Siang itu, di sebuah diskusi, Buya Ahmad Syafii Maarif bercerita tentang Haji Agus Salim. Pahlawan Nasional yang hidup sederhana. Di antara kesan yang sangat membekas diingatan Buya Syafii adalah tentang kejeniusan sosok kelahiran Koto Gadang, Sumatera Barat pada 8 Oktober 1884 itu. Menguasai tujuh bahasa asing: Arab, Belanda, Inggris, Jepang, Jerman, Perancis, Turki. Tidak hanya jenius dalam artian berpengetahuan dan berwawasan luas, namun juga banyak akal dan cerdik jenaka. Kepandaiannya dalam berdiplomasi dan berdebat sulit tertandingi.

Pernah suatu ketika, Agus Salim diutus pemerintah Indonesia untuk menghadiri upacara penobatan Ratu Elizabeth II pada 4 Juni 1953. Dalam jamuan makan malam di Buckingham Palace yang dihadiri para tamu terhormat, termasuk Ratu dan Pangeran Philips, Agus Salim yang perokok berat, tak kuasa menahan diri untuk tidak menyalakan rokok kreteknya. Asap kretek yang mengepul membuatnya jadi pusat perhatian sinis para tamu undangan.

Tak kehilangan akal, lantas Agus Salim mengajukan pertanyaan pada Pangeran Philips yang duduk tak jauh darinya, “Apakah tuan mengenal bau rokok ini?

Pangeran Philips dengan sedikit ragu menjawab, “Rasanya saya tidak mengenal aroma ini tuan.”

Aroma tembakau inilah yang dahulunya mendorong nenek moyang tuan beramai-ramai datang ke negeri kami,” kata Agus Salim dengan senyum kemenangan. Pangeran Philips dan para tamu pun hanya bisa bungkam.

Buya Syafii Maarif menceritakan kisah lainnya. Agus Salim hampir selalu bisa membungkam argumentasi lawan debatnya di berbagai forum terhormat. Namun, ibarat kata pepatah: sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Agus Salim ternyata pernah kalah argumen dengan seorang kusir atau sais dari bendi (delman atau andong atau dokar) yang ditumpanginya ketika pulang kampung ke Bukittinggi.

Dalam perjalanan menuju ke rumah, tiba-tiba kuda yang menarik bendi, kentut dengan suara keras, sampai membuat kaget Agus Salim dan pak kusir. Guna mencairkan suasana, Agus Salim berkata, “Masuak angin kudo ko mah pak (masuk angin kudanya ini pak).”

Pak kusir membantah, “Kalau nan itu kalua angin namonyo mah buya (Kalau yang itu keluar angin namanya buya).” Agus Salim pun hanya bisa terdiam, menyadari kekalahan dan kesalahannya.

Di kemudian hari, dalam sebuah forum resmi, Agus Salim mengingatkan para peserta untuk menghindari debat kusir. Para anggota pertemuan bertanya-tanya tentang maksud dari istilah debat kusir, maka diceritakanlah kisah tersebut oleh Haji Agus Salim. Dari sini, ‘debat kusir’ bermula.

Tak sengaja, ketika berselancar di Youtube, saya terbawa ke sebuah video “Debat Kusir” yang diupload oleh channel Majelis Lucu Indonesia. Dalam bionya, dijelaskan, “Debat Kusir adalah sebuah konten di mana dua orang hakim dari Majelis Lucu Indonesia akan membantah argumen-argumen dari orang yang terkenal di Youtube dengan harapan mendapatkan banyak view.” Dalam video tersebut, dua orang komika terkenal membahas tentang seorang selebgram. Bahasa dalam panggung stand up comedy adalah roasting. Dalam dunia komedi yang menuntut kreativitas, debat kusir telah mengalami perluasan makna, dijadikan bahan candaan dan hiburan.

Namun, terdapat banyak debat kusir yang justru membuat orang saling bermusuhan. Debat yang tidak disertai alasan yang masuk akal terjadi di mana-mana. Akhir-akhir ini, media sosial yang seharusnya sebagai ruang publik yang netral, telah menjelma menjadi panggung debat kusir. Para aktor memang sengaja membidik media sosial dengan kecanggihan algoritmanya untuk melangsungkan kampanye ragam kepentingan. Pertikaian kerap terjadi antara para pendukung pilihan politik berbeda. Sebuah keriuhan yang tidak ada habisnya.

Saling berbalas sambut makian. Terkadang memakai data dan argumen yang bias. Tujuannya adalah membela habis-habisan pilihan politiknya dan mencari kelemahan dari lawan, sebanyak-banyaknya. Politik sifatnya pilihan kategoris, A atau B. Para lovers selalu mencari dan menemukan sisi baik dari tokoh pujaannya, pun demikian para haters selalu mencari dan menemukan sisi buruk dari tokoh lawannya.

Ketika pihak lawan mengajukan argumen, dia juga mengeluarkan argumen lainnya atau apologia. Jika dicermati, kadang tidak semua narasi dari kedua belah pihak saling berhubungan. Banyak perdebatan yang terjadi dalam frekuensi timpang dan tidak sepadan. Tidak isomorfis. Ada kalanya tuturan argumentasi hanya laksana bilik gema (echo chamber). Maksudnya, masing-masing orang hanya akan mendengarkan apa yang diucapkannya sendiri.

Suara yang memantul, bergema, dan terdengar olehnya adalah apa yang memang dia teriakkan. Terlalu sering, para lovers dan haters ini hanya bermonolog dan tenggelam dalam keyakinan dan sisi emosional dirinya atau kelompoknya saja. Sementara lawannya juga melakukan monolog serupa. Saling bermonolog di waktu yang sama, sehingga terkesan seolah-olah berdialog, padahal tidak sama sekali. Keduanya tidak saling mendengarkan dan apalagi berusaha memahami argumen dari lawan bicara.

Hasilnya berupa kebisingan demi kebisingan yang terus dilantunkan saban hari. Hanya pertunjukan debat kusir, yang sering berulang tema. Kedua belah pihak yang berbeda pilihan politik tidak membuat publik semakin cerdas dan bijak. Mereka yang dinobatkan sebagai juru bicara atau tim kampanye dengan parade kebisingannya memang mencoba untuk menarik pendukung sebanyak-banyaknya.

Begitulah demokrasi dijalankan, mereka yang punya suara terbanyak yang akan menjadi juara. Maka siapapun yang ingin meraih panggung, harus menggiring sebanyak mungkin orang untuk sepaham dengan maksud dan tujuannya. Untuk tujuan itu, kedua belah pihak saling mengomentari peristiwa dan apapun terkait dengan lawannya. Bahkan, jika itu harus ditempuh dengan jalan tidak terpuji.

Padahal seharusnya, mimbar debat dimaksudkan untuk mencari kebenaran. Memperjuangkan nilai kebaikan dan tentu saja kebijaksanaan. Siapa pun yang memiliki gagasan atau argumen yang paling tepat, patut untuk diikuti. Andai pun tidak diikuti, keduanya saling menghargai. Dalam debat kusir, hal itu tidak akan terjadi. Mau kalah atau menang, mereka tetap pada pilihan egonya sendiri-sendiri.

Akibatnya, kita kehabisan banyak energi untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Publik menjadi mudah emosi hanya karena berbeda pendapat dan pilihan. Fakta dan intelektualitas mudah tergusur oleh karena tidak sesuai dengan nilai atau keyakinan pribadi. Sebagai warga media sosial, mungkin kita hanya bisa berharap semoga siapa pun yang tampil di panggung, untuk senantiasa mengedepankan etika. Tidak untuk saling menjatuhkan, mencaci maki, menfitnah, dan menebar hoax.

Sebagai umat beragama, Allah telah memperingatkan dalam QS. Ali Imran (3) ayat 66. “Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” Sibuk menekuni urusan yang kita geluti dengan sepenuh hati mungkin bisa menghindarkan dari debat kusir.

Kita juga perlu untuk berpegang pada nilai-nilai yang diajarkan QS. Al-A’raf (7) ayat 199. “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” Andaipun pihak lawan berbuat salah, maka memaafkan adalah akhlak mulia. Tugas kita adalah mengajak pada kebaikan yang kita yakini baik dan dilakukan dengan cara yang baik. Selebihnya, ketika sudah tidak ada jalan keluar, ada baiknya untuk berpaling, menyepi dan keluar dari kebisingan.

Sebagai penutup, mari kita cermati sebuah dialog antara seorang guru dengan muridnya. Si murid bertanya, “Guru, apa rahasia kebahagiaan?” Guru menjawab, “Jangan berdebat dengan orang bodoh.” Si murid berkata lagi, “Saya tidak sepakat kalau itu rahasianya.” Dengan santai, sang guru berujar, “Ya. Kamu benar.”

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-09 Jumat, 16 November 2018/08 Rabiulawal 1440 H

baca juga: Khotbah Jumat; I am a Muslim; Cinta yang Membahagiakan

Author: Muhammad Ridha Basri

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Ridha Basri

Sehari-hari ngadem di Grha Suara Muhammadiyah


COMMENTS