Rohmatul Izad

Muhyiddin Ibn Arabi lahir di Murcia, Andalusia (Spanyol) pada 1165 M. Ia telah menunjukkan bakat-bakat intelektual dan spiritual yang mengagumkan sejak usia masih sangat muda. Dalam catatan William Chittick (2001) disebutkan bahwa pada tahun 1200 M, Ibn Arabi mengungkapkan mimpinya untuk pergi ke Timur, dan dua tahun kemudian ia menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Dari Mekkah kemudian melakukan serangkaian lawatan ke berbagai kota di pusat-pusat wilayah Islam, setelah tinggal beberapa saat di Damaskus, Ibn Arabi wafat di sana pada 1240 M usia 75 tahun.

Ibn Arabi merupakan tokoh tasawuf yang fenomenal dalam sejarah peradaban Islam. Pemikiran-pemikiran spiritual kelahiran Andalusia ini sering kali menghentak-hentak kesadaran dan kemapanan. Terlebih tema-tema yang diusung menyangkut hakikat Tuhan dan makna hidup, yang juga menjadi perhatian dan problem manusia dari zaman ke zaman, yang tak pernah henti.

Boleh dibilang, kajian tentang Ibn Arabi, dari dulu hingga sekarang, selalu sarat dengan perdebatan panjang dan kontroversial, terutama mengenai aspek keislamannya. Sebagian kalangan menganggap bahwa Ibn Arabi adalah kafir, bahkan menjadi atheis, sementara sebagian yang lain menganggap Ibn Arabi adalah maha guru dalam dunia sufi. Hal ini wajar karena betapa luasnya gagasan pemikiran yang dimiliki oleh Ibn Arabi. Beliau telah menulis tak kurang dari 500 buku yang hingga kini masih eksis dikaji oleh akademisi dan peminat mistisisme Islam di seluruh dunia.

Paling tidak, sejarah perjalanan Ibn Arabi dapat dilihat melalui dua fase, yakni saat berada di Andalusia dan saat ia mematangkan pengetahuan sufistiknya di Timur. Dalam dua fase ini, Ibn Arabi menyaksikan kondisi umat Islam yang sangat memprihatinkan. Baik Islam bagian Barat maupun bagian Timur yang banyak mengalami kehancuran yang serupa. Kondisi ini disebabkan oleh adanya disintegrasi umat Islam dalam aspek pemikiran maupun politik.

Hal ini tentu saja menjadikan konstruksi pemikiran Ibn Arabi mampu membawa persatuan umat Islam melalui gagasan-gagasannya yang sangat luas dan universal, karena harus disadari bahwa Ibn Arabi adalah anak zaman yang tidak pernah bisa lepas dari konteks sosio-historis dari kehidupannya.

Ibn Arabi sering dianggap sebagai seorang sufi. Anggapan ini relatif benar jika memahami istilah sufisme untuk merujuk pada tambatan pemikiran dan praktik Islam yang menekankan pengalaman langsung dari objek-objek iman. Seperti sejumlah sufi lain, ia kerap kali dikutip di Barat sebagai pendukung ide kesatuan agama-agama.

Chittick (2001) mengungkapkan bahwa para sarjana telah mencatat, kaum muslim sufi umumnya memiliki sikap yang lebih menggembirakan dibanding kaum muslim non-sufi terhadap agama-agama selain Islam. Sejumlah sarjana tertarik mengaji sufisme paling tidak sebagiannya disebabkan penilaian liberalnya terhadap kemungkinan manusia dan pendekatannya yang relatif tidak dogmatis terhadap keyakinan dan praktik Islam.

Konsep Ketuhanan Ibn Arabi

Tuhan selalu menarik diperbincangkan. Hampir tak ada wacana yang begitu intens dibicarakan dari waktu ke waktu selain wacana tentang Tuhan. Mengapa persoalan Tuhan menduduki porsi yang sedemikian istimewa dalam perbincangan manusia? Hal ini menjadi pertanyaan besar. Sebagian orang menyebut bahwa pada kodratnya manusia adalah homo relegious, makhluk yang memiliki naluri religius (Al-Fayyadl, 2012).

Secara esensial, pemikiran Islam dimulai dengan apa yang diketahui dengan pasti. Pernyataan ini hanya dapat dijawab dengan hakikat Tuhan, sebagaimana diekspresikan dalam penggalan syahadah yang pertama, “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Secara umum, kepastian ini dipandang sebagai lebih berat kecenderungannya kepada setiap bentuk pertimbangan lain, tidak semata-mata pada klaim-klaim ego terhadap pengetahuan obyektif. Hanya al-Haqq yang jelas dan pasti.

Namun demikian, segala realitas kosmos selalu memiliki hubungan dengan Tuhan. Tuhan sebenarnya adalah wujud objektif yang kongkrit. Sebagaimana persepsi, intuisi memberikan data bagi pengetahuan. Kehadiran Tuhan secara langsung singgah dalam hati dan Dia dapat dipahami dengan cepat. Jadi sebagaimana diungkapkn Ibn Arabi, Tuhan adalah suatu “persepsi” dan bukan suatu konsepsi. Dalam konteks ini, penulis akan memperinci konsep ketuhanan Ibn Arabi dalam dua terma sebagai berikut.

Pertama, konsep wujud. Sebelum membicarakan doktrin yang umumnya disebut “kesatuan wujud”, dan sebelum menguraikan apa yang biasa dipahami sebagai teori metafisika Ibn Arabi tentang realitas, penting menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kata “wujud” dan “Tuhan adalah wujud mutlak”. Ada dua pengertian berbeda yang mendasar dalam memahami istilah “wujud”. Pertama, wujud sebagai suatu konsep, yakni ide tentang wujud atau eksistensi. Kedua, bisa berarti yang mempunyai wujud, yakni apa yang ada atau yang hidup.

Istilah wujud secara tipikal diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan being atau existence. Namun, pengertian dasar istilah itu adalah “menemukan” atau “ditemukan”. Sekalipun Ibn Arabi menggunakan kata wujud dalam pengertian yang beragam, ia memahami istilah tersebut dengan satu pengertian fundamental, kemudian menyajikan fakta bahwa wujud adalah satu. Pada tingkatan tertinggi, wujud adalah realitas Tuhan yang absolut dan tak terbatas, yakni “wujud niscaya” (wajib al-wujud). Dalam pengertian ini, wujud menandakan esensi Tuhan atau hakikat. Satu-satunya realitas yang nyata di setiap sisi.

Kedua, konsep kesatuan wujud. Di dalam sumber-sumber kepustakaan Islam klasik, Ibn Arabi sangat sering dikenal sebagai pencetus pertama doktrin wahdatul wujud, “kesatuan wujud” atau “kesatuan eksistensi”. Namun, ekspresi ini tidak ditemukan dalam karya-karyanya. Sesungguhnya karya yang khusus menampilkan sudut pandangnya kebanyakan bukan karena isi dari tulisan-tulisannya, namun karena perhatian para pengikutnya dan arah pemikiran Islam yang berkembang setelah dirinya.

Teori kesatuan wujud ini menggambarkan penciptaan alam semesta sebagai hasil dari kecintaan Tuhan untuk berkarya. Melalui karyanya, Tuhan akan mengetahui penampakannya dalam wujud yang mampu menyandang semua sifat-sifat-Nya. Wujud tersebut bukanlah wujud baru dalam pengetahuan Tuhan, melainkan telah bersatu dengan-Nya semenjak zaman azali dalam napas-Nya. Penciptaan bukanlah mengadakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada. Ia hanya sekedar menampakkan apa yang telah ada dalam diri Tuhan. Alam adalah dahulu yang tidak diciptakan dari ketiadaan.

Henry Corbin (2002) memaparkan bahwa konsep kesatuan wujud ini ditangkap bukan pada dataran data-data inderawi, melainkan pada dataran cahaya yang mengalihrupakan. Dalam konteks wujud manusia, kesatuan ini berarti pemunculan yang berupa suatu kilauan Tuhan melalui cermin manusia, yakni sesuai dengan caranya cahaya ketika Dia menjadi kasatmata hanya jika menimpa bentuk dan menyorot melalui figur sebuah jendela kaca bercermin. Pendek kata, kesatuan wujud ini jika dilihat dalam pengertian manusia, ia berarti suatu “kehadiran imajinatif” atau Tuhan hadir dalam imaji manusia.

Doktrin wahdatul wujud Ibn Arabi ini juga menegaskan bahwa wujud dalam pengertian yang sebenarnya adalah realitas tunggal dan tidak dapat menjadi dua wujud. Di sini Ibn Arabi mengikuti jejak-jejak sejumlah pemikir yang lebih awal, seperti al-Ghazali, yang mengomentari ungkapan tentang keesaan Tuhan, seperti “Tiada Tuhan selain Tuhan” yang berarti bahwa “Tiada wujud selain Tuhan”.

Ibn Arabi merupakan pioner dalam meletakan dasar wahdatul wujud secara matang dan utuh. Teori ini tidak dikenal dalam sejarah pemikiran Islam sebelum kedatangan Ibn Arabi. Selain itu, perkataan-perkataan al-Hallaj dan Abu Yazid al-Busthami yang kelihatannya menyerupai teori wahdatul wujud, tidak bisa dikatakan sebagai ekspresi akan keberadaan teori ini. Keduanya hanyalah sastrawan yang sedang mengungkapkan kecintaannya kepada “Sang Maha Kuasa” hingga tidak ada yang tampak oleh keduanya selain Tuhan, dengan merasakan dirinya seolah-olah telah sirna dan menyatu dengan Tuhan.[]

Author: Rohmatul Izad

ABOUT THE AUTHOR

Rohmatul Izad

Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta


COMMENTS