial. Bahwa manusia tidak bisa, atau tidak mau, hidup sendiri. Oleh mengapa Adam meminta Tuhan untuk menciptakan Hawa agar supaya menemaninya. Selain itu, mengetahui bahwa kehidupan tidaklah mudah. Banyak keinginan kita yang tidak tercapai. Mimpi-mimpi yang banyak kandas. Dan juga keterpisahan satu sama lain. Kita tidak pernah minta untuk dilahirkan, kemudian menjalani kehidupan dengan segala kesenangan, kebersamaan dan lika-likunya, lalu di akhir cerita dipaksa dihilangkan semuanya dengan cara yang disebut kematian. Kebersamaan kita tercerabut. Kita sedih. Dan ini, lagi-lagi, membuktikan bahwa kesendirian itu menyakitkan.

Dalam menyikapi kenyataan hidup yang demikian itu, ada dua tipikal cara manusia menghadapinya. Pertama, memposisikan dirinya menjadi budak. Menempelkan diri pada sesuatu yang ia cintai. Tidak ingin ditinggalkan. Ia rela direndahkan asal tidak untuk ditinggalkan. Bersedia menurukan harkat. Tindaslah diri ini asal jangan diabaikan. Karena manusia butuh tersambung. Selalu tersambung dengan apa-apa yang ia cintai.

Kedua, dengan cinta. Berdiri sejajar saling mendukung, saling membantu dan menemani. Disadari bahwa orang lain juga butuh kita, maka apa yang harus dilakukan adalah kerja sama. Harus saling menegaskan kebersamaan. Maka solusinya adalah dirikanlah cinta. Kita terjajah oleh kolonial kurang lebih tiga setengah abad. Apakah cara terbaik adalah membalas menindas dan menjajah mereka? Tentu saja tidak. Obat imprialisme adalah berdiri sejajar dan kerja sama. Bukan justru melawan balik. Tapi kenyataan yang terjadi adalah penghancuran-penghancuran diri. Karena konteks hari ini adalah apa yang dalam pikiran kita yaitu balas dendam.

Cinta yang utuh, cinta yang matang itu yang bagaimana? Tentu bukanlah cinta yang menyerah. Namun tetap bisa berpikir logis. Bukan cinta buta atau aku mencintaimu bak laksana tahi kucing, itu terasanya coklat. Cinta yang tidak sampai membuat identitas dirinya hilang dan mengorbankan dirinya untuk cinta.

Ada empat unsur dalam bagaimana mencintai dan dicintai menurut Erich. Pertama, care. Perhatian memang sudah seharusnya. Jika kita tidak peduli pada yang kita cinta, berarti itu bukan cinta. Sebab sudah seharusnya kita perhatian akan jatuh bangunnya dia yang kita cinta.

Kedua, responsibility, bertanggung jawab. Termasuk ketika dia melakukan hal yang keliru, ada keharusan untuk mengingatkan. Bukan berarti mendominasi atau mendikte, namun ikut terlibat kemajuan dirinya. Tidak hanya memposisikan diri ikut bersimpati, berbelasungkawa ketika sesuatu menimpa dirinya, namun bersedia menemani dan berkembang menjadi pribadi yang baik bersama.

Ketiga, respect, menghargai akan kehidupan masing-masing. Cinta tidak harus selalu bersama kemana-mana kan, karena setiap pribadi memiliki urusan sendiri-sendiri. Maka saling menghargai.

Keempat, knowledge, pemahaman yang bagus masing-masing. Harus ada saling kesepemahaman. Mutual understanding.

Infantile love follows the principle: I love because I am loved. Matur love follows the principle: I love because I love.

 

lihat juga: Ngaji Filsafat 142: Filsafat Cinta-Erich Fromm

Author: Shidqi Niam

ABOUT THE AUTHOR

Shidqi Niam


COMMENTS