Barangkali kita pernah mendengar dari seseorang yang bertutur, “Aku nggak mau hidup dengan topeng”. Lalu diimbuhi dengan deklarasi “ingin menjadi diri sendiri seutuhnya” atau “tak ingin hidup penuh kepura-puraan” dan lain sebagainya. Si penutur lalu mencibir dengan menyebut orang lain munafik. Di satu titik kita boleh kagum pada prinsip antikepalsuan ini. Kita boleh sepaham bahwa hidup harus dijalani dengan keterusterangan diri dan tidak perlu mengikuti gaya orang lain.

Tapi tunggu dulu, Waluyo. Semuanya perlu dikritisi dan dianalisis, termasuk pernyataan di atas. Kiranya kita bisa mulai dengan pertanyaan: benarkah seseorang betul-betul bisa melepas topengnya? Lalu apakah hidup penuh kepura-puraan itu lantas menjadi buruk? Tinjauan psikologis dari Carl Gustav Jung berikut ini barangkali bisa menjawab. Tapi sebelum ke situ, kita perlu berkenalan dulu dengan sosok religius ini.

Carl Gustav Jung adalah sosok filsuf sekaligus psikiater. Dia percaya pada spiritualitas, keberadaan Tuhan, bahkan dengan mantap menyebut dirinya “tahu” bahwa Tuhan itu ada. Level Jung tidak lagi sekadar percaya, tapi berhasil membuktikan keberadaan-Nya lewat keluasan ilmunya. Teori-teorinya menyentuh sisi spiritualitas berbagai agama. Dia meyakini bahwa spiritualitas adalah diri tertinggi manusia. Salah satu contoh ketertarikannya pada sisi spiritual adalah disertasinya yang mengambil tema fenomena kesurupan ditinjau dari sisi psikologis. Jung menemukan timbunan alam bawah sadar saat seseorang mengalami kesurupan.

Saat muda, Jung merupakan aktivis dan kelak menjadi dosen. Dia pernah berguru pada Sigmund Freud sebelum hubungan mereka tak akur, lalu mengembangkan teorinya sendiri. Saat kehidupannya sukses di usia paruh baya, ia mengalami keraguan akan eksistensi diri. Jung merasa hidupnya tak bermakna. Lalu menjadikan dirinya sendiri sebagai objek penelitian. Dalam biografinya disebutkan, satu-satunya obat penangkal perasaan hampa dan ketidakbermaknaan hidupnya adalah keluarga. Dia merasa tak bermakna dalam banyak hal tapi setidaknya hidupnya masih bermanfaat bagi istri dan anaknya. Di sini kita bisa membuktikan betapa bermanfaatnya punya pasangan alias tidak jomblo.

Matur sembah nuwun pada Mbah Yai Jung yang telah mendalami bidang psikologi sehingga kita bisa belajar darinya. Jangan salah, belajar psikologi berkaitan juga dengan menjalankan perintah dalam Al-Quran yang berbunyi, “Wafi anfusikum afala tubsirun“ dari surah al-Dzariyat [51] ayat 21 yang artinya, “Juga ada pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memerhatikan?”

Mari kita bahas teori dari Carl Gustav Jung mengenai pertopengan, seperti disampaikan Fahruddin Faiz dalam Ngaji Filsafat edisi Filsafat Kepribadian, Rabu, 5 Desember 2018 yang telah lalu.

Jung menelurkan ide bahwa dalam kepribadian manusia ada yang dinamakan persona (bahasa Latin) yang artinya topeng. Persona ini termasuk dalam bab “ketidaksadaran kolektif” yang turut memengaruhi orientasi manusia. Berbeda dengan Sigmund Freud yang mengategorikan kepribadian manusia hanya dua yaitu ego/conciousness (kesadaran) dan unconciousness (ketidaksadaran). Jung memecah lagi sisi ketidaksadaran menjadi dua yaitu personal dan kolektif. Teori ketidaksadaran kolektif inilah yang menjadi konsep orisinil dari Jung. Bab ini menurut Jung lebih dalam dari konsep ketidaksadaran (personal) yang dikemukakan oleh Freud.

Dalam teori Jung, tanpa topeng manusia tak akan bisa hidup bersama orang lain. Mau tidak mau dan sadar maupun tidak, dalam keseharian manusia selalu mengenakan topeng. Misalnya saat di kampus, manusia memakai topeng sebagai mahasiswa. Dia sebenarnya ingin berpakaian santai dan merokok di sudut mana saja, tapi tidak bisa karena ada aturan yang melarang. Di rumah, manusia memakai topeng sebagai anak, harus mengindahkan omongan orangtua, padahal inginnya bebas. Di masjid, manusia memakai topeng sebagai orang yang taat pada Tuhan, padahal inginnya kalau bisa salat dibuat lebih ringkas, tidak lima kali sehari, misalnya.

Lantas apakah mungkin manusia melepas topeng? Jawabannya tidak. Kata Jung, manusia melepas topeng yang satu hanya untuk menggantinya dengan topeng yang lain. Manusia hidup dari topeng ke topeng. Memang, mau tak mau manusia harus selalu memakai topeng. Sebab topeng adalah jembatan yang menghubungkan seseorang dengan lingkungan sekitar. Tanpa topeng, hubungan dengan orang lain bisa jadi tidak cocok. Maka dari itu, seleksi yang bisa dilakukan adalah memilah topeng yang baik-baik.

Dalam dunia pertopengan, ada dua masalah besar yang biasanya hadir. Pertama adalah permasalahan keliru mengenakan topeng. Yaitu ketika seseorang kadung suka pada satu topeng hingga dipakai terus pada waktu dan tempat yang tidak tepat. Masalah lupa membaca dan menanggalkan topeng ini bisa merusak harmoni kehidupan dan bisa jadi memercikkan konflik. Topeng yang tidak pas pada panggungnya juga menunjukkan adanya gejala sakit dalam jiwanya. Singkatnya, satu topeng belum tentu bisa diterima di setiap lingkungan sosial. Maka kita perlu kritis terhadap topeng yang akan dipakai, apakah benar cocok dengan lingkungan yang akan dimasuki atau tidak.

Terkait hal ini, ada suatu contoh nyata seseorang yang lupa melepas topengnya. Suatu ketika seorang bapak mengantri BBM di SPBU, lalu seseorang menyerobot space kosong di depan si bapak karena dia tak kunjung maju. Lantas si bapak berseru, ”Berani-beraninya nyerobot, saya ini dosen!”. Kita tahu tak ada hubungannya mengantri SPBU dengan profesi tertentu. Semua orang dan semua profesi berhak menjadi pelanggan SPBU. Dalam hal ini siapapun berkedudukan setara, tak ada pelanggan yang lebih istimewa dari pelanggan lain hanya karena profesi.

Pastinya kita pernah mendengarkan ceramah ataupun pada suatu ketika mendengarkan khotbah Jumat. Tapi saat di kafe atau sewaktu nongkrong di angkringan, serta-merta berkhotbah. Tentu tidak tepat, lagi asik-asiknya nongkrong, malah menyerukan: “Qolallahu taala...”. Bisa-bisa dikiranya lagi kesambet jadi khatib dadakan, lima ratusan.

Masalah kedua adalah kebalikan dari kondisi di atas. Di saat telah sadar pentingnya memilah-milih topeng yang akan dikenakan, muncul takut berlebihan pada penilaian orang lain. Seseorang menjadi terlalu sibuk memenuhi keinginan masyarakat yang pada akhirnya menjadikannya seorang yang tak punya keinginan. Jika tadi tidak terlalu peduli soal memakai topeng apa, kini menjadi terlalu peduli. Hari ini memang orang lain bisa sangat menyusahkan dalam hal tertentu, maka hati-hati jangan sampai kehilangan diri kita. Omongan orang memang perlu didengarkan, tapi tidak selalu harus dipedulikan. Kira-kira begitu.

Maka yang bisa kita lakukan adalah menjaga keseimbangan. Memilah topeng untuk digunakan pada kondisi tepat, namun jangan sampai kehilangan jati diri.

Selain persona, masih ada tiga poin lain yang termasuk ketidaksadaran kolektif menurut teori Jung. Ada arkhetipe (tipe ideal). Ini adalah mimpi bersama tentang hal-hal ideal. Arkhetipe lazimnya bersifat bisa diterima oleh masyarakat dibelahan bumi manapun (universal). Misalnya orangtua yang baik, anak yang ceria, dan lain sebagainya. Arkhetipe ini kemudian secara tidak disadari menjadi kiblat yang mengendalikan orientasi hidup kita.

Ada lagi yang namanya anima (sisi feminin pada laki-laki) dan animus (sisi maskulin pada perempuan). Keduanya-duanya tak disadari. Anima dan animus ini nantinya memengaruhi kriteria ketertarikan pada lawan jenis. Unsur ini bisa jadi diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita, berdasarkan pengalaman interaksi antara laki-laki dan perempuan selama berabad-abad. Anima dan animus ini juga berfungsi memahami kodrat lawan jenisnya.

Ketidaksadaran kolektif yang terakhir namanya shadow. Berupa sisi gelap manusia atau unsur buas. Isinya insting negatif misalnya kemarahan, keserakahan, kejahatan. Setiap orang punya sisi ini, namun tidak disadari keberadaannya karena kerap kali disembunyikan. Sebaliknya, manusia justru merasa dirinya selalu baik. Ada defense mechanism yang bekerja sehingga shadow ini seolah ditolak keberadaannya. Yaitu dengan cara memproyeksikan orang lain sebagai yang bersalah. Keburukan yang ada pada diri diatributkan pada orang lain. Jadi, sebelum kita disalahkan kita lebih dulu menyalahkan orang lain. Sebelum dituduh hoax, cari dulu sisi kebohongan orang lain. Itulah yang terjadi di tahun politik hari-hari ini: menolak shadow, mengambinghitamkan lawan.

Author: Ahada Ramadhana

ABOUT THE AUTHOR

Ahada Ramadhana

Asisten Redaktur di Akurat.co


COMMENTS