Masjid Jenderal Sudirman (MJS) merupakan satu di antara banyak masjid di Yogyakarta. Bagi santri atau mahasiswa atau kalangan muda-mudi penikmat ngaji, MJS disebut dengan ‘Nggon Ngaji Filsafat’ yang berarti tempat mengangsu filsafat. Sedangkan orang-orang yang mengikuti pelajaran filsafat, ya, siapa lagi kalau bukan (sebut saja) para santri Ngaji Filsafat.

Secara terminologi, kata “santri” masih terdapat perbedaan arti dan asal mulanya. A.H. John berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Sementara itu, C.C. Berg menyatakan bahwa istilah santri berasal dari istilah shastri, dari bahasa India, yang berarti orang yang tahu buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Ini didasarkan pada kata shastri sendiri yang berasal dari kata sashtra, berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku tentang ilmu pengetahuan.

Sepenangkapan sewaktu duduk mendengarkan ngaji, Fahruddin Faiz menyampaikan kalau istilah “Ngaji Filsafat” diniatkan agar njawani, ngakrabi dan ngerakyat. Ngaji berasal dari kata dasar aji, yang artinya mulia. Ngaji berarti upaya untuk menjadi mulia atau mencari kemuliaan. Dalam bahasa Jawa, aji sepadan dengan kata karamah. Jadi, Ngaji Filsafat berarti mencari kemuliaan dengan filsafat.

Ngaji Filsafat di MJS mula pertama digelar pada bulan April 2013, dengan jumlah santri awal (menyusut dan bertambah seiring waktu) 20-an orang. Kini, setelah lebih lima tahun berjalan, Ngaji Filsafat telah berkembang menjadi sebuah komunitas besar yang rutin berlangsung setiap Rabu malam Kamis, santri yang hadir mengaji secara langsung bisa lebih dari 100 orang. Rekaman kegiatan Ngaji Filsafat juga bisa dilihat di Youtube MJS Channel, memungkinkan untuk diakses kalangan dari luar Yogyakarta, bahkan menjalar sampai ke negara tetangga seperti Malaysia, Taiwan, Hongkong, dapat mengikuti, menikmati Ngaji Filsafat secara daring.

Adapun dalam sistem Ngaji Filsafat, santri duduk mendengarkan, guru yang menyampaikan, membaca, menerjemahkan dan menerangkan atau mengulas pemikiran-pemikiran para filosof yang dikaji, dalam bahasa Jawa, Indonesia, Arab dan Inggris. Dalam sistem ini, seorang santri tidak harus menunjukkan bahwa ia mengerti pelajaran yang sedang dibahas. Ngaji berlangsung selama sekira dua jam.

Ngaji Filsafat menjadi sebuah kultur yang unik, sebab jarang diketemukan masjid menggelar ngaji seperti ini. Lagi pula, jika selama ini anggapan tentang filsafat itu rumit, mbulet, nyatanya tidak begitu, filsafat justru tersaji ringan dipikirkan dan renyah dibicarakan. Sebagai ‘Nggon Ngaji Filsafat’, MJS boleh dikata sebagai pionir Ngaji Filsafat di Indonesia, bahkan di dunia dan mungkin kelak di akhirat.

Penting juga dilihat masjid sebagai tempat penyelenggara, yang dengan sendirinya mempunyai andil dalam pengakrapan filsafat kepada khalayak luas. Melalui Ngaji Filsafat santri (yang kebanyakan masih sebagai mahasiswa, mantan mahasiswa, atau pasca mahasiswa) dan khalayak umum menjadi mengenal ide-ide besar atau pemikiran-pemikiran para filosof yang dikaji. Dr. Fahruddin Faiz sebagai pengampu ngaji mempunyai peran penting, kunci, di sini.

Bagi para santri yang telah beberapa tahun belajar dan tidak berhasrat untuk menjadi filosof, intelektual muda atau apalagi ustaz, mereka bebas kapan akan pulang mengakhiri sekalipun ngaji belum usai. Lagian, tak ada ujian akhir dan ijazah sebagai tanda bukti kelulusan. Artinya, Ngaji Filsafat di MJS adalah sebosan-bosannya, sekapokmu kapan!

Berbeda dengan kuliah, di antara tujuan Ngaji Filsafat adalah membentuk kepribadian, memantapkan rasionalitas, melengkapi pengetahuan, selain tentu saja yang menjadi pokok bagaimana kita mencari kemuliaan dengan filsafat. Para santri yang pernah Ngaji Filsafat secara langsung maupun online syukur-syukur dapat menyebarluaskan citra filsafat yang khusus melalui cara hidupnya, ketulusan dan kesahajaan hidup. Orientasi untuk mendapat pekerjaan, ahli dalam bidang filsafat, bukanlah tujuan dari Ngaji Filsafat. Tapi bila mungkin pada masa depannya nanti akan melahirkan sosok-sosok magistrat, atau cukuplah menjadi manusia dengan kemuliaannya sebagai hamba. Semoga.

Author: Mukhlisin Mustofa

ABOUT THE AUTHOR

Mukhlisin Mustofa

Sedang menempuh S2 Komunikasi Korporat UPN Veteran Yogyakarta. Santri Ngaji Filsafat barisan bali keri.


COMMENTS