Do not be angry with me, if I tell you the truth” —Socrates—

Siapakah orangnya yang tidak ingin ‘benar’, ‘dibenarkan’ atau berada ‘di pihak yang benar’? Biasanya, saat seseorang dituduh salah, dicurigai keliru, bahkan sekedar dianggap tidak tepat, serta merta ia akan bangkit berkehendak membersihkan namanya, menunjukkan ‘kelurusan’ dirinya. Bahkan banyak penjahat dengan kesalahan yang begitu terang sekalipun masih berkeras membela dirinya.

Setiap orang menyimpan asa agar semua yang dia pikirkan, dia rasakan, dia katakan dan dia lakukan adalah kebenaran, atau setidaknya dianggap oleh orang lain sebagai kebenaran. Sebaliknya, setiap orang akan merasa malu, bersalah, berdosa, menyesal, saat berada di ranah kesalahan, kekeliruan, kekhilafan atau dianggap salah, keliru dan khilaf oleh orang lain. Semacam itulah kiranya relasi wajar dan ideal antara manusia dan kebenaran.

Beragam institusi dan lembaga—yang melahirkan jutaan teori, tokoh dan karya—telah dirancang oleh manusia untuk menjamin keberadaannya dalam ranah kebenaran. Namun sejarah dan kisah-kisah ‘para pejuang kebenaran’ menunjukkan bahwa sekedar mencari, menemukan, menyatakan, menjalankan dan membela kebenaran ini bukanlah perkara yang sederhana dan mudah.

Menghidupkan kebenaran pasti tidak ringan di kalangan manusia yang berkarakter ‘tempat salah dan alpa’,  punya potensi melakukan tipu daya dan kebohongan, suka drama dan keluh kesah (khuliqa halu’a), dimanjakan dengan fasilitas nafsu, dicanggihkan dengan teknologi akal, dan dibingungkan dengan berbagai ambisi dan kepentingan. Apalagi hari ini, saat teknologi dan segala rekayasa sosial-budaya-politik buatan manusia justru mengaburkan wajah kebenaran.

Bahkan dalam kenyataannya, ternyata kita yang begitu gagah mendada sebagai pemeluk kebenaran, seringkali tergagap dan terbata saat berhadapan dengan kebenaran itu sendiri. Dalam kenyataan hidup kita, sekedar menerima kebenaran yang jelas dan sederhana saja seringkali begitu beratnya.

Ada satu kisah sufi yang saya sukai untuk menggambarkan hal ini. Suatu ketika Sultan mengunjungi seorang Sufi di pondoknya yang kecil di tengah hutan.

Katakan padaku satu kebenaran, Guru,” demikian pinta Sang Sultan.

Mampukah telingamu mendengarkan kebenaran? Suara kebenaran melebihi suara petir di siang hari, telingamu tidak akan kuat mendengarnya,” jawab Sang Sufi.

Apa gunanya sepasang telinga yang tidak mampu mendengarkan kebenaran? Biarlah selaput telingaku pecah, aku tetap ingin mendengarkan suara kebenaran,” jawab Sultan dengan gagahnya.

Baiklah, suatu saat nanti aku akan datang ke istanamu untuk menyampaikan kebenaran.”

Akhirnya beberapa tahun kemudian datanglah sang Sufi ke istana Sultan. Begitu diberi tahu tentang kedatangan Sang Sufi, Sultan pun bergegas ke gerbang istana untuk menjemputnya. Turut bersama Sultan saat itu Sang Putra Mahkota, putra tunggal Sultan. Mereka menyalami sang Sufi, “Selamat datang, silahkan masuk Guru”.

Tunggu dulu, biarkan aku memberkati putramu dulu,“ kata sang Sufi.

Lalu ia menepuk-nepuk kepala Putra Mahkota sambil berkata, “Kamu akan mati!

Sultan seperti tidak mempercayai telinganya sendiri. “Apa yang kau katakan Guru? Untuk inikah kau datang ke sini? Untuk mengutuk anakku? Untuk menyumpahinya?”, Sang Sultan begitu marahnya, bahkan diantara para menteri ada yang sudah mengeluarkan pedang dari sarungnya.

Apa yang kau katakan Sultan?” jawab Sang Sufi.

Kau keliru menafsirkan kata-kataku. Untuk apa aku harus mengutuk anakmu? Untuk apa aku harus menyumpahinya? Aku hanya memberikan sebuah pernyataan, ‘Kau akan mati’, dan pernyataanku itu berlaku bagi setiap manusia, bagi setiap makhluk hidup. Yang lahir pasti akan mati. Aku hanya menyampaikan  kebenaran sultan. Kau pernah meminta, dan aku datang untuk menyampaikannya. Sultan, rupanya kau belum bisa mendengarkan kebenaran.”

Menerima sebuah kebenaran, terkadang memang tidaklah mudah. Apalagi jika kebenaran itu tidak sesuai dengan keinginan, hasrat dan kecenderungan kita. Sebagaimana fitrah manusia ingin hidup dalam kebenaran; menghindari rasa sakit, kecewa dan rasa bersalah pun sebentuk fitrah manusia. Itulah mengapa banyak orang menghindari pertemuan dengan kebenaran saat kebenaran itu dipandangnya begitu pahit.

Saat tim sepak bola kesayangan kita kalah, saat orang yang kita cintai menerima lamaran orang lain, saat teman kita lulus ujian dan kita gagal, saat kelompok yang kita ikuti dan kita anggap benar ternyata melakukan kekeliruan, saat orang yang kita percaya membohongi kita, saat tokoh idola kita terbongkar kejelekannya, dan lain sebagainya… adalah momen-momen tantangan dari kebenaran: dapatkah kita menerimanya atau ‘mengingkarinya’?

Soe Hok Gie, sang pejuang muda kemanusiaan pernah berkata, “Umumnya orang tidak suka mendengar kebenaran, karena kebenaran itu sering kali menyakitkan.”

Banyak orang yang merasa tidak sanggup sekedar melihat atau mendengar kebenaran yang tidak sesuai harapan. Mereka yang pagi hari tidak mau membaca berita karena malamnya tim sepak bola kesayangannya kalah, mereka yang mencari-cari pembenaran atas kesalahan tokoh idolanya, atau mereka yang menulis puisi panjang tentang ‘cinta sejati yang tak harus memiliki’ saat pacarnya menikah dengan orang lain, adalah contoh-contoh bukti dari kenyataan bahwa kebenaran itu tidak selalu mudah untuk dihadapi.

Padahal, kebenaran adalah kebenaran, kita terima atau kita sangkal keberadaannya. Kebenaran tidak akan susut nilainya dan tidak akan berubah menjadi sesat atau salah mengikuti tanggapan dan respon kita. Klub sepak bola kita yang kalah tidak akan berubah menjadi menang, kesalahan dan kekeliruan tokoh idolamu tidak akan menjelma kebenaran dengan pembelaanmu, dan pacarmu yang dinikahi orang lain tidak akan berubah menjadi milikmu (kecuali kau bersedia menunggu janda-nya?). Engkau mungkin bisa mengaburkan dan menutupi kebenaran, namun engkau tidak akan mampu membuat kebenaran berubah menjadi kesalahan, atau sebaliknya.

Nabi saw panutan kita berabda, “Katakanlah kebenaran walau pahit”. Hadis ini apabila dicermati memuat dua proposisi besar. Pertama, ada kebenaran yang memang pahit untuk diterima. Kedua, sepahit apapun kebenaran yang kau temukan, hadapi dan nyatakanlah. Sampaikanlah kebenaran itu kepada siapapun yang terjangkau olehmu, sepahit apapun rasanya.

Lain dari itu, hadis Nabi saw di atas juga mengisyaratkan pentingnya kebenaran dan penyampaian kebenaran. Berarti dalam kebenaran tidak cukup jika kita hanya menikmatinya sendiri, namun dengan berbagai media yang mungkin, sampaikanlah kebenaran, meskipun menyakitkan.

Mengapa kita harus menyampaikan sebuah kebenaran, kalau kebenaran itu menyakitkan untuk didengar? Tidakkah itu sama dengan menyakiti orang lain? Mengapa kita tidak bersikap pura-pura tidak tahu saja, untuk tidak menyakiti orang lain?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya sederhana: karena kita peduli dan karena kita mencintai. Kita peduli dan mencintai saudara, teman, sahabat, keluarga, kolega dan semua orang yang berada dalam jangkauan kita, maka kita berikan kebenaran kepada mereka, meskipun kadang menyakitkan, meskipun kadang tidak enak didengarkan. Kita tidak rela mereka berkubang kekeliruan dan kesalahan, yang akhirnya membuat kehidupan mereka lebih sakit dan lebih pahit lagi.

Tentu saja penyampaian kebenaran ini pun juga harus mempertimbangkan situasi, memakai retorika, serta mematuhi nilai dan kaidah penyampaian yang benar. Sampaikan kebenaran sesuai prinsip-prinsip kebenaran, mulai dari niat penyampaiannya, metode menyampaikannya hingga prediksi efek yang ditimbulkannya.

Jangan sampai kebenaran disampaikan dengan niat yang tidak benar (misalnya ingin menjatuhkan orang lain), atau dengan jalan yang tidak benar (misalnya sambil caci maki dan membuka aib yang tidak perlu) atau justru membuahkan efek yang tidak tepat (misalnya melahirkan kekacauan berpikir yang tidak pada tempatnya, seperti mahasiswa filsafat yang menyampaikan kebenaran metafisika kepada adiknya yang masih sekolah TK).

Ringkasnya, kebenaran memang terkadang terasa tak menyenangkan, sehingga tidak banyak orang yang kerasan di dalamnya meskipun merasa harus tinggal. Namun yang pasti, orang yang membuka dirinya terhadap kebenaran, dan menerima yang paling menyakitkan sekalipun, kelak akan terbukti bahwa ia berada di tempat yang benar. Bagi yang teguh dalam kebenaran, hidup dalam kebenaran menjadikan mereka orang yang berbahagia. Seberapa siapkah kita menerima kebenaran? Masihkah kita memilih kebenaran, ketika hal itu terasa menyakitkan?

“The truth may hurt for a little while, but a lie hurts forever”

baca juga: Saat Orang Lain Menjadi Neraka

Author: Fahruddin Faiz

ABOUT THE AUTHOR

Fahruddin Faiz

Pengampu Ngaji Filsafat Masjid Jendral Sudirman


COMMENTS