Pythagoras adalah orang yang pertama kali dianggap memakai kata-kata filsafat. Ini hanya menurut catatan Cicero, seorang intelektual Romawi Kuno yang hidup sekitaran 106 hingga 43 SM (Sebelum Masehi). Kira-kira satu abad sebelum Nabi Isa a.s dalam Islam atau Yesus dalam agama Kristen dilahirkan. Kalau tak salah, ketika saya awal-awal baru belajar filsafat, Pythagoras ini hidup sekitar 497 SM. Artinya, Pythagoras hidup lima abad sebelum Nabi Isa a.s atau Yesus, dan sekitar dua belas abad sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw.

Bayangkan saja, lima abad sebelum kelahiran Nabi Isa a.s atau Yesus dan dua belas abad sebelum Nabi Muhammad saw dilahirkan, sudah ada orang yang menggunakan kata-kata filsafat dalam keseharian. Betapa tuanya umur keilmuan filsafat ini. Pantas saja ada yang mengatakan bahwa, “Filsafat adalah ibunya ilmu pengetahuan” atau dalam bahasa Inggris-nya, “Philosophy is mother of science”. Kalau boleh saya menyebut, Pythagoras ini mungkin seorang nabi yang diutus Tuhan pada waktu itu.

Pada awalnya Pythagoras menggunakan kata-kata filsafat sebagai bentuk reaksi atas orang-orang cendekiawan Yunani Kuno, yang menyebut dirinya sebagai “ahli pengetahuan”. Penyebutan “ahli pengetahuan” ini, bagi Pythagoras merupakan suatu yang aneh. Sebab, baginya pengetahuan tak akan pernah selesai dengan kehidupan manusia. Dan manusia akan selalu mengalami kesulitan untuk diperoleh ilmu pengetahuan, walaupun sampai menghabiskan seumur hidup sekalipun.

Oleh karena itu, pencinta pengetahuan adalah orang-orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya. Maksudnya, orang yang mengabdikan diri kepada pengetahuan. Bukan menjadikan pengetahuan sebagai usaha untuk mencari keuntungan atau memperkaya diri, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh kaum sofis dahalu kala di zaman Yunani Kuno. Misalnya mengajari orang minta bayaran, ceramah memberikan tarif dan lain sebagainya.

Bagi Pythagoras, pengetahuan itu adalah perkara yang harus dicari, secara terus-menerus (continue). Karena pengetahuan harus dicari, maka para pencari pengetahuan tak pantas disebut sebagai “ahli pengetahuan”, yang pantas adalah dengan sebutan “pencari dan pencinta pengetahuan”. Dari sinilah kemudian kita kenal sebagai sebutan filosof atau filsafat.

Kata filosof sebagai akar dari filsafat dalam bahasa Arab diucapkan “falsafah”, berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti “cinta pada pengetahuan” dan kata ini terdiri dari dua suku kata, yaitu Philos, berarti cinta (loving) dan Shopia yang berarti pengetahuan (wisdom, hikmah). Makanya, orang-orang yang cinta kepada pengetahuan disebut sebagai “Philosophos” atau “Failsuf” dalam ucapan bahasa Arab.

Diakui bahwa pada awal munculnya filsafat tidak ada terkaitanya dengan institusi apapun. Obrolan terkait filsafat merupakan sebuah seni hidup yang selalu berhubungan dengan keseharian. Misalnya, dalam kajian filsafat Yunani pra-klasik, kita mengenal dialog filosofis dan adu argumen logis mengenai asal-usul alam semesta antara sesama filosof. Ada yang mengatakan alam semesta berasal dari “air” yang diwakili Thales. Ada juga yang menyebut sebagai Apeiron. Namun ada juga yang menyebut asal-mula alam semesta ini air, udara, dan api.

Dari obrolan seharian inilah, kajian-kajian filsafat semakin berkembang, khususnya di Akademi Platon—suatu istilah yang sering kali dinisbatkan pada perkumpulan para intelektual yang menganut pemikiran Platon. Akademi Platon bisa dikatakan kampus pertama di dunia, walaupun tak seperti kampus yang kita kenal sekarang ini. Dari Akademi Platon ini pulalah kita mengenal periode Helenis sebagai puncak peradaban filsafat Yunani. Namun, sayang keberadaan Akademi Platon tak cukup bertahan lama, kira-kira pada tahun 83 SM bubar, karena dianggap mengembangkan ajaran sesat.

Filsafat dan masjid

Berbeda dengan perkembangan filsafat di dunia Islam yang memang tak memiliki institusi layaknya Akademi Platon di Yunani. Filsafat sebagai seni hidup di dunia Islam, berkembang melalui yang namanya masjid. Pada awal kemunculan Islam misalnya, masjid mendapat tempat utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini tentu mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan erat kaitannya dengan masalah keagamaan. Karena memang nabi menggunakan Masjid Madinah untuk para sahabat mempelajari urusan teologi, ibadah, dan masalah keduniaan.

Tradisi penggunaan masjid sebagai pusat pengajaran ilmu pengetahuan juga dilestarikan oleh para penerus nabi, seperti Jami’ al-Umawy di Damaskus, Jami’ al-Mansur di Baghdad, Jami’ Amr bin ash di Mesir dan masjid lain-lainnya. Selain itu, Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa Masjid Quba juga digunakan sebagai halaqah atau lingkaran-lingkaran belajar. Tradisi halaqah di dalam masjid ini, terus berkembang hingga ke Masjid Cordova di Spanyol yang bisa dikatakan sebagai sarana belajar dan lembaga ilmiah terkemuka pada waktu itu. Serta menjadi universitas tempat berkumpulnya para mahasiswa dari Spanyol dan daerah-daerah lain di Eropa.

Dunia Islam sendiri mengenal istilah kampus kira-kira pada abad 17 dan 18 yang mulai pula memasukkan kurikulum filsafat. Bahkan, kalau kita mau menenggok khazanah intelektual Islam hanya ada beberapa filosof yang ikut berperan besar di kampus, seperti Al-Ghazali yang saat itu sampai menjadi rektor sekolah tinggi Nizhamiyah di kota Naisabur. Dan filsafat saat memasuki dunia kampus menjadi sebuah ilmu yang ilmiah, sistematis yang semakin sulit dipahami.

Walaupun demikian, filsafat menjadi kebangkitan baru dan memulai sejarah baru: filsafat berperang melalui tulisan. Ketika ada sebuah pemikiran filsafat yang dihasilkan dan ditulis menjadi buku maka akan lahir tulisan dan buku-buku baru baik berupa kritikan atau pengembangan pemikiran yang biasanya dilakukan oleh muridnya.

Keberadaan kampus atau universitas sebagai lembaga pendidikan tinggi sampai dewasa ini menggeser peran masjid yang pada awal sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan. Obrolan filsafat di masjid semakin jarang terdengar.

Namun beberapa tahun terakhir ini, ada beberapa masjid yang berusaha menghidup kembali fungsi masjid sebagai pengembangan ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah Masjid Jenderal Sudirman (MJS) Yogyakarta dengan Ngaji Filsafat-nya. Tentu keberadaan Ngaji Filsafat di MJS merupakan suatu fenomena lain dari diskusi ilmiah tentang filsafat, yang ada diluar lingkungan akademik.

Sebagai seorang penikmat Ngaji Filsafat secara virtual, ada semacam gairah yang luar biasa  ketika melihat dan membaca komentar-komentar atas materi yang sudah diunggah di media sosial, terutama di YouTube MJS Channel. Ngaji Filsafat yang diadakan setiap Rabu malam Kamis, itu memang menarik. Hal ini, bisa dilihat dari tema-tema yang sudah dibahas, seperti Epistemologi, Etika, Estetika, Filsafat Kebahagian, Politik, Keadilan, Sufisme, Teologi, Romantisisme, Filsafat Cinta, Semiologi, Semiotika, Hermeneutika, Kebebasan, Pluralisme, Sosialisme, Liberalisme, dan Sekularisme dan lain sebagainya. Belum lagi penjabaran tentang pemikiran tokoh-tokoh Timur dan Barat klasik, modern, maupun kontemporer.

Selain itu, yang membuat Ngaji Filsafat walaupun secara virtual juga menarik adalah gaya penyampaian dari guru pengampu Ngaji Filsafat, Fahruddin Faiz, tampak sesuai dengan konteks zaman now atau di era milenial sekarang ini. Hingga demikian, Ngaji Filsafat menjadi asyik. Tema-tema filsafat yang awalnya terasa berat, sebagaimana di kelas menjadi lebih ringan, mudah dicerna. Serta jauh dari kesan dan asumsi bahwa filsafat itu “tak bertuhan”, “kerjanya mengkhayal”, “ribet”, “mengada-ada”, “bebas”, “liberal”, “sekuler”, “anti kemapanan”, “membuat yang mudah jadi sulit”, “mengacaukan akal pemikiran”, “membahas hal yang tak jelas” serta berbagai asumsi, pelebelan lainnya yang disematkan pada mahasiswa yang mengambil jurusan filsafat, penikmat-pengkaji filsafat ataupun pada filsafat itu sendiri.

Terlepas dari berbagai asumsi dan pelebelan tersebut, filsafat merupakan seni hidup sebagai bagian dari proses berpikir yang selalu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Author: Syahuri Arsyie

ABOUT THE AUTHOR

Syahuri Arsyie

Mahasiswa dan Penikmat Ngaji Filsafat Virtual


COMMENTS