Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia adalah pejuang. Mereka sudah terlatih berjuang sejak di alam rahim, yakni saat mengalahkan jutaan sel sperma yang berjalan dan berusaha menembus membran ovum. Itulah Maha dahsyatnya Sang Pencipta, menjadikan manusia sedemikian gigih, sehingga memacu diri untuk terus melahirkan perjuangan-perjuangan—baik yang dikehendaki secara pribadi maupun tanpa disadari—dalam perjalanan hidupnya hingga nanti, bahkan sampai saat bertemu sang ajal.

Dalam dunia pertahanan negara dan agama, manusia sudah berjuang sejak ribuan tahun silam. Perjuangan itu meliputi pertahanan untuk tinggal dan hidup di suatu tempat, perjuangan kembali kepada tujuan awal manusia diciptakan (ibadah), perjuangan  nabi mendakwahkan ajaran agama, perjuangan Rasul mempertahankan kejayaan Islam, hingga perjuangan pra-kemerdekaan dan pasca merdeka negara Indonesia.

Namun perjuangan era kini, banyak dimaknai sebagai langkah dalam membentengi diri sendiri, keluarga, dan generasi mendatang demi mendapatkan apa yang dicita-citakan. Layaknya para pejuang bangsa yang menumbuhkan semangat dan kecintaannya pada NKRI, mendedikasikan diri dengan landasan agama, untuk meraih cita-cita bangsa yakni kemerdekaan dan menyelematkan generasi.

Semua perjuangan yang manusia torehkan bisa kita rasakan di masa ini. Lalu, ketika perjuangan—dan para pejuang—telah usai, apa yang mereka petik? Pasca menuntaskan semua misi kehidupan, tentulah kita semua sebagai manusia berharap ganjaran dari Sang Empunya kehidupan. Ya, ganjaran itu bernama pahala yang dialamatkan Tuhan kepada orang-orang yang telah berbuat baik, tulus berjuang. Kemudian para pejuang kita sebut dengan “Pahlawan”. Tak heran jika ada yang menyebut kata Pahlawan, secara ilmu bahasa yang menyelidiki asal-usul kata, berasal dari akar kata “Pahala” yang diimbuhi akhiran “ –wan”, yang dalam perspektif Islam dapat dimaknai sebagai orang yang berjuang menegakkan kebenaran (al-haq) demi memperoleh ridha Allah semata.

Hal ini, disadur dari Dr. H. Abdul Ghani yang merupakan anggota Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh, didasari oleh limardhatillah wa li i’lai kalimatillah hiya l-‘ulya. Kata kuncinya adalah kebenaran (al-haq) dan ridha Allah Swt. Jadi, kebenaran adalah segala sesuatu (baik berupa perintah maupun larangan) yang datang dari Allah Swt melalui ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. (Wama atakum al-Rasulu fakhuzuhu wama nahakum ‘anhu fantahu). Dengan demikian, pahlawan dalam perspektif Islam harus memiliki tujuan memperjuangkan kebenaran dan untuk menjunjung nilai luhur Islam sebagai agama yang benar.

Kebangkitan perjuangan manusia—kita sepakati sebagai pejuang pahala—saat ini bukan sekadar memerdekakan bangsa dari segala hal yang menjerat ketahanan negara. Misalnya, di tengah situasi kehidupan dengan persaingan yang ketat seperti saat ini, kepala rumah tangga dituntut kian giat dalam memperjuangkan hak-hak dan kewajiban keluarganya baik di dunia maupun di akhirat.

Wahai orng-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang DIA perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim [66]: 6).

Selain itu, memberikan ruang keberagaman kepada sesama manusia menjadi hal yang tak kalah penting. Kebangkitan perjuangan yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan (kebebasan berpendapat dan menganut kepercayaan) itu pula, yang seharusnya kita sadari penuh dalam kehidupan dan akan melahirkan ganjaran besar. Jika mau kembali kepada landasan, Islam sendiri telah jelas menuntun manusia untuk berlaku demikian.

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek (Q.S. Al-Kahfi [18]: 29).

Ketika Nabi Muhammad Saw. berjuang menegakkan Islam, yang ditegakkan Nabi adalah menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal, yakni keadilan, kesamaan, toleransi, dan hak-hak orang lain tetap diperhitungkan. Sikap Nabi Saw. yang toleran dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang memang lahir dari ajaran Islam inilah, yang kemudian memosisikan Islam sebagai agama penuh rahmat. Nabi sendiri menegaskan, Ahabb al-adyan ila Allah al-hanifiyyat al-samhah.

Pun halnya para pejuang pahala yang mendedikasikan dirinya melalui jalur pendidikan; tenaga pendidik yang berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa, anak-anak di daerah tertinggal yang belajar dalam kondisi serba terbatas, mahasiswa yang bersusah payah menuntaskan kewajiban belajar, pembelajar yang memutus jarak demi ilmu dan masa depan bangsa, pelajar yang berjuang di perantauan dan jauh dari keluarga. Ada pula pengusaha dan orang-orang yang berjuang dalam bidang perekonomian, lembaga negara, lembaga masyarakat, lembaga keagamaan. Hingga para pejuang yang berusaha mencari jalan agar dapat membebaskan diri dari ke-jomlo-an. Mereka berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan untuk dapat memerdekakan diri, keluarga, dan generasi yang bermuara pada hakikatnya manusia, yakni setelah kembali kepada-Nya.

Perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan ini banyak disebut dalam Al-Quran, di antaranya, “Perangilah mereka sehingga tidak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah” (QS. An-Anfal [8]: 39). Kemudian, “Dan kenapa kamu tidak berperang di jalan Allah, dan untuk mereka yang lemah, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berkata “Tuhan, keluarkanlah kami dari kota ini yang penduduknya zalim; dan berilah kami dari pihak-Mu orang yang dapat menjadi pelindung, dan berilah kami dari pihak-Mu penolong.” (QS. An-Nisa’ [4]: 75).

Meski dipenghujung menegakkan kebenaran dan keadilan akan terasa indah, namun tanpa keterlibatan generasi setelahnya hanya akan menjadi cerita usang. Maka sejatinya, setiap perjuangan tidak akan berakhir sebelum pejuang itu kembali berjuang, mengajak generasinya agar melanjutkan semangat dan menghargai jasa pendahulunya, yaitu dengan cara memacu tumbuhnya jiwa kepahlawanan dalam diri mereka. Sifat tersebut bukan hanya dapat ditunjukkan dengan menjaga apa yang sudah ada dan terawat, akan tetapi mencoba berbuat lebih baik dalam segala aspek, mencipatkan inovasi baru untuk meningkatkan kualitas diri.

Sifat kepahlawanan dapat diasah sejak dini, misalnya orang tua mengajarkan kepada anaknya dengan melatih empati. Pahlawan adalah mereka yang memiliki rasa empati dan peduli yang tinggi terhadap sesama. Mereka dengan ringan tangan membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan dan menegakkan kebenaran, tanpa mengharap timbal balik kecuali mengharap ridha Illahi.

Mari berjuang untuk menaburkan kebaikan. Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kalian sekali-kali mengatakan, bahwa orang-orang yang berjuang (terbunuh) di jalan Allah itu mati melainkan mereka hidup tetapi kita tidak merasakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 154).

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-11 Jumat, 07 Desember 2018/29 Rabiulawal 1440 H

Author: Endang Fitriani

ABOUT THE AUTHOR

Endang Fitriani

Pembelajar, penikmat kopi, malam, kadang-kadang menulis dan menyunting


COMMENTS