Saya suka sekali dengan penjelasan yang disampaikan oleh Pak Fahruddin Faiz tentang “Perbuatan Baik”, pada kesempatan Ngaji Filsafat sesi membabar isi pikiran Abraham Maslow pada Rabu malam Kamis yang lalu di Masjid Jendral Sudirman.

Beliau menyampaikan hikmah, pengantar sebagaimana biasanya, sebelum membabar isi materi ngaji. Bahwa, kata Pak Faiz, “perbuatan baik” itu tidak sekadar baik hanya dari namanya. Termasuk Ngaji Filsafat ini, Pak Faiz mencontohkan.

Ngaji Filsafat ini baik, iya. Istilah “ngaji” itu baik, dan “aktivitas ngaji” itu baik. Tapi, perbuatan baik itu, kalau dalam Islam, yang belajar Filsafat Akhlak, pasti paham bahwa sebuah perbuatan baik itu dilihat dari (1) niat, (2) proses, (3) hasil, dan (4) efeknya. Keempatnya harus baik semuanya. Niatnya harus baik. Pembuatan baik tapi niatnya jelek, jadinya tidak disebut sebagai perbuatan baik.

Dalam pembahasan niat ini, jika ditarik ke dalam Ilmu Qaidah Fiqihyah masuk ke pembahasan ihwal niat juga, yang berbunyi “al-umuru bi maqashidiha“, segala sesuatu perbuatan tergantung pada maksud-tujuannya. Qoidah tersebut didasarkan pada hadis Nabi “Innamal a’maalu bin niyyah”, sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat. Niat yang baik harus diniatkan dengan ibadah. Melakukan sesuatu karena Allah, cinta pada Allah.

Pak Faiz sering menyindir para santri-santri yang datang ngaji dengan berbagai motif/niat. Ada yang datang ngaji karena teh atau kopi buatan mas-mas takmir, datang karena daripada nganggur di kos sendirian, atau benar-benar ingin mencari ilmu sesuai yang diperintahkan dalam agama.

Prosesnya harus baik. Tidak boleh ada perbuatan baik yang dilakukan secara jelek. Hal itu seperti dalam wejangannya Imam Al-Ghazali seperti mencuci tapi dengan air kencing. Maksudnya, mencuci dengan air kencing itu: niat (mencuci) baik dan aktivitas (mencuci)nya baik. “Niat mencuci” itu kan ingin membersihkan, dan “aktivitas mencuci” itu kan juga baik. Tapi, ada yang keliru dalam prosesnya, karena mencucinya memakai air kencing. Yang terjadi bukan bersih tapi malah nambah kotor lagi najis. Ingat, hasilnya juga harus baik. Kalau hasilnya tidak baik berarti ada yang salah.

Misal lainnya, niatnya ingin membantu orang, kok lahirnya malah membuat orang tersebut tersinggung dan malah menambah jadi musuh, berarti ada yang salah. Letak “hasilnya” di situ ada yang salah. Misalnya lagi, niatnya menyebarkan kebenaran tapi kok hasilnya malah tawuran, berarti ada yang salah. Dari permisalan tersebut, mungkin niatnya sudah baik, prosesnya sudah baik, hasilnya juga sudah baik. Tapi, ketika efeknya jelek, bisa jadi (perbuatan) baik tersebut belum utuh sebagai kebaikan.

Tak cukup sampai di situ. Misalnya lagi, kamu melakukan kebaikan dari awal hingga akhir tapi efeknya kok jelek: kamu merasa besar, kamu merasa sombong, dan kamu malah merasa jadi orang yang derajatnya tinggi. Ini “efek” yang bukan baik. “Efek” tidak hanya berlaku pada di dirimu, bisa juga di orang lain, dan mungkin di masa depan. Jadi, kalau efeknya jelek mungkin ada yang harus dicek lagi perbuatan (baik) kita.

Perbuatan baik itu belum bisa disebut baik kalau empat unsur ini: niat, proses, hasil, dan efek belum terlihat. Apapun itu, entah ngaji kah, dakwah kah, membantu orang lain kah, menyebarkan kebenaran kah. Kebanyakan orang salah paham dengan apa yang disebut kebaikan. Bahwa tidak bisa kebaikan itu dilihat dari jenis aktivitasnya, tapi masih ada syarat dan ketentuan yang lain (harus terpenuhi), ya empat unsur itu tadi.

*

Pada kesempatan Ngaji Fisafat tahun lalu juga, Pak Faiz membahas tema tentang akhlak dari seorang filosof muslim Ibnu Miskawaih. Tema akhlak ini mungkin sekali sudah pernah kita peroleh sejak di bangku sekolah dasar, atau di tempat dimana kita belajar agama di waktu kecil. Kini, sejauhmana pengetahuan tentang akhlak itu dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang baik? Jawaban dari pertanyaan ini mungkin saja akan membawa pada pengertian tentang akhlak itu sendiri (semacam mengulang pelajaran akhlak itu kembali) atau dari masing-masing kita malah sudah selesai dengan perkara akhlak. Maksudnya bisa jadi lantaran sudah dewasa dengan sendirinya akhlak kita sudah menjadi baik, bahwa akhlak sudah tidak perlu lagi, pelajaran akhlak itu untuk yang masih belum dewasa. Ah, betapa sombongnya kita yang dewasa.

Sebelum lebih lanjut menyusun jawaban atas pertanyaan tersebut, mungkin ada baiknya kita mengulang kembali pelajaran tentang akhlak.

Tujuan dari akhlak atau pendidikan akhlak, menurut Ibnu Miskawaih seperti yang dituturkan Pak Faiz, yaitu terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya semua perbuatan bernilai baik, sehingga mencapai kesempurnaan jiwa dan memperoleh kebahagiaan sempurna (al-Sa’adah). Al-Saadah itu sendiri dimulai dari al-Khayr (kebaikan). Semua yang baik dan utama disebut I’tidalat (keseimbangan/keserasian), dasar dari keseimbangan itu adalah pertengahan (al-wasath) antara ekstrem kelebihan dan ekstrem kekurangan. Posisi tengah adalah keadaan yang membawa jiwa kepada situasi utama (al-Fadilat).

Sementara untuk menjaga kesehatan jiwa/menguatkan akhlak dengan jangan bergaul dengan orang keji yang suka pada kenikmatan-kenikmatan keji, suka dan bangga berbuat dosa; juga jangan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pengetahuan dan praktiknya sehingga dapat melayani jiwa. Karena bila jiwa tak lagi berpikir dan tak lagi mencari makna, ia akan tumpul dan tidak lekas mengerti, serta kehilangan pokok kebaikan. Sejak kecil terbiasa melatih diri dengan berpikir dan belajar ilmu matematika (geometri, aritmatika, musik dan astronomi). Dengan begitu, ia akan terbiasa dengan kejujuran dan menyukai kebenaran. Dan tentu saja tidak dengan hidup yang berlebihan.

Selain itu, kita juga harus berlatih untuk tidak menggelorakan fakultas hawa nafsu dan amarah; menjadikan semua pengetahuan dan pengalaman orang lain sebagai cermin bagi dirinya; dan instropeksi diri/mawas diri (muhasabat al-nafs).

Pokok-pokok penting dalam pelajaran akhlak sehingganya mampu menjadikan kita sebagai pencari hikmah yaitu dengan lebih suka yang haq dari pada yang batil dalam keyakinan. Lebih suka kebenaran dari pada kebohongan dalam berbicara. Lebih suka yang baik dari pada yang buruk dalam bertindak. Selalu berusaha sekuat tenaga mengendalikan diri. Berpegang teguh pada syari’at. Menepati janji. Sangat hati-hati memberikan kepercayaan kepada orang lain. Senang terhadap keindahan. Mampu menjaga kestabilan jiwa menghadapi persoalan. Tidak mudah mengungkapkan sesuatu sebelum dipikir mendalam. Berani dalam kebenaran. Mengisi sisa umurnya dengan hanya melakukan hal-hal penting. Untuk melaksanakan yang seharusnya, tidak takut mati atau miskin. Tidak menanggapi perkataan orang jahat dan dengki. Selalu menjadi kondisi yang baik dalam semua keadaan: kaya, fakir, terhormat atau terhina. Ingat sakit ketika sehat, sedih ketika senang. Terkahir, kuat keinginan dan optimis dengan sepenuhnya percaya kepada Allah.

Lebih dan kurangnya demikian yang dapat disampaikan. Semoga ada gunanya, dan barangkali ada manfaatnya.

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-15 Jumat, 11 Januari 2019/05 Mulud 1440 H

Author: M. Mas’udi Rahman

ABOUT THE AUTHOR

M. Mas’udi Rahman

Penjual Pulsa, Suka Besepeda. Asli Yogyakarta.


COMMENTS